Keira tidak pernah menyangka—keputusan sederhana untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong justru mengubah seluruh jalan hidupnya. Niatnya hanya menghindar dari masalah yang mengejarnya, mencari tempat aman untuk sesaat. Namun takdir seolah punya rencana lain.
Sebuah kesalahpahaman terjadi.
Dan dalam hitungan waktu yang begitu singkat… Keira terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gus Zayn.
Pria yang datang ke rumah itu bukan untuk mencari masalah—melainkan hanya menjalankan permintaan temannya untuk mensurvei sebuah rumah yang akan dibeli. Ia tak pernah membayangkan, langkahnya hari itu justru menyeretnya ke dalam sebuah ikatan suci yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28 Ning Afifa
Pagi itu suasana pondok terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa santri putri sibuk mondar-mandir di halaman ndalem sambil membawa nampan dan menyusun kursi tamu. Bahkan dapur pondok sejak tadi dipenuhi aroma masakan yang lebih meriah dari biasanya.
Keira yang baru selesai membantu Ummi Halimah langsung memperhatikan suasana itu dengan bingung.
“Ummi, ada tamu ya?”
Ummi Halimah yang sedang merapikan jilbabnya tersenyum kecil. “Iya, ada tamu penting.”
“Siapa?”
Belum sempat Ummi Halimah menjawab, salah satu santri putri tiba-tiba berlari kecil masuk ke dapur.
“Ummi! Mobilnya sudah datang!”
Keira refleks menoleh ke arah luar.
Suara mobil memang terdengar memasuki halaman depan pondok.
Dan entah kenapa...
Dadanya mendadak terasa tidak nyaman.
Ummi Halimah lalu mengusap pelan bahu Keira. “Ayo ikut keluar.”
Keira mengangguk pelan meski masih bingung.
Saat mereka sampai di teras depan ndalem, sebuah mobil hitam sudah berhenti di halaman. Seorang perempuan turun dari sana dengan anggun mengenakan gamis mewah berwarna dusty pink dan hijab yang tertata sangat rapi.
Wajahnya cantik.
Sangat cantik.
Dan terlihat berkelas.
Beberapa santri langsung menundukkan kepala hormat.
“Ning Afifa datang...”
“Ning Afifa cantik banget ya...”
Bisik-bisik kecil itu membuat Keira makin bingung.
Sampai akhirnya—
“Assalamu’alaikum, ummi” perempuan itu tersenyum hangat sambil mencium tangan Ummi Halimah.
“Wa’alaikumsalam.” Ummi Halimah membalas dengan lembut.
Tak lama kemudian, langkah tenang Gus Zayn muncul dari arah dalam ndalem.
Dan saat mata perempuan itu bertemu dengan Gus Zayn—
Senyumnya langsung berubah lebih hangat.
“Mas Zayn.”
Deg.
Entah kenapa panggilan itu membuat dada Keira terasa aneh.
Gus Zayn mengangguk kecil sopan. “Ning Afifa.”
Keira diam mematung di tempatnya.
Sementara beberapa santri putri mulai saling melirik kecil penuh rasa penasaran ke arah Keira.
Dan kalimat berikutnya sukses membuat dunia Keira terasa berhenti sesaat.
“Masya Allah...” salah satu santri berbisik pelan. “Tunangan Gus Zayn datang.”
Tunangan?
Kata itu menghantam kepala Keira begitu keras.
Tangannya langsung terasa dingin.
Tatapannya perlahan berpindah pada Gus Zayn yang masih berdiri tenang di sana.
Sedangkan Ning Afifa melangkah mendekat dengan senyum lembut yang terlihat begitu akrab pada pria itu.
“Sudah lama nggak ketemu ya, Mas.”
Keira menunduk cepat.
Entah kenapa...
Dadanya mendadak terasa sesak.
Keira berdiri diam di sudut teras dengan jemari yang perlahan mengepal di balik lengan bajunya. Suara-suara di sekitarnya mendadak terasa jauh.bYang terus terngiang di kepalanya hanya satu kata itu.
Tunangan.
Dadanya terasa sesak sekali sampai sulit bernapas normal.
Sementara di depan sana, Ning Afifa masih berbicara dengan Gus Zayn dan Ummi Halimah dengan senyum anggun di wajahnya. Perempuan itu terlihat begitu cocok berdiri di sisi Gus Zayn.
Cantik.
Berilmu.
Dan jelas berasal dari keluarga terpandang dan alim.
Berbeda sekali dengan dirinya.
Keira menunduk lebih dalam.
Tiba-tiba semua kehangatan yang ia rasakan beberapa hari terakhir terasa seperti mimpi bodoh yang terlalu ia percaya.
“Keira?” Suara Gus Zayn terdengar memanggilnya.
Namun gadis itu justru mundur pelan.
“Saya... saya ke belakang dulu.”
Tanpa menunggu jawaban, Keira langsung berbalik pergi meninggalkan teras.
Langkahnya cepat.
Terlalu cepat.
Sampai akhirnya ia berhenti di belakang ndalem dekat taman kecil yang sepi.
Dan di sanalah—
Air matanya jatuh.
Keira buru-buru menutup mulutnya sendiri agar isaknya tidak terdengar.
Sakit.
Ternyata sesakit ini.
Baru sekarang ia sadar...
Hatinya sudah jatuh terlalu dalam pada Gus Zayn.
“Bodoh...” bisiknya lirih pada diri sendiri.
Kenapa ia bisa lupa?
Pria seperti Gus Zayn tentu pantas untuk perempuan seperti Ning Afifa.
Bukan dirinya.
Keira tertawa kecil hambar di sela air matanya.
Pantas saja semua orang begitu menghormati perempuan itu.
Pantas saja ia terlihat begitu dekat dengan keluarga ndalem.
Karena sejak awal...
Perempuan itu memang berada di tempat yang seharusnya.
Sedangkan dirinya?
Hanya seseorang yang datang tanpa tahu apa-apa.
Seseorang yang bahkan masih belajar membaca huruf hijaiyah.
Air mata Keira jatuh semakin deras.
Ia memeluk dirinya sendiri erat seolah mencoba menahan sesak di dadanya.
Sementara di sisi lain ndalem, Gus Zayn memperhatikan arah kepergian Keira sejak tadi.
Alis pria itu perlahan berkerut.
“Mas Zayn?” panggil Ning Afifa lembut.
Namun Gus Zayn tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih tertuju ke arah belakang ndalem.
Keira menangis.
Entah kenapa ia bisa yakin akan itu.
Dan tanpa sadar...
Ada rasa tidak nyaman yang langsung memenuhi hati pria itu.
Keira masih duduk di bangku kayu kecil dekat taman belakang ndalem.
Kepalanya menunduk dalam, sementara air matanya terus jatuh tanpa bisa ia tahan. Dadanya terasa sakit sekali sampai napasnya sesekali bergetar.
Ia bahkan tidak sadar sejak tadi menggenggam ujung gamisnya terlalu erat.
“Kenapa sakit banget sih...” bisiknya lirih sambil tertawa kecil hambar.
Padahal belum lama mengenal Gus Zayn.
Namun perhatian-perhatian kecil pria itu sudah terlanjur membuat hatinya berharap terlalu jauh.
Langkah kecil tiba-tiba terdengar mendekat dari arah belakang.
Keira buru-buru mengusap wajahnya panik.
Namun sebelum ia sempat berdiri—
Dua tangan itu lebih dulu melingkar memeluk tubuhnya dari samping.
“Mbak Keira...”
Keira langsung menoleh kaget.
“Azizah?”
Perempuan itu memeluknya erat sekali. Wajahnya tampak khawatir melihat mata Keira yang sembab.
“Mbak nangis ya?”
Keira buru-buru menggeleng sambil tersenyum paksa. “Enggak kok.”
“Bohong.”
Suara Azizah sekali, namun penuh keyakinan.
Keira langsung menunduk lagi karena air matanya hampir jatuh kembali.
Azizah kemudian duduk di sampingnya lalu memegang tangan Keira pelan.
“Mbak pastinya sedih karena Ning Afifa datang?”
Deg.
Keira membeku.
“Azizah...” suaranya mengecil.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya. “Azizah nggak suka kalau mbak sedih.”
Kalimat sederhana itu justru membuat hati Keira makin sesak.
“Aku nggak apa-apa...” gumamnya lirih.
Azizah menggeleng cepat. “Mbak bohong lagi.”
Lalu tanpa aba-aba, gadis itu memeluk Keira sekali lagi.
Hangat.
Tulus.
Dan entah kenapa membuat pertahanan Keira runtuh begitu saja.
Air matanya kembali jatuh.
“Aku malu...” bisiknya parau.
“Kenapa malu?”
“Aku kira...” Keira menahan tangisnya susah payah. “Aku kira Gus Zayn...”
Kalimat itu menggantung begitu saja.
Namun Azizah mengerti.
Gadis itu mengusap pelan tangan Keira, ia yakin hal itu cepat atau lambat akan terjadi.
“Nanti di jelasin sama bang Zayn ya mbak.”
Keira langsung menggeleng cepat. “Tapi dia punya tunangan.”
Azizah menghela nafasnya kasar. "Mbak, ini bukan wewenang aku untuk menjelaskan, nanti biar Abang ya yang jelasin.."