Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
****
Gagal meluluhkan kebekuan Wiliam di ruang kerja mahoni tak lantas membuat Siska mengibarkan bendera putih. Sebagai wanita yang paham betul peta kelemahan mantan suaminya, Siska tahu persis kartu AS mana yang harus ia mainkan. Meski ia sadar sepenuhnya bahwa Clara bukanlah darah daging Wiliam, ia juga tahu betul bahwa pria tua yang berkuasa itu memiliki celah kelembutan yang teramat dalam untuk putri tunggalnya.
Siang itu, di dalam ruang keluarga mansion yang megah namun dingin, Siska melancarkan taktik terhebatnya. Dengan berderai air mata dan suara memelas yang tertahan, Siska berlutut pelan di hadapan Clara, memegangi kedua tangan putrinya erat-erat.
"Clara... tolong Mami, Sayang..." isak Siska penuh drama, menatap Clara dengan pandangan mata yang menyiratkan keputusasaan mendalam. "Mami tahu Mami punya dosa besar di masa lalu. Tapi Mami sangat menyesal... Mami tidak bisa hidup tanpa kamu dan Papamu lagi. Mami cuma mau kita kumpul seperti dulu..."
Clara, yang hatinya begitu polos dan mendambakan keutuhan keluarga sejak lama, seketika luluh total. Air matanya ikut menetes menyaksikan ibunya memohon ampun.
"Mami... jangan begini, Mi..." usap Clara pada pipi ibunya dengan jemari gemetar.
"Papa kamu sangat dingin pada Mami, Clara. Hanya kamu... hanya kamu satu-satunya orang di dunia ini yang omongannya didengar oleh Papamu," bisik Siska seraya menangkup wajah putrinya. "Bantu Mami, Sayang... bujuk Papa supaya mau memberi Mami kesempatan kedua. Demi keluarga kita..."
Bujukan emosional itu merasuk sempurna ke dalam benak Clara. Tanpa membuang waktu, dengan gejolak semangat dan harapan yang membumbung tinggi, Clara segera menghubungi Lyn untuk bertemu di sebuah kafe bernuansa kaca yang tenang di kawasan Jakarta Selatan.
Aroma biji kopi yang sangrai beradu dengan alunan musik akustik lembut di dalam kafe tersebut. Namun bagi Lyn, udara di sekelilingnya terasa amat mencekik.
Di seberang meja kayu kecil itu, Clara duduk dengan binar mata yang begitu terang—sebuah pemandangan langka setelah berhari-hari terkulai sakit akibat stres. Tangan Clara tak henti-hentinya menggenggam jemari Lyn di atas meja.
"Lyn! Kamu tidak akan percaya ini!" ujar Clara dengan nada suara riang yang amat bersemangat. "Mami tadi menangis di depanku... Mami beneran menyesal, Lyn! Mami cuma mau keluarga kita utuh lagi seperti dulu!"
Lyn memaksa bibirnya membentuk senyuman tipis, walau jantungnya berdegup kencang dan lidahnya terasa bagaikan kelu. "O-ya...? Bagus kalau begitu, Clara..."
"Iya! Tapi Masalahnya Papa masih dingin sekali pada Mami," Clara menghela napas panjang, namun antusiasmenya sama sekali tidak surut. "Kamu tahu sendiri kan Papa itu sekeras apa kalau sudah pasang benteng? Makanya aku mau buat rencana khusus! Dan aku butuh bantuanmu sebagai sahabat terbaikku!"
Lyn menelan ludah kasar. Rasa dingin merambat dari telapak kakinya hingga ke dada. "R-rencana apa, Clara?"
"Aku mau buat surprise dinner di rumah!" seru Clara dengan mata berbinar-binar penuh ide. "Aku mau undang Mami datang secara diam-diam saat jam makan malam Papa pulang dari kantor. Aku mau menyiapkan menu kesukaan Papa, menata meja makan dengan nuansa hangat, lalu meminta Papa dan Mami duduk bertiga bersamaku. Menurutmu... bagaimana, Lyn?"
DEG.
Kalimat itu menghantam dada Lyn bagaikan hantaman godam yang tak kasat mata. Makan malam keluarga...?
Pikiran Lyn seketika melayang pada kebenaran kelam yang baru saja dibongkar oleh Wiliam di apartemennya semalam. Kebenaran bahwa Clara bukanlah anak kandung Wiliam, bahwa pernikahan itu hanyalah transaksi hukum, dan bahwa Wiliam sama sekali tidak memiliki ruang sedikit pun di hatinya untuk Siska. Namun di hadapannya saat ini, sahabat terbaiknya sedang berjuang setengah mati demi menyatukan kembali sebuah kebohongan masa lalu.
Melihat betapa polos dan bahagianya raut wajah Clara saat membayangkan keutuhan keluarganya, rasa sedih dan haru bercampur aduk secara liar di dalam dada Lyn. Ada pendar rasa senang melihat sahabatnya kembali memiliki harapan hidup, namun di saat yang sama, rasa sakit dan penderitaan batin menyayat nuraninya hingga hancur berkeping-keping.
Satu-satunya penghalang terselubung yang membuat Wiliam enggan melirik Siska kembali... adalah dirinya sendiri—wanita rahasia yang telah menyerahkan seluruh raga dan jiwanya dalam sangkar emas sang tuan.
"Lyn? Kok malah melamun?" tegur Clara pelan, mengoyak lamunan kelam Lyn. "Bagaimana menurutmu? Bunga apa yang bagus untuk meja makan? Makanan apa yang kira-kira bisa bikin suasana hati Papa melunak?"
Lyn mengusap dadanya yang terasa begitu sesak, menyembunyikan getaran hebat di jemari tangannya di bawah meja. Ia memaksakan sebuah senyum hangat yang terukir manis di wajah pucatnya.
"S-saran aku..." suara Lyn terdengar sedikit serak, namun ia berusaha mengaturnya sehalus mungkin. "Untuk menu makanan... sebaiknya pilih masakan yang tidak terlalu berat, Clara. Papamu... Tuan Wiliam biasanya lebih suka steak daging dengan saus yang simpel dan salad segar."
"Wah, betul juga!" Clara langsung mencatatnya di aplikasi ponselnya dengan bersemangat. "Terus untuk bunganya bagaimana? Mami suka mawar merah, tapi Papa suka yang seperti apa ya?"
Lyn menundukkan pandangannya sejenak, menahan rasa perih yang menjalar di tenggorokannya. Ia tahu persis selera pria tua yang selalu mengurungnya dalam pelukan hangat itu.
"Gunakan bunga white lily saja," bisik Lyn pelan, memberikan saran yang terasa bagaikan racun bagi hatinya sendiri. "Aromanya lembut dan tidak terlalu mencolok... Tuan Wiliam tidak suka aroma yang terlalu menyengat di meja makan."
"Duh, Lyn! Kamu memang yang paling paham dan cerdas!" puji Clara penuh rasa haru, merangkul bahu Lyn erat-erat di atas meja. "Aku beruntung banget punya sahabat seperti kamu. Tanpa saran dari kamu, aku pasti sudah kebingungan setengah mati."
Pelukan hangat dari Clara terasa bagaikan sembilu yang mengiris-iris nurani Lyn. Setiap kata pujian dan tawa bahagia dari sahabatnya menjadi cambukan dosa yang teramat berat. Lyn membalas pelukan itu dengan jemari yang dingin, menepuk-nepuk punggung Clara seraya memejamkan mata rapat-rapat.
Di dalam keheningan batinnya, Lyn menangis tanpa suara. Ia terjepit secara tragis di antara dua peran yang membunuhnya perlahan: sebagai sahabat tulus yang mendengarkan impian manis Clara, dan sebagai wanita rahasia yang memegang seluruh kebenaran serta kepemilikan mutlak dari ayah sahabatnya sendiri.
"Kamu harus datang ya saat makan malam itu nanti, Lyn!" pinta Clara seraya melepaskan pelukannya dengan senyum melebar. "Aku mau kamu ada di sana buat menyemangatiku dari jauh!"
Wajah Lyn seketika memucat bagaikan kertas. "A-aku... harus datang?"
"Iya dong! Kamu kan bagian dari penyusun rencanaku!" desak Clara mantap tanpa curiga sedikit pun. "Tolong ya, Lyn? Demi aku..."
Lyn menatap manik mata Clara yang penuh permohonan. Di bawah himpitan dilema moral dan ancaman bahaya yang kian membayang di depan mata, Lyn akhirnya mengangguk pasrah, menyembunyikan kehancuran jiwanya di balik senyuman palsu yang amat sempurna.
Bersambung...
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻