Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANCAMAN
"Kamu bercanda kan, Rian? Katakan kalau kamu cuma mengada-ada!"
Suara Sora melengking, bergetar hebat di tengah sepinya area parkir belakang galeri. Napasnya memburu, sementara kedua tangannya mengepal kaku di samping tubuh.
Rian tidak menjawab dengan kata-kata. Pria yang dulu selalu tampil klimis itu hanya tertawa hambar, menyodorkan amplify hitam berstempel khusus lembaga pemasyarakatan tepat ke dada Sora.
"Buka sendiri kalau tidak percaya, Sora. Aris itu gila, dan kamu tahu betul seberapa jauh kegilaannya kalau sudah menyangkut kamu."
Sora menarik amplify itu dengan jari-jari yang gemetar. Dengan gerakan terburu-buru, ia merobek pinggiran kertas dan mengeluarkan selembar surat bertuliskan tangan. Tulisan tangan yang sangat dikenalinya—rapi, tegas, dan menekan dalam:
Sora, sayangku. Aku tahu kamu sedang menikmati kebebasan semumu bersama pria arsitek itu. Tapi ingat, kamu milikku. Dinding penjara ini tidak cukup tebal untuk menghentikan tanganku menjangkaumu. Datanglah menjengukku hari Kamis ini jam sepuluh pagi. Jika kamu tidak muncul, jangan salahkan aku kalau galeri indahmu dan teman barumu itu berubah menjadi abu.
Darah di tubuh Sora seolah membeku seketika. Kertas di tangannya terlepas, melayang pelan sebelum mendarat di lantai aspal yang basah.
"Kamu... kamu bekerja sama lagi sama Aris?" bisik Sora menatap Rian dengan tatapan tidak percaya. "Setelah apa yang dia lakukan padamu? Setelah dia menghancurkan bisnismu?!"
"Aku tidak punya pilihan, Sora!" bentak Rian dengan mata merah menyala, melangkah maju memojokkan Sora ke dinding. "Aris punya akses ke sisa asetku yang disita! Dia janji akan mengembalikan sebagian kalau aku menyampaikan surat ini padamu! Aku butuh uang itu buat bertahan hidup!"
Sora mengepalkan tangannya, amarah yang membakar bercampur ketakutan membuat dadanya terasa sesak. "Kalian berdua benar-benar monster menjijikkan!"
Rian menyeringai dingin, memiringkan kepalanya. "Jaga ucapanmu, Ra. Kamu cuma punya waktu sampai lusa. Keputusanku ada di tanganmu—turuti kemauan Aris, atau lihat tempat usahamu rata dengan tanah."
Tanpa menunggu balasan lagi, Rian berbalik, melangkah terburu-buru menuju mobil sedannya dan tancap gas meninggalkan area galeri. Suara deru mesin mobilnya menyisakan keheningan mencekam yang mencekik leher Sora.
Sora terduduk lemah di lantai dingin. Tangannya menutup wajahnya yang basah oleh air mata. Rasa aman yang baru saja dirajutnya beberapa minggu terakhir hancur lebur dalam hitungan menit.
Kring... Kring...
Ponsel di dalam tasnya berdering keras. Sora merogoh tasnya dengan tangan gemetar, melihat nama Danu tertera di layar. Ia berusaha menetralkan suaranya sebelum menekan tombol hijau.
"Halo, Danu..." cicit Sora pelan, berusaha menahan tangis.
"Sora? Kamu di mana? Suaramu kenapa?" suara Danu terdengar panik di ujung telepon. "Aku baru selesai rapat dan perasaanku tidak enak. Kamu masih di galeri?"
"Aku... aku masih di belakang galeri," jawab Sora jujur, tak sanggup lagi menyimpan beban itu sendirian.
Hanya butuh waktu sepuluh menit hingga mobil sedan putih milik Danu membelah area parkir. Pria itu keluar dari mobil dengan tergesa-gesa, berlari menghampiri Sora yang masih menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Sora! Kamu kenapa? Ada yang menyakitimu?" Danu berlutut di hadapan Sora, memegang kedua bahu wanita itu dengan lembut namun sigap.
Sora menunjuk selembar surat hitam yang tergeletak di aspal. Danu mengambilnya, membaca baris demi baris kata ancaman dari Aris dengan garis wajah yang kian memutar keras.
"Rian baru saja dari sini... Dia yang membawakan surat ini," bisik Sora lirih. "Danu, aku takut... Aku tidak ingin kamu atau galeri ini terluka gara-gara masa laluku yang kelam."
Danu menatap Sora lurus-lurus. Matanya memancarkan ketegasan yang belum pernah Sora lihat sebelumnya. Ia merangkul tubuh Sora, menariknya ke dalam pelukan hangat yang begitu protektif.
"Dengar aku, Sora," ucap Danu dengan suara bariton yang mantap tepat di telinga Sora. "Kamu tidak sendirian lagi. Kita tidak akan biarkan pria brengsek di balik jeruji itu mengendalikan hidupmu lagi."
Hari Kamis, pukul sembilan pagi.
Gedung Lembaga Pemasyarakatan kelas satu itu berdiri kokoh dengan dinding beton tinggi berselimut kawat berduri. Udara di sekitarnya terasa berat dan dingin, mencerminkan ketegangan yang merayap di dada Sora.
Sora duduk di ruang kunjungan khusus dengan meja kayu tebal yang memisahkan area pengunjung dan narapidana. Di sampingnya, Danu duduk setia menggenggam tangannya di bawah meja, memberikan kekuatan moral yang sangat dibutuhkan Sora.
Pintu besi di seberang ruangan berderit terbuka.
Dua orang sipir membimbing seorang pria berpakaian tahanan berwarna biru pudar. Pria itu adalah Aris. Meski rambutnya dipotong pendek dan tubuhnya sedikit lebih kurus, sorot mata cokelat gelapnya masih memancarkan dominasi gila yang sama.
Saat matanya menangkap keberadaan Sora—dan genggaman tangan Danu—senyuman miring yang dingin mengembang di wajah Aris.
Aris duduk di kursi seberang meja. Suara gesekan rantai di kakinya terdengar nyaring di ruangan yang sepi itu.
"Kamu datang tepat waktu, Sora..." ucap Aris dengan suara rendah yang mengayun tenang. "Tapi aku tidak ingat pernah mengundang pengawalmu ini."
Sora menegakkan punggungnya, menatap lurus ke dalam manik mata pria yang pernah menghancurkan hidupnya itu.
"Aku datang untuk menegaskan satu hal, Aris," kata Sora dengan nada suara yang dipaksa stabil. "Ancamanmu tidak akan mempan lagi padaku. Aku sudah melaporkan suratmu dan Rian ke pihak kepolisian dan kepala LP pagi ini."
Aris tertawa pelan—sebuah tawa lirih yang membuat bulu kuduk Sora merinding. Ia memajukan tubuhnya ke depan, menaruh kedua tangannya yang terborgol di atas meja kayu.
"Kamu pikir laporan polisi bisa menghentikan orang-orangku di luar sana, sayang?" bisik Aris intim, matanya berkilat penuh obsesi. "Aku punya mata dan telinga di setiap sudut kota ini. Kalau aku tidak bisa memilikimu di luar sana... tidak akan ada pria lain yang boleh menyentuhmu."
Danu mengencangkan genggamannya pada tangan Sora, lalu mendongak menatap Aris tanpa rasa takut sedikit pun.
"Cukup, Aris," potong Danu dingin. "Masa kekuasaanmu sudah selesai. Orang-orang suruhanmu yang mencoba mengawasi galeri Sora sudah diamankan polisi sejam yang lalu."
Wajah Aris mendadak membeku. Kilatan panik melintas cepat di matanya sebelum berganti menjadi kemarahan liar.
"Kamu..." desis Aris menatap Danu dengan rahang mengeras.
"Rian sudah menyerahkan seluruh bukti rencana pembakaran itu demi meringankan hukumannya sendiri," lanjut Danu tenang. "Hukumanmu justru akan bertambah berat atas tuduhan ancaman pembunuhan dan terorisme finansial."
Sipir di belakang Aris langsung memegang kedua bahu Aris, memaksanya untuk berdiri saat waktu kunjungan dinyatakan selesai.
Aris memberontak pelan, matanya menatap Sora dengan kegilaan yang tak lagi tertutup. Pria itu menyunggingkan senyuman mengerikan sebelum diseret keluar oleh petugas.
"Sora! Kamu pikir ini sudah berakhir?!" teriak Aris dari balik pintu besi yang mulai menutup.
Sora menahan napasnya saat mendengar raungan Aris dari balik lorong gelap penjara.
"Buka mata dan telingamu baik-baik, Sora! Teman arsitekmu itu... tanya dia siapa nama asli ayahnya lima tahun lalu!"