NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Utang ayam

"Danti!"

Sebuah tangan mencengkeram lengannya dari belakang. Cengkeraman yang kuat, nyaris sakit.

Rizal berdiri di sana dengan wajah penuh malu dan marah. Matanya melotot, rahangnya tegang, dan keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia melirik ke sekeliling, ke arah para tamu yang memandang mereka, lalu menggertakkan gigi.

"Ikut aku," desisnya. "Ke belakang. Sekarang."

Ia menarik Danti, tapi kali ini lengan itu tak bergeser.

Danti berdiri kokoh, menatap tangan suaminya yang mencengkeram lengannya, lalu perlahan menatap wajah lelaki itu. Wajah yang dulu ia rindukan di setiap pulang kerja, yang ia tunggu dengan secangkir kopi hangat dan senyum.

"Aku nggak mau," katanya pelan.

"Apa?"

"Aku nggak mau ke belakang, Mas." Danti menarik lengannya, kali ini dengan tenaga yang mengejutkan, sampai cengkeraman Rizal terlepas. "Kamu mau marahin aku? Silakan. Di sini juga bisa."

"Dan, jangan bikin malu!"

"Malu?" Danti tertawa pendek, getir, tapi matanya mulai berkaca. "Kamu malu karena aku bicara? Waktu aku dihina di depan semua orang, di pesta kemarin, tadi, bertahun-tahun, kamu nggak pernah malu? Kamu nggak pernah malu waktu aku dibilang gendut, dibilang mandul, dibilang drum bekas?"

"Itu..."

"Kamu tahu, Mas." Suaranya mulai bergetar, tapi tak runtuh. "Kamu tahu semua orang selalu menghina aku. Kamu duduk di sebelahku dan mendengar semuanya. Dan kamu diam. Bukan cuma diam, kamu ikut tertawa. Aku nunggu, Mas. Aku nunggu satu kalimat dari kamu. Cuma satu... Cukup atau Dia istriku. Tapi nggak pernah."

Rizal membuka mulut, lalu menutupnya. Kerongkongannya bergerak, tapi tak ada kata keluar.

"Sekarang aku cuma melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan," lanjut Danti. "Kamu nggak mau membelaku, ya sudah. Aku bela diriku sendiri."

Sebuah suara lantang memotong keheningan.

"Cukup!"

Bu Sumarni melangkah maju dengan dada naik-turun, wajahnya merah padam, tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia menunjuk Danti dengan jari bergetar.

"Danti! Diam! Jangan bikin malu di depan keluarga! Kamu pikir kamu siapa, berani-beraninya bicara kayak begitu sama Bude dan Tante kamu? Mereka orang tua!"

Danti menoleh. Tatapannya tak lagi lembut, tapi juga tidak lagi takut.

"Bu," ucapnya tenang. "Sejak awal, bukan aku yang buat keributan."

"Apa?"

"Aku datang baik-baik. Aku menyapa, aku senyum. Aku bahkan belum duduk. Tapi Bude Marni langsung menghina badanku. Tante Lisna menyindir aku soal anak. Dan semua orang di sini tertawa." Ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan. "Kalau aku yang salah karena menjawab, maka aku mau tahu... siapa yang mulai duluan?"

Tak ada yang menjawab.

Beberapa tamu menunduk. Beberapa pura-pura sibuk dengan piring. Sebagian lagi, ibu-ibu tetangga yang tadi membantu memasak, saling berpandangan dengan raut yang sulit dibaca, antara kaget dan diam-diam setuju.

Bu Sumarni membuka mulut, hendak membalas, mencari kalimat paling tajam dari gudang makiannya.

Dan tepat saat itu, dari halaman depan, terdengar teriakan perempuan yang menggema sampai ke dalam rumah.

"BU SUMARNIIIII!!"

Semua kepala menoleh serempak.

Di ambang pintu, dengan celemek plastik bernoda merah dan sebilah golok yang diselipkan di pinggang, berdiri Bu Duma. Wajahnya garang. Dadanya naik-turun seperti baru berlari dari pasar. Matanya menyapu seisi ruangan, mencari satu sosok.

"MANA UANG AYAM SAYA! DUA PULUH LIMA KILO, BELUM DIBAYAR SEPESER PUN!"

Danti menatap Bu Sumarni.

Bu Sumarni menatap Bu Duma.

Dan seisi ruangan, termasuk Rizal, terdiam seperti patung.

Teriakan itu belum selesai bergema ketika kepala-kepala dari seluruh penjuru rumah menyembul.

Bu Duma berdiri di ambang pintu seperti patung penagih utang. Celemek plastiknya masih berbercak darah ayam, golok terselip di pinggang, dan matanya menyapu ruangan dengan tatapan yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri.

"BU SUMARNI!" ulangnya. "Keluar! Jangan sembunyi!"

Bu Sumarni yang sejak tadi berdiri membatu di tengah ruangan, buru-buru memasang wajah anggun. Ia merapikan sanggul, menarik napas, lalu melangkah ke pintu dengan senyum tipis seperti seseorang yang hendak menyambut tamu istimewa.

"Ya ampun, Bu Duma," katanya manis, dengan suara yang jelas dipaksa lembut. "Ada apa teriak-teriak begitu? Kita bicara baik-baik saja, jangan di depan banyak orang."

"Justru di depan orang banyak, Bu!" Bu Duma menyilangkan tangan di dada. "Dari pagi sampai sore saya nunggu, sampai arisan selesai, katanya! Sekarang orang-orang udah pada kenyang, rumah ramai, tapi uang saya belum nongol! Dua puluh lima kilo ayam, Bu! Satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah!"

Angka itu menggema di ruang tamu.

Beberapa tamu saling melirik. Seseorang berbisik, "Dua puluh lima kilo? Gila, itu banyak banget."

Bu Sumarni mengerjap. "Uang ayam... apa maksud Ibu?"

"Jangan pura-pura lupa, Bu!"

"Saya benar-benar nggak ngerti, Bu Duma." Bu Sumarni tertawa kecil, tawa yang lebih mirip batuk. "Saya nggak punya utang apa-apa sama Ibu. Mungkin Ibu salah orang?"

Mata Bu Duma menyipit seperti pisau yang diasah. "Salah orang? Saya nggak pernah salah orang, Bu. Saya hafal semua pelanggan saya, termasuk yang suka ngutang." Ia melangkah satu langkah ke dalam, ibu-ibu di sekitarnya mundur teratur. "Kemarin siang, menantu Ibu, Danti datang ke lapak saya. Katanya beli ayam dua puluh lima kilo atas perintah Ibu. Katanya Ibu nyuruh dia ngutang dulu, nanti dibayar setelah arisan. Betul atau nggak?"

Seisi ruangan menoleh serempak.

Bu Sumarni membeku.

Dalam sekejap, wajahnya berubah dari pucat menjadi merah. Ia perlahan menoleh, dan tatapannya jatuh pada Danti yang berdiri tak jauh dari sana, dengan selendang melilit tangan kiri dan wajah paling polos di dunia.

"Danti," desisnya, suaranya nyaris tak terdengar, tapi sorot matanya seolah ingin memotong-motong menantunya. "Apa yang... apa yang dibilang Bu Duma itu benar?"

Danti menatapnya.

Beberapa detik lalu ia masih tersenyum geli. Tapi kini, entah bagaimana wajahnya berubah. Matanya melebar, bibirnya bergetar, alisnya turun membentuk garis memelas yang sempurna. Ia melangkah maju setengah langkah dengan tangan kanan terangkat ke dada, seperti anak kecil yang dituduh mencuri padahal hanya menuruti orang dewasa.

"I-iya, Bu..." katanya terbata. "Aku cuma... menuruti perintah Ibu."

"Kamu...!"

"Kemarin Ibu bilang..." Danti menunduk, suaranya makin lirih, tapi cukup jelas untuk didengar seisi ruangan. "...suruh beli ayam dua puluh lima kilo, karena ada arisan. Terus Ibu bilang, bagaimanapun caranya, sore itu ayamnya harus sampai di rumah."

Bu Sumarni mengepalkan tangan. "Ibu nyuruh kamu BELI! Pakai UANGMU SENDIRI!"

Seseorang terkesiap di belakang. Seorang ibu menutup mulut dengan telapak tangan.

"Tapi, Bu..." Danti mengangkat wajahnya. Matanya basah, hidungnya mulai memerah. "Aku sudah bilang kemarin. Aku bilang, nggak punya uang sebanyak itu. Tapi Ibu bilang, itu bukan urusan Ibu, katanya, bagaimanapun caranya sore itu ayamnya harus ada."

Hening.

Bu Sumarni gelagapan, mencari celah. "Kamu... kamu kan bisa pinjam sama Rizal! Atau cari cara lain! Jangan malah ngutang atas nama Ibu!"

"Mas Rizal belum kasih uang belanja lagi, Bu." Danti terisak kecil, bahunya sedikit berguncang. "Aku takut Ibu kecewa. Aku takut Ibu malu kalau arisan nggak ada ayam. Aku kan cuma pengen bikin Ibu bahagia. Aku pikir kalau aku berutang dulu, nanti Ibu bisa bayar setelah arisan, jadi Ibu nggak perlu repot..."

Satu isak lolos. Danti mengusap sudut matanya dengan punggung tangan kanan. "Aku nggak tahu... aku nggak tahu ternyata Ibu bakal marah begini."

1
ryuka
bagus rizal semakin cepat kamu masuk kurang klo bgini 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
selamat Rizal sbntar lgii km bkal masuk k jurang kehancuran 😏
Muft Smoker
awalnya emnk manis ,, tp nanti juga akhirnya anda bakal ngerasa mana yg tulus ma hidup mu ,, mana yg cuma tulus ma uang mu zal ,, 😒😒😒
ryuka
nunggu kehancuran kalian sekeluarga aku tuuuhhh 🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
haduuuhh biasa nya yg gampang terpukau itu yg gampang di bodohi 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
orang salah emang selalu cari pembenaran 🫠🫠🫠🫠🫠🫠
Muft Smoker
ayoo dantii ,, semangat berjuang ,,
ryuka
semangat dantiiii 👍👍👍👍👍👍👍
ryuka
kamu mulai terlena rizal.. haduh haduh haduhh.. /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
gpp danti ,, biarkan si Rizal hancur sndrii dg selalu merasa bnar ,,
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,
Muft Smoker
baru 1 hari atur uang belanja ,, km udh stress zal/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ryuka
naahhh mikir kamu sekarang.. haduuhh di bodohin kok mau aja sihhh
Muft Smoker
sbntar lgii jugaaa hancur dy ,, biarin aj ,,
ryuka
bodoh kamu bodoh rizal.. tunggu kehancuran kamu zal
Muft Smoker
gpp zal semakin km merasa bosan ma danti ,, semakin penyesalan dan kehancuran mendekat ke arah mu
ryuka
terlalu bodoh kamu rizal../Sweat//Sweat//Sweat//Sweat/
Muft Smoker
danti pun membalas ,, ' km banci mas ' 😒😒😒😒😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
ryuka
bagus danti.. keluarkan semua uneg2 mu biar rizal tau.. tinggal kita liat keputusan apa yang kita ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!