Keira tidak pernah menyangka—keputusan sederhana untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong justru mengubah seluruh jalan hidupnya. Niatnya hanya menghindar dari masalah yang mengejarnya, mencari tempat aman untuk sesaat. Namun takdir seolah punya rencana lain.
Sebuah kesalahpahaman terjadi.
Dan dalam hitungan waktu yang begitu singkat… Keira terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gus Zayn.
Pria yang datang ke rumah itu bukan untuk mencari masalah—melainkan hanya menjalankan permintaan temannya untuk mensurvei sebuah rumah yang akan dibeli. Ia tak pernah membayangkan, langkahnya hari itu justru menyeretnya ke dalam sebuah ikatan suci yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Keira melangkah perlahan memasuki bangunan tua yang terlihat seperti sudah lama tak terawat. Dinding-dindingnya retak, catnya mengelupas, dan lantainya berdebu tebal. Suasana dingin menusuk tulang, membuat bulu kuduk Keira berdiri.
Ia menoleh ke arah Gus Zayn yang berdiri tegap di sampingnya, wajahnya datar tanpa ekspresi sedikit pun. "Kenapa kita harus ke sini?" suara Keira bergetar tipis, matanya menelusuri sudut gelap yang seolah menyimpan rahasia kelam. Nafasnya terasa berat, seakan ada sesuatu yang mengintai dari balik bayangan.
Gus Zayn tetap diam, hanya menatap lurus ke depan. Tatapannya yang dingin membuat Keira semakin waspada, seolah pria itu sudah terbiasa dengan tempat yang menimbulkan ketakutan itu.
Langkah Gus Zayn mantap, mengajak Keira masuk lebih dalam. Keira merasakan jantungnya berdegup kencang, takut tapi juga penasaran.
Udara pengap bercampur aroma kayu lapuk semakin membuatnya tidak nyaman. Di sudut ruangan, terdengar suara samar—mungkin hanya angin, pikir Keira—namun ia tak bisa menghilangkan perasaan bahwa bangunan itu menyimpan sesuatu yang tak kasat mata.
Gus Zayn menoleh sebentar, menatap Keira dengan mata yang tak menunjukkan kehangatan. "Tidak ada yang perlu kamu takutkan," katanya pelan, tapi nada suaranya dingin seperti es.
Keira menggigit bibirnya, mencoba menenangkan diri. Namun di dalam hati, ia tahu ketakutan itu bukan semata imajinasinya.. Tapi karena pria itu pasti akan memarahinya soal tadi.
Gus Zayn menyuruh Keira duduk di sebuah kursi yang ada di sana..
Keira menuruti perintah Gus Zayn dengan langkah pelan, lalu duduk di kursi kayu yang tampak rapuh di sudut ruangan itu. Matanya yang gelisah menelusuri setiap sudut, dari dinding yang retak hingga jendela yang hanya diselimuti tirai tipis, seolah mencari celah untuk melarikan diri. Jantungnya berdegup cepat, namun dia berusaha menenangkan diri, meski tangan kecilnya gemetar tanpa bisa disembunyikan.
Sementara itu, Gus Zayn melangkah mantap menuju lemari usang yang berdiri kokoh di sudut ruangan. Suara langkahnya menggema pelan di lantai kayu yang berderit. Dengan tatapan tajam, dia membuka pintu lemari itu perlahan, mengeluarkan sebuah benda yang seolah menyimpan rahasia besar. Udara di ruangan itu menjadi semakin berat, membungkus Keira dalam keheningan yang menegangkan.
Gus Zayn melangkah perlahan kembali ke arah Keira dengan sebuah buku tebal yang terlihat usang di tangannya. Kulit sampulnya yang retak dan halaman-halaman yang agak menguning menunjukkan usia buku itu yang sudah puluhan tahun.
Keira menatap buku itu dengan mata penuh penasaran, bibirnya sedikit mengerut seolah berusaha menangkap makna di balik keberadaan buku tersebut. Cahaya redup dari lampu gantung memantul lembut di permukaan buku, menambah kesan misterius.
Gus Zayn meletakkan buku itu di atas meja depan Keira dengan hati-hati, lalu menatap Keira sambil berkata dengan suara berat, "Ini buku saya waktu pertama kali saya belajar shalat."
Wajah Keira berubah serius, dadanya berdebar seiring rasa ingin tahu yang semakin kuat, sementara jari-jarinya tanpa sadar meraba permukaan meja, menunggu detik-detik selanjutnya yang akan di jelaskan oleh suami dadakannya itu.
"Saya selalu menulis semuanya di sini. Dari rukun, hukum, syahadat, tata cara shalat, maupun tata cara berwudhu." Gus Zayn bisa saja memberikan buku panduan shalat kepada Keira yang lain di perpustakaan pondok pesantren, tapi entah kenapa, hatinya malah menuntunnya memberikan bukunya dulu.
Keira menggigit bibirnya kencang. "G-Gus tau?"
Gus Zayn menganggukkan kepalanya. "Saya tahu, Keira... Dan entah apa yang Allah ujikan pada saya ini. Saya juga tidak tahu..." Gus Zayn mengusap wajahnya frustasi.
Keira mendongak. "Apakah anda menyesal menikahi saya? Kalau anda menyesal, silahkan anda talak saya sekarang juga. Saya nggak paham agama. Saya hanya tau agama saya Islam, tapi Islam itu apa saya tidak tahu." Ucap Keira jujur. Entah kenapa ia malah merasakan sesak yang luar biasa saat mendengar perkataan Gus Zayn. Pria itu seperti menanggung beban yang banyak karena kehadirannya.
Gus Zayn tertegun mendengarnya, ia mengucapkan istighfar berulangkali, karena sepertinya ia sudah salah bicara dan membuat hati perempuan ini sakit hati. "Maaf."
"Gus tidak perlu minta maaf. Kita di pertemukan karena sebuah kesalahpahaman. Jadi, lebih baik kita akhiri saja semuanya, sebelum terlambat. Saya juga harus kembali pada orang tua saya." Ucap Keira. Sungguh ia sebenarnya sangat betah di pondok pesantren ini. Hatinya mendadak nyaman dan tidak ada resah gelisah sama sekali. Terlebih saat ia mendengar suara lantunan ayat suci Al-Quran. Keira sama sekali tidak ingin semua itu berakhir. Namun, ia harus tau diri juga, jika pria yang berstatus suaminya itu tidak lah mungkin bersama dengan-nya. Status mereka berbeda.
Keira menatap lekat wajah tampan itu yang juga menatapnya. Ada desir aneh, namun Keira tak boleh merasakannya. Ia harus menepis kuat perasaan yang datang tiba-tiba itu.
Keira menarik nafasnya,
"Gus ayo talak saya."