Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.
Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.
Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.
Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.
Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...
“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun berbalut madu
"Hmph, syukurin. Dibilangin malah ngelawan." Suara Bu Sumarni menyusul dari belakang, tenang, datar, tanpa rasa bersalah. bahkan terdengar riang seperti baru menang lotre mingguan.
Danti memejamkan mata sebentar, mengumpulkan sisa tenaga yang semakin terkikis setiap hari, lalu berbalik pelan.
Mertuanya sudah duduk di kursi makan sambil bersedekap, memandangi seluruh rumah dengan tatapan seorang inspektur yang sedang mengawasi bawahannya.
"Kamu tuh ya, Danti. Ibu ini nggak habis pikir. Dulu Ibu udah bilang sama Rizal, jangan nikah sama perempuan yang cuma bisa nadahin tangan. Lihat sekarang, kerjanya apa? cuma ngurus rumah doang, itu juga nggak becus." ucap Bu Sumarni, pedas, kejam, tanpa memikirkan apakah ia sakit hati atau terluka setelah mendengar kata-kata yang menyakitkan itu.
"Bu, aku..." suara Danti tertahan.
"Lihat Mbak Ratih, kakaknya Rizal. Udah punya anak dua, suami juga ada, tetap kerja, tetap punya gaji sendiri. Nggak pernah minta-minta. Itu baru perempuan mandiri, kamu? Cuma nunggu duit suami."
Dada Danti nyeri. Kali ini bukan karena marah, tapi karena ia sudah lelah menjelaskan hal yang sama berulang kali.
"Bu," ucapnya, "sejak awal menikah, Mas Rizal yang melarang aku bekerja. Dia bilang cukup di rumah saja, dia yang tanggung semuanya."
"Halah." Bu Sumarni menggerakkan tangan seperti mengusir lalat. "Namanya laki-laki, ya bilang begitu biar kelihatan gagah. Kamu seharusnya pintar-pintar cari cara! Bukan malah enak-enakan. Jangan salahin anakku!"
Danti membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Tidak ada gunanya. Setiap kalimatnya akan dibalik, dipelintir, dan dilemparkan kembali padanya sebagai bukti kesalahan lain. Ia menghela napas panjang, panjang sekali, dan membiarkan bahunya turun.
Bu Sumarni sudah tak lagi menatapnya. Pandangan perempuan itu tertuju pada meja makan, pada sisa telur gulung, tumis buncis, sepiring nasi hangat, dan sebakul tempe goreng yang belum sempat disentuh. Danti memang belum sarapan. Rencananya ia makan setelah Rizal berangkat.
"Wah, masih banyak ini," gumam Bu Sumarni. Senyumnya merekah. "Sayang kalau mubazir."
Tanpa menunggu persetujuan, ia mengeluarkan beberapa wadah plastik dari tas jinjingnya. Wadah yang entah kenapa selalu ia bawa, dan mulai memindahkan lauk satu per satu.
"Bu..." Danti melangkah mendekat. "Itu... sarapanku. Aku belum makan dari semalam. Tolong sisakan sedikit saja."
"Lho, kenapa?" Bu Sumarni menoleh, matanya menyipit tajam. "Kamu itu nggak boleh banyak makan. Lihat badanmu! Nanti makin gendut. Suamimu aja malu bawa kamu ke pesta."
Danti tercekat.
"Ibu ini lagi nolong kamu, tahu. Biar kamu belajar disiplin." Bu Sumarni menutup wadah terakhir dengan bunyi klik yang puas, menumpuknya, lalu memasukkan semuanya ke dalam tas. Telur gulung, tumis buncis, tempe goreng, bahkan sisa nasi di bakul pun ia cedok habis.
Sepuluh menit kemudian, ia sudah berdiri di pintu dengan wajah berseri-seri, seperti baru pulang dari pasar murah.
"Ya sudah, Ibu pulang dulu. Awas jangan bikin Rizal susah lagi, ya. Dan kurangi makan!"
Lalu pintu tertutup. Langkah sandalnya menjauh, bersama sisa harum masakan yang dibawa pergi.
Rumah mendadak sepi.
Danti berdiri di tengah ruang makan, di depan meja yang kini kosong, hanya meninggalkan taplak berbintik minyak dan dua piring kotor yang belum sempat dicuci. Lalu perlahan, seperti seseorang yang kehilangan tenaga bahkan untuk menopang dirinya sendiri, ia menarik kursi dan duduk.
Punggungnya menyandar. Kedua tangannya jatuh ke pangkuan. Perutnya berbunyi lagi, panjang dan lirih, seolah mengejek.
Di dapur, karung beras tinggal sisa di dasar. Di dompetnya, hanya ada beberapa lembar ribuan lusuh. Di rumah itu, tak ada satu pun orang yang akan bertanya, kamu sudah makan, Dan?
Ponsel di atas nakas bergetar.
Danti tersentak. Ia baru sadar sudah entah berapa lama duduk di kursi makan, menatap meja kosong. Matahari sudah naik tinggi, cahayanya menembus tirai dan jatuh di lantai dalam garis-garis pucat. Getaran itu terdengar lagi, kali ini lebih panjang.
Dengan langkah malas ia masuk ke kamar dan meraih ponselnya. Layar menyala, memperlihatkan sebuah nama yang membuat napasnya tertahan.
Nadia.
Jari Danti gemetar saat menggeser tombol hijau. "Halo?"
"DANTIIII!"
Teriakan itu begitu nyaring hingga Danti harus menjauhkan ponsel dari telinga. Dan ketika ia mendekatkannya kembali, ia sudah tertawa. Tertawa sungguhan, tawa yang terasa asing di tenggorokannya, seperti pintu lama yang berderit karena lama tak dibuka.
"Nadia! Ya ampun, ini beneran kamu?"
"Ya iyalah beneran aku! Kamu pikir siapa, hantu panti?" Suara di seberang terdengar renyah dan hangat, persis seperti dulu. "Astaga, Dan. Lima tahun. Lima tahun aku cuma bisa kirim pesan singkat. Kamu kok susah banget dihubungin sih sekarang?"
"Maaf..." Danti mengusap sudut matanya yang tiba-tiba basah, masih sambil tersenyum lebar. "Aku sibuk ngurus rumah. Kamu gimana? Sehat?"
"Sehat banget! Eh dengerin, aku punya kabar. Kantorku mutasi aku lagi, dan tebak ke mana?"
"Ke mana?"
"Ibukota! Aku udah di sini sejak kemarin malam!"
Danti menekap mulutnya. "Serius?"
"Serius! Makanya aku telepon. Ketemu yuk, hari ini juga. Aku udah kangen berat. Kamu bebas, kan?"
Danti menoleh ke arah jam. Pukul sembilan lebih sedikit. Tak ada yang menunggunya di rumah. Tak ada yang memanggil namanya, kecuali kalau ada yang butuh disalahkan.
"Bebas," jawabnya cepat. "Aku bebas banget."
"Yes! Cafe di dekat taman kota, tahu kan? Yang ada pohon beringin gede di depannya. Jam sebelas ya?"
"Iya! Iya, aku ke sana."
Setelah sambungan terputus, Danti berdiri mematung beberapa detik dengan ponsel di dada. Rasanya aneh. Hangat. Seperti ada lampu kecil yang tiba-tiba dinyalakan di ruangan yang sudah terlalu lama gelap.
Sejak Nadia pindah lima tahun lalu, tak ada lagi tempat untuk bercerita. Danti tak punya orang tua. Ayah dan ibunya meninggal ketika ia masih remaja, dan keluarga dari kedua belah pihak, yang dulu berdatangan hanya untuk berebut warisan sepetak tanah, menghilang begitu tak ada lagi yang bisa diambil.
Hanya Nadia, anak panti asuhan yang jadi teman sebangkunya sejak SMA, yang tak pernah pergi. Mereka bagai dua kapal kecil yang saling mengikat tali agar tak hanyut.
Danti membuka lemari, dan senyumnya meredup sejenak. Lalu ia mengambil gaun hijau botol itu lagi. Tak ada pilihan lain. Tapi kali ini ia memadukannya dengan cardigan krem tipis yang ia jahit sendiri dulu, dan di depan cermin ia mengangguk kecil.
"Cukup."
Ia mengambil dompet. Isinya tiga lembar ribuan dan selembar lima ribu, hanya cukup untuk ongkos angkot pergi, dan mungkin pulang dengan berjalan kaki. Ia menarik napas, mengabaikan rasa perih di perutnya, lalu menutup pintu rumah di belakangnya.
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,