Tiga tahun lalu, Alessandra Valente membakar seluruh dunianya demi seorang pria—seorang raja mafia bermata madu yang menjanjikannya kebebasan, lalu mencampakkannya di jalanan dengan sebuah rahasia di dalam rahim.
Kini ia hanyalah seorang ibu tunggal di sudut kumuh Queens, bertahan hidup di antara tumpukan tagihan dan tawa kecil putranya. Sampai suatu sore kelabu, aroma cendana dan bahaya itu kembali menghantui: Damian Smirnov, sang Pakhan Bratva yang dulu menghancurkannya, berdiri di ambang pintu—dan menatap lurus ke mata madu anak yang begitu mirip dengannya.
"Apa pun yang berasal dari darahku, adalah milikku."
Tapi Alessandra bukan lagi gadis rapuh yang ia tinggalkan. Untuk melindungi putranya, ia rela belajar menarik pelatuk, menantang para bos paling ditakuti di lima keluarga, dan berdiri di garis depan perang yang bisa menelan mereka semua. Di antara pengkhianatan keluarga, dendam yang membara, dan gairah yang tak pernah benar-benar padam, seorang perempuan yang dulu dihina sebagai "si gendut dari Queens" perlahan menjelma menjadi sesuatu yang membuat seluruh dunia bawah tanah bertekuk lutut: Sang Singa Betina.
Jika mereka mengira bisa merebut anaknya, mereka akan belajar satu hal—tak ada yang lebih berbahaya daripada seorang ibu yang tak lagi punya apa pun untuk kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamila22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Hantu di Lorong
Malam pertama di benteng Damian terasa seperti siksaan. Ranjangnya terlalu besar, seprainya terlalu dingin, dan kesunyian pegunungan itu membungkusku seperti kain kafan. Eithan tidur di sisiku, tapi tidurnya tak tenang. Kedua tangan mungilnya mengepal, dan sesekali ia melenguh tertahan, mencerna kekacauan beberapa jam terakhir di dunia kecilnya.
Aku terus menatap langit-langit, menghitung detak jantungku sendiri, ketika suara itu terdengar. Sebuah isak. Bukan dariku.
"Tidak! Mama, jangan!" Teriakan Eithan memecah keheningan kamar.
Ia terduduk mendadak di ranjang, matanya terbuka lebar tapi tersesat dalam teror sebuah mimpi buruk. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat, gemetar bagai daun. Kutarik ia ke dadaku, membisikkan kata-kata penenang, tapi anak itu tak bisa dihibur. Ketakutan di kafe tadi, perjalanan paksa, dan wajah "om jahat" milik Damian telah menetas jadi mimpi buruk dalam benaknya.
Pintu suite terbuka mendadak. Bukan ketukan halus, melainkan langkah masuk seorang pria yang hidupnya selalu siaga terhadap bahaya. Damian muncul di bawah bingkai pintu, hanya diterangi cahaya samar dari lorong. Ia bertelanjang kaki, hanya mengenakan celana tidur abu-abu, membiarkan dadanya yang penuh bekas luka terlihat, jejak penyergapan yang nyaris merenggut nyawanya, dan tato Bratva-nya berkilau dalam remang.
"Ada apa? Aku dengar teriakan." Suaranya serak, sarat kecemasan tulus yang justru membuatku kesal.
"Kehadiranmu yang terjadi, Damian. Dia mimpi buruk," jawabku, sambil berusaha menenangkan Eithan yang masih menangis. "Kembali ke kamarmu. Kau cuma bikin dia makin takut."
Damian mengabaikan perintahku. Ia melangkah masuk perlahan, seolah berjalan di atas pecahan kaca. Ia berhenti di ujung ranjang, memandang putranya dengan keputusasaan yang menegangkan wajahnya.
"Biar aku bantu." Ia memohon. Suaranya begitu pelan hingga nyaris tak kudengar.
"Kamu tidak tahu caranya. Kamu tidak pernah ada di satu pun malam terornya selama tiga tahun."
"Aku belajar cepat." Ia maju satu langkah lagi, lalu duduk di tepi kasur, menjaga jarak yang aman.
Merasakan beban orang asing di ranjang, Eithan malah menyembunyikan wajahnya lebih dalam ke leherku, tapi tangisnya mereda. Ia menatap Damian dengan mata besarnya yang basah. Lalu, dengan gerakan yang membuatku kehilangan napas karena kelembutannya, Damian mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, sebuah boneka beruang kecil. Tua, sudah sedikit lusuh.
"Ini dulu punyaku," kata Damian, berbicara pada anak itu dengan kelembutan yang tak kusangka ia miliki. "Namanya Mishka, boneka beruang. Dia menjagaku waktu aku juga sering mimpi buruk dulu di Rusia. Dia beruang penjaga, Eithan. Dia tidak akan membiarkan monster masuk."
Eithan berhenti menangis. Ia menatap beruang itu, lalu menatap Damian. Tangan mungilnya terulur gemetar, meraih boneka itu, lalu mendekapnya erat di dada. Untuk pertama kalinya, ia tak berteriak. Ia terpaku pada tatapan pria yang, meski menakutkannya, seolah menawarkan sebuah perisai.
"Tidurlah." Damian menatap mataku. Ketegangan di antara kami seperti aliran listrik, kabel telanjang yang sebentar lagi memicu kebakaran. "Aku tidak akan beranjak dari sini sampai dia tertidur lagi."
"Damian, ini tidak mengubah apa pun," peringatku pelan, walau kubiarkan ia tetap tinggal. "Jangan kira sebuah boneka beruang bisa menghapus tiga tahun pengabaian. Pengampunan tidak bisa dibeli semurah itu."
"Aku tidak sedang membeli apa pun, Alessandra," jawabnya, menyandarkan punggung ke kepala ranjang, sejauh satu meter dari kami. "Aku sedang menjalani hukumanku. Dan hukumanku adalah berada sedekat ini dengan kalian, tapi tahu bahwa aku tidak boleh menyentuh kalian."
Satu jam berlalu. Eithan akhirnya tertidur, memeluk erat beruang milik Damian. Keheningan kembali, tapi kali ini berbeda. Kami bertiga di ranjang raksasa itu, sebuah parodi kejam tentang keluarga yang seharusnya bisa kami jadi.
Damian tak beranjak. Ia tetap di sana, menatapku dalam gelap. Pandangannya menyusuri garis wajahku, berhenti di bibirku, di leherku, dengan kelaparan yang membakar kulitku.
"Kamu lebih cantik dari dulu," ucapnya tiba-tiba. "New York memberimu kekuatan yang membuatku gila."
"New York mengajariku bertahan dari pria-pria seperti kamu," balasku, tanpa menoleh. "Jangan coba pakai pesona mafiamu padaku. Aku bukan lagi gadis yang percaya pada janji-janjimu. Kamu menghancurkanku, Damian. Dan pecahan yang hancur itu melukai kalau kamu coba menyatukannya lagi."
Damian mengulurkan tangan, nyaris tak menyentuh sehelai rambutku yang jatuh di bantal. Aku ingin menepis, tapi tubuhku mengkhianatiku. Aku diam membeku, merasakan panas jari-jarinya seperti cap besi membara.
"Aku tahu kamu benci padaku," gumamnya, mendekat sedikit lagi. "Dan kamu benar. Tapi jangan minta aku berhenti menatapmu seolah kamu satu-satunya jalanku kembali pada kehidupan. Aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku saat menjauhkanmu, tapi aku bersumpah, demi darah anak ini, aku akan merebut pengampunanmu meski itu memakan sisa umurku."
"Kalau begitu, siapkan dirimu untuk hidup yang sangat panjang dan sangat sepi," semburku, akhirnya menarik kepalaku dari jangkauannya. "Karena pengampunan didapat lewat perbuatan, bukan lewat boneka beruang dan kalimat picisan. Besok, saat Eithan bangun, kamu tetap pria yang meninggalkan kami sendirian."
Rahang Damian mengeras, tapi ia tak membantah. Ia bangkit dari ranjang dengan gerakan lambat yang menyiksa. Ia berdiri sejenak, menatap kami tidur, lalu berjalan ke pintu.
"Ada penjaga di setiap lorong, Alessandra. Tidak ada yang bisa masuk. Tidak ada yang akan menyakiti kalian."
"Satu-satunya yang benar-benar menyakiti kami adalah kamu, Damian," kuingatkan sebelum ia menutup pintu.
Kudengar ia mengembuskan napas di balik daun pintu kayu itu. Kudengar bagaimana ia tetap di sana, berdiri, menjaga pintu kami seperti anjing setia yang tahu majikannya sudah tak lagi menginginkannya.
Kubetulkan posisiku di ranjang, memeluk Eithan. Beruang Mishka berada di antara kami, jembatan kain antara masa lalu dan masa kini. Dadaku terasa sakit, tapi bukan karena cinta. Melainkan karena amarah pada kenyataan bahwa, meski dengan segala kebencian itu, kehadirannya masih membuatku merasa aman.
Ia harus menderita. Ia harus merasakan kekosongan yang dulu kurasakan. Pengampunan adalah gunung yang bahkan belum mulai ia daki, dan aku tak akan mengulurkan tangan agar ia bisa naik lebih cepat. Kalau ia ingin jadi ayah Eithan dan menjadi pria dalam hidupku lagi, ia harus berdarah-darah untuk itu.
Aku tertidur dengan tangan di perutku, mengingat bahwa bahaya tak hanya ada di luar bersama ayahku, tapi juga di dalam, di hati seorang pria yang tak menerima kata "tidak" sebagai jawaban.