Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Melodi orkestra di aula utama Kasino Royale Vane mendadak melambat, beralih dari alunan jazz bertempo cepat menjadi simfoni gesekan biola klasik yang megah, berat, dan romantis. Di bawah pendar ribuan kristal lampu gantung yang memantulkan kemewahan tanpa batas, para tamu undangan perlahan membuka ruang di tengah aula lantai dansa.
Ini adalah momen tradisional tahunan kasino—tarian kehormatan yang dibuka khusus bagi tuan rumah dan para tamu kehormatan paling berpengaruh malam itu.
Di pinggir aula, di dekat pilar marmer besar berukiran emas, Devan Argantara berdiri tegak. Topeng ukiran serigala hitam legam masih membingkai separuh wajahnya, menyisakan rahang tegas dan iris mata kelam yang memancarkan dominasi mutlak. Di sampingnya, Aria berdiri dalam balutan gaun satin sutra champagne gold dengan topeng kupu-kupu emas yang memantulkan kilau cahaya terang.
Sistem komunikasi mikro di balik telinga Aria berderik pelan, disusul suara Erick yang masuk dari bus komando.
“Nona Aria, duplikasi keycard titanium sudah terintegrasi sempurna dengan peladen utama kita. Sinyal pemindai retina palsu siap diinjeksikan dalam hitungan sepuluh menit ke depan. Marco dan tim taktis sudah merapat di lorong logistik bawah tanah.”
Aria menghela napas tak kasat mata. Fase penentuan telah dimulai. Ia melirik Devan lewat sudut matanya.
Pria itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kecemasan. Sebaliknya, sudut bibir Devan terukir membentuk senyum tipis penuh percaya diri. Pria itu mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Aria, membuka telapak tangannya lebar-lebar.
"Mereka sedang melihat ke arah kita, Gisele," bisik Devan rendah, suaranya sarat akan nada perintah yang memabukkan. "Tunjukkan pada mereka bagaimana cara dunia bawah tanah berdansa di atas abu."
Aria tidak ragu lagi. Ia mengangkat dagunya anggun, lalu meletakkan jemari halusnya yang bersarung satin ke dalam genggaman tangan Devan.
SLIDE.
Dalam satu sentakan yang mantap dan terukur, Devan menarik tubuh Aria mendekat. Pijakan sepatu hak tinggi Aria mendarat sempurna seirama dengan langkah tegap pria itu saat mereka melangkah menuju pusat lantai dansa marmer hitam. Seketika itu pula, puluhan pasang mata para tamu VIP dan agen intelijen klan Vane di sekeliling ruangan terkunci penuh pada sosok mereka.
Tangan kiri Devan melingkar erat dan posesif di pinggang belakang Aria, menekan kulit punggungnya yang terbuka melalui belahan gaun satin tersebut. Sengatan panas langsung menjalar, namun Aria menggunakan kehangatan itu sebagai jangkar ketenangannya. Tangan kanannya bertumpu mantap di bahu tegap Devan, sementara tangan kiri mereka bertaut di udara.
Orkestra mulai membawakan irama waltz yang dalam. Devan memimpin langkah pertama dengan tarikan yang kuat namun anggun. Mereka berputar membelah lantai dansa, menciptakan poros gravitasi tersendiri di tengah ruangan yang riuh.
Gerakan mereka bukan sekadar dansa sosial; itu adalah peragaan bahasa tubuh para predator. Setiap putaran, setiap kecondongan tubuh, dan setiap detik tatapan mata mereka memancarkan aura bahaya yang membuat para penonton di pinggir aula menahan napas.
"Pusatkan perhatianmu padaku, Aria," bisik Devan di tengah putaran, wajahnya begitu dekat hingga hembusan napas hangatnya menyapu pelipis wanita itu. "Jangan biarkan mata atau pikiranmu melayang ke lorong bawah tanah. Di sini, di lantai ini, kamu adalah ratuku."
Aria mendongak, mengunci pandangannya langsung ke dalam iris mata kelam Devan di balik topeng serigala. Di bawah tekanan ratusan mata yang mengawasi gerak-gerik mereka—termasuk Hector Vane yang mengamati dari balkon VIP lantai dua—Aria justru menemukan ketenangan yang ganjil.
"Aku tidak pernah kehilangan fokusku, Devan," balas Aria tenang, suaranya berbisik tipis namun tajam. "Tapi pastikan anak buahmu di bawah sana tidak membuat kekacauan sebelum waktunya."
"Marco tahu persis apa yang harus dilakukan," sahut Devan, diiringi putaran tubuh yang membawa mereka meluncur anggun ke sisi utara aula, tepat di bawah sorotan lampu utama.
Putaran demi putaran tercipta makin cepat. Gaun satin emas Aria berkibar indah bagai gelombang cahaya cair setiap kali Devan memutar tubuhnya, memamerkan keanggunan mutlak yang membuat para konglomerat di pinggir ruangan berbisik-bisik kagum. Namun di balik keanggunan itu, otot-otot tubuh mereka menegang dalam siaga tingkat tinggi—siap meledak jika sewaktu-waktu samaran mereka runtuh.
Dari atas balkon VIP lantai dua, Hector Vane—pria paruh baya berjas putih gading dengan tatapan mata dingin seperti reptil—menyimak gerak-gerik pasangan tersebut melalui kacamata operasional berlensa khusus. Ia mengerutkan kening, merasakan ada sesuatu yang ganjil dari cara pria bertoksedo hitam itu memegang pasangannya: bukan sekadar dansa romantis, melainkan genggaman seorang penguasa yang melindungi aset paling berharganya di sarang musuh.
"Siapa sebenarnya pria yang datang bersama wanita bernama Gisele itu?" gumam Hector pelan pada pengawal pribadinya di samping balkon. "Cari tahu riwayat kedatangannya sekarang juga."
Di bawah, di tengah pusaran dansa, Devan menyadari sorot mata Hector yang tertuju tajam ke arah mereka. Alih-alih menghindar, Devan justru mempererat dekapannya di pinggang Aria, menarik tubuh wanita itu makin rapat hingga dada mereka bersentuhan tanpa celah, lalu memutar tubuh mereka menghadap langsung ke arah balkon VIP.
Aria terkesiap kecil saat punggungnya ditarik melengkung ke belakang dalam gerakan waltz yang dramatis. Wajah mereka berada dalam jarak kurang dari satu jengkal. Di atas sana, Hector Vane menatap lurus ke arah mereka.
Dengan gerakan yang sangat tenang dan menantang, Devan tidak mengalihkan pandangannya dari balkon Vane, sementara tangan kirinya mengusap lembut punggung bawah Aria dengan penuh kepemilikan mutlak.
"Dia sedang mengawasi kita," bisik Aria cepat, bibirnya bergerak tanpa menghentikan senyum mahalnya sebagai Gisele Vance.
"Bagus," balas Devan rendah, iris matanya berkilat tajam bagai belati di kegelapan. "Makin lama matanya terpaku pada kita di sini, makin leluasa tim kita bergerak di brankas bawah tanah."
Alunan musik orkestra mencapai klimaksnya dengan dentuman simfoni biola yang menggelegar megah. Devan menarik kembali tubuh Aria berdiri tegak dalam satu putaran akhir yang sangat bertenaga, lalu mengakhiri tarian tersebut dengan membungkuk hormat seraya mencium punggung tangan Aria di hadapan seluruh isi ballroom.
Tepuk tangan meriah dan riuh seketika pecah memenuhi ruangan. Para tamu terpesona oleh penampilan dansa yang begitu memukau, penuh gairah, dan sarat kemewahan aristokrat.
Namun, di balik tepuk tangan dan senyum anggun yang dilemparkan Aria ke sekeliling ruangan, sinyal di pergelangan tangannya bergetar pendek.
BEEP.
Sebuah notifikasi mikro masuk ke dalam sistem komunikasi taktisnya: BRANKAS PENDULUM BERHASIL DIBOBOL. BLACK LEDGER DALAM GENGGAMAN TIM TAKTIS.
Aria menelan ludahnya perlahan, mempertahankan senyum di bibirnya sembari membalas lambaian tangan para tamu. Misi utama telah tercapai di balik tirai kemegahan pesta topeng ini.
Devan menegakkan tubuhnya, melingkarkan kembali tangan kanannya di pinggang Aria dengan erat. Pria itu menunduk, merapatkan bibirnya ke dekat telinga wanita itu.
"Waktunya kita mengakhiri pesta ini, Little Bird," bisik Devan dengan senyum berbahaya yang terukir di balik topeng serigalanya. "Sebelum ular di atas balkon itu menyadari apa yang baru saja hilang darinya."
Dengan langkah anggun yang tak tergoyahkan, di bawah tatapan kagum sekaligus curiga ratusan pasang mata, Devan dan Aria berbalik meninggalkan lantai dansa, melangkah beriringan menuju pintu keluar privat yang membawa mereka langsung menuju malam kebebasan—dan badai pembalasan yang sesungguhnya.