Aelsana Jamira, mahasiswi cerdas yang baru lulus kuliah, menerima pekerjaan di Hanggara Group tanpa menyadari bahwa atasannya, Raksa Hanggara, adalah ayah dari Langit, anak yang selama ini ia rawat sebagai pengasuh sekaligus guru lesnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puja Mardika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Raksa jarang pulang sebelum tengah malam, dan dia tetap bersikap dingin pada Langit. Selesai makan malam, dia kembali ke ruang kerja dan sibuk mengurus pekerjaan.
Kalau bukan karena Pak Wahyu terus memohon, bahkan mengancam mengundurkan diri dan pulang untuk bicara dengan guru Langit, Raksa tidak akan menyetujui ini dengan mudah.
Perempuan itu sungguh suka ikut campur. Kenapa dia harus mencampuri urusan orang lain? Langit putranya. Bagaimana ayah memperlakukan putranya bukan urusan dia.
Hmm, nama guru les Langit Aelsana. Cukup unik. Tapi pegawai baru yang mulai kerja besok juga bernama Aelsana. Mungkin nama itu memang tidak sejarang yang dia kira.
Tok, tok.
"Tuan Muda, Mbak Aelsana sudah tiba."
Pak Wahyu mengetuk pintu ruang kerja tepat pukul 19.30. Dia tahu Raksa menghargai waktu, jadi begitu Sana datang dia langsung melapor.
"Cukup tepat waktu. Pak Wahyu, suruh dia menunggu sebentar. Saya segera keluar."
Raksa menghentikan pekerjaannya dan berdiri dengan tenang. Dia memang selalu menghargai ketepatan waktu.
Sementara itu, di ruang tamu, Sana yang menunggu Raksa membujuk Langit supaya kembali ke ruang belajar di lantai dua untuk mengerjakan PR. Dia bilang lebih baik Langit tidak mendengar apa yang akan dia sampaikan kepada ayahnya.
"Kenapa nggak boleh! Aku juga mau dengar!"
Langit cemberut. Dia bilang tidak mau menunggu hasilnya sendirian di lantai dua. Lagi pula sudah beberapa hari dia tidak bertemu Kak Aelsana, jadi dia ingin terus berada di dekatnya.
"Langit! Kembali belajar!"
Raksa masuk ke ruang tamu dan melihat Langit menempel erat pada Sana sambil bermanja-manja. Dia langsung menyuruhnya kembali ke ruang belajar di lantai dua.
"Iya..." Langit cemberut, merasa diperlakukan tidak adil. Tapi mendengar suara Raksa yang berwibawa, dia langsung patuh, tidak berani membantah, dan membiarkan Pak Wahyu menuntunnya naik.
"Kamu?!"
"Kamu?!"
Setelah Langit pergi, Raksa dan Sana bertatapan dan berseru kaget. Pertanyaan yang sama muncul di kepala mereka berdua.
Tidak mungkin! Ayah Langit adalah Raksa Hanggara?
Ternyata "Kak Aelsana" yang selalu disebut Langit adalah Aelsana Jamira. Sungguh kebetulan!
Sulit dipercaya mereka sudah lebih dari setahun jadi atasan dan pengasuh anaknya tanpa pernah bertemu. Yang mereka tahu tentang satu sama lain hanya sebatas nama.
Raksa sangat sibuk dan sengaja mengabaikan Langit, jadi seluruh urusan rumah tangga dia serahkan pada Pak Wahyu. Wajar saja dia tidak tahu siapa guru anaknya.
Sana juga selalu mendengar Pak Wahyu menyebut Raksa dengan "Tuan Muda" atau "Tuan Hanggara". Wajar kalau dia tidak tahu nama lengkapnya.
"Saya nggak menyangka Bapak ayah Langit. Saya benar-benar salah menilai Bapak."
Menatap langsung Raksa, Sana tak bisa menahan amarahnya. Semua kesan baik dan khayalannya tentang pria itu langsung runtuh.
Awalnya dia hanya ingin memakai posisinya sebagai tutor Langit untuk bicara baik-baik dengan sang ayah, sekalian meminta janji merayakan ulang tahun Langit.
Tapi sekarang, karena kecewa dan marah pada Raksa, nada bicaranya makin keras.
"Salah menilai apa?"
Raksa tidak mengerti maksud kata-kata Sana. Apa yang dia salah pahami tentang dirinya? Raksa memang selalu acuh pada Langit. Seharusnya Sana sudah tahu itu sejak lama.
"Bapak tahu nggak kalau Bapak ayah yang buruk? Tahu nggak Langit sebegitu mendambakan perhatian Bapak? Tahu nggak Langit rindu sekadar tatapan hangat dari Bapak? Tahu nggak..."
Sana marah sekali, sampai-sampai ingin mencari seseorang untuk diajak adu mulut sungguhan.
Ini bukan hanya karena Langit. Ini juga karena dia sendiri sempat tanpa sadar jatuh hati pada pria yang tidak bertanggung jawab seperti Raksa, menyimpan khayalan tentangnya, dan kini meratapi nasibnya.
"Itu bukan urusan kamu! Lagi pula, kamu sudah bukan tutor Langit lagi. Kamu sudah mengundurkan diri, kan? Jadi kamu nggak punya hak bicara seperti itu."