Anara Putri, gadis delapan belas tahun yang harus mengandung benih lelaki yang merupakan Kakak iparnya, atas kecelakaan di sebuah hotel tanpa kesengajaan. Padahal saat itu Anara baru saja lulus sekolah menengah kejuruan.
Bagi sang ayah, Anara hanyalah anak pembawa sial. Oleh sebab itu, dia begitu di benci oleh keluarganya sendiri. Bahkan, Anara harus menutup rapat identitas ayah dari bayi yang di kandungnya karena tidak mau menyakiti hati sang Kakak.
Lantas, akankah Anara mendapat kebahagiaannya? Bagaimana dengan Anara ketika semua rahasia itu terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part.32
Bu Sinta melihat Aldi yang terlihat lesu.
"Kamu kenapa, Al? Keluar dari kamar Adel kok terlihat lesu seperti itu?" tanya Bu Sinta.
"Mau ngajak Nara ke kamar atas, tapi Nara malah ketiduran."
"Astaga, kamu kok tidak sabaran sekali sih."
"Hehe, namanya juga penasaran, Mah." ucapnya.
"Nanti juga tahu sendiri rasanya, mending kita ngobrol-ngobrol lagi," ajaknya.
Kini Aldi kembali duduk bersama Bu Sinta. Dan mereka saling mengobrol.
Lima belas menit kemudian, Anara mengerjapkan kedua matanya. Dia menatap jam yang ada di dinding, ternyata sudah pukul setengah enam sore.
Kok aku ketiduran sih, pasti Kak Aldi nyariin nih," gumam Anara, lalu dia beranjak dari atas tempat tidur.
Anara menatap anaknya yang masih tertidur. Dia memilih keluar dari kamar itu.
Aldi melihat istrinya yang baru keluar dari kamar. Dia beranjak dari duduknya, lalu menghampiri istrinya.
"Nara, kamu sudah bangun?" tanya Aldi.
"Iya, maaf yah Kak, aku ketiduran," Anara merasa tidak enak kepada suaminya.
"Tidak apa-apa kok. Lebih baik sekarang kamu cuci muka dulu terus kita makan malam."
"Kok jam segini makan malam sih?"
"Tidak apa-apa, biar kita bisa cepat ke kamar."
Anara hanya tersenyum menatap suaminya.
"Baiklah," Anara kembali masuk ke kamar anaknya. Dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Kini Anara dan Aldi sudah berada di ruang makan. Bu Sinta juga ada bersama mereka. Mereka memulai untuk makan malam.
Setelah selesai makan malam, ketiganya bersantai di ruang keluarga. Mereka saling mengobrol sambil menikmati hidangan penutup.
Oek oek
Terdengar tangisan Baby Adel yang baru bangun tidur.
"Mah, Kak Aldi, Nara pamit mau lihat Adel," ucap Anara sambil menatap keduanya.
"Iya, Nak." ucap Bu Sinta.
Anara beranjak dari duduknya, lalu pergi ke kamar anaknya.
Bu Sinta melihat raut wajah anaknya berubah.
"Kamu kenapa, Al?" tanya Bu Sinta.
"Bagaimana malam pertamaku jika Nara sibuk terus dengan Adel?"
"Aduh anak Mamah cemburu nih sama anak bayi. Kamu tenang saja, nanti Mamah yang menemani Adel tidur."
"Mamah memang terbaik," Aldi tersenyum menatap Bu Sinta.
"Mamah mau menyusul Nara ke kamar," Bu Sinta beranjak dari duduknya, lalu pergi dari sana.
Bu Sinta membuka pintu kamar. Lalu dia menghampiri Anara yang sedang me*nyusui anaknya.
"Nara, nanti biar Adel tidur sama Mamah yah," ucap Bu Sinta.
"Iya, Mah. Nara juga kasihan sama Kak Aldi kalau malam ini tidak tidur bareng."
"Nah itu, dia uring-uringan loh nanti. Kamu ajarin deh, dia kan belum berpengalaman," ucap Bu Sinta.
"Mamah apa-apaan sih," Anara terlihat malu-malu.
Anara memang sudah menjadi seorang ibu. Namun dia tidak berpengalaman seperti yang Bu Sinta pikirkan.
Saat ini Baby Adel sudah tidak menangis lagi. Namun dia belum juga tidur lagi.
"Sayang, kok kamu tidak tidur-tidur?" Nara menatap anaknya yang sedang melihat langit-langit kamar.
"Namanya juga anak kecil," ucap Bu Sinta.
Bu Sinta menatap lekat kedua mata Baby Adel. Menurutnya tidaklah asing, persis seperti matanya.
Kenapa kedua mata Adel berwarna biru? Kenapa mirip seperti mataku dan Andika," batin Bu Sinta.
Bu Sinta akan mencari tahu mengenai ayah kandung Adel. Bisa jadi orang itu adalah keluarganya yang ada di london. Mungkin anak dari Bibinya atau Kakaknya. Karena mereka juga punya anak seumuran Aldi dan Andika. Hanya keluarganya yang terkenal mempunyai mata berwarna biru seperti memakai lensa. Padahal itu asli turunan nenek moyangnya.
Setelah satu jam terbangun, kini Baby Adel sudah kembali tidur. Bu Sinta meminta Adel untuk cepat-cepat keluar kamar untuk menemui Aldi.
Aldi melihat istrinya yang baru keluar dari kamar. Saat ini Anara sedang melangkah mendekatinya.
"Maaf yah, Baby Adel baru tidur," ucap Anara.
"Tidak apa-apa, aku selalu setia menunggu kok," Aldi tersenyum menatap Anara. Lalu dia merengkuh pinggang Anara dan mengajaknya menuju ke kamar pengantin mereka.
Sesampainya di kamar, Aldi mendorong Anara hingga saat ini Anara terjatuh ke atas kasur. Dengan tidak sabaran, Aldi melepas kaos putih yang dia pakai. Dia juga melepaskan celana boxer yang dia pakai. Kini tinggal kain tipis yang menutupi bagian bawahnya. Anara yang melihat itu langsung menutup kedua matanya.
"Kenapa di tutupin?" tanya Aldi sambil mendaratkan tangannya di dada istrinya. Dia mulai membuka satu persatu kancing piyama yang di pakai istrinya.
"Aku malu," ucap Anara.
"Seperti anak gadis saja kamu malu-malu kucing," Aldi menatap gemas tingkah istrinya.
Saat ini keduanya sudah tidak berbusana. Aldi berhasil melepaskan semua pakaian yang melekat di badan istrinya.
"Sayang, wajah kamu jangan di tutupi terus dong," ucap Aldi, sambil membuka kedua paha istrinya.
"Kak, aku malu," Anara masih saja menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Aldi menyingkirkan tangan istrinya yang menutupi wajah.
"Tatap aku!" pinta Aldi.
Anara menurut, saat ini dia menatap lekat wajah suaminya. Aldi mulai mendekatkan bibirnya. Dia bermain-main disana, namun dia melihat Anara hanya diam.
"Balas ciuman*ku dong!" pinta Aldi.
"Maaf, aku belum terbiasa," kata Anara.
Saat ini keduanya asyik ber*ciuman. Aldi juga mengajari Anara untuk membalas ciuman*nya. Semakin lama Aldi semakin bersemangat, apalagi saat mendengar suara sexy yang keluar dari mulut istrinya.
"Kamu siap!" Aldi meminta ijin saat mau melakukan penyatuan.
Anara hanya menganggukan kepalanya.
Setelah mendapat lampu hijau, Aldi langsung menjalankan aksinya. Anara hanya menurut saja. Dia memegang erat seprei untuk menahan guncangan-guncangan tubuhnya.
Satu jam sudah keduanya melakukan ritual malam pertama. Saat ini Anara sudah merasa lemas. Baru pertama kalinya dia merasakan nikmat yang luar biasa.
Aldi membelai rambut panjang istrinya.
"Tidurlah, pasti kamu capek."
"Iya, Kak." ucap Anara dengan sedikit malu-malu.
Cup
Aldi mengecup singkat kening istrinya. Aldi menyelimuti tubuh mereka berdua. Lalu dia mulai memejamkan kedua matanya, sambil memeluk istrinya.
Terima kasih Kak Aldi, karena mau menerimaku yang bukanlah gadis lagi. Aku berjanji akan selalu setia untuk mencintaimu," batin Anara, lalu dia mulai memejamkan kedua matanya.
Keesokan harinya, Anara terbangun terlebih dahulu. dia menatap wajah Aldi yang begitu dekat dengannya. Dia membelai wajah tampan itu sambil tersenyum bahagia.
"Eughhh, kamu lagi ngapain sayang?" Aldi memegang tangan mungil istrinya yang sedang memegang wajahnya.
"Tidak kok, tadi hanya mau membangunkan Kak Aldi," ucapnya.
"Jangan bohong, sayang. Pasti kamu mau menggodaku," Aldi menatap dada istrinya yang terlihat jelas. Karena selimut yang mereka pakai sedikit melorot ke bawah.
Anara segera menarik selimut itu, namun Aldi menahan tangannya.
"Sudah telat sayang, aku akan menghukummu karena sudah berani menggodaku," Aldi naik ke atas tubuh istrinya, lalu dia kembali melakukan aksinya.
Anara hanya menurut saja dengan suaminya.
°°°°
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA.
LIKE
KOMEN
VOTE
GIFT
Like & komen saja sudah cukup kok🤗
awas andika punya saingan 😂😂😂😂😂