NovelToon NovelToon
Jodoh Titipan

Jodoh Titipan

Status: tamat
Genre:Patahhati / Perjodohan / Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Romansa / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 5
Nama Author: Sept

Taqi Bassami, hanya karena ia seorang anak angkat, pria itu harus mengorbankan hidup selamanya. Taqi menukar kebebasannya demi membayar balas budi. Berkat sang ayah angkat, hidupnya yang terpuruk di jalan, kini menjadi sukses.
Bila balas budi bisa dibayar dengan uang, Taqi pasti melakukan hal itu. Tapi bagaimana, jika Taqi harus menikahi wanita pilihan keluarga angkatnya itu untuk membalas jasa. Belum lagi latar belakang Taqi yang perlahan mencuat ke permukaan. Siapa sebenarnya Taqi? Ketika banyak pihak mengincar nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria Normal

The Lost Mafia Boy Bagian 31

Oleh Sept

"Anisa?" gumam Taqi.

Lama juga dia tidak bertemu dengan sosok cinta pertamanya itu. Apa kabar masa lalu? Taqi pun memejamkan mata, sekilas bayangan masa lalu kembali muncul ke permukaan.

"Astaghfirullahaladzim!" ucapnya lirih sembari mengusap wajah.

Taqi tersadar, Anisa adalah bagian dari masa lalu. Dan sekarang ia sudah berstatus suami orang. Harusnya Taqi sekarang membatasi hati. Meski menikah karena perjodohan, itu tetaplah sebuah pernikahan.

Di mana janji suci yang ia buat, tidak untuk permainan. Suka atau tidak, cinta atau belum, Taqi harus menerima. Bahwa kini ia sudah menjadi suami Nada. Ayah dari Naqiyyah.

Oleh karena itu, Taqi hanya bisa diam di balik kemudi. Sembari matanya menatap dua wanita. Wanita dari masa lalu dan wanita yang akan menemaninya menjalani masa depan. Berjalan bersama, dalam mahligai perkawinan.

***

Tok tok tok ...

Nada mengetuk kaca mobil. Setelah bicara sejenak dengan seorang wanita muda dan ternyata adalah dosen barunya, Nada pun melanjutkan langkah. Mas Taqi pasti sudah menunggu dirinya.

Nada mengintip kaca mobil, kemudian akan kembali mengetuk, tapi malah pintu itu terbuka dari dalam.

"Ini kopinya, Mas." Nada masuk saat Taqi membuka pintu untuknya dari dalam.

Pria itu benar-benar tidak mau keluar. Mungkin takut nanti Ansia melihatnya dan malah menyakiti banyak hati, itulah isi kepala Taqi saat ini. Ingin menjaga perasaan Nada sebagai istrinya dan tidak mau melukai Anisa lagi.

Tanpa meminum kopinya, Taqi langsung menyalakan mesin mobil.

"Nggak minum dulu, Mas? Nanti keburu dingin kopinya?" tanya Nada yang melihat mobil malah akan meninggalkan tempat parkir.

"Nanti saja!" jawab Taqi. Pria itu kemudian kembali fokus pada jalan di depannya.

Sepanjang perjalanan, Nada sesekali melirik ke samping. Lewat ekor matanya. Ia merasa aneh, kenapa suaminya itu jadi semakin diam saja. Mau bicara tapi membahas apa? Akhirnya keduanya sama-sama diam saja.

"Kapan mulai aktive kuliahnya?"

Spontan Nada menoleh, tumben suaminya bertanya.

"Dua minggu lagi."

"Oh, masih lama."

"Hemmm."

"Nanti aku carikan baby sitter, dan sepertinya kita harus segera pindah."

"Pindah?" dahi Nada mengkerut.

"Ya, tidak enak kalau di rumah abah. Kita sudah menikah. Lebih baik ringgal terpisah."

'Aduh ... pindah ke mana?' batin Nada bertanya-tanya.

"Kamu mau kan pindah?"

Nada langsung menelan ludah. Bingung, ia sama sekali belum memikirkan hal ini. Lalu ia akan pindah ke mana? Almarhum suaminya sudah memberikan peninggalan rumah untuknya. Dia dan Naqi sudah punya rumah sendiri. Jika tidak tinggal di rumah abah Yusuf, lalu suaminya itu akan membawanya ke mana? Nada penasaran, tapi malu bertanya.

"Maaf, Mas ... kalau boleh tahu, pindah ke mana?"

"Rumahku."

'Aduh!' batin Nada makin gelisah. Kalau malah hanya tinggal bertiga, bisa-bisa maka akan semakin canggung saja.

Sedangkan dalam benaknya, Taqi tersenyum getir. Rumah impian yang sejatinya ia idam-idamkan untuk ditinggali dengan Anisa kelak, nyatanya kenyataan tak sesuai ekspetasi.

Bukan nisa yang tinggal dengan dengannya di sana, tapi Nada. Istrinya yang ia nikahi beberapa bulan lalu. Istri yang bahkan belum ia sentuh secara mendetail.

"Lalu bagaimana dengan rumah lama Nada, Mas?"

"Bisa diatur. Kalau kamu gak mau bangunan rusak, bisa sewakan orang. Kan gak mungkin kita tinggal terpisah? Apa kata Abah dan ummi."

"Hamm ....!"

"Besok kita pindah ya."

"Hah?" Nada langsung menoleh.

"Masih belum masuk kan kuliahnya? Biar pas kuliah pindahan sudah beres!" ujar Taqi enteng. Padahal hati Nada sudah tidak karuan karena memikirkan tinggal bersama pria tersebut.

Tidak bisa menolak, Nada pun ikut rencana yang sudah suaminya buat.

***

Tidak terasa mereka semua sudah tibah di kediaman keluarga abah Yusuf yang asri. Baru datang, Nada sudah disambut Naqiyyah yang rewel.

Tapi setelah digendong, Naqiyyah langsung diam. Mungkin gak mau ditinggal sana ibunya.

"Naqi kangen Ibu, ya?" Nada kecuppp pipi mungil Naqiyyah.

"Badannya agak anget ya, Ummi?" tanya Nada kemudian.

"Gak mau ASI pompahan tadi. Coba kamu kasih ASI dulu," saran ummi.

"Iya, Ummi!" Nada pun permisi masuk ke dalam kamar.

Beberapa saat kemudian, Taqi juga ingin ke kamar. Ia ingin mengambil tas. Taqi hendak mengambil beberapa berkas juga. Untuk memberikan keterangan ke kantor polisi. Mengenai penyidikan kasus yang menimpanya di Malaysia.

Rencananya ia akan ke kantor polisi bersama abah. Abah Yusuf ingin mengusut apa yang terjadi di sana.

Sementara Taqi, sebenarnya ia sudah lega. Bahkan tidak ingin ke sana lagi. Tapi karena abah ingin mengusut. Alhasil mereka pun harus memberikan banyak keterangan pada polisi.

Sampai saat ini, abah juga tidak yakin. Apa benar Taqi anak pria tersebut. Selama belum ada bukti, mereka tidak mau percaya begitu saja.

sedangkan ummi. Ummi malah takut kalau Taqi pergi jauh, sampai ia melarang Taqi untuk ke luar negri lagi. Sudah, lebih baik urusi masalah yayasan. Biarkan yang ada di negara tetangga itu, diurus oleh kaki tangannya.

***

Beberapa jam kemudian

Taqi nampak lelah, memberikan banyak keterangan pada pihak yang berwajib. Begitu juga abah, sepertinya juga lelah menunggu. Saat mereka selesai, hari sudah menjelang petang.

Sampai di rumah, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Macetnya luar biasa, jika jarak yang ditempuh biasanya hanya setengah jam, saat macet bisa sampai dua jam. Membuat stress di jalan.

Begitu tiba di rumah, Taqi dan abah langsung mandi dan istirahat. Tanpa mengobrol, keduanya langsung istirahat.

Kamar abah

"Bagaimana tadi, Bah?" tanya ummi.

"Besok ya, Ummi. Abah ceritain. Sekarang Abah lelah sekali.

"Iya, Bah."

Kamar Taqi

Begitu mendengar mobil suaminya, Nada pun menyiapkan keperluan sang suami. Sebagian dia dulu melakukannya pada Zain.

Taqi sendiri cukup heran, karena selama ini apa-apa sendiri. Sekarang, mau mandi saja baju sudah ada yang siapin. Belum lagi mau makan, eh makanan datang sendiri. Lebih tepatnya datang dibawa oleh istrinya.

Pukul sembilan malam

Taqi habis makan memilih duduk di teras rumahnya. Ia yang jarang bermain dengan kepulan asap, kini entah berapa buah yang sudah ia hisap. Mungkin ingat bagaimana tadi memberikan keterangan pada polisi. Di tambah moment ia melihat Anisa.

Tidak bisa dipungkiri, ia seperti terpengaruh dan ditambah terjebak macet tadi. Sudah pasti tambah setres si Taqi.

Pukul 11 malam.

Nada terbangun, dilihatnya Naqiyyah masih anteng. Ia pun menatap sekeliling. Kok Taqi belum masuk kamar lagi? Tidak enak, jangan-jangan suaminya tidur di luar, nanti malah abah dan ummi mikir yang macan-macam. Nada pun keluar. Memeriksa suaminya.

KLEK

Ia berjalan, melihat ruang tamu yang kosong.

"Ke mana Mas Taqi?" gumamnya.

Lalu ia melihat teras dari jendela, lampunya masih menyala.

KLEK

Taqi menoleh, melihat Nada di balik pintu.

"Mas Taqi belum tidur?"

Taqi sempat terhenyak, kemudian mengangguk.

"Iya ... ini mau tidur."

Setelah bertanya, Nada yang sekarang malah bingung. Wanita itu kemudian berjalan mendahului Taqi. Dan langsung masuk dalam kamar tanpa mengunci pintu.

Tap tap tap

Derap langka Taqi membuat Nada lama-lama bergidik. Nada bisa merasakan tiba-tiba kaki itu berhenti.

"Jangan tidur di sofa," seru Nada lirih. Ia tidak enak jika pria itu selalu tidur di atas sofa bila satu kamar dengannya.

"Tidak apa-apa."

"Jangan begitu, ini kamar Mas Taqi. Nada jadi nggak enak."

"Santai saja Nada," ucap Taqi.

"Apa Mas Taqi masih memikirkan gadis itu? Hingga tidak mau satu ranjang?" tanya Nada hati-hati. Kan dia juga penasaran. Karena Taqi sepertinya begitu hati-hati dengannya.

"Bukan ... bukan karena itu. Jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku hanya tidak ingin kamu merasa tak nyaman. Tapi kalau kamu memaksa, baiklah."

Taqi perlahan beranjak, pria berbadan tegap itu tiba-tiba saja naik ke atas ranjang.

'Bukan ini maksudku!' jerit Nada. Kok ia jadi merasa takut pada suaminya sendiri.

"Sudah malam! Ayo tidur!" ucap Taqi santai.

Beberapa saat kemudian

Bagaimana bisa Nada tidur? Matanya masih terjaga. Begitu juga dengan Taqi.

Keduanya tidur saling membelakangi, dan di tengah-tengah ada guling besar.

'Apa dia susah tidur?' batin Nada.

'Sepertinya dia sudah tidur!' pikir Taqi yang merasa kesunyian di ruangan itu.

Tanpa sengaja, keduanya malah saling menoleh tanpa suara.

Situasi kembali membeku dan canggung.

"Aku kira sudah tidur," ucap Taqi mengalihkan perhatian

Oek oek ...

Suara tangisan Naqiyyah, akhirnya sukses memecah rasa canggung di antara keduanya.

Nada pun bangkit, dan membawa Naqiyyah ke tengah-tengah ranjang.

Taqi sangat senang, wajahnya sumringah saat memperhatikan Naqiyyah yang selalu terbangun tengah malam.

Puas bermain-main, Naqiyyah kembali rewel.

"Kenapa sayang?" tanya Taqi. Sedangkan Nada hanya mengamati keduanya.

Makin lama, nangisnya makin kenceng. Akhirnya Nada pun mengambil alih.

"Mungkin haus."

Reflect Taqi menatap tempat minum Naqiyyah.

'Astaghfirullahaladzim!' batin Taqi yang sudah mulai goyah. Bagaimana pun juga, Taqi adalah seorang pria yang sudah matang. Pria normal yang memiliki haaserat. Taqi Bassami tetaplah seorang pria! BERSAMBUNG

1
Jhon Kuni Wong
Luar biasa
Surati
bagus ceritanya👍🙏🏻 semangat thor 💪👍
Churin iin
Luar biasa
@bimaraZ
taqi salahjuga..meskipun cuma menena gkan g harus memeluk juga...
@bimaraZ
hhh tagi jadi ketagihan tuh...😍
@bimaraZ
anggap saja nisa dan taqi tidak berjodoh...
@bimaraZ
sampai g bisakomen bacanya ..g kebayang di posisi taqi
jawab iya salah jawab tidak juga berat
RL
Luar biasa
Zumi Zauhair
seruu
indah
😭😭😭😭😭😭
indah
Maa shaa Allaah Gemes ny 😍😍
indah
Hem Rumit nih
indah
Bawang Bombay
😭😭😭
Safitri Agus
jodoh othor yg menentukan 😁🤭
komalia komalia
ooh iya apa nada engga pakai hijab ya
komalia komalia
mas taqi mau bulan madu
komalia komalia
umii iis bukan nya diem bikin orang jadi malu aja
komalia komalia
umi kaya nya engga pernah bikin cap si abah
komalia komalia
udah baca
komalia komalia
itu lah kalau kita punya hutang budi bagai buah si malakama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!