Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekali Lagi
Kemarahan Sean terhadap Jinny yang tidak kunjung mau pulang baru disadari Hanis di hari berikutnya. Saat Sean keluar dari kamar untuk sarapan sambil bertelepon dengan Jinny.
“Terserah. Aku blokir kartu kreditnya kalau kamu nggak pulang hari ini,” ancam Sean sebelum memutus panggilan telepon.
Ponsel diletakkan dengan kasar di atas meja, bersebelahan dengan piring yang masih bersih.
Meski tak ada Jinny makan bersama mereka, Hanis tetap duduk di kursi biasa. Tidak di hadapan atau samping Sean langsung melainkan serong menyilang.
Tahu suasana hati dan emosi Sean sedang tidak baik, Hanis memilih untuk tidak memperkeruh suasana. Ia makan dalam diam, berusaha tidak menimbulkan suara denting yang berlebihan.
“Aku ada urusan sampai malam,” ucap Sean setelah selesai sarapan.
Tak menunggu jawaban dari Hanis yang masih sibuk mengunyah makanan, Sean bangkit dan berlalu begitu saja.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih ketika telinga Hanis menangkap suara berisik dari pagar yang dibuka, mesin mobil dan pagar ditutup kembali. Semuanya itu menandakan sang tuan rumah sudah kembali.
Hanis diam di kamarnya sambil memainkan game puzzle pada ponsel. Sengaja tidak keluar kamar. Khawatir Sean masih dalam mood yang kurang baik.
Terdengar suara langkah kaki menaiki tangga. Tidak sekasar pagi tadi, tapi tak bisa dikatakan ringan juga.
Langkah kaki berhenti tepat di depan kamar. Bukan di kamar sebelah. Membuat Hanis menahan napas dan langsung meletakkan ponselnya. Bersiap jika Sean datang atau sekedar melongok ke dalam.
“Hanis,” panggil Sean seraya membuka pintu perlahan.
“Ya?” Hanis mendongak.
“Aku tidur sini ya,” izin Sean, meski rumah ini adalah miliknya, termasuk kamar ini.
Tentu mengangguk, mana mungkin ia menolak. “Ya…”
Sean duduk di tepi ranjang, bukan di sisi yang berlawanan tepat di samping kaki yang tertutup selimut tebal. Tangannya merambat menyentuh lutut Hanis dari luar selimut.
“Kita lakuin lagi ya? Sekali lagi buat make sure jadi bayi.”
Hanis tidak tahu apakah itu memang untuk memastikan bayinya jadi, atau Sean hanya sedang ingin karena istrinya tak kunjung pulang. Tapi Hanis lagi-lagi tak punya kuasa untuk menolak.
“Aku mandi dulu.”
“Nanti langsung aja, nggak usah pakai baju lagi.”
Sean menunggu sambil merebahkan diri di tengah ranjang. Pakaian sudah ia tanggalkan sepenuhnya. Lampu kamar yang terang sudah dipadamkan, diganti oleh lampu nakas yang temaram.
Pintu kamar mandi di dalam kamar terbuka, Hani melangkah pelan. Kakinya yang basah berhenti dan digosok-gosok sebentar pada pengesat kaki. Tubuh polosnya hanya tertutup sebuah kain handuk besar dan rambutnya dicepol ke atas menggunakan jedai.
“Sini, Han. Langsung aja.” Sean menepuk sisi kosong di sampingnya.
Perlahan Hanis mendekat. Dua tangannya memegang handuk, memastikan kain itu tidak melorot sedikit ataupun terlepas.
Hanis masuk ke dalam selimut yang dipakai Sean. Barulah perlahan handuk ditanggalkan setelah tubuh berada dalam lindungan selimut sepenuhnya. Memastikan Sean tidak benar-benar melihat tubuhnya secara langsung.
Sean tidak keberatan dengan itu. Ia merengkuh pinggang Hanis, membawanya ke dalam dekapan. Ketika menyadari Hanis tak menolak, bibir disatukan. Permainan dimulai dari sebuah ciuman yang cukup panas.
“Nggh…” sebuah lenguhan lolos ketika tangan Sean berpindah dari pinggang ke dadanya.
Menyadari hal itu, Hanis langsung panik. Ia menyingkirkan tangan Sean. Tak menginginkan sentuhan itu. Terlalu jauh, melampaui apa yang semestinya.
“Kenapa?” tanya Sean lembut, ada nada kekhawatiran disana.
“Jangan. Langsung masuk aja ya,” pinta Hanis lirih. Takut menyinggung perasaan Sean, namun juga ingin memasang batasan tegas. Bagaimanapun kontrak mereka adalah untuk menjadi ibu pengganti, bukan pemuas nafsu.
Beruntung, Sean sama sekali tidak keberatan dengan batasan itu. Ia menuruti Hanis untuk langsung menuju permainan inti.
Tubuh mereka bersatu, dan Hanis berusaha sekuat tenaga agar tidak bersuara. Kedua tangannya meremas sprei. Jemari kakinya melengkung kaku.
Sentuhan Sean terasa begitu memabukkan, namun Hanis tak boleh terlena. Hubungan ini tidak boleh terlalu dinikmati sehingga melanggar apa yang seharusnya.
“Han… enak banget, Han,” bisik Sean di sela-sela pergerakannya.
Mata Hanis terpejam. Meski otaknya menolak, namun tubuhnya berkata lain. Ketika Sean semakin cepat, Hanis merasakan sesuatu yang mendesak. Dalam beberapa dorongan, tubuh Hanis mengejang, ia mendapat orgasmenya.
Sean jelas menyadari hal itu. Ia tersenyum puas, meski Hanis tak dapat melihatnya. “Enak ya?”
Hanis tidak menjawab. Napasnya memburu. Tubuhnya lemas di bawah kungkungan Sean.
Tak berselang lama, Sean menyusul. Tubuhnya kaku dan kemudian ambruk di atas Hanis.
“Sudah, Sean…” Kedua tangan Hanis berusaha mendorong tubuh Sean agar tidak terus menindihnya.
Sean berguling ke samping. Berbaring terlentang tepat di sebelah Hanis. Dadanya naik turun kasar, berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin.
Pria itu langsung tertidur karena kelelahan. Sementara Hanis bangkit dari tempat tidur untuk membersihkan diri dan berpakaian.
...****************...