Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.
Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.
Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.
Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.
Dengan pakaian kasual serba abu-abu, Alexander kini merasa sedikit lebih santai saat membelah jalanan yang semakin ramai meski malam telah larut.
Saat ini, dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah untuk menemui kedua orang tuanya. Kejadian di telepon yang melibatkan Patris sempat membuatnya sangat stres. Namun, beruntung Soraya, dengan pembawaannya yang santai, berhasil membuat Alexander sedikit lebih lega.
Hanya sedikit.
Sebab, masih ada percakapan yang ditahan Soraya, sesuatu yang justru membuat Alexander semakin penasaran.
Apa pun yang hendak Soraya katakan, firasat Alexander terlalu kuat bahwa hal itu sudah pasti bertentangan dengan pikirannya. Itulah alasan dia memutuskan untuk pulang sekarang. Dia yakin, waktu dan ruang yang diberikan kepada kedua orang tuanya untuk berpikir sudah cukup.
Alexander merasa ini sudah saatnya membahas semuanya lebih lanjut.
Sambil memikirkan hal itu, Alexander sesekali melirik layar ponselnya yang terpasang pada car holder. Di sana, lokasi Soraya masih menunjukkan bahwa wanita itu berada di apartemen.
“Haaaahhh ... ini gila,” gumam Alexander sembari menarik sudut bibirnya miris.
Dia tidak bisa menyangkal betapa gilanya kenyataan bahwa dia sampai meminta seorang profesional untuk meretas lokasi Soraya secara real-time ketika mereka sedang menelepon. Semua itu memungkinkan Alexander mengetahui keberadaan wanita tersebut kapan pun dan di mana pun.
Bersamaan dengan udara dingin yang memasuki mobil dan memenuhi paru-parunya, Alexander menambah tekanan pada kemudi sembari mengangguk-angguk kecil.
Dia mencoba membenarkan tindakannya sendiri, meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukan tidak sampai melewati batas.
Sungguh, ini adalah pertama kalinya dalam hidup Alexander merasa begitu tidak aman dan tidak percaya diri.
Sebab, meskipun dia sangat jelas dengan tujuannya, Soraya yang menjadi tujuan itu justru sangat tidak jelas.
“Tidak. Bukan untuk ibunya, tapi untuk anak kami.”
Alexander tiba-tiba menyanggah pikirannya sendiri.
Dia mencoba mengklarifikasi tindakan dan perbuatannya yang mulai tidak masuk akal. Bukan karena dia menyukai Soraya atau semacamnya, melainkan murni karena anak mereka yang sedang dikandung wanita muda itu.
Setidaknya, itulah alasan yang diyakininya benar.
BI-BBIP!
Suara klakson mobil Alexander terdengar bersamaan dengan pagar kediamannya yang terbuka.
“Selamat datang, Tuan Muda.”
Alexander yang sedang berbeban pikiran berat tidak lupa membalas salam para penjaga sebelum memasuki kediamannya.
Dilihatnya waktu pada ponsel menunjukkan pukul sembilan malam. Biasanya, Ayah dan Ibunya pasti sudah beristirahat pada jam seperti ini.
Namun, Alexander yakin malam ini berbeda.
“Selamat datang, Tuan Muda,” sambut Kepala Pelayan. “Tuan dan Nyonya sudah di kamar. Saya baru saja kembali setelah mengantarkan air.”
Alexander mengangguk dan berterima kasih. Setidaknya, dia sudah mendapatkan jawaban tanpa harus repot bertanya.
“Kalian semua istirahatlah lebih awal,” ujar Alexander sambil mengambil langkah pergi.
Namun, tiba-tiba dia berhenti dan menoleh.
“Sekarang ...,” tambahnya pelan.
“Baik, Tuan Muda.”
Alexander tahu tidak pernah ada riwayat keributan di keluarganya. Namun, mengingat kejadian dengan Patris sebelumnya, dia merasa akan lebih aman jika tidak ada orang di sekitar.
~
TUK. TUK. TUK.
“Alexander, itu Alexander.”
Jiah langsung mengenali ketukan di pintu. Dengan gegabah, dia mencoba turun dari tempat tidur.
“Pelan-pelan saja,” Barack memperingatkan. “Memangnya apa yang hendak kamu katakan sampai terburu-buru begitu?”
Pergerakan Jiah melambat saat dia mengenakan kimononya. Memikirkan perkataan Barack, akhirnya dia membiarkan sang suami turun lebih dahulu untuk membukakan pintu bagi putra mereka.
“Alexander, ya ampun!”
Meskipun membiarkan Barack membuka pintu terlebih dahulu, Jiah tetap menjadi orang pertama yang berbicara, terutama setelah melihat penampilan Alexander yang tampak tidak baik.
Wajah putranya itu memerah, sementara matanya terlihat cekung.
“Alexander, kamu kenapa? Kamu sakit? Astaga, badan kamu panas!”
Jiah panik. Hal itu justru membuat Alexander bingung.
Benarkah dirinya sedang sakit?
Kenapa bisa? Dan bagaimana mungkin dia tidak menyadarinya?
Alexander sedikit linglung. Dia meraba dahinya sendiri dan akhirnya terkejut ketika menyadari suhu tubuhnya memang tidak seperti biasanya.
“Kamu ini, tidak henti-hentinya membuat masalah!” Jiah memarahinya, meluapkan emosi yang bercampur aduk dalam sekejap.
Melihat ibunya yang nyaris menangis, Alexander semakin merasa bersalah.
Maka, dengan mengabaikan kondisi tubuhnya yang baru saja diketahui, dia memilih tetap berpegang pada tujuan kedatangannya.
“Maafkan aku, Ibu. Tapi, boleh aku masuk untuk berbicara?”
Jiah yang melihat Alexander begitu acuh terhadap dirinya sendiri langsung berbalik dengan kesal.
Dia mulai menduga bahwa putranya hendak membicarakan wanita bernama Soraya itu. Sampai-sampai, Alexander bahkan tidak peduli dengan sakit yang sedang dialaminya sendiri.
Sebagai seorang ibu, hal itu benar-benar mengganggunya.
Sementara itu, Barack memilih berbalik tanpa berkata apa-apa dan mendudukkan dirinya di sofa dalam kamar mereka. Dia setuju untuk mendengarkan Alexander.
“Katakan,” ujar Barack dengan nada rendah.
Alexander duduk di hadapan Ayah dan Ibunya. Kedua sikunya bertumpu di atas paha, sementara jari-jarinya saling bertaut.
Namun, bahkan untuk mengucapkan kalimat pertama pun, dia mengalami kesulitan.
“Ayah, Ibu ...”
Alexander mengangkat kepala, menatap mata kedua orang tuanya secara bergantian.
“Aku rasa ini sudah waktunya membicarakan semuanya kembali. Aku masih berpegang pada perkataanku sebelumnya. Aku hendak bertanggung jawab atas anak ini.”
“Kamu yakin ingin bertanggung jawab atas anak ini? Bukan ibunya?”
Jiah bertanya skeptis setelah melihat satu foto Soraya yang dikirim Karel. Satu foto yang cukup menunjukkan kecantikan wanita muda itu.
Alexander menatap ibunya seolah tidak percaya.
“Ibu, dari awal sudah kukatakan bahwa ini adalah kecelakaan yang tidak disengaja. Berdasarkan niat, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perasaan kepada Soraya. Aku benar-benar ingin bertanggung jawab atas anak itu, tapi sudah pasti dengan menikahi ibunya.”
Alexander menjelaskan dengan mantap.
Dia sendiri bingung mengapa ibunya tiba-tiba membahas Soraya secara personal.
Hanya saja, dia tidak tahu bahwa penjelasan itu justru membuka ruang bagi sebuah ide lain.
“Kalau hanya untuk anak yang sedang dikandung wanita itu, Ayah dan Ibu juga setuju.”
“Benarkah?”
Alexander masih tidak percaya.
“Akan tetapi, jika hanya menyangkut anak ini, maka ...”
Jiah dan Barack saling berpandangan sebelum Jiah melanjutkan.
“Ibu rasa tidak perlu menikahi ibunya.”
DEG!
Alexander merasa salah dengar.
Dia menatap Barack, tetapi pria itu hanya diam terhadap perkataan istrinya.
“I-Ibu, apa maksudnya ini?”
Jiah menegakkan punggungnya seolah ingin menegaskan perkataannya.
“Ayah dan Ibu sudah berbicara dengan Paman Conrad. Hal ini jelas sangat menyakitkan bagi Hana dan juga memalukan. Namun, karena mereka menganggap apa yang terjadi sebagai kecelakaan, mereka masih bersedia melanjutkan pernikahan kalian.”
Alexander terkekeh.
Tawa itu perlahan berubah menjadi gelak kecil, tetapi sama sekali tidak mencapai matanya.
Dia sudah menemui Hana. Mereka bahkan sudah sepakat untuk berpisah.
Lalu, bagaimana mungkin pernikahan itu masih bisa dilanjutkan?
“Tunggu, tunggu ...”
Alexander mengangkat kedua tangannya sebagai tanda berhenti.
“Aku rasa ada kesalahan di sini. Pertama, aku sudah membicarakan hal ini dengan Hana sebelumnya dan kami sudah sepakat untuk mengakhiri semuanya. Jadi, bagaimana bisa pernikahan tetap dilanjutkan?”
Jiah mengangguk pelan.
“Ya, tetapi itu sebelum Hana mengatakannya kepada orang tuanya. Ternyata setelah mendengar semuanya, Paman Conrad dan Bibi Josephine masih merestui pernikahan kalian sebagai penghormatan terhadap wasiat yang ditinggalkan kakek kalian.”
Sebenarnya, mereka semua tahu bahwa persetujuan Conrad tidak terlepas dari kepentingan pribadi pria itu sendiri.
Namun, setelah kembali mempertimbangkan semuanya, Barack dan Jiah pun berharap pernikahan itu tetap dilaksanakan.
Selain karena Hana memang lebih sesuai dengan kriteria yang mereka inginkan, pernikahan itu juga akan menjaga hubungan kekerabatan kedua keluarga agar tidak bermasalah.
Ditambah lagi, mereka akan langsung mendapatkan seorang cucu.
“Tidak. Itu tidak bisa. Itu salah dan tidak masuk akal.”
Alexander menolak.
“Kenapa tidak bisa? Kalian bisa menikah secepatnya. Saat anak itu lahir, kalian bisa mendaftarkannya sebagai anak kalian. Kalaupun tidak, masih ada Ayah dan Ibumu yang akan mengurusnya.”
Kali ini, Alexander tidak tahan untuk menggelengkan kepalanya.
“Ibu ... Ibu seorang perempuan. Bagaimana bisa Ibu hanya berpikir dari sisiku dan tidak mempertimbangkan sisi ibu dari anakku?”
Suara Alexander terdengar pahit.
Dia bertanya-tanya, ke mana perginya nilai-nilai moral yang selama ini selalu diajarkan ibunya?
“Jika seseorang secara sepihak mengambil anak Ibu, apakah Ibu rela?” ujar Alexander, hampir tenggelam oleh suaranya sendiri.
Namun, Jiah justru sedikit tersinggung.
“Justru karena Ibu memikirkannya juga, makanya Ibu mengambil jalan ini, Alexander! Wanita itu masih sangat muda. Usianya baru dua puluh satu tahun dan dia masih belajar. Dia juga pasti memiliki mimpi-mimpi yang ingin dicapai, bukan? Kenapa harus terkungkung hanya karena kesalahan satu malam kalian?”
Jiah menarik napas.
“Jadi, kenapa? Apa salahnya jika kita membereskan masalah ini untuknya? Toh, Ibumu ini bukan penjahat yang akan menjauhkan mereka tanpa membiarkan mereka bertemu lagi.”
“Ibu, tidak!”
Alexander berdiri. Tangannya meremas rambut dengan frustrasi.
“Dia menginginkan anak ini! Dia sangat menginginkan anak ini! Anak ini adalah mimpinya!”
Alexander tidak akan melupakan fakta bahwa kehamilan Soraya merupakan sebuah keajaiban bagi wanita muda itu.
Dia tidak sanggup.
Dan dia tidak akan sanggup merusak keajaiban orang lain.
“Apa maksudmu?”
Barack kali ini bertanya.
Alexander tidak menyia-nyiakan waktu untuk menjelaskan. Dengan terbuka, dia menceritakan kondisi khusus Soraya yang membuat wanita muda itu begitu bersyukur atas kehamilannya.
Mendengar hal itu, Jiah tidak bisa menahan rasa tidak enak hati.
Dia merasa sedikit bersalah.
Namun, di sisi lain, dia juga merasa bahwa keadaan ini justru akan menjadi semakin rumit.
“Tapi bukankah sekarang dia sudah bisa hamil? Seharusnya di masa depan dia juga masih bisa, jika dia bertemu pria yang benar-benar menjadi pasangannya, bukan?”
Jiah masih menyelipkan sedikit pembelaan atas pemikirannya.
Namun, hal itu justru mendapatkan tentangan keras dari Alexander.
“Ibu, tolong hentikan!”
Alexander menatap ibunya dengan kecewa.
“Bagaimana bisa Ibu begitu tidak berperasaan? Ke mana nilai-nilai yang selalu kalian ajarkan kepadaku?”
“Jangan bertanya tentang nilai-nilai.”
Barack akhirnya menjawab dengan telak.
“Kalau kamu benar-benar memegang nilai-nilai yang kami ajarkan, kamu tidak akan melakukan kesalahan seperti ini.”
Alexander menjilat bibir bawahnya, menahan rasa malu.
Untuk sesaat, mereka semua terdiam.
Alexander masih berdiri dengan kedua tangan di pinggang.
“Aku akan mengundurkan diri dari pencalonan senator.”
Kalimat itu keluar tiba-tiba.
Suatu hal yang sudah pasti harus dilakukan apabila dia benar-benar hendak bertanggung jawab.
Yang lebih buruk, Alexander tahu keputusan itu kemungkinan besar akan berimbas pada bisnis keluarga mereka.
Dan juga pada karier Patris.
Saat ini, Patris sendiri sudah berada di depan pintu kamar, menguping pembicaraan mereka.
Ya.
Patris sudah cukup lama berada di sana, mendengarkan setiap percakapan yang terjadi di dalam.
Dia menahan geram seorang diri ketika mendengar Alexander selalu memiliki jawaban dan pembelaan untuk wanita bernama Soraya itu.
Dan kini, kakaknya bahkan siap berhenti dari mimpinya menjadi seorang politikus.
Padahal, Alexander adalah kandidat yang sangat diperhitungkan.
Ini buruk.
Sangat buruk, pikir Patris.
Dia tahu media tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan mengorek alasan di balik keputusan itu, terlebih jika kabar pembatalan pernikahan antara kakaknya dan sahabatnya ikut tersebar.
BRAK!
Pintu dibuka dengan kasar, membuat ketiganya terkejut.
“Patricia?”
Mengabaikan ayahnya, Patris langsung mengarah kepada Alexander.
Melihat adiknya itu, Alexander tahu kejadian sebelumnya akan kembali terulang.
“Tidak bisa!”
Patris menunjuk kakaknya.
“Kakak tidak diizinkan mundur dari pencalonan senator atau membatalkan pernikahanmu dengan Hana! Apalagi sampai menikahi wanita itu. Tidak! Tidak akan!”
“Patris, kamu ini—”
“Tidak, Ibu!”
Patris menahan ibunya dengan tangan terangkat, menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak ingin berkompromi kali ini.
“Patris, sudah aku katakan. Hal ini tidak akan sampai melibatkan dirimu.”
“OMONG KOSONG!”
Patris berteriak.
Barack dan Jiah terpaksa mendekati keduanya.
“Apa Kakak buta atau tuli? Apa Kakak tidak melihatnya?”
Suara Patris bergetar.
“Seluruh negara ini sangat tahu bagaimana caranya memojokkan dan menghancurkan orang lain, bahkan ketika orang itu tidak bersalah dalam hal ini. Itulah yang akan mereka lakukan kepadaku!”
Patris menarik napas dengan susah payah.
“Mereka akan menghancurkan karierku, memblokirku, dan mempermalukanku sebagai adikmu.”
Patris gemetar.
Bohong jika dia tidak takut pada bullying dan cancel culture yang begitu keras di negara mereka.
Sebagai selebriti dari keluarga kaya dan berpengaruh, dia tahu kehidupannya akan selalu menjadi bahan pemberitaan yang menarik.
Alexander juga tidak menyangkalnya.
Dia tahu kemungkinan buruk itu sangat besar, bukan hanya bagi Patris, tetapi juga bagi dirinya sendiri dan kedua orang tua mereka.
Hanya saja, mungkin karena dia seorang pria, Alexander merasa lebih berani untuk menghadapi semuanya.
“Lalu memang kenapa?”
Alexander menatap adiknya.
“Bahkan jika kamu bukan lagi seorang selebriti, kamu masih putri keluarga Kim. Kamu tidak akan kekurangan apa pun!”
PLAK!
“Patricia!”
Barack menegur keras.
Namun, Patris justru semakin frustrasi. Dia baru saja menampar kakaknya.
“AKHHH! Jangan macam-macam denganku!”
Patris menepuk dadanya dengan kuat. Kini, dia berdiri menghadap ketiganya.
Air matanya jatuh karena rasa frustrasi yang tidak lagi mampu dia tahan.
“Aku memulai karier ini sendirian!”
Suara Patris pecah.
“Aku memulainya sebagai Patris, bukan Patricia Kim. Tidak ada satu pun dari kalian yang mendukungku waktu itu. Kalian mengatakan bahwa menjadi selebriti tidak ada gunanya.”
Tanpa sadar, Patris mengangkat jarinya dan menunjuk mereka.
Sesuatu yang hampir tidak pernah dia lakukan.
“Kalian hanya memberikan pengakuan ketika aku akhirnya berhasil.”
Jarinya kemudian beralih menunjuk Alexander.
“Lalu sekarang, gara-gara kamu!”
Patris terisak.
“Gara-gara kamu, semua usahaku akan ikut hancur begitu saja? Apa ini adil?”
Dia menggeleng kuat.
“Tidak! Ini tidak adil!”
“Patris ...”
Jiah langsung memeluk putrinya yang mulai menangis.
Namun, Patris benar-benar memberontak dalam pelukan itu.
“Tidak! Ayah dan Ibu selalu lebih memihak kepadanya selama ini.”
“Patris, itu tidak benar, Nak.”
“Tidak! Itu benar!”
Patris menatap kedua orang tuanya dengan mata penuh air mata.
“Kalau memang tidak benar, sudah saatnya Ayah dan Ibu memperlihatkannya.”
Dia menunjuk Alexander.
“Buat dia mengerti bahwa satu keputusannya bisa menghancurkan banyak hal, termasuk adiknya sendiri.”
DEG!
Alexander menunduk.
Bibir bawahnya digigit keras, sementara kedua tangannya mengepal menahan kemarahan yang bercampur dengan ketidakberdayaan.
“Sungguh ...”
Suara Patris melemah.
“Aku tidak sanggup hidup jika karierku hancur.”
Air matanya kembali jatuh.
“Aku tidak sanggup.”
Ya.
Patris baru saja menciptakan tekanan yang berhasil mengimbangi tekanan dari anak yang sedang dikandung Soraya.
Satu tekanan datang dari seorang wanita yang membawa darah dan dagingnya.
Sementara tekanan lainnya datang dari seseorang yang berbagi darah dan daging dengannya.
Dan kini Alexander harus memilih.
Dia yang berbagi darah dan daging dengannya—
atau dia yang adalah darah dan dagingnya sendiri?