Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.
Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.
"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.
(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)
Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Anak Pungut Sok Jadi Au
Di sebuah kota kecil yang tenang, hiduplah sebuah keluarga yang sangat terkenal di kalangan para tetangga. Keluarga ini terdiri dari Ayah Rendi, Bunda Vani, seorang anak sulung laki-laki bernama Varo, dan si anak bungsu perempuan yang sangat disayangi, Rani.
Orang-orang di sekitar pemukiman mereka sering menyebut keluarga ini sebagai "keluarga ajaib". Julukan itu muncul bukan tanpa alasan; tingkah laku setiap anggota keluarganya yang sangat unik, spontan, dan kadang di luar nalar sering kali membuat siapa pun yang melihat menggelengkan kepala sambil mengelus dada.
Namun, di balik segala kelakuan ajaib dan kehebohan sehari-hari, hubungan di antara mereka sangat erat, penuh kehangatan, dan diselimuti keterbukaan yang luar biasa. Tidak ada rahasia yang tersembunyi rapat di rumah itu karena semua hal selalu dibicarakan dengan gamblang.
Kehidupan mereka yang penuh warna dan canda tawa mulai terusik ketika pada suatu hari Bunda Vani pulang membawa seorang anak perempuan sebayanya Rani dari panti asuhan setempat. Bunda Vani yang berhati lembut berniat tulus untuk merawat dan memberikan kasih sayang hangat kepada anak pungut tersebut. Sayangnya, niat baik itu justru menjadi pintu masuk bagi drama yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Anak perempuan yang diangkat ke dalam keluarga itu ternyata memiliki tabiat yang sangat bertolak belakang dengan atmosfer hangat di rumah tersebut. Ia adalah tipe orang yang sangathaus perhatian, merasa dirinya paling spesial di antara semua orang, dan gemar sekali tebar pesona. Tidak hanya itu, mulutnya pun sangat tajam dan gemar menyebarkan fitnah ke sana-kemari bagaikan saluran air busuk yang mengeluarkan bau menyengat.
Sejak hari pertama menjejakkan kaki di rumah baru itu, si anak pungut sudah memendam niat buruk. Ia merasa cemburu melihat betapa indahnya posisi Rani sebagai anak bungsu yang selalu dilimpahi perhatian dan kasih sayang oleh Ayah Rendi, Bunda Vani, dan Abang Varo. Timbullah ambisi licik di dalam benaknya untuk menyingkirkan Rani dari rumah tersebut.
Ia membayangkan skenario drama manis di mana dirinya berhasil mengusir Rani, membalikkan keadaan, dan menempati posisi puncak sebagai anak bungsu kesayangan yang paling dimanja sepanjang masa. Pikiran-pikiran jahat itu terus menumpuk di kepalanya, dipicu oleh banyaknya cerita-cerita fiksi drama online yang sering ia baca. Ia mengira bahwa dunia nyata bekerja persis seperti jalan cerita fiksi alternatif yang penuh dengan kesalahpahaman picik, di mana orang tua akan langsung percaya begitu saja pada tuduhan tanpa bukti.
Maka, mulailah ia menjalankan aksinya. Setiap kali ada kesempatan, si anak pungut mencoba menghembuskan rumor jahat tentang Rani. Ia menyebarkan fitnah kepada Bunda Vani bahwa Rani sering berbicara kasar di belakangnya, memberi tahu Ayah Rendi bahwa Rani suka merusak barang-barang rumah, dan mencoba mengadu domba Varo dengan mengklaim bahwa Rani membenci sang kakak.
Ia bersikap seolah-olah dirinya adalah korban yang teraniaya, memajang wajah polos, dan memamerkan gaya manis yang dibuat-buat demi mendapatkan simpati. Setiap kali Rani ada di dekatnya, ia sengaja bertingkah manis secara berlebihan sambil melirik sinis untuk menunjukkan dominasinya.
Namun, anak pungut itu lupa satu hal yang sangat krusial: ini adalah "keluarga ajaib" yang sangat kompak dan saling mengenal luar dalam. Ayah Rendi, Bunda Vani, dan Abang Varo bukanlah figur orang tua atau saudara yang gampang diadu domba seperti di dalam cerita drama murahan. Mereka tahu persis bagaimana kepribadian Rani yang polos, jujur, dan tidak pernah punya niat jahat pada siapa pun. Sebaliknya, tingkah laku si anak pungut yang terlampau dibuat-buat justru membuat ketiga orang itu merasa aneh dan heran sejak awal. Setiap kali si anak pungut melancarkan aksi fitnah secara lisan, Bunda Vani dan Ayah Rendi hanya saling bertukar pandang sambil menahan tawa, heran melihat betapa buruknya kualitas akting anak tersebut.
Puncak dari kebodohan si anak pungut terjadi ketika kesabarannya mulai habis karena melihat Rani yang masih saja disayangi dan tidak kunjung dimarahi. Karena merasa rencana lisannya lambat membuahkan hasil, ia memutuskan untuk melancarkan serangan pemungkas. Namun, alih-alih menyusun rencana yang halus dan cerdik, ketololan si anak pungut malah terpampang nyata.
Dalam kepalanya yang terlalu terkontaminasi jalan cerita drama fiksi, ia berpikir bahwa mengirim pesan langsung akan membuat pengaruhnya makin kuat. Secara ceroboh dan sangat percaya diri, ia mengirimkan pesan singkat via aplikasi chat dari ponselnya langsung ke nomor Bunda Vani, Ayah Rendi, dan Abang Varo secara terpisah.
Isi pesan itu benar-benar tidak masuk akal. Kepada Bunda Vani, ia mengetik pesan dengan gaya pengaduan yang dibuat-buat, menyatakan bahwa Rani berencana menjual barang-barang perhiasan Bunda. Kepada Ayah Rendi, ia mengirim pesan yang mengklaim Rani sering menjelek-jelekkan nama Ayah di sekolah.
Sementara kepada Abang Varo, ia mengirim pesan yang menuduh Rani berniat merusak laptop kesayangan sang abang. Konyolnya lagi, ia lupa bahwa mereka semua sedang duduk bersama di ruang tamu saat pesan-pesan itu masuk secara bersamaan. Ponsel Bunda Vani, Ayah Rendi, dan Abang Varo berbunyi hampir serentak.
Ketika ketiga layar ponsel itu menyala dan isi pesannya dibaca, suasana ruang tamu yang tadinya bising mendadak hening sejenak, sebelum akhirnya meledak dalam tawa keheranan. Keterbukaan di dalam keluarga ajaib ini membuat mereka langsung saling menunjukkan layar ponsel masing-masing.
Terpampanglah dengan sangat jelas niat busuk, kebohongan, serta rencana licik yang dikirimkan langsung dari nomor si anak pungut tanpa ada gunanya sama sekali. Mereka tidak perlu repot-repot melakukan penyelidikan mendalam atau berdebat panjang lebar. Rencana licik yang dikira sangat genius oleh si anak pungut justru hancur berantakan akibat ketololannya sendiri yang secara sukarela menyerahkan bukti kejahatan langsung ke tangan para calon korbannya.
Rani yang saat itu sedang duduk santai sambil menikmati camilan di samping Abang Varo hanya bisa melongo heran melihat tingkah saudara angkatnya. Tanpa menunggu waktu lama, Ayah Rendi dan Bunda Vani memanggil si anak pungut ke ruang tamu untuk berdiri di hadapan mereka semua. Dengan wajah penuh percaya diri, anak pungut itu awalnya mengira rencananya berhasil dan Rani akan segera diusir detik itu juga. Namun, senyum kemenangan di wajahnya langsung luntur seketika saat Abang Varo memutar balikkan layar ponsel yang menampilkan seluruh isi pesan chat bodoh yang ia kirimkan.
Bunda Vani menggeleng-gelengkan kepala, merasa sangat iba bukan karena terfitnah, melainkan karena prihatin melihat tingkat kebodohan dan ketidaktahuan diri anak yang telah ditolongnya tersebut. Ayah Rendi berbicara dengan tenang namun sangat tegas, menjelaskan bahwa dalam rumah ini tidak ada tempat untuk kebohongan, manipulasi, apalagi niat jahat untuk menjatuhkan anggota keluarga sendiri. Tidak ada amukan histeris atau drama pertengkaran hebat yang terjadi, sebab keluarga ajaib ini menyikapi segalanya dengan kepala dingin dan sedikit rasa geli.
Hari itu juga, keputusan bulat diambil tanpa ragu. Ayah Rendi dan Bunda Vani mengemas seluruh barang-barang si anak pungut dengan rapi. Dengan pengawalan yang tenang namun pasti, si anak pungut diantarkan kembali ke tempat asalnya secara baik-baik. Rencananya yang ingin menguasai rumah dan menjadi anak bungsu kesayangan resmi berakhir menjadi mimpi di siang bolong. Keluarga ajaib itu pun kembali menikmati kedamaian rumah mereka, berkumpul bersama Rani, Varo, Bunda Vani, dan Ayah Rendi tanpa ada lagi gangguan dari sosok anak pungut yang tidak tahu diri..