Bagi Kirana Putri, rumah megah milik Orang tuanya adalah museum kaku yang sunyi. Hidup di bawah bayang-bayang prestasi kakaknya, Kanaya, membuat Kirana harus selalu tampil sempurna dan pendiam. Satu-satunya tempat ia bisa menjadi gadis riuh penuh tawa adalah saat bersama ketiga sahabatnya di sekolah.
Dunia sunyi Kirana mendadak terusik oleh kehadiran Keenan Abimara, si genius rebel dari kelas MIPA-1. Berbeda total dengan Kirana, Keenan hidup di tengah keluarga kaya yang super santai bersama Ayah Abimara dan Ibu Karina. Meski hobi melanggar aturan sekolah bersama geng cowoknya, Keenan perlahan membawa warna baru yang hangat ke hidup Kirana lewat perhatian kecil dan investasi susu cokelatnya.
Namun, kedekatan dua juara umum ini memicu badai gosip anonim di mading sekolah yang menuduh Keenan mendekati Kirana hanya demi taruhan murahan dua minggu. Diuji oleh aturan kaku rumah dan kepercayaan yang goyah, mereka harus bekerja sama membongkar kebenaran lewat rekaman CCTV sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda Whyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angin Sore dan Es Cendol
Deru mesin motor sport 250cc milik Keenan perlahan membelah kemacetan jalanan kota yang mulai padat oleh para pekerja yang pulang kantor. Di atas boncengan, Kirana diam-diam mencengkeram erat ujung jaket denim longgar Keenan. Embusan angin sore menerpa wajahnya, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang dikuncir kuda. Rasa canggung ganjil yang sempat mampir di dadanya setelah melihat kotak bekal merah muda dari adik kelas di sekolah tadi perlahan-lahan mulai terkikis oleh kehangatan kasual yang selalu dibawa oleh cowok di depannya ini.
Keenan mengarahkan motor hitam besarnya membelok ke arah kawasan pasar sore pinggir jalan yang ramai. Setelah memarkirkan motornya dengan lincah di bawah pohon peneduh, Keenan melepas helm full-face hitamnya, menyugar rambutnya yang berantakan, lalu menoleh ke arah Kirana dengan cengiran bandel andalannya.
"Turun, Tuan Putri. Selamat datang di kedai es cendol bintang lima tersembunyi langganan Kak Arkan," seru Keenan jail, memandu Kirana menuju sebuah warung tenda sederhana di pojok pasar yang aroma gula merah cairnya sudah menguar manis memenuhi udara.
Mereka berdua duduk berdampingan di atas bangku kayu panjang yang agak reyot. Tak lama, dua mangkok es cendol dengan gunungan es serut, siraman santan gurih, dan lelehan gula aren yang pekat disajikan di depan mereka.
"Nih, diminum dulu. Biar hawa dingin di muka lo mencair," tegor Keenan jail, menyodorkan sebatang sendok ke arah Kirana.
Kirana menerima sendok itu, mengaduk es cendolnya perlahan hingga warnanya berubah menjadi hijau muda yang segar. Dia menyesap satu suapan, dan rasa manis alami dari gula aren langsung memanjakan lidahnya. "Enak banget, Keenan. Segar banget."
"Tentu saja enak. Lidah Kak Arkan kalau nyari kulineran kan gak pernah salah," kilat Keenan santai, memakan sepotong nangka di dalam mangkoknya dengan lahap.
Suasana warung tenda itu cukup bising oleh suara klakson kendaraan di jalan raya dan teriakan para pedagang pasar. Namun entah kenapa, bagi Kirana, keriuhan di tempat ini terasa sangat nyaman dan menenangkan. Di bawah pendar langit senja yang mulai berwarna jingga, dia menatap samping wajah Keenan yang kini sedang menatap lurus ke arah jalanan dengan binar mata yang melunak hangat. Sisi cemburu ringannya di sekolah tadi kini benar-benar telah larut sepenuhnya bersama es serut yang mencair.
"Keenan," panggil Kirana lembut.
"Hm? Kenapa, Kir?" Keenan menoleh, menurunkan mangkoknya.
"Lo... utang penjelasan soal rantai sepeda adik kelas tadi siang," ucap Kirana dengan nada suara yang tertata rapi, mencoba terdengar biasa saja meskipun ada desiran ganjil yang merayapi dadanya.
Keenan tertegun sejenak selama dua detik, sebelum akhirnya sebuah tawa renyah, lepas, dan renyah meluncur dari bibir tampannya. Cowok itu menggeleng-gelengkan kepala kagum, menopang dagunya dengan satu tangan seraya mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Kirana.
"Astaga, Kirana Putri... jadi lo beneran kepikiran soal kotak bekal merah muda tadi?" goda Keenan dengan kedipan mata jail yang sangat manis, membuat pipi Kirana instan merona merah sempurna. "Dengerin ya, Tuan Putri. Hari Sabtu kemarin, pas gue habis pulang dari minimarket depan kompleks rumah, gue gak sengaja lihat sepedanya anak kelas sepuluh itu rantainya lepas di pinggir jalan raya. Berhubung gue ini adalah anak teknik masa depan yang berhati mulia, ya udah gue bantuin pasang lagi rantainya. Cuma dua menit kelar, habis itu gue langsung balik."
Keenan memajukan wajahnya sedikit lebih dekat, mengunci sepasang mata jernih Kirana dengan tatapan dalam yang penuh ketulisan seorang remaja. "Gue gak tahu kalau ibunya bakal bikin kue dan dia nekat nganterin ke kelas bimbingan MIPA-1 siang tadi. Makanya pas lo mendadak beresin buku dengan muka sedingin es, gue langsung panik setengah mati. Kue sama boba-nya udah gue tinggalin di meja buat dihabisin Damar sama Raihan. Gue gak mau makan makanan manis dari orang lain, kalau bukan dari lo atau masakan Ibu."
Mendengar pengakuan jujur dan taktis yang diucapkan tanpa ada nada kebohongan sedikit pun, seluruh sisa ganjil di dada Kirana mendadak runtuh mencair dalam satu detik. Rasa bersalah karena sempat meragukan Keenan kini berganti dengan kehangatan rasa yang membuncah manis di dadanya. Perasaan mereka tersampaikan begitu indah secara tersirat melalui penjelasan tulus ini tanpa perlu menggunakan kata-kata kaku yang berlebihan.
"Lagian... siapa juga yang kepikiran," bisik Kirana malu, memalingkan wajahnya ke arah mangkok es cendolnya untuk menyembunyikan senyum manisnya yang tidak bisa berhenti merekah.
"Halah, gak usah bohong. Tembok pertahanan sunyi lo tadi di kelas udah tinggi banget kayak benteng kerajaan," kekeh Keenan jail, tangannya bergerak kasual mengambil selembar tisu lalu dengan gerakan yang kelewat lembut, dia menyeka setetes kuah santan yang tidak sengaja tertinggal di sudut bibir Kirana.
Sentuhan kecil yang mendadak itu seketika membuat Kirana mematung, menatap kedekatan mata tajam Keenan yang menatapnya dengan penuh perhatian protektif. Debaran di dadanya kembali riuh tak karuan, jauh lebih berisik daripada keriuhan pasar sore ini.
Satu jam kemudian, langit sore telah sepenuhnya berganti menjadi warna ungu gelap berhias lampu-lampu jalanan kompleks. Keenan menghentikan motor sport hitam besarnya tepat di depan pos satpam gerbang utama kompleks perumahan elite Kirana, bukan di depan pagar rumahnya. Ini adalah batasan aman yang sengaja mereka pilih agar Kirana tidak perlu menghadapi risiko interogasi berat dari Ayah dan Ibu di rumah kaku mereka.
Kirana turun dari boncengan, menyerahkan helm putih cadangannya kepada Keenan. "Makasih banyak buat es cendol dan tumpangannya ya, Keenan."
"Sama-sama, Kirana Putri. Sampaikan salam gue buat Kak Naya ya," sahut Keenan dengan cengiran bandel andalannya yang kembali terpasang kokoh di wajah tampannya. Dia memakai helm hitamnya kembali. "Inget ya, besok bimbingan hari Rabu di sekolah, muka lo gak boleh ditekuk kaku lagi kayak siang tadi. Keriuhan di hidup gue sepi banget kalau gak ada senyuman lepas lo."
Kirana tertawa lepas mendengarnya, menganggukkan kepalanya dengan binar riang yang lepas. Dia melambaikan tangan setinggi bahu saat motor sport Keenan melesat pergi membelah malam dengan deru mesin yang bertenaga rendah. Kirana berjalan santai memasuki area kompleks perumahan menuju rumahnya. Tekanan kaku dari orang tuanya mungkin masih menunggunya di dalam ruang makan nanti malam, namun dengan sisa manisnya es cendol sore ini dan janji protektif Keenan yang selalu menjaganya, Kirana tahu—dunia riuhnya kini telah menjadi jauh lebih kokoh, siap menemaninya menghadapi perjalanan putih abu-abu selanjutnya dengan penuh keberanian.