NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama di Lantaian

Pagi hari di kawasan Gang Melati tidak pernah terasa segar. Sinar matahari yang malu-malu mencoba menembus celah jendela kontrakan justru hanya memperjelas debu yang beterbangan dan bau apek yang menguar dari dinding kayu yang mulai lapuk. Bagas terbangun dengan punggung yang terasa kaku seperti dihantam batang kayu.

Ia membuka matanya perlahan, menyambut realitas yang sama sekali tidak berubah sejak semalam. Di depannya, Ibu Melati masih terlelap dengan mulut sedikit terbuka, sementara Siska sudah duduk di sudut ruangan sambil memelototi layar ponselnya yang retak. Gadis itu tidak mengeluarkan suara, namun jemarinya yang gemetar menandakan ia sedang menahan emosi yang meluap.

"Tidak ada sinyal, Kak," gumam Siska tiba-tiba.

Bagas menoleh dengan tatapan lelah yang menggantung di bawah kelopak matanya yang bengkak. Ia tidak merespons, hanya bangkit duduk dengan gerakan lamban yang dipaksakan.

"Aku sudah mencoba masuk ke akun media sosialku berkali-kali, tapi tetap tidak bisa," lanjut Siska dengan nada yang mulai meninggi. "Pasti ini ulah orang-orang di luar sana yang sengaja ingin membuat kita terisolasi."

Bagas menghela napas panjang dan berat. Ia merasa tenggorokannya sangat kering, seolah-olah ia baru saja menelan pasir.

"Jangan berlebihan, Siska," sahut Bagas serak. "Mungkin memang kuota datamu saja yang habis, atau layanannya sedang gangguan. Jangan selalu mengaitkan segala hal dengan konspirasi."

Ibu Melati terbangun karena suara bising anak-anaknya. Ia menggosok matanya dengan punggung tangan, lalu menatap sekeliling dengan pandangan nanar. Tatapannya tertuju pada pintu kontrakan yang hanya ditutup kayu triplek tipis.

"Kenapa pagi-pagi sudah ribut?" tanya Ibu Melati dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Apa kalian tidak tahu kalau Ibu sedang sakit kepala memikirkan bagaimana cara makan hari ini?"

Tiba-tiba, suara mesin mobil besar terdengar menderu dari arah jalan utama, berhenti tepat di depan pintu kontrakan mereka yang kumuh. Siska segera berdiri dan mengintip dari celah dinding yang berlubang. Matanya membelalak lebar saat melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam legam terparkir, kontras dengan kondisi lingkungan yang penuh sampah.

"Siapa itu?" tanya Bagas penasaran, hatinya mendadak berdebar tidak keruan.

Siska tidak menjawab. Ia terpaku melihat seorang pria berjas rapi turun dari mobil tersebut. Itu adalah Pak Hendra, pengacara yang selama ini menjadi momok bagi keluarga mereka.

"Itu Pak Hendra, Kak! Pengacara Laras!" teriak Siska dengan wajah pucat pasi.

Bagas merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik. Ia segera bangkit dan mencoba merapikan pakaiannya yang sudah kusut masai, namun ia sadar tindakannya itu sangat konyol.

"Apa yang dia lakukan di sini?" gumam Bagas dengan suara yang mulai gemetar.

Ketukan keras terdengar di pintu kayu kontrakan mereka. Bunyinya menggelegar di dalam ruangan sempit itu, membuat Ibu Melati berjingkat ketakutan.

"Bagas, jangan dibuka!" bisik Ibu Melati sambil mencengkeram lengan putranya. "Mungkin dia datang untuk menagih sisa-sisa harta yang belum sempat dia ambil!"

Tok! Tok! Tok!

"Saya tahu kalian di dalam, Pak Bagas," suara Pak Hendra terdengar berat dan tegas dari balik pintu. "Saya datang atas perintah klien saya untuk menyampaikan surat pemberitahuan terakhir terkait aset yang masih tertahan."

Bagas menelan ludah dengan susah payah. Ia merasa harga dirinya hancur berkeping-keping saat harus menghadapi kenyataan bahwa ia kini menjadi buruan di tempat sekumuh ini. Dengan napas terengah-engah, ia melangkah maju dan membuka pintu tersebut.

Cahaya matahari yang terik menyengat mata Bagas saat pintu terbuka lebar. Pak Hendra berdiri di depannya dengan tatapan dingin dan tanpa ekspresi, memegang sebuah map dokumen berwarna biru tua.

"Ada urusan apa lagi kau datang ke sini?" tanya Bagas dengan suara yang berusaha ia buat sedingin mungkin, meski tangannya bergetar hebat.

Pak Hendra tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan kondisi kontrakan itu dengan tatapan yang sulit diartikan, mungkin ada sedikit rasa jijik atau justru kasihan yang ia sembunyikan di balik profesionalitasnya.

"Saya tidak punya banyak waktu, Pak Bagas," ucap Pak Hendra dengan nada formal. "Larasati memberikan instruksi khusus agar saya memastikan bahwa kalian sudah benar-benar melepaskan seluruh hak atas properti lama sebelum proses hukum tahap selanjutnya dimulai."

Ibu Melati ikut maju ke depan pintu, wajahnya memerah karena malu dan marah secara bersamaan. Ia menatap pengacara itu dengan tatapan menantang yang tidak berarti apa-apa.

"Apa lagi yang dia inginkan?" bentak Ibu Melati. "Kami sudah tidak punya apa-apa lagi! Apakah dia belum puas membuat kami tidur di tempat seperti kandang ayam ini?"

Pak Hendra menatap Ibu Melati sekilas, lalu beralih kembali menatap Bagas. Ia menyerahkan map dokumen tersebut tanpa basa-basi.

"Ini adalah surat pernyataan pelepasan aset final yang harus ditandatangani hari ini juga," ujar Pak Hendra dengan tenang. "Jika tidak, kami terpaksa membawa masalah ini ke meja hijau dengan tuntutan tambahan terkait penggelapan dana yang dilakukan selama masa pernikahan."

Bagas menerima map itu dengan tangan yang gemetar. Ia membuka map tersebut dan melihat tumpukan kertas yang penuh dengan pasal-pasal hukum yang rumit. Matanya memicing, berusaha membaca tulisan di dalamnya dengan fokus yang buyar.

"Penggelapan dana?" Bagas tertawa sumbang, sebuah tawa yang terdengar sangat menyedihkan. "Selama ini aku yang membiayai hidupnya, bagaimana bisa aku yang dituduh menggelapkan dana?"

Pak Hendra sedikit memiringkan kepalanya, senyum tipis yang meremehkan tersungging di bibirnya.

"Anda benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, Pak Bagas?" tanya Pak Hendra dengan suara yang tenang namun menusuk. "Semua rekening koran, catatan transaksi, hingga sumber penghasilan utama yang digunakan selama tiga tahun terakhir sudah kami audit. Semuanya adalah milik Larasati. Anda hanya menumpang hidup dan menghamburkan hasil jerih payahnya."

Siska yang berdiri di belakang Bagas mendengus kasar. Ia ingin membantah, namun ia teringat bagaimana Larasati selama ini memang tidak pernah benar-benar memprotes saat mereka menguras isi rekeningnya.

"Kak, jangan ditandatangani!" teriak Siska panik. "Kalau kita tanda tangan, kita benar-benar akan kehilangan segalanya selamanya!"

Bagas menatap adiknya, lalu menatap ibunya yang tampak pucat. Ia merasa terjepit di antara dua pilihan yang sama-sama berujung pada kehancuran.

"Apa jadinya kalau aku menolak?" tanya Bagas kepada Pak Hendra dengan suara yang nyaris berbisik.

Pak Hendra melirik jam tangan mewahnya, lalu memberikan tatapan penuh peringatan kepada Bagas.

"Jika Anda menolak, maka tim kami akan memastikan Anda mendekam di penjara dalam waktu yang jauh lebih lama dari yang Anda bayangkan," jawab Pak Hendra dingin. "Pilihannya sederhana, Pak Bagas. Tanda tangan dan jalani hidup yang baru, atau tunggu panggilan dari pihak kepolisian besok pagi."

Suasana di depan kontrakan itu menjadi sangat mencekam. Tetangga sekitar mulai berbisik-bisik, mengintip dari balik tirai jendela mereka untuk melihat drama yang sedang terjadi.

Bagas menatap kertas di tangannya, lalu menatap lingkungan kumuh di sekelilingnya. Ia akhirnya sadar bahwa ia telah kalah telak. Tidak ada lagi jalan untuk kembali ke atas, tidak ada lagi kemewahan yang bisa ia gunakan untuk menutupi kebodohannya.

"Berikan aku pena," ujar Bagas akhirnya dengan suara yang sangat pelan.

Ibu Melati terkesiap, ia ingin mencegah, namun Bagas mendorong tangan ibunya dengan kasar.

"Sudah cukup, Bu!" bentak Bagas dengan penuh frustrasi. "Kita sudah hancur, tidak perlu memalukan diri lebih jauh lagi di depan orang lain!"

Bagas mengambil pena dari saku jas Pak Hendra yang masih terselip di saku dadanya. Dengan tangan yang gemetar, ia menorehkan tanda tangannya di atas kertas tersebut, menandai berakhirnya sisa-sisa kehidupan mewah yang selama ini ia banggakan.

Pak Hendra mengambil kembali map tersebut dengan gerakan yang cepat dan efisien.

"Terima kasih atas kerja samanya," ucap Pak Hendra singkat. "Saya harap ini menjadi pelajaran berharga untuk Anda dan keluarga."

Tanpa menoleh lagi, Pak Hendra berbalik dan melangkah pergi menuju mobilnya. Ia masuk ke dalam kendaraan mewah itu dan membiarkan mesinnya meraung sejenak sebelum melesat pergi, meninggalkan keluarga Bagas yang terpaku di depan pintu kontrakan yang terbuka lebar.

Bagas terduduk lemas di ambang pintu, menatap debu jalanan yang beterbangan terkena asap knalpot mobil tadi. Ia merasa kosong, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa dari tubuhnya.

Siska menangis sesenggukan, sementara Ibu Melati hanya bisa terdiam mematung, menatap langit yang mulai mendung. Mereka benar-benar sudah berada di titik nadir, dan di luar sana, kehidupan baru Larasati justru baru saja dimulai dengan gemilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!