NovelToon NovelToon
Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.

​Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.

​Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA

"Maaf," gumam Amara pelan saat ia merogohkan tangannya ke atas rak.

​Namun, di luar dugaannya, pada saat yang bersamaan Zain berbalik hendak mengambil sendok. Gerakan yang tak tersinkronisasi itu membuat punggung tangan Amara yang terasa hangat karena demam, tak sengaja menyapu kulit lengan Zain yang terbuka.

​Hanya sentuhan sekilas. Kurang dari satu detik.

​Zain membeku seketika.

​Seluruh tubuh pria itu menegang kaku. Amara yang terkejut langsung menarik tangannya kembali, menatap Zain dengan mata melebar. "Maaf, aku tidak sengaja..."

​Zain tidak mendengarkan permohonan maaf itu. Wajahnya yang biasanya datar kini mengencang, memperlihatkan ekspresi ketidaknyamanan yang luar biasa, seolah kulitnya baru saja bersentuhan dengan racun yang mematikan.

​Tanpa mengucapkan satu kata pun, Zain memutar tubuhnya menghadap wastafel. Ia memutar keran air hingga mengucur deras. Jemari Zain merogoh sabun cuci tangan cair di samping keran, menekan pompanya berkali-kali hingga cairan sabun berbusa melimpah memenuhi kedua telapak tangannya.

​Amara berdiri terpaku di tempatnya, menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang hancur berkeping-keping.

​Zain menggosok kedua tangannya dengan sangat kasar di bawah kucuran air dingin. Pria itu terus menggosok punggung tangannya, area yang tadi tersentuh oleh kulit Amara, seolah berusaha mengikis bersih setiap jejak yang ditinggalkan Amara di sana. Gerakannya begitu intens, berulang-ulang, hingga kulit putih bersih di punggung tangan Zain mulai berubah warna menjadi merah iritasi.

​Busa sabun putih yang tebal mengalir masuk ke dalam lubang pembuangan, membawa serta sisa-sisa sentuhan singkat mereka.

​Zain masih terus membasuh tangannya. Ia sama sekali tidak memedulikan kenyataan bahwa tindakan refleksnya itu memancarkan aura penolakan dan rasa jijik yang teramat sangat jelas.

​Amara meremas cengkeramannya pada pinggiran konter dapur. Rasa sakit di kepalanya mendadak sirna, tergantikan oleh rasa nyeri yang luar biasa hebat di dalam dadanya. Rasa sakit yang mengiris, menggerogoti setiap sudut hatinya yang sudah penuh dengan luka lama.

​Setiap kali mereka bersentuhan, Zain selalu menunjukkan reaksi yang sama. Pria itu bertindak seolah Amara adalah sesuatu yang kotor. Sesuatu yang membawa kuman dan ketidakbersihan ke dalam hidupnya yang rapi.

​Sejak malam kelam empat tahun lalu saat mereka masih di SMA, malam di mana alkohol merenggut kesadaran Zain dan merenggut keperawanan Amara, malam yang memaksakan ikatan pernikahan tanpa cinta ini, Zain tidak pernah lagi menyentuhnya. Pria itu mengurung diri dalam benteng kesendirian, memperlakukan Amara tak lebih dari sekadar bayangan yang terpaksa ia bagi ruang hidupnya.

​Zain akhirnya mematikan keran. Tangannya yang basah dan kemerahan dikeringkan menggunakan serbet bersih dengan gerakan perlahan.

​Tanpa melirik sedikit pun ke arah Amara yang berdiri mematung di sampingnya, Zain melangkah pergi. Suara langkah kakinya yang teratur menjauh, menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas, meninggalkan dapur dalam keheningan yang mencekam kembali.

​Ketika suara pintu kamar Zain terdengar menutup rapat di lantai atas, kekuatan di lutut Amara seolah meluap habis.

​Tubuhnya merosot pelan ke atas ubin dapur yang dingin. Amara terduduk di sana, memeluk kedua lututnya erat-erat. Air mata yang sejak tadi ditahannya di depan Zain kini luruh tanpa mampu dibendung lagi, menetes satu per satu membasahi lantai keramik di bawahnya.

​Isak tangis Amara terdengar pelan, tertahan di dalam ruangan yang sunyi itu. Betapa menyakitkannya dicintai oleh rasa benci yang tak bersuara. Betapa menyiksanya tinggal bersama seseorang yang menganggap keberadaan kita sebagai sebuah kesalahan besar yang harus disesali setiap hari.

​"Sampai kapan..." bisik Amara di antara isak tangisnya yang pecah, suaranya hilang ditelan kegelapan malam. "Sampai kapan kau akan memperlakukanku seperti ini, Kak Zain?"

​Namun, tidak ada jawaban dari balik dinding yang tebal. Hanya ada malam yang dingin, dan rasa sakit yang terus mengendap, kian dalam mematikan jiwanya.

...**********...

"Menikahi pria tampan itu anugerah bagi wanita lain, Ra. Tapi buat kamu, itu mungkin hukuman mati terselubung."

​Suara denting es batu yang beradu dengan dinding gelas plastik menjadi satu-satunya jawaban dari Amara. Ia mengaduk es teh manisnya perlahan, membiarkan embun dingin membasahi ujung jemarinya. Dari lantai dua kantin Universitas Candrakirana ini, pemandangan seluruh pelataran kampus terhampar luas. Udara siang cukup terik, namun ketenangan yang berusaha Amara bangun mendadak terkikis.

​Sebagai istri sah dari seorang anggota senat akademis sekaligus dosen yang mengampu di tiga jurusan utama, kehidupan finansial Amara seharusnya tanpa cela. Setiap bulan, angka yang dikirimkan Zain ke rekeningnya lebih dari cukup untuk membeli apa saja. Namun, uang itu tersimpan utuh. Tak tersentuh sedikit pun.

​Ada ketakutan yang mengakar tajam di dada Amara. Sikap Zain yang teramat dingin dan membentengi diri membuat Amara selalu merasa bahwa pernikahan mereka hanyalah garis batas sementara. Ia takut, jika suatu hari lembar perceraian itu disodorkan, Zain akan menagih kembali setiap rupiah yang pernah ia berikan. Selama ini, Amara memilih bertahan dengan uang saku sederhana yang dikirimkan ayahnya. Kecil, tetapi aman dari rasa bersalah.

​"Amara Putri Sanjaya!"

​Teriakan nyaring yang melengking dari arah belakang membuat Amara hampir tersedak. Ia menoleh, menemukan seorang gadis berkacamata melangkah lebar-lebar ke arah mejanya.

​"Erina Handayani, bisa tidak kalau memanggil nama itu tidak usah pakai nama lengkap? Malu-maluin saja," tegur Amara seraya menghela napas.

​Erin mendaratkan tubuhnya kasar di kursi kosong sebelah Amara. Tiga buku paket tebal tentang farmasi dijatuhkannya ke atas meja hingga menimbulkan dentuman berat.

​"Habisnya kamu sibuk melamun," celetuk Erin, mengibaskan kerah kemejanya yang agak basah oleh keringat. "Lihat siapa sih dari atas sini? Asyik sekali sepertinya."

​Erin mulai celingak-celinguk, menundukkan kepalanya melewati pagar pembatas lantai dua kantin.

​"Tidak lihat siapa-siapa," sahut Amara pelan. Ia menyedot es tehnya. "Enak saja duduk di sini, bisa melihat sekeliling kampus tanpa harus berdesakan."

​"Eh, eh, eh! Lihat deh di sebelah air mancur itu!" Erin mendadak menepuk-nepuk lengan Amara dengan heboh. Matanya membelalak lebar. "Itu Profesor Zain, kan? Ya ampun, ganteng banget! Apalagi kalau dilihat dari atas sini. Ah, suka banget!"

​Amara memiringkan kepalanya sedikit, mengikuti arah pandang Erin. Di bawah sana, berjalan seorang pria berpostur tinggi tegap dengan langkah mantap.

​"Apa sih?" gumam Amara pelan, berusaha menetralkan suara dan ekspresi wajahnya.

​"Duh, lihat deh! Ketampanan Profesor Zain itu rasanya selalu meningkat setiap hari," cerocos Erin tanpa henti, meremas jemarinya sendiri di atas meja. "Apalagi hari ini cuma pakai kemeja polo hitam begitu. Dadanya kelihatan tegap dan berbentuk sekali. Aduh, tidak kuat! Suami idaman semua gadis ini sih. Siapa yang tidak naksir Profesor Zain? Meskipun galak, dingin, dan cueknya minta ampun, tapi maskulin banget!"

​Amara menggigit bibir bawahnya erat-erat. Ada perasaan kacau yang saling berbenturan di dalam dadanya. Di satu sisi, ia merasa kesal karena sahabatnya memuja-muja pria yang tidur di kamar sebelah rumahnya. Di sisi lain, ada rasa geli dan ironis akibat pujian berlebihan yang dilontarkan Erin untuk sosok suami yang jangankan bersikap manis, tersenyum padanya pun tidak pernah.

​"Ih, lihat deh, Ra! Adik tingkat sekarang pada genit-genit sekali!" Erin mendengkus kesal, menunjuk dengan dagunya. "Pasti mereka sedang berdesakan pura-pura bertanya materi kuliah cuma buat minta nomor ponsel Profesor Zain. Astaga, ingin rasanya aku turun ke bawah lalu mengusir mereka semua."

​Amara melirik sekilas ke bawah. Di sekeliling Zain, tiga orang mahasiswi tingkat satu tampak tersenyum-senyum malu sambil memegang buku catatan, berusaha menahan langkah sang profesor. Zain hanya berdiri tegap, memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana, memberikan jawaban pendek tanpa membalas senyuman mereka sedikit pun.

​Amara mengepalkan tangannya di bawah meja, menyalurkan rasa sesak yang tiba-tiba membakar dadanya. Pemandangan seperti ini bukanlah hal baru. Bukan hanya mahasiswi genit, bahkan dosen senior hingga dosen muda kerap kali sengaja menempel dan mencari perhatian Zain.

​Amara menatap punggung pria itu dari kejauhan. Sampai kapan Kak Zain akan terus menyembunyikan statusnya yang sudah menikah? Sampai kapan aku harus berdiri di antara kerumunan ini, berpura-pura menjadi asing bagi suamiku sendiri?

​Gedung Fakultas Farmasi mulai lengang ketika matahari merambat makin rendah. Amara merapikan tas punggungnya setelah keluar dari ruang kuliah mata kuliah Kesehatan Lingkungan. Langkah kakinya agak lambat, kepalanya masih menyisakan sedikit rasa berat sisa demam kemarin.

​"Permisi, Kak Amara?"

​Sebuah suara menyapa dari arah samping. Amara menghentikan langkahnya dan menoleh. Seorang pemuda berjaket almamater biru terang berdiri di sana, tersenyum ramah sambil memegang sebuah pulpen.

​"Iya? Ada apa ya?" tanya Amara sopan.

​"Kamu Amara tingkat dua jurusan Farmasi, kan?" pemuda itu memperkenalkan diri dengan percaya diri. "Saya Sandi, tingkat satu jurusan Farmasi. Begini, Kak, apa kamu masih menyimpan buku atau catatan perkuliahan waktu tingkat satu dulu? Kalau boleh, saya ingin meminjamnya."

​Amara berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan. "Oh, ada. Tapi aku harus mencarinya di gudang rumah dulu. Soalnya semua buku semester lalu sudah disimpan rapi."

​"Oh, tidak apa-apa, Kak," sahut Sandi cepat, matanya berbinar lega. "Boleh Sandi minta nomor WhatsApp kamu? Supaya lebih mudah menghubungi saat mencari catatannya di kampus nanti."

​"Boleh, sebentar..." Amara membuka resleting tasnya, berniat mengambil ponsel yang tersimpan di dalam selipan kantong.

​Namun, sebelum jemarinya menyentuh layar ponsel, sebuah suara bariton yang teramat familiar bergetar rendah dari arah belakang mereka.

​"Amara Putri Sanjaya."

​Langkah kaki yang berderap pelan berhembus mendekat. Amara membeku di tempatnya. Ia perlahan memutar tubuh.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
wkwkwkw kalo begitu kau cium saja itu suamimu tiap hari biar bisa mendengar suara hati Zain kan lumayanlah tuh🤔🤭🤣🤣🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
lahhhh kok ternyata kakak Amara sendiri yang merencanakannya kejadian empat tahun yang lalu itu 😱🤔
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
kali ini zain menang banyak wkwkw
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
si zain main sosor aja 😭
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
owalah Zain kau itu benar benar menggemaskan sekaligus ngeselin banget cobalah sekali kali bicara yang jelas dan pikirkan perasaan Amara yang merasa dirinya tak cukup pantas berada disisimu🤔
Muft Smoker
gengsi di gedein zaiiin ,, zaiiin ,,
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
Muft Smoker: waah dtggu banget tuh kak dew ,, penasaran ma ekspresi ny si zain ,,
muka doank dingin ,, tp curahan hati ny sangat2 berbahaya 🤭🤭😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
zain peka dikit jd suami ,, sebelum semua terlambat
Muft Smoker
ni dosen kyak ny pake jalur instan nih ,, gx da adab ny
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
apakah ini ciri ciri amara mau pisah?
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Zain tidak bisakah kau turunkan egomu itu jika Amara sudah memasuki fase lelah padamu yang ada kalian akan bubar 🤔🥹
SENJA
mantabs pak wanto 🤣
SENJA
sok tau lo 🤣
SENJA
yeeeeeey huuuu ga tau malu🤣🤣🤣
SENJA
laaaah siapa elu 🤣🤣
SENJA
lu dosen ga ada adab woeee
SENJA
jangan2 zain bisa juga 😳🤣
SENJA
laaah kok timbul tenggelam gitu suara bathinnya🤣
SENJA
perbuatan laki lu 🤣
SENJA
ishh isssh ketagihan🤣
SENJA
kejem amat ihhh ama bini 🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!