NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:849
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 26] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Aroma tanah basah dan pucuk teh yang terjemur matahari menyambut Vincenzo saat langkah kakinya menginjak hamparan rumput hijau di pelataran kediaman Tahesa. Perbukitan yang membentang luas di sekelilingnya tampak begitu subur dan makmur. Bulir padi bergoyang dihempas angin sore yang sejuk, menciptakan kedamaian semu yang bertolak belakang dengan dada Vincenzo yang terasa sempit. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan gelisah.

Rumah di hadapannya berdiri megah namun bersahaja. Dinding batu alaminya memancarkan kehangatan, tetapi riuh langkah para pelayan yang berlalu-lalang menyebarkan hawa ketegangan yang asing. Vincenzo mengepalkan tangannya rapat-rapat di dalam saku mantel.

"Pulanglah. Nanti aku berkabar jika ingin pulang," ucap Vincenzo pelan pada sopir pribadinya. Suaranya berat, tertahan oleh kecemasan yang menggantung di kerongkongan.

"Baik, Tuan," sahut sang sopir, membungkuk hormat sebelum mengundurkan mobil hitam itu menjauh.

Tak lama berselang seorang pelayan wanita berparas manis dengan apron putih bersih bergegas mendekat. Langkahnya sigap, senyum ramah terukir di wajahnya yang telah terbiasa melihat presensi Vincenzo.

"Tuan Vin ternyata benar-benar datang?" tanyanya lembut, sedikit mendongak menatap raut wajah Vincenzo yang keruh.

Vincenzo menarik napas dalam, membasahi bibirnya yang kering. "Apa tuanmu ada di rumah?"

"Tentu," jawab pelayan itu seraya berbalik, memberi isyarat agar Vincenzo mengikutinya. "Tuan begitu sibuk di rumah sampai minggu depan, menyiapkannya untuk acara peresmian."

Tangan Vincenzo memegang kerah mantelnya yang tertiup angin.

"Omong-omong, peresmian apa?"

"Kebetulan sekali, baru-baru ini Tuan Muda Rachel akan meresmikan pernikahannya dengan seorang gadis muda," tutur pelayan itu santai seraya melangkah menyusuri lorong berlantai batu runcing.

Langkah Vincenzo terhenti seketika. Matanya membelalak, dahi bertaut tajam. "Rachel akan menikah?"

"Iya, Tuan," sahut pelayan itu tanpa menoleh.

Mereka tiba di sebuah aula luas bertiang tinggi yang beraroma kayu cendana. Di tengah ruangan, berdirilah pria yang dicarinya. Pria itu berdiri tegak di atas panggung kayu kecil, telanjang dada, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang terpahat sempurna bak mahakarya pahatan Yunani. Seorang penjahit sedang sibuk melingkarkan pita ukur di bahu lebar pria itu.

"Kudengar adikmu akan menikah?" suara Vincenzo memecah kesunyian ruangan, bergema dingin.

Pria di atas panggung itu—Rahes Tahesa menoleh. Garis rahangnya yang tegas berpadu dengan senyum miring yang terpatri alami di bibirnya. Matanya yang tajam berkilat penuh kepintaran yang berbahaya.

"Ah... Vin, ternyata kau datang juga?" Rahes mengibaskan tangan, menyuruh penjahitnya mundur. "Akupikir kau tidak tertarik dengan tawaranku kemarin?"

Vincenzo melangkah maju, sepatunya mengandaskan lantai kayu dengan ketukan berat. Bahunya tegang, kepalan tangannya di saku mantel semakin mengeras. "Yah... aku memang tidak tertarik. Tapi bukan hal itu yang membawaku kemari, Rahes."

Rahes melangkah turun dari panggung kecil itu dengan santai. Ia menyambar kaos katun sederhana berwarna hitam, menyarukkannya ke tubuh atletisnya tanpa keraguan. Dengan gerakan luwes, ia merangkul bahu Vincenzo—sebuah gestur keakraban yang terasa menekan dan dominan. Rahes menuntun Vincenzo menyusuri lorong-lorong rumah yang sedang dirapikan oleh para pekerja.

"Tahu apa yang menarik?..."tanya Rahes seraya menaik turun kan kedua alisnya."ternyata para Mans yang terlihat gagah itu tidak sekuat yang kubayangkan," kekeh Rahes pelan di sela jalannya. Deru nafasnya hangat menerpa samping wajah Vincenzo. "Bahkan dengan sisa kekuatan mereka, mereka malah berani bersekutu denganku?"

Vincenzo melirik lengan Rahes yang bertengger di bahunya. Dahinya berkerut dalam. "Apa maksudmu?"

"Yah... setelah kematian putranya, dia terlalu bodoh untuk berpaling dari kenyataan," lanjut Rahes ringan. Wajahnya yang rupawan memancarkan humor seolah-olah pertumpahan darah dan intrik politik klan adalah lelucon di meja makan.

"Hal logis itu membuat distribusi internalnya retak perlahan.Banyak orang orang nya berkhianat dan melakukan sabotase masal"

"Aku tahu itu..." desis Vincenzo, melambatkan langkahnya. Rahangnya mengeras. "Dan karena kecelakaan putranya juga kan?"

Rahes menghentikan langkah, memiringkan kepalanya sedikit. Matanya menyipit penuh arti.

"Wah... ternyata masih banyak yang tidak kau ketahui."

"Apa maksudmu sekarang, Rahes?" Vincenzo menepis merosotnya tangan Rahes dari bahunya, berbalik menatap langsung mata pria itu. Napas Vincenzo memburu, kecemasan yang ditahannya kini meluap menjadi dorongan amarah defensif. "Dengar, aku tidak punya banyak waktu dan aku serius!"

Bukannya terintimidasi, Rahes justru terkekeh pelan. Senyum jenakanya mengembang, menikmati kepanikan sahabatnya. Tanpa bersuara, Rahes mengangkat jarinya, memberi isyarat ke arah sebuah ruangan terbuka di seberang taman dalam.

Di sana, terduduk seorang pria tua. Benjamin Yohan. Pria yang dulunya dipandang sebagai pilar kekuasaan itu kini terduduk lesu di kursi kayu. Tangannya yang menggenggam cangkir kopi, matanya yang redup menatap kosong ke lantai. Wajahnya yang dipenuhi kerutan tampak rapuh dan hancur.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Vin, suaranya mencicit rendah.

"Menurutmu?" sahut Rahes singkat.

Rahes tidak menjawab lebih jauh. Ia menyusuri selasar, melangkah mantap mendekati Pak Tua Yohan dan langsung duduk di bangku tepat di sebelahnya dengan gaya kasual. Vincenzo menyusul dengan langkah ragu, merapatkan mantelnya sebelum akhirnya duduk di kursi kosong lainnya.

Kini, tiga pria yang memegang kendali atas klan-klan besar duduk dalam satu lingkaran kecil yang menyesakkan.

"Yah... Kalian berdua benar-benar datang untuk menghiburku, bukan?" Rahes menyandarkan punggungnya, menatap Yohan lalu berpaling pada Vincenzo. "Jadi, jika tawaran Tuan Yohan sudah sangat aku terima... lantas bagaimana denganmu, Vincenzo Matur?"

Vincenzo terbelalak. "Tawaran?... Bahkan aku belum menjelaskan masalahku."

"Ohh begitu, kah?" Rahes menegakkan duduknya, menopang dagu dengan jemarinya. Senyumnya bertambah lebar, mematikan. "Bagaimana dengan ancaman adu domba yang akan diluncurkan oleh klan Argus? Atau tentang ancaman perkembangan serum Altera milik keluarga Carlous?"

"A... apa?!" Paru-paru Vincenzo seakan kehabisan udara. Matanya melotot menatap Rahes yang tahu segalanya. Di sampingnya, Pak Tua Yohan pun ikut tersentak kaget, cangkir kopinya berdenting keras menghantam tatakan.

"Aku... aku akan melakukan apa saja!" seru Vincenzo lantang. Ketakutan menguasai logikanya, menyisakan keputusasaan di matanya yang bergetar. "akan ku lakukan apa aja asal klanku selamat!"

"Apa saja?" bisik Rahes halus.

Bersamaan dengan itu, pelayan wanita tadi kembali mendekat, meletakkan nampan berisi teh hangat di meja batu. Rahes mengambil cangkir itu, lalu menyodorkannya pada Vincenzo dengan gerakan menenangkan yang pura-pura.

"Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan," ucap Rahes, matanya mengunci pandangan Vincenzo. "Beri aku kesempatan menguasai sisi jalur barat... Sebagai gantinya, aku akan menjadi sekutu terbesar mu. Bagaimana?"

Jantung Vincenzo serasa berhenti berdetak. "Ka... kau menginginkan jalur baratku?"

"Jalur baratmu?" Rahes terkekeh halus, melambaikan tangannya seolah itu hal sepele. "Tentu saja tidak seperti itu. Aku hanya butuh satu bantuan kecil darimu agar hubungan koneksi luar dan distribusi internal milikku berjalan mulus tanpa hambatan."

"Dengar, Rahes!" Vincenzo berdiri mendadak, kursinya terdorong ke belakang. Napasnya memburu, dadanya kembang-kempis memendam amarah dan rasa tidak percaya. "Jalur itu sudah seperti jantung keluargaku! Kekuasaan klanku! Dan kau menginginkannya?! Apapun akan kulakukan demi persekutuan kita, tapi tidak dengan jalur baratku!"

"Santai dulu, Vin..." Rahes menepuk-nepuk udara dengan telapak tangannya, menatap Vincenzo tanpa riak emosi. "Ingat, kita sahabat, bukan? Aku tidak memaksamu, kok. Aku hanya menginginkan bayaran yang setimpal. Karena mau bagaimana pun..."

Rahes jeda sejenak, tatapannya mendadak dingin bak es. "...Oscario Carlous bukanlah seseorang yang mudah ditumbangkan jika ia sudah lebih dulu jatuh dalam fitnah itu. Jadinya wajar sekali bukan jika aku meminta hal itu? Maksudku, siapa juga yang mau susah payah mempertaruhkan nyawa dan berurusan dengan para belati?"

Vincenzo membeku. Kata-kata Rahes telak menusuk ulu hatinya. Ia perlahan terduduk kembali, matanya menatap kosong ke meja batu. Pikirannya berkecamuk hebat, terombang-ambing di antara kehancuran klannya atau kehilangan jalur vitalnya.

Rahes menyunggingkan senyum manis—senyuman yang bagi Vincenzo saat ini terasa sangat memuaskan sekaligus menjijikkan.

Rahes lalu berpaling pada Yohan yang sedari tadi diam membisu, berusaha meresapi tiap patah kata dari dua pria muda di hadapannya.

"Tuan Yohan, jangan terlalu banyak pikiran," panggil Rahes dengan nada teramat ramah.

"Pikirkan tentang bagaimana acaranya nanti... Belum lagi aku masih bingung bagaimana merias mahar-maharnya di sini."

Yohan menarik napas panjang, helaan napasnya terdengar begitu berat dan pasrah. Wajah tuanya makin kuyu. "Iya, tentu... Aku akan mempersiapkan anak itu juga, menjamin semuanya berjalan baik."

"Bagus sekali, aku suka kemajuan ini," puji Rahes, matanya berbinar gembira. "Terutama tentang bagaimana adikku menyukai keponakanmu. Dia sudah sangat bahagia, seperti menerima setumpuk emas."

Vincenzo yang terbangun dari lamunannya menoleh cepat, mengerutkan dahi. "Tunggu dulu... Jangan bilang Anda memberikan keponakan Anda, Tuan Benjamin?"

Benjamin Yohan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahunya yang layu bergetar sedikit sebelum ia mengangguk pelan, menyunggingkan senyum pahit yang dipaksakan.

"Ta... tapi gadis itu masih sangat muda!" sergah Vincenzo, menatap Yohan tak percaya. "Dia baru saja masuk kuliah!"

"Aku tahu..." bisik Yohan parau, suaranya hampir tak terdengar. "...aku tak memiliki pilihan lain. Kekuasaanku runtuh karena ulahku sendiri. Aku perlu memperbaikinya, setidaknya membiarkan semuanya aman dulu. Setelah itu... aku akan membawanya pulang."

"Membawanya pulang?" cibir Vincenzo, menggelengkan kepala melihat keputusasaan pria tua itu. "Jelas sekali Anda menjualnya!"

"Hey... hey... tenang dulu, Vin," Rahes menengahi, terkekeh geli seraya mengibaskan tangannya santai. "Jangan katakan hal kasar seperti itu... Maksudku, ayolah~ siapa juga yang bisa berpikir jernih saat dalam keadaan terdesak? Hmm?"

Keheningan yang mencekam kembali melingkupi meja itu. Tak ada yang bersuara. Atmosfer terasa berat sampai pelayan wanita tadi kembali memecah kecanggokkan dengan membawa nampan berisi piring beraroma manis.

"Ahh, panekuknya matang! Terima kasih, Imelda!" seru Rahes tiba-tiba dengan nada riang, kontras dengan tensi gelap di meja tersebut.

"Sama-sama, Tuan," sahut Imelda tersenyum tipis sebelum memundurkan diri.

Rahes mengambil garpu dan mulai menyantap panekuk itu dengan lahap, mengunyahnya begitu menikmati bak bocah kecil yang kelaparan setelah bermain seharian. Ia seolah lupa bahwa baru saja memeras dua pemimpin klan di sisinya.

Hingga isi piringnya bersih tak tersisa, Rahes menyapu bibirnya dengan serbet kertas. Raut wajahnya mendadak berganti, aura kekanak-kanakannya menguap digantikan keseriusan yang dingin. Tatapannya tertuju lurus pada Vin

"Biarkan pasokan senjata dan amunisi aku yang urus," ucap Rahes tajam, suaranya mantap tanpa keraguan. "Sisanya, kirimkan saja para-penembak jitu terbaikmu... Kita akan sama-sama menyelesaikan para belati jika perlu. Dan mungkin juga membuatku mengakui sisi teritorial kekuasaan Cincin Api. Bagaimana? Deal?"

Rahes mengulurkan tangannya yang halus ke tengah meja, menanti jabat tangan dari Vincenzo. Namun Vincenzo hanya menatap uluran tangan itu dengan dada yang gemuruh, enggan menyambutnya.

Rahes terkekeh pasrah, menarik kembali tangannya tanpa rasa tersinggung. Ia lalu menyandarkan tubuhnya, menatap Yohan kembali dengan binar mata curiga yang dipaksakan santai.

"Hey, Pak Tua... Aku sejujurnya masih bingung," gumam Rahes, mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja batu. "Mengapa mereka bisa begitu santai atas kasus pembunuhan tersebut?"

Yohan mendongak perlahan, menatap Rahes dengan pandangan bertanya.

"Tahukah seberapa sayangnya Xenon Obela terhadap pria muda bernama Wilgard itu?" lanjut Rahes, matanya menyipit berbahaya. "Kasih sayang yang begitu hangat... seolah-olah pria tua itu benar-benar menganggap Wilgard adalah anaknya sendiri, kan?"

Rahes mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Yohan, senyum miring kembali terukir di bibirnya.

"Maksudku... mungkin kau bisa saja melakukan hal yang sama padanya?"

Yohan mengerutkan alisnya. "Dengan cara bagaimana?"

"Mungkin dengan cara membunuh anaknya juga?" whisper Rahes pelan, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang belakang seluruh orang di meja tersebut.

"Wilgardi Carlous?"

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!