Zavian Hartwell, 38 tahun. Menikah dengan Viona Lestari, janda anak satu. Zavian kaget karena setelah menikah, Viona malah menyodorkan putrinya untuk melakukan malam pertama mereka.
"Viona, kau gila? Dia putrimu. Dia masih anak-anak, " Zavian.
"Kita menikah karena bisnis, aku punya laki-laki lain. Tapi kau akan tetap akan merasakan malam pertama, dengan putriku. Dia akan menggantikan aku." Viona
"Tapi bunda ..." Mirella menatap ibunya memohon.
"Diam, lakukan perintah bunda. Kalau tidak, kamu akan di kirim ke luar negeri. Puaskan daddy Zavian!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Zavian bergegas keluar kamar, namun baru saja hendak melangkah pergi, ia melihat ada noda merah samar di seprai tempat Mirella berbaring. Ia tertahan sejenak, lalu menyadari apa yang terjadi. Mirella sedang datang bulan. Tidak heran tubuhnya terasa begitu lemah hingga demam. Mungkin tubuh gadis itu lebih lemah dari gadis-gadis yang lain.
Zavian segera mengambil ponselnya, menelepon asistennya. Suaranya tenang saat meminta membeli perlengkapan yang dibutuhkan perempuan saat datang bulan, lengkap dengan pembalut dan pakaian tidur yang nyaman dan menutup tubuh dengan baik. Ia tidak ingin gadis itu memakai gaun tipis pemberian Viona lagi.
Tak lama kemudian asistennya datang. Zavian menerima kantong belanjaan itu sendiri, lalu menyuruh asistennya pulang agar tidak ada yang mengganggu. Saat ia kembali ke kamar, Mirella terbaring lemah, matanya terpejam pelan namun alisnya berkerut menahan rasa sakit yang jelas terasa.
Zavian duduk perlahan di tepi ranjang, suaranya lembut agar tidak mengejutkannya.
"Mirella... aku bawakan pakaian baru yang lebih nyaman, bisa kau ganti sendiri? Kalau tidak kuat, panggil aku. Aku tunggu di luar pintu sampai selesai."
Mirella membuka matanya perlahan, pipinya sedikit memerah.
"Maaf ngerepotin daddy ..."
"Tidak merepotkan. Cepat ganti bajumu. Aku tunggu di luar."
Zavian menunggu di luar kamar sampai Mirella memanggil pelan memberitahunya sudah selesai. Saat ia masuk kembali, gadis itu sudah mengenakan pakaian tidur yang sopan dan jauh lebih hangat, wajahnya terlihat lebih tenang meski masih pucat dan lemas. Demamnya belum turun.
Sepanjang malam Zavian tidak pergi kemana-mana. Ia mengganti kompres di kening Mirella berkala, memintanya minum air hangat sesekali, dan memastikan gadis itu tetap hangat di bawah selimutnya.
Mirella terlihat begitu kecil dan rapuh di atas tempat tidur itu. Selama ini ia hidup dalam rumah yang mewah namun terasa dingin seperti penjara, dan bahkan hal-hal paling dasar untuk merawat dirinya sendiri pun sering kali terabaikan. Zavian tidak pernah tahu apa yang sudah di lewati gadis ini sepanjang hidupnya, tapi tinggal dengan ibu gila seperti itu setiap hari, Zavian bisa menebak. Masih untung gadis ini tidak gila.
Jam menunjukkan pukul dua pagi saat Zavian akhirnya berdiri perlahan, berniat kembali ke kamarnya agar bisa beristirahat juga. Namun baru saja ia bergerak, tangan kecil Mirella tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dengan cengkeraman lemah namun mendesak. Matanya masih terpejam, suaranya terdengar gemetar dan sedih.
"Jangan pergi... Tolong jangan pergi ... Aku takut sendirian ..."
Zavian menghembuskan nafas berat. Ia kembali duduk di tepi ranjang, meletakkan tangan besarnya di atas tangan kecil yang memeganginya erat.
"Aku di sini. Tidak akan pergi, aku janji."
Mirella mengendurkan cengkeramannya sedikit namun tidak melepaskan, seakan kehadiran Zavian adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa aman malam itu. Tak lama kemudian napasnya teratur kembali, namun Zavian tetap duduk di sana, menjaganya sampai akhirnya kelelahan pun membuatnya terlelap di kursi di samping ranjang itu.
Tengah malam, Mirella bergerak gelisah. Keringat dingin muncul di keningnya, napasnya menjadi pendek dan tidak teratur. Ia bermimpi buruk, mimpi di mana ibunya berdiri di depannya dengan wajah kecewa dan marah, menunjuknya dengan jari tajam, menguncinya di ruangan gelap.
"Bunda... ampun bunda! Rella nggak akan nakal lagi, ampun bunda! Jangan marah... Rella akan jadi anak baik ..."
Zavian terbangun. Ia melihat Mirella menggumam tak jelas, air mata mengalir di sudut matanya yang masih terpejam, tubuhnya gemetar ketakutan. Tanpa ragu, ia memegang kedua bahu gadis itu dengan lembut, suaranya terdengar tegas namun menenangkan, berusaha membangunkannya dari mimpi buruk itu tanpa mengejutkannya.
"Mirella... bangun. Itu hanya mimpi. Kau di kamarmu sendiri. Tidak ada siapa-siapa yang akan menyakitimu di sini."
Mirella membuka matanya perlahan, napasnya terengah, matanya masih terlihat bingung dan ketakutan. Saat pandangannya jatuh pada Zavian yang ada di dekatnya, ia langsung duduk dan memeluknya erat, seakan takut pria itu akan menghilang jika melepaskannya.
"Daddy ... aku mimpi buruk... Bunda marah padaku ... dia bilang aku anak yang nggak berguna..."
Zavian tersentak, namun ia membalas pelukan itu dengan lembut, menepuk punggungnya pelan.
"Itu hanya mimpi, Mirella. Kau bukan tidak berguna. Kau berharga. Dan kau tidak perlu takut. Tidurlah," katanya lembut. Belum pernah dia membujuk seorang gadis atau perempuan lainnya seperti ini.
Sesaat kemudian, nafas Mirella kembali teratur, tertidur di pelukan Zavian. Pria itu membaringkannya perlahan, hati-hati sekali agar gadis itu tidak terbangun lagi.
Zavian menarik selimut hingga menutupi bahu Mirella, lalu menyeka sisa air mata di pipi gadis itu dengan punggung jarinya yang kasar namun lembut. Hatinya terasa sesak. Betapa dalamnya luka yang ditanam ibunya sendiri, sampai-sampai bahkan di dalam mimpi pun ketakutan itu tak pernah benar-benar lepas.
Ia kembali duduk di kursi di samping ranjang, membiarkan tangan kecil Mirella tetap berada dalam genggamannya. Cahaya lampu tidur yang redup menyinari wajah gadis itu yang terlihat damai untuk sesaat, namun alisnya masih sesekali berkerut seakan beban berat terus mengikutinya bahkan dalam tidur.
Pikirannya melayang jauh. Ia menyadari betapa kecilnya dunia Mirella, terkurung di antara dinding rumah mewah yang dingin, dikendalikan oleh ibunya yang ambisius, dan tak punya satu pun tempat untuk merasa aman
"Apa yang sudah ibumu lakukan padamu?" gumam Zavian pelan sambil mengusap-usap lembut pipi Mirella.
Ia menatap gadis itu lama sekali, seolah ingin masuk ke masa lalunya dan mencari tahu apa yang sudah di alami gadis ini. Dan dia masih tidak habis pikir kenapa Viona memperlakukan putrinya seperti ini. Apa Mirella bukan putri kandungnya?
Tiba-tiba terbersit pertanyaan itu di benaknya. Wajar ia bertanya begitu, karena perlakuan Viona pada Mirella. Tapi ... Wajah mereka mirip. Zavian kembali menghembuskan nafas berat. Ia sungguh tidak mengerti. Dan sekarang, ia malah masuk dalam pusaran hidup yang kacau ini.
Viona yang ambisius dan rela melakukan cara apa saja demi ambisi gilanya, dan Mirella yang tertindas oleh ibu kandung sendiri. Zavian kini berada di tengah-tengah gadis malang yang ingin dia tolong, dan perempuan gila yang ingin dia tinggalkan.
Zavian menatap jam dinding. Sudah hampir pagi. Perlahan, ia melepaskan genggamannya, lalu berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap langit yang mulai terang. Untuk melawan Viona, dia harus licik juga.
zavian jangan takut sama ancaman wanita iblis itu, kasian hidupnya mirella sangat menderita. penuh tekanan dan ancaman ibunya yg gila dan stress itu🤭
daddy zavian merasa kasian dan prihatin sama mirella punya ibu sakit jiwa dan stress itu, makanya daddy zavian tidak akan membiarkan mirella menderita. akan menjaga dan melindunginya..
hanya daddy zavian dan bara sangat peduli dan perhatian sama mirella, daddy davian berangkat kerja viona pasti akan marah dan memaki-maki mirella.
viona emang gila dan stress anak kandung sendiri diperlakukan seperti anak tirinya, ibu macam apa viona itu tidak sayang dan perhatian sama mirella...
mirella sangst lemah dan tidak berdaya selali nurut ancaman viona, sabar ya mirella suatu nanti kamu berhak bahagia...
lanjut mae..
ditunggu updatenya lagi...
zavian ayah tiri yg baik👍
bisa gak zavian tetap jd ayah tiri ny mirrela aja, jng nyimpang2 ke ayah tiri cinta ke ank,, emg sih cerita kk mae bnyak pria dewasa suka sama gadis kecil cinta beda usiaaaaaa jauhhh bnget ,, tp kan status ny gak ad hubungan gitu,,
kan mirrela bisa sama bara yg jg baik🙏🙏🙏🙏🙏🙏