Bagi keluarga Vardha, Arumi selalu bisa dikorbankan demi Aurelia, kakak angkatnya yang manipulatif. Puncaknya, cinta tiga tahun Arumi, Adrian, direbut Aurelia dengan restu orang tuanya sendiri. Arumi mengalah dan mengikhlaskan mereka.
Namun, mereka tak tahu siapa Arumi sebenarnya.
Saat mengenakan cadarnya di luar rumah, Arumi bertransformasi menjadi maestro biola kelas dunia, peretas jenius, sekaligus CEO rahasia dari imperium bisnis yang ia bangun sendiri.
Dunia Arumi berguncang saat Raja Zean Rothschild—penguasa dunia no 1, pemegang saham mayoritas global, dan pemilik aliansi militer tertinggi—hadir di hidupnya. Sang Raja yang dingin dan tak tersentuh mendadak bertekuk lutut, terobsesi, dan mengejarnya secara posesif setelah menemukan rahasia di balik cadarnya.
Situasi kian memanas saat Kazan, anak mafia psikopat berdarah dingin, juga mengklaim Arumi sebagai miliknya.
Adrian terbakar cemburu, Aurelia gila obsesi ingin merebut Sang Raja. Mampukah Sang Raja melindungi Arumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GARIS MERAH SANG PENGUASA
Kepanikan di Grand Ballroom Hotel Amarta kian tak terkendali. Lampu-lampu kristal utama mendadak padam dan digantikan oleh pijar lampu darurat berwarna merah yang berkedip-kedip ritmis. Suara teriakan para tamu undangan, dentang gelas pecah, dan langkah kaki yang saling berdesakan memenuhi ruangan. Simbol tengkorak dan tulisan merah milik kartel Kazan Vance yang terpampang di layar monitor raksasa seolah menjadi vonis kematian bagi siapa pun yang berada di sana.
Di tengah situasi kacau tersebut, Raja Zean berdiri kokoh bagaikan benteng yang tak tergoyahkan. Tangan kirinya mengunci pinggang Arumi rapat-rapat ke dalam dekapan dadanya, sementara tangan kanannya sudah siap di balik lipatan jubah kustomnya. Aura membunuh yang memancar dari tubuh Zean begitu pekat hingga membuat para pengawal pribadi Abi Vardhana yang panik tak berani mendekat.
"Felix! Amankan seluruh perimeter luar! Jangan biarkan satu pun media meliput dan tembak di tempat siapa pun yang mencurigakan!" perintah Zean dengan intonasi rendah yang menggelegar dan mutlak.
"Siap, Yang Mulia! Tim Baret Hitam sudah mengepung seluruh pintu keluar!" sahut Felix tegas melalui alat komunikasi di telinganya, lalu dengan sigap memberi komando pada belasan pasukan berjas hitam bersenjata lengkap yang langsung membentuk barikade melingkari Zean dan Arumi.
Di sudut lain, Adrian berusaha menarik tangan Aurelia yang menangis histeris ketakutan. "Aurelia, ayo cepat keluar dari sini!" teriak Adrian panik. Namun, matanya terus melirik ke arah Arumi yang dilindungi dengan begitu posesif dan sempurna di dalam pelukan Zean. Rasa kerdil dan cemburu membakar dada Adrian. Pria itu menyadari bahwa di saat ancaman nyata datang, ia bahkan tak mampu melindungi dirinya sendiri, apalagi wanita di sisinya.
"Zean... lepas, aku bisa berjalan sendiri," bisik Arumi pelan di dalam dada Zean. Suaranya tertahan oleh kain cadar, namun tetap terdengar tenang tanpa nada ketakutan sedikit pun.
Zean menunduk sedikit, menatap manik mata bening Arumi yang berada sangat dekat dengan wajahnya. "Tidak, Wanitaku. Di situasi seperti ini, kamu berada di bawah kendali mutlakku."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Arumi untuk menolak, Zean mendadak mengangkat tubuh Arumi dalam dekapan groomsman carry—menggendongnya dengan sangat mudah di depan ratusan mata yang sedang panik.
Arumi tersentak pelan, refleks melingkarkan tangannya di bahu tegap Zean agar tidak jatuh. "Raja Zean! Banyak orang di sini—"
"Biarkan mereka melihat," potong Zean dingin sembari melangkah lebar menembus kerumunan. "Agar seluruh dunia tahu bahwa menyentuhmu berarti mengundang murkaku."
Zean membawa Arumi menuju lift eksklusif jalur VIP yang terhubung langsung ke area helipad dan penthouse lantai teratas. Pasukan Baret Hitam mengawal ketat setiap sudut koridor.
Begitu pintu lift VIP tertutup rapat dan mengisolasi mereka dari kebisingan ballroom, suasana mendadak hening. Hawa dingin dari pendingin udara lift berpadu dengan aroma sandalwood dan ketegangan di antara mereka.
Zean menurunkan Arumi perlahan, namun kedua tangannya tetap mengurung Arumi di dinding kaca lift. Jarak mereka sangat dekat, hingga Arumi bisa merasakan hembusan napas hangat Zean yang memburu di atas keningnya.
"Siapa Kazan Vance bagimu, Arumi?" tanya Zean dengan suara serak yang dipenuhi gairah ketertarikan dan kecemburuan yang terselubung. "Kenapa peretas kelas atas itu menyebut nama lengkapmu di layar utama?"
Arumi menatap lurus ke dalam iris mata abu-abu gelap milik Zean tanpa rasa gentar sedikit pun. Tentu saja Arumi tahu siapa Kazan. Kazan adalah musuh bebuyutannya di dunia siber bawah tanah—seorang peretas gila yang selama tiga tahun ini terobsesi meretas sistem perusahaan milik Arumi dan membongkar identitas rahasianya sebagai A.V. Maestro.
"Saya tidak kenal siapa dia, Raja Zean," jawab Arumi tenang, menyembunyikan identitas rahasianya sebagai hacker kelas dunia dengan sangat rapi. "Mungkin dia hanya musuh bisnis Abi atau musuh Anda yang memanfaatkan nama saya untuk memancing amarah Anda."
Zean memiringkan kepalanya sedikit. Jemari tangannya yang terbalut sarung kulit hitam terangkat, mengusap lembut tepi kain cadar di pipi Arumi.
"Dia memang memancing amarahku, Arumi..." bisik Zean intim, suaranya bergetar berat. "...dan dia berhasil. Siapa pun pria yang berani menuliskan namamu dan mengklaimmu sebagai miliknya... kupastikan lidahnya akan kupotong dan tubuhnya akan kuberikan pada binatang pemburu."
Dada Arumi berdesir hebat mendengar dominasi dan kepemilikan yang teramat pekat itu. Ia bisa merasakan betapa berbahayanya pria di hadapannya ini. Namun, di balik aura dark yang mengerikan itu, Arumi tidak melihat kebohongan di mata Zean—pria ini benar-benar terobsesi padanya.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai penthouse. Felix sudah menunggu di sana dengan laptop militer berenkripsi khusus yang menyala.
"Yang Mulia, jejak siber yang meretas layar ballroom berhasil dilacak oleh tim intelijen kita. Sinyalnya melompat melalui tujuh server satelit di Eropa Timur," lapor Felix sigap.
Arumi menyipitkan matanya sedikit. Sebagai hacker legendaris, Arumi tahu betul pola pertahanan Kazan. Server Eropa Timur itu hanyalah umpan palsu.
"Bawa laptop itu ke mari," perintah Arumi mendadak, membuat Felix dan Zean tertegun sejenak.
Arumi melangkah mendekati meja kaca, lalu menyentuh papan ketik laptop militer tersebut. Tanpa ragu, jemari lentiknya menari dengan kecepatan luar biasa di atas keyboard. Kode-kode perintah rumit command line meluncur deras di layar hitam.
Felix membelalakkan matanya terkejut melihat deretan pustaka skrip yang diketik oleh Arumi. "Ini... teknik reverse IP bypass milik..."
Hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, Arumi berhasil membongkar umpan palsu Kazan dan menampilkan lokasi server asli yang tersembunyi di sebuah kapal kargo di perairan internasional.
Arumi menarik tangannya kembali, lalu merapikan lengan gaunnya seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menoleh menatap Zean yang sedang memperhatikannya dengan tatapan intens, takjub, dan makin terobsesi.
"Gunakan koordinat itu untuk membungkamnya, Raja Zean," ucap Arumi datar. "Saya hanya memanfaatkan celah keamanan sederhana yang pernah saya pelajari."
Sudut bibir Zean terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat menawan dan berbahaya. Ia melangkah mendekati Arumi, lalu menunduk berbisik tepat di telinga wanita itu.
"Setiap detik bersamamu... kamu selalu memberikan kejutan yang luar biasa, Wanitaku," bisik Zean penuh damba. "Pebiola anggun, putri kiyai yang suci, dan ternyata... seorang jenius siber yang sanggup meruntuhkan pertahanan dunia bawah."
Sebelum Arumi sempat membalas, pintu darurat di ujung koridor penthouse mendadak terbuka kasar.
Brak!
"Arumi!"
Adrian muncul dengan napas terengah-engah, pakaian tuxedo-nya sedikit berantakan. Ia berhasil lolos dari pengawalan bawah karena memanjat tangga darurat demi mengejar Arumi. Namun, langkah Adrian terhenti seketika saat melihat tiga moncong senjata berperedam suara milik tim Baret Hitam mengarah tepat ke kepalanya.
"Jangan bergerak!" gertak Felix tegas.
Adrian menelan ludah kasar, wajahnya pucat pasi, namun matanya tetap menatap Arumi dengan tatapan penuh keputusasaan dan cemburu gila.
"Arumi... ikut aku pulang!" teriak Adrian dengan suara bergetar. "Pria ini berbahaya! Dia membawa teror dan musuh ke dalam kehidupanmu! Dia hanya menggunakan kekuasaannya untuk mengurungmu!"
Arumi menoleh pelan, menatap mantan kekasihnya yang kini tampak begitu menyedihkan. Tidak ada lagi rasa cinta atau sakit hati di mata Arumi, hanya kekosongan yang dingin.
"Adrian," panggil Arumi tenang. "Kamu tidak punya hak lagi untuk mencampuri hidup saya. Keputusan kamu membatalkan ikatan kita dan memilih Aurelia sudah mengakhiri segalanya."
"Tapi aku menyesal, Arumi! Aku gila memikirkanmu setiap hari!" raung Adrian penuh penyesalan. "Aku sadar aku hanya mencintaimu! Pria ini tidak tulus, dia hanya terobsesi pada kecantikanmu!"
Zean membalikkan badannya perlahan. Langkah tegap Sang Raja membawa tubuh jangkungnya maju dua langkah, berdiri tepat di depan moncong senjata pengawalnya.
Aura intimidasi yang dipancarkan Zean membuat suhu di koridor penthouse mendadak membeku. Zean menatap Adrian bagaikan menatap seekor kecoak yang mengganggu pemandangannya.
"Kamu salah, Pria Lemah," suara Zean mengalun dingin dan tajam bak sembilu. "Aku tidak hanya terobsesi pada jiwanya, tapi seluruh hidupnya adalah milikku. Dan perbedaan terbesarku darimu..."
Zean maju satu langkah lagi, menunduk menatap Adrian yang gemetar ketakutan.
"...aku tidak akan pernah membiarkan wanitaku terluka atau membiarkan pria lain menyentuhnya, bahkan walau harus menumpahkan darah seluruh dunia."
Zean melirik Felix tanpa rasa ampun. "Lemparkan orang ini keluar dari hotelku. Jika dia berani menampakkan wajahnya lagi di depan Arumi... patahkan kedua kakinya."
"Baik, Yang Mulia!"
Dua pengawal berbadan tegap langsung menyeret Adrian yang berteriak-teriak histeris menahan malu dan cemburu.
Zean kembali berbalik menatap Arumi. Tatapan matanya yang tadinya sedingin es mendadak meleleh total, berganti menjadi tatapan hangat dan posesif. Zean meraih jemari Arumi yang terbalut sarung tangan, lalu mengecup punggung tangan itu dengan penuh penghormatan di bawah pendar lampu penthouse.
"Malam ini, biarkan aku menjagamu di sini, Arumi," ucap Zean lembut. "Kazan Vance akan menjadi debu sebelum fajar menyingsing."
kaburrrr...takut ad gempa lokal...
bikin pinisirin /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/