NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1.Wushhh

"Dasar cowok enggak punya otak! Udah punya istri sah serapi ini, malah ngelirik si Lea yang mukanya mirip cetakan kue pancong kurang mateng!"

Naya membanting ponselnya ke atas kasur dengan napas terengah-engah. Matanya yang sembab menatap nanar layar ponsel yang kini menampilkan bab terakhir dari web-novel drama picisan ber-genre rumah tangga tragis yang baru saja tamat ia baca. Sebagai seorang anak tunggal kaya raya di dunia nyata yang hidupnya selalu dimanja, dilayani, dan selalu mendapatkan apa pun yang ia mau, membaca karakter protagonis wanita yang punya nama sama dengannya—Naya—bikin emosinya mendidih sampai ke ubun-ubun.

Dalam novel itu, Naya Fiksi adalah cewek miskin, penakut, penurut, dan kelewat lugu yang mau-mauan saja dijodohkan dengan Damar Diksara, pengusaha muda sukses yang wataknya sedingin es batu di dalam kulkas mati. Pernikahan itu murni terjadi karena utang budi keluarga Diksara kepada almarhum ayah Naya. Naya Fiksi diperlakukan seperti barang pajangan berdebu: diabaikan Damar, ditindas oleh mertuanya yang judes yaitu Mamah Ratna, dan dibikin makan hati oleh kehadiran Lea. Bahkan mereka menandatangani kontrak nikah 6 bulan yang mewajibkan Naya pergi setelahnya. Yang bikin Naya makin geram, Naya Fiksi dalam novel itu cuma bisa menangis di pojokan kamar meratapi nasib tanpa berani melawan sedikit pun.

"Gila! Kalau gue yang jadi Naya di novel itu, udah gue siram pakai air raksa muka si Damar sama maknya!" cerocos Naya sendirian. "Istri lemah lembut kok disia-siakan. Awas aja kalau ketemu cowok tipe begitu di dunia nyata, gue tendang sampai ke planet Pluto!"

Naya kemudian bangkit dari tempat tidur, meraih kunci mobil sport kesayangannya, lalu berniat keluar mencari makan malam. Namun, siapa yang sangka kalau sumpah serapah itu justru jadi tiket menuju kesialan terbesarnya?

Saat sedang mengendarai mobil di bawah guyuran hujan deras, sebuah truk kontainer yang mengalami rem blong mendadak hilang kendali. Suara klakson nyaring berbunyi panjang, disusul sorot lampu silau yang menghantam pandangan Naya.

BOM!

Benturan keras itu tak terelakkan. Tubuh Naya terpental hebat di dalam mobilnya sebelum akhirnya kesadarannya perlahan terkikis habis dan segalanya berubah menjadi gelap gulita.

"Naya! Kamu dengar Mama enggak, sih?! Jangan pura-pura pingsan ya kamu! Dasar cewek enggak tahu diri!"

Suara teriakan bernada tinggi yang melengking tajam menusuk gendang telinga Naya. Bersamaan dengan itu, aroma minyak kayu putih yang menyengat langsung memenuhi indra penciumannya. Rasa pusing yang luar biasa hebat membuat kepalanya serasa dihantam palu godam.

Naya mengerjapkan matanya perlahan. Pandangannya yang semula kabur perlahan-lahan mulai memfokus. Hal pertama yang ia lihat bukanlah langit-langit kamar rumah sakit, melainkan sebuah lampu gantung kristal raksasa yang sangat megah.

"Naya! Ditanya malah melamun! Sudah dua bulan kamu nikah sama Damar, tapi kelakuan kamu masih aja kayak pembantu! Menangis melulu, ngurung diri di kamar, bikin malu keluarga Diksara saja!"

Naya menolehkan kepalanya ke samping. Di sana, berdiri seorang wanita paruh baya bertubuh tegap dengan balutan pakaian mewah yang sangat elegan. Wajah wanita itu dipenuhi guratan kekesalan, matanya melotot tajam, dan tangannya bersedekap di dada. Di samping wanita itu, berdiri seorang pria tinggi tegap mengenakan setelan jas hitam. Wajah pria itu luar biasa tampan dengan rahang tegas dan mata tajam, namun ekspresinya sedingin es yang baru keluar dari freezer.

Naya mengerutkan dahi. Pikiran cerdasnya mendadak berputar cepat. Wait... style ibu-ibu kaya tapi galak ini? Garis wajah judes ini? Dan... bentukan cowok dingin yang mukanya kayak belum diberi jatah makan tiga hari ini?

"Mamah Ratna...?" gumam Naya tanpa sadar.

Wanita paruh baya itu makin membelalakkan matanya. "Apa kamu panggil Mama?! Berani-beraninya kamu sebut nama Mama! Ingat ya, Naya, dua bulan ini kamu cuma bertahan karena utang budi almarhum Papa pada orang tuamu! Jangan pernah mimpi kamu bisa diakui jadi menantu di rumah ini!"

Naya tertegun. Ia memegang dadanya sendiri. Pakaian yang membalut tubuhnya terlihat sangat sederhana dan kusam. Ia lalu melirik ke arah cermin besar yang ada di samping tempat tidur.

Refleksi wanita di dalam cermin itu memiliki wajah yang sama persis dengannya, namun tubuhnya terlihat jauh lebih kurus, pucat, dan matanya sembab seperti orang yang kehabisan harapan hidup karena dua bulan menangis terus-menerus.

Bentar, bentar... Ini gue mati terus masuk ke dalam novel yang baru gue baca tadi?! batin Naya histeris. Gue masuk ke tubuh Naya Fiksi yang udah dua bulan ditindas sama keluarga ini?!

"Damar! Kasih tahu istri kampungan kamu ini! Jangan sampai dia bikin malu lagi kalau besok Lea datang berkunjung!" bentak Mamah Ratna seraya menatap anaknya.

Pria bernama Damar itu melangkah mendekati tempat tidur. Langkah kakinya yang mantap menggemakan aura intimidasi yang sangat kuat di dalam ruangan tersebut.

"Naya," suara Damar terdengar berat, dalam, dan tanpa nada hangat sedikit pun. "Saya sudah katakan berulang kali selama dua bulan ini. Jangan pernah berharap lebih dari pernikahan ini. Kontrak nikah kita cuma enam bulan, dan empat bulan lagi kamu harus pergi dari rumah ini dengan membawa uang kompensasi lima ratus juta. Jadi tolong, stop berakting kasihan dan berhenti menangis di depan Mama."

Berdasarkan memori novel yang Naya baca, di momen ini Naya Fiksi biasanya bakal berlutut, menangis sejadi-jadinya, dan memohon agar Damar mencintainya. Tapi Naya yang sekarang duduk di atas kasur ini bukanlah Naya Fiksi yang rapuh! Naya yang sekarang adalah Naya si anak tunggal kaya raya dari dunia nyata yang pantang ditindas dan punya jiwa savage sejak lahir!

Tunggu... empat bulan lagi dapat uang kompensasi? Plus bebas foya-foya pakai fasilitas rumah ini? batin Naya. Mata Naya yang tadinya sayu mendadak berbinar terang.

Damar mengerutkan alisnya. Pria itu menyadari ada yang aneh. Biasanya, jika ia bicara sedingin ini, Naya akan langsung menunduk takut dan meneteskan air mata. Tapi wanita di depannya ini justru... tersenyum?

Naya menyilangkan kakinya di atas tempat tidur, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan gaya elegan bak seorang ratu. Ia menatap Damar dan Mamah Ratna bergantian dengan tatapan santai yang sangat menantang.

"Tunggu dulu, Mas Damar yang terhormat," ucap Naya dengan suara lantang dan nada bicara yang mendadak berubah santai, tidak ada lagi nada gemetar atau tangisan.

"Apa maksud kamu?" tanya Damar tegas, mengernyit heran.

"Gue—eh, maksud saya, harga lima ratus juta buat kompensasi waktu enam bulan hidup sama cowok kulkas kayak Mas ini... kok kayaknya murah banget, ya?" kata Naya santai.

Deg!

Mamah Ratna tersedak ludahnya sendiri. "Apa kamu bilang?! Murah?! Dua bulan ini kamu hidup numpang di sini, makan gratis, dan sekarang kamu bilang lima ratus juta itu murah?!"

Naya menatap Mamah Ratna dengan senyuman manis yang justru terlihat sangat mengejek. "Aduh, Tante Ratna—eh, Mamah Dengki, maaf ya. Dua bulan kemarin saya emang rada galau, tapi sekarang otak saya udah jernih. Mas Damar ini kan pengusaha kaya raya nomor satu di kota ini, masa harga dirinya cuma dihargai lima ratus juta? Kalau berita kontrak nikah ini bocor ke media, yang malu bukan saya, tapi saham Diksara Group, kan?"

Damar terpaku di tempatnya. Matanya membelalak kecil menatap wanita di depannya. Ini bukan Naya yang ia lihat selama dua bulan terakhir. Naya yang ia tahu adalah gadis pemalu yang selalu menunduk, takut bersuara, dan gampang menangis. Kenapa sekarang cewek ini malah bicara bernada lugas, matanya menatap lurus penuh keberanian, dan bahasanya terkesan sangat tengil?

"Jadi kamu mau berapa?" tanya Damar, berusaha mempertahankan raut wajah datarnya meski hatinya mulai heran setengah mati.

Naya tersenyum lebar. Ia mengacungkan dua jarinya. "Dua miliar. Cash. Plus, selama empat bulan sisa masa kontrak ini, semua kartu kredit tanpa batas atas nama Mas Damar harus diserahkan ke saya buat biaya skincare, belanja, dan perawatan tubuh. Anggap aja itu biaya operasional karena saya udah tahan hidup seatap sama kulkas dua pintu kayak Mas."

"Kamu udah gila ya, Naya?!" teriak Mamah Ratna emosi. "Damar, jangan mau ditipu sama cewek ini! Usir dia sekarang!"

"Tenang dong, Mah," potong Naya santai sambil mengibaskan tangannya di udara. "Kalau Mas Damar enggak mau, ya udah, saya tinggal panggil wartawan besok pagi. Gimana? Mau coba?"

Damar menatap Naya dalam-dalam. Ada kilatan aneh di matanya. Rasa heran, jengkel, dan bingung bercampur menjadi satu. Cewek yang dua bulan ini selalu menangis di pojokan kamar, baru saja mengancamnya dengan wajah tanpa dosa.

"Oke. Dua miliar," jawab Damar singkat.

"Damar!" seru Mamah Ratna kaget.

"Tapi ingat syaratnya, jangan pernah mencoba menarik perhatian saya," tegas Damar menatap Naya tajam.

Naya tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat lepas dan tanpa beban. "Ditarik perhatiannya? Hahaha! Inget ya, Mas. Muka Mas emang ganteng, tapi kelakuan kayak es batu begini sama sekali bukan tipe saya. Saya cuma butuh uang kompensasi buat jadi janda kaya! Empat bulan lagi kita cerai, beres kan?"

Damar membeku. Katanya bukan tipenya? Selama ini, wanita mana pun—termasuk Naya selama dua bulan lalu—selalu berusaha mencari perhatiannya. Tapi cewek di depannya ini baru saja secara terang-terangan menyebutnya "es batu" dan menyatakan bahwa uangnya jauh lebih menarik daripada dirinya sendiri.

"Sekarang," Naya meregangkan otot-otot lehernya lalu menepuk-nepuk kasur empuk di bawahnya, "karena dua bulan kemarin tubuh ini kusam banget kurang perawatan, saya mau istirahat. Mas sama Tante Ratna boleh keluar dari kamar saya. Dilarang ganggu!"

"Ini kamar Damar!" bentak Mamah Ratna makin histeris melihat kesopanan Naya yang melayang entah ke mana.

"Mulai hari ini, ini kamar saya. Mas Damar silakan tidur di kamar tamu atau tidur di kantor sekalian, terserah," jawab Naya santai lalu menarik selimut tebal sampai ke batas dada, memunggungi kedua orang yang masih berdiri menegang di dekat pintu. "Jangan lupa tutup pintunya ya, Mas. Ada angin malam. Good night!"

Damar berdiri mematung di tengah ruangan. Ia menatap punggung Naya yang sudah tertutup selimut dengan perasaan yang sangat campur aduk. Ada rasa marah karena gengsinya terinjak-injak, tapi di sisi lain, ada rasa penasaran hebat yang mendadak menyeruak di dalam dadanya.

Apa-apaan cewek ini? Kenapa dia bisa berubah seratus delapan puluh derajat dalam semalam? batin Damar bingung setengah mati.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Damar menarik tangan ibunya keluar dari kamar, lalu menutup pintu dengan ketukan pelan. Di balik selimut tebal, Naya tersenyum sangat lebar sambil mengepalkan tangannya ke udara.

Selamat datang di kehidupan baru, Naya! soraknya dalam hati. Sisa empat bulan doang kan? Cuma perlu cuek bebek, belanja-belanja pakai duit si Damar, lalu cus... janda kaya raya menanti! Wusss!

_Bersambung

1
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
Fadillah Langsa
ngakak terus
Ijal Messi
makanya tante diam aha🤣🤭🤣
Ijal Messi
pliss seru banget
li za
lucuuu🤭
li za
🤣🤣🤣
li za
seruuu yahh
Tugu Opak
seruuu
Lenovo A
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!