Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.
Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.
Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.
Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Kereta berhenti cukup jauh dari kediaman Wen agar tidak menimbulkan kecurigaan. Tanpa menunggu lama, Pangeran Ketiga mengulurkan tangannya. "Pegang tanganku."
Sebelum Feng Wu sempat menjawab, ia meraih pinggang gadis itu dengan lembut namun kuat. Dengan satu lompatan, keduanya melayang tinggi di udara, menembus kegelapan malam bagaikan bayangan bulan. Angin malam menyapu wajah mereka, rambut Feng Wu berkibar tertiup angin. Dalam sekejap mata, mereka sudah mendarat dengan tenang, tepat di halaman depan paviliun Feng Wu, tanpa melewati gerbang utama, tanpa ada pelayan yang melihat, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Feng Wu melepaskan diri dari pelukan Pangeran Ketiga dengan napas sedikit memburu, wajahnya memerah karena kaget sekaligus canggung. Ia belum pernah terbang secepat itu sebelumnya, rasanya luar biasa, namun juga terlalu dekat dengan pria itu.
"Kau sudah sampai," ucap Pangeran Ketiga pelan, suaranya terdengar lembut di telinganya. "Masuklah. Istirahatlah dengan tenang. Tidak ada yang melihat."
Feng Wu hanya mengangguk singkat, tak berani menatap matanya lebih lama. "Terima kasih... Yang Mulia. Silakan kembali."
Tanpa menunggu jawaban, ia segera berbalik dan masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu rapat. Pangeran Ketiga tetap berdiri di sana sejenak, menatap pintu kayu itu dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan, sebelum akhirnya melayang kembali menghilang ke dalam kegelapan malam.
Begitu pintu tertutup, Feng Wu tak lagi sanggup menahan berat tubuhnya. Ia berjalan terhuyung-huyung menuju tempat tidur, lalu langsung merebahkan dirinya ke atas ranjang, tanpa sempat mengganti pakaian maupun membersihkan wajahnya. Tubuhnya terasa sangat berat karena seharian beraktivitas, memeriksa Kaisar dan Ibu Suri, lalu memasak di tengah malam, dan terbang melintasi langit bersama Pangeran Ketiga. Semua itu membuat tenaganya habis terkuras.
"Besok... harus bangun pagi-pagi sekali..." gumamnya pelan di antara kesadarannya yang mulai memudar. "Harus ke istana... memeriksa Ibu Suri..."
Pikiran itu pun perlahan hilang, digantikan oleh tidur yang dalam dan panjang.
Di dalam kesadarannya yang masih tersisa, ada satu harapan tulus yang ia panjatkan sebelum benar-benar terlelap, semoga besok pagi ia tidak berpapasan dengan Pangeran Ketiga.
Baginya, pria itu sungguh merepotkan. Selalu muncul di waktu yang tak tepat, bertindak seenaknya tanpa aturan, dan membuat hatinya selalu gelisah bukan karena suka, melainkan karena kesal dan takut terlibat. Ia sudah cukup sibuk dengan tugasnya sebagai Tabib Khusus Istana, merawat Ibu Suri, menyusun rencana untuk kediaman Feng, dan menjaga kedamaian keluarganya. Ia tidak punya waktu, tidak punya hati, dan tidak ingin terlibat dengan seorang Pangeran apalagi Pangeran Ketiga yang penuh misteri dan bahaya itu.
"Aku berharap tidak ingin bertemu dengannya lagi"
Dengan harapan itu, Feng Wu akhirnya terlelap sepenuhnya, tak menyadari bahwa takdir justru telah merajut benang-benang pertemuan mereka jauh lebih erat dari yang ia bayangkan.
Matahari baru saja mengintip dari balik awan, Qing Su mendorong pintu kamar Feng Wu perlahan. "Nona, bangunlah. Kita harus segera berangkat ke istana."
Feng Wu terbangun dengan mata yang masih terasa berat. Ia duduk di tepi tempat tidur, baru menyadari sesuatu, ia masih mengenakan hanfu kemarin, belum diganti, bahkan ia tertidur dengan pakaian lengkap. Wajahnya langsung memerah. Bayangan kejadian semalam dibawa pergi oleh Pangeran Ketiga, memasak di kediamannya, lalu diterbangkan pulang tepat ke depan paviliunnya kembali terbayang.
Qing Su berdiri mematung di ambang pintu, matanya membelalak melihat pakaian tuannya yang kusut di bagian ujung, rambutnya yang belum terurai rapi. Ia sangat ingin bertanya ke mana Nona pergi semalam? Mengapa tidur tanpa berganti pakaian? namun ia tahu batasannya. Qing Su hanya menunduk, menahan rasa penasaran yang memuncak. "Nona... aku akan menyiapkan air mandi dan pakaian baru. Kita tidak boleh terlambat."
Feng Wu mengangguk cepat, buru-buru bangkit. "Terima kasih, Qing Su. Cepatlah, kita harus bergegas."
Setelah bersih dan rapi, Feng Wu berangkat menuju Paviliun Abadi kediaman Ibu Suri. Sesampainya di sana, sebelum sempat melangkah masuk, seseorang menyambutnya dengan suara yang penuh kegembiraan.
"Nona Feng Wu! Kau akhirnya datang!"
Feng Wu menoleh. Di bawah pohon persik yang sedang berbunga, berdiri Pangeran Ketujuh. Ia tampak sudah menunggu cukup lama, matanya bersinar penuh harap, wajahnya berseri-seri melihat kedatangan gadis itu.
"Yang Mulia Pangeran ketujuh?" Feng Wu sedikit terkejut. "Mengapa Yang Mulia ada di sini pagi-pagi sekali?"
"Aku menunggumu," jawab Pangeran Ketujuh begitu saja, seakan itu hal yang lumrah. "Aku tahu kau pasti datang hari ini untuk memeriksa Ibu Suri. Biarkan aku menemanimu masuk."
Sepanjang lorong menuju kamar Ibu Suri, Pangeran Ketujuh terus berjalan di samping Feng Wu. Ia tak berhenti berbicara memuji penampilan Feng Wu, bertanya tentang kesehatannya, bahkan bercerita tentang hal-hal sepele di istana yang sama sekali tidak Feng Wu tanyakan.
Feng Wu tersenyum, namun itu bukan senyum tulus. Ia harus bersikap ramah, sopan, dan tidak menyinggung perasaan seorang Pangeran. Ia terus mengangguk, menjawab sebisanya, dan berpura-pura mendengarkan dengan antusias. Padahal di dalam hatinya, ia merasa sangat risih. Setiap kali Pangeran Ketujuh berjalan terlalu dekat, bahunya hampir menyentuh bahunya, Feng Wu diam-diam menggeser tubuhnya menjauh sedikit demi sedikit.
"Kenapa dia harus terus bersamaku? tidak ingin bertemu ketiga eh malah yang ketujuh, benar-benar tidak bisa terhindar lagi" batinnya mengeluh.
Namun ia tak bisa berkata kasar. Ia tak bisa mengusirnya. Ia hanya bisa menahan rasa tidak nyaman itu dan terus tersenyum meski senyum itu perlahan terasa kaku di wajahnya
Dikejauhan, Pangeran Ketiga berdiri diam. Matanya yang tajam melihat semuanya melihat adiknya yang berjalan terlalu dekat, melihat mulutnya yang terus berbicara tanpa henti, dan melihat senyum Feng Wu yang jelas-jelas dipaksakan. Ia tahu betul perbedaan senyum asli dan senyum pura-pura dan senyum itu bukan untuk adiknya.
Tangannya perlahan mengepal di balik jubah, urat di pergelangan tangannya menonjol. Ia ingin turun, ingin menarik Feng Wu menjauh, ingin mengatakan pada adiknya untuk berhenti mengganggu namun ia menahan diri. Ia tidak berhak. Feng Wu bukan miliknya. Dan itu yang paling menyakitkan.
Pangeran Ketiga tetap berdiri di sana, menatap hingga kedua sosok itu hilang di balik pintu kamar Ibu Suri. Hatinya terasa berat karena ia tahu, Feng Wu tidak bahagia, dan ia tidak bisa melakukan apa-apa untuknya.