Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Punya Pacar, Berhenti Gila
"Mas Bagus bilang apa?" tanyaku sebelum hitung mundur mencapai nol.
Bara memasukkan kedua tangan ke saku jaket. "Dia nggak mau nikah sama kamu."
"Apa?"
Sorak tahun baru meledak dari rumah-rumah sekitar. Cahaya kembang api memantul di wajah Bara ketika ia melanjutkan dengan tenang.
"Dia malah memutuskan nggak mau nikah seumur hidup. Katanya setelah aku tinggal tiga hari di rumahnya, dia sadar pernikahan harus dipikirkan lebih serius."
"Kamu menerornya."
"Aku cuma bertanya."
"Dari depan kamar mandi!"
"Akustiknya bagus."
Aku mengeluarkan ponsel untuk menelepon Mas Bagus, tetapi Bara menahan pergelangan tanganku tanpa merampasnya.
"Besok saja. Malam ini dia pergi ke tempat yang alamatnya nggak dikasih ke aku."
"Karena dia waras."
"Sekarang kamu nggak bisa nikah sama dia." Bara melangkah mendekat. "Tapi kita bisa."
Dadaku menegang. "Jangan membuat keputusan karena semalam."
"Aku membuat keputusan ini sepuluh tahun."
"Kamu Bara Mahendra. Jutaan orang menyukaimu. Aku cuma orang biasa yang bakal tenggelam di antara mereka."
"Aku selalu menemukan kamu di tengah keramaian."
"Sekarang iya. Nanti? Cepat atau lambat kamu bakal bosan. Kamu akan bertemu lawan main yang lebih cantik, lebih muda, dan hidupnya nggak penuh jadwal serta tagihan."
Bara mengerutkan kening. "Kamu menolak aku pakai dosa yang belum pernah kejadian."
"Aku cuma realistis."
"Realistis atau takut?"
Kembang api berikutnya mekar di langit. Aku tidak menjawab, dan itu sudah cukup menjadi pengakuan.
Bara mengangkat tangan ke pipiku. "Aku boleh cium?"
Aku seharusnya mundur. Sebaliknya, aku menutup jarak terakhir.
Ciumannya hangat di tengah udara Bandung yang dingin. Tidak terburu-buru, tidak seperti malam ketika kami sama-sama takut kehilangan. Jemariku mencengkeram jaketnya.
"Astaga!"
Suara Ibu membuat kami terpisah.
Bu Yatmi berdiri di tangga depan dengan baki berisi piring kotor. Mulutnya terbuka, mata berpindah dari wajahku ke Bara.
"Ibu bisa jelaskan," kataku, lalu sadar kalimat itu salah total.
"Kamu yang harus jelaskan! Bara, naik. Kalian berdua, sekarang."
Di ruang makan, aku dan Bara duduk seperti tersangka. Ibu berdiri di depan kami dengan tangan di pinggang.
"Kalian sejak kapan? Kenapa sembunyi? Bukannya Jingga mau menikah sama produser itu?"
Sebelum aku menyusun jawaban, Bara menggenggam tanganku di atas meja.
"Tante, aku sama Ingga sudah jadian."
Aku menoleh tajam. "Baru kapan?"
"Tadi. Dia balas ciuman aku."
"Itu bukan formulir pendaftaran pacar."
Bara mengeluarkan amplop rapi dari dalam jaket dan menyerahkannya kepada Ibu. "Ini buat Tante. Aku datang nggak boleh tangan kosong."
Ibu tidak langsung mengambil amplop. "Kamu menyiapkan ini sebelum Jingga setuju?"
"Aku optimis."
"Nggak tahu malu," gumamku.
Ibu akhirnya tertawa. Sejak ibunya meninggal, Bara memang hampir setiap Lebaran datang ke rumah kami. Ibu mengenal kebiasaan makannya, tahu alerginya, dan selalu menyimpan lauk lebih banyak jika ia ikut pulang.
"Makan dulu," kata Ibu. "Setelah itu baru Ibu putuskan mau marah ke siapa."
Makan malam Tahun Baru berubah menjadi perayaan kecil. Bara menambah nasi tiga kali. Ibu menanyakan keseriusannya, pekerjaannya, dan bagaimana kami akan menghadapi perhatian publik. Ia menjawab tanpa bermain-main.
"Aku nggak minta Jingga kembali jadi manajer kalau dia mau istirahat," katanya. "Aku cuma ingin dia berhenti menganggap dirinya bisa diganti."
Tanganku berhenti di atas sendok.
Ibu menatapku. "Kamu dengar?"
Aku mengangguk.
Setelah makan, Bara mengikutiku ke balkon. Kabut tipis menempel di kaca dan suara kembang api tinggal sesekali.
"Kali ini kamu nggak boleh mundur," katanya. "Tante sudah tahu."
"Kamu benar-benar nggak tahu malu."
"Malu sih iya, tapi mau istri."
Aku menahan senyum. "Kita pacaran dulu. Jangan lompat ke pernikahan."
"Baik. Tapi pacarnya diumumkan."
Sebelum aku melarang, ia mengambil selfie tangan kami yang saling menggenggam. Wajah tidak terlihat, hanya dua tangan dan lampu kota Bandung.
Ia mengunggahnya ke Instagram dengan tulisan: Sekarang sudah punya pacar. Berhenti gila.
Dalam kurang dari satu menit, notifikasi meledak. Tagar baru muncul, tetapi kali ini Bara mematikan ponsel dan memasukkannya ke saku.
Ponselku sendiri berdering. Mas Bagus mengirim satu pesan: Selamat. Kesepakatan kita resmi batal. Tolong suruh pacarmu jangan pernah datang membawa koper lagi.
Aku meneleponnya agar tidak ada urusan yang menggantung. Mas Bagus memastikan tidak ada keluarga yang sudah diberi kabar dan tidak ada dokumen yang telanjur diproses. Kesepakatan kami berakhir semudah saat dibuat.
"Maaf sudah menyeret Mas ke masalah ini."
"Justru gue berterima kasih," katanya. "Tiga hari sama Bara membuat gue sadar hidup sendiri itu indah. Kalau suatu saat gue berubah pikiran, gue akan cari orang yang bikin gue nekat, bukan orang yang cuma cocok di tablet."
Bara mendekatkan telinga ke ponsel. "Mas Bagus, terima kasih sudah mundur."
"Gue bukan mundur. Gue menyelamatkan rumah gue."
Sambungan ditutup, dan untuk pertama kalinya nama Mas Bagus tidak lagi terasa seperti pintu keluar darurat. Ia kembali menjadi produser lama yang pernah memberi Bara kesempatan, bukan calon suami yang kupakai untuk bersembunyi.
"Nggak mau lihat reaksi?"
"Aku sudah dapat reaksi yang aku tunggu."
Ia menatapku, dan untuk pertama kali aku membiarkan diri percaya bahwa di tengah jutaan orang, matanya memang hanya mencari satu wajah.
***
Bara
Aku mengenali Jingga sejak hari pertama sebagai orang yang akan sulit kulepaskan.
Ia datang ke Nusa Studio City dengan sepatu murah, map terlalu besar, dan keberanian menawarkan kontrak kepada pemeran mayat. Aku menolak bukan karena tidak tertarik. Aku ingin tahu berapa lama ia akan kembali.
Tiga puluh hari.
Setiap hari ada nasi kotak dan ayam tambahan. Aku baru kehilangan Ibu dan tidak percaya kebaikan yang datang terlalu mudah. Jingga tetap duduk di sampingku, membicarakan hukum sepuluh ribu jam, Reza Rahadian, bahkan DiCaprio, seolah wajahku benar-benar punya masa depan.
"Kalau kamu latihan sepuluh ribu jam, kamu pasti hebat," katanya ketika aku gagal audisi kelima.
Aku tahu ia sedang mengarang agar aku tidak putus asa. Aku tetap berlatih karena ingin melihatnya tersenyum saat ramalannya menjadi kenyataan.
Ketika ia datang dengan kepala diperban demi mendapatkan audisi untukku, aku menangis bukan karena perannya. Aku sadar perempuan ini rela terluka agar aku maju satu langkah. Hari itu aku bersumpah akan menjadi cukup besar sehingga tak ada lagi pintu yang perlu ia dobrak dengan tubuhnya sendiri.
Kartu bank dengan PIN 123456 bukan jebakan atau sikap ceroboh. Aku ingin semua hasil kerjaku berada di tangannya. Ia tidak pernah memakai satu rupiah pun. Justru itu membuatku semakin ingin memberikan semuanya.
Ulang tahunnya beberapa tahun lalu menjadi pertama kali bibir kami bertemu. Jingga tertidur di sofa setelah pesta kecil kru. Aku duduk di lantai, memandangi wajahnya, lalu mencium keningnya. Saat ia bergerak dan bibir kami bersentuhan singkat, aku membeku lebih lama daripada adegan ciuman mana pun.
Itu ciuman pertamaku yang nyata. Tidak ada kamera. Tidak ada sutradara. Jingga tidak pernah tahu.
Setelah ia mulai memalingkan wajah setiap kali aku berganti kostum, aku sengaja berlatih lebih keras. Aku berjalan tanpa kaus di kamar, meminta ia memeriksa luka di bahu, dan berdiri di depan cermin riasnya. Semua godaan gagal karena ia ahli berpura-pura melihatku sebagai anak kecil.
Aku pernah mengaku langsung di bawah apartemennya. Ia menolak dan menyebutku adik. Matanya menangis ketika berkata begitu. Karena itu aku tahu ia berbohong, tetapi aku juga tahu memaksanya hanya akan membuatnya lari.
Saat ia mengumumkan akan menikah dengan Bagus, waktu menungguku habis.
Minuman di makan malam terakhir memang kupilih karena ia menyukai rasanya, tetapi aku memberi tahu efeknya dan tidak membiarkannya minum lebih dari setengah gelas. Aku berharap kami bicara jujur. Aku tidak berani berharap ia menciumku lebih dulu.
Begitu ia melakukannya, aku memastikan berkali-kali bahwa ia tahu dan mau. Panah itu memang sudah lepas, tetapi keputusan tetap miliknya.
Dua minggu setelah malam Tahun Baru, aku membawa Jingga ke kantor notaris.
"Kamu mau beli perusahaan?" tanyanya saat melihat draf dokumen.
"Perjanjian pranikah."
Notaris menjelaskan bahwa kami dapat mengatur pemisahan dan pengelolaan harta, kewajiban, serta pengalihan aset dalam batas hukum. Dokumen harus disepakati tanpa paksaan, ditandatangani sebelum pernikahan, lalu dicatat bersama administrasi perkawinan kami di KUA.
Aku meminta klausul yang melindungi Jingga jika aku mengkhianati komitmen kami. Notaris menyusun redaksi yang sah, bukan sekadar ancaman emosional.
"Bara, ini terlalu banyak," kata Jingga setelah membaca daftar aset.
Aku meletakkan kartu bank lama di atas draf. "Dari dulu PIN-nya masih sama. Semua ini selalu aku anggap milik kita."
"Kalau suatu hari kamu berubah?"
Aku berlutut di depan kursinya dan membuka kotak cincin.
"Kalau aku mengkhianati kamu, biar hidupku hancur. Semua harta yang bisa dialihkan jadi milikmu. Kamu tinggal tendang aku dan cari yang baru."
Matanya langsung basah. "Doanya jangan jelek-jelek."
"Kalau begitu jangan kasih aku kesempatan melanggar. Nikah sama aku, Ingga."
Ia menutup mulut, menangis seperti saat bonus lima ratus ribu pertama kami habiskan untuk hotpot. Kali ini aku tidak menyuruhnya berhenti.
Jingga mengulurkan tangan agar cincin itu kupasang.
"Iya," katanya. "Tapi PIN-mu harus diganti."
Aku tertawa dan mencium jemarinya. Sepuluh tahun setelah satu kotak nasi mempertemukan kami, perempuan yang selalu takut mendapat lalu kehilangan akhirnya memilih memiliki.