Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keharuan Di Dalam Kabin Mobil
Viola mendongakkan kepalanya, menatap lampu sel yang berpendar remang-remang sambil mengangkat tangan kanannya membentuk gestur mencengkeram udara.
"Dengar sumpahku, Evita Desniati! Dan camkan baik-baik, Ma Yong Hua! Hari ini kalian boleh merayakan kehancuranku... Tapi begitu aku keluar dari neraka jahanam ini, aku akan kembali! Aku akan mencari cara paling sadis, paling brutal, dan paling mengerikan untuk merobek harga diri kalian berdua! Aku akan pastikan kalian mati dalam penderitaan yang jauh lebih mengerikan daripada ini! Ha-ha-ha-ha... Ha-ha-ha-ha-ha!"
Tawa histeris Viola pecah menggema di sepanjang koridor sel tahanan, menciptakan suasana horor yang membuat para tahanan di sel sebelah memilih menutup telinga mereka rapat-rapat, ngeri melihat kegilaan mutlak yang menguasai jiwa wanita tersebut.
****
Jauh dari tempat kotor dan penuh kebencian itu, suasana yang sangat kontras justru tercipta di dalam kabin mobil sedan mewah bermerek Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam yang melaju dengan sangat mulus di jalan tol kota ibu kota.
Di kursi belakang kendaraan lapis baja berbalut kulit domba asli itu, suasana terasa begitu tenang, hangat, dan dipenuhi oleh kenyamanan tingkat tinggi. Lampu interior berwarna kuning keemasan menyinari lembut kabin mobil, mengusir segala kepenatan malam yang mulai merayap turun.
Evita Desniati duduk bersandar tenang dengan pandangan menerawang ke luar jendela kaca antipeluru, memerhatikan kerlip lampu-lampu gedung pencakar langit ibu kota yang bergeser perlahan. Hari ini adalah hari yang melelahkan sekaligus membebaskan baginya—mulai dari menjalani sidang perceraian pertamanya hingga menyaksikan kejatuhan total Xander Wiryawan di kafe kemarin. Namun di balik kelegaan itu, sisa-sisa kecemasan masa depan masih mengganjal di benaknya, terutama status kariernya sebagai akademisi yang telah dihancurkan secara sepihak oleh rektorat universitas atas intervensi Xander.
Di sampingnya, Ma Yong Hua duduk dengan postur tegap yang elegan. Pria Tionghoa berdarah dingin itu mengenakan setelan jas tailored-fit rapi dengan kancing jas yang dikancingkan sempurna. Setelah sukses besar menjalani operasi transplantasi jantung dan memulihkan seluruh kendali kerajaan bisnis Ma Group, aura dominasi mutlak yang terpancar dari dirinya kini berpadu dengan kelembutan yang luar biasa ketika ia berada di dekat Evita.
Ma Yong Hua melirik sekilas ke arah Evita. Ia menyadari garis-garis kelelahan dan keraguan yang masih membayangi wajah cantik wanita di sampingnya.
"Evita," panggil Ma Yong Hua dengan suara baritonnya yang rendah, tenang, dan sangat memikat.
Evita terperanjat kecil dari lamunannya. Ia menoleh, mendapati sepasang mata sipit sang taipan sedang menatapnya lekat-lekat dengan sorot penuh perhatian dan ketulusan.
"Ya, Tuan Yong Hua?" jawab Evita lembut, merapikan sedikit helai rambutnya yang tertiup angin AC mobil.
****
Ma Yong Hua tersenyum tipis—sebuah senyuman hangat yang jarang sekali ia perlihatkan kepada orang lain di dunia bisnis luar sana. Ia mengubah posisi duduknya sedikit menghadap ke arah Evita, merendahkan nada suaranya agar terdengar semakin intim dan menenangkan.
"Aku melihatmu termenung sejak kita meninggalkan gedung tadi," ucap Ma Yong Hua penuh selidik. "Apa masih ada hal yang mengganjal di dalam pikiranmu? Apakah bayang-bayang masa lalu bersama pria tidak berguna itu masih mengusik ketenangan hatimu?"
Evita menggelengkan kepalanya perlahan, lalu menghela napas berat. Ia menundukkan pandangannya menatap kedua tangannya sendiri yang saling meremas di pangkuan.
"Bukan tentang Xander, Tuan Yong Hua..." jawab Evita jujur dengan suara parau. "Xander dan masa lalu itu sudah mati bagiku. Hanya saja... aku memikirkan masa depanku. Karier akademisku hancur lebur. Surat pemecatan tidak hormat berstempel universitas itu sudah telanjur disebar luas ke seluruh instansi pendidikan tinggi. Tidak akan ada satu pun rektor atau kepala yayasan di negeri ini yang mau menerima kembali seorang dosen yang difitnah melakukan skandal asusila..."
Suara Evita terdengar bergetar menahan kepedihan. Bagi seorang wanita yang mendedikasikan seluruh hidup, kecerdasan, dan kecintaannya pada dunia pendidikan tinggi, kehilangan profesi sebagai dosen adalah luka batin yang sangat sulit disembuhkan.
Ma Yong Hua terdiam sejenak mendengarkan keluh kesah tersebut. Di dalam dadanya, organ jantung baru yang berdetak kuat seolah memompa gelombang emosi perlindungan yang mendalam. Ia mengulurkan tangan kanannya yang kokoh, lalu dengan sangat sopan dan lembut menyentuh punggung tangan Evita yang sedang gemetar.
Kulit hangat Ma Yong Hua menyalurkan aliran ketenangan seketika ke sekujur tubuh Evita, membuat wanita itu terperanjat kecil dan mendongakkan kepalanya.
"Evita," ucap Ma Yong Hua dengan nada suara yang sangat mantap dan penuh otoritas mutlak. "Dengarkan aku baik-baik."
Evita menatap lurus ke dalam bola mata sipit sang taipan, terhipnotis oleh sorot ketulusan yang luar biasa kuat di sana.
"Jangan pernah merasa bahwa masa depanmu tertutup hanya karena sekelompok orang bodoh merusak namamu di kampus bobrok itu," lanjut Ma Yong Hua dengan tegas. "Kredibilitas, kecerdasan, dan integritasmu sebagai seorang pendidik tidak akan pernah bisa dihapus oleh secarik surat pemecatan palsu yang dibuat atas dasar tekanan politik."
****
Evita menelan ludahnya susah payah. "Tapi... bagaimana caranya aku bisa mengajar lagi, Tuan? Kampus-kampus lain pasti menutup pintu..."
Ma Yong Hua tersenyum penuh keyakinan. Ia menggenggam jemari Evita sedikit lebih erat, menyalurkan seluruh kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya ke dalam genggaman tersebut.
"Biarkan aku yang membereskannya, Evita," ucap Ma Yong Hua tanpa ragu sedikit pun. "Mulai esok hari, tim hukum dan divisi pengembangan SDM Ma Group akan mengambil alih seluruh urusan administrasi akademikmu. Aku akan membantumu kembali mendapatkan pekerjaanmu sebagai dosen—bukan di universitas lama yang penuh dengan birokrasi korup itu, melainkan sebagai Guru Besar kehormatan dan Kepala Departemen Ekonomi di Universitas Internasional Megapolitan yang berada langsung di bawah yayasan sponsor utama korporasiku."
****
Mendengar penawaran luar biasa besar tersebut, Evita membelalakkan matanya lebar-lebar. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia tidak pernah menyangka bahwa pria paling berpengaruh di negeri ini akan menggunakan seluruh kekuatannya hanya untuk memulihkan karier seorang wanita biasa sepertinya.
"Tuan Yong Hua... i-ini terlalu berlebihan," ucap Evita terbata-bata, merasa tidak enak hati. "Aku tidak ingin merepotkanmu sejauh ini..."
"Kamu tidak pernah merepotkan, Evita," potong Ma Yong Hua lembut namun tegas. "Apa yang kulakukan bukan sebuah bentuk bantuan kosong, melainkan bentuk pengakuan atas kapasitas luar biasa yang memang pantas kamu miliki. Kamu adalah wanita cerdas yang hebat. Dan sudah kewajibanku untuk memastikan tempatmu berada di puncak kejayaan, bukan diinjak-injak di dalam lumpur."
Kata-kata tulus, penuh kepastian, dan dibarengi dengan tatapan penuh cinta yang tersirat dari seorang Ma Yong Hua berhasil merontokkan seluruh benteng pertahanan di dalam hati Evita. Pertahanan emosional yang telah ia bangun rapat-rapat selama bertahun-tahun runtuh seketika.
Air mata kelegaan dan kebahagiaan yang tulus tumpah perlahan dari sudut mata Evita—bukan air mata kesedihan, melainkan tetesan air mata seorang wanita yang akhirnya menemukan dermaga perlindungan yang paling aman setelah lama terombang-ambing di tengah badai kehidupan.
"Terima kasih... Terima kasih banyak, Tuan Yong Hua..." bisik Evita bergetar hebat, suaranya nyaris tenggelam di antara isak tangis kelegaan yang menyesakkan dadanya.
Ma Yong Hua melepaskan genggaman tangannya sebentar, lalu dengan gerakan yang sangat lembut, ia mengangkat tangan kanannya untuk menyeka air mata yang membasahi pipi Evita menggunakan ujung jarinya. Sentuhan itu begitu hangat, penuh kelembutan yang membuat detak jantung Evita berdegup kencang secara luar biasa di luar kendali.
"Jangan menangis lagi, Evita," bisik Ma Yong Hua tepat di dekat telinganya dengan suara bariton yang sangat membuai. "Mulai malam ini, air matamu adalah hal paling haram di dunia ini. Izinkan aku menjagamu, melindungimu, dan membangun kembali lembaran hidup baru yang jauh lebih indah bersamamu."