Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.
Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Di ujung telepon, keheningan yang mencekat itu akhirnya terpecah oleh suara Rian yang mendadak terdengar tegang dan penuh kecemasan yang mencoba ditutupi.
"Eeee... Nad? Kamu... kamu kenapa ada di sana?" cecar Rian dengan rentetan pertanyaan, suaranya sedikit meninggi. "Sama siapa kamu ke mal itu? Bukannya kamu bilang tadi mau kerja di galeri?"
"Siapa bilang aku aku di Mal. Aku bilang, aku ada di kafe yang ada di depan mal. "
"I... iya, maksudku itu. " kata Rian terdengar gugup.
Nadia tersenyum lalu menyesap teh dinginnya perlahan, membiarkan es batu mencair di lidahnya sebelum menjawab dengan nada suara yang teramat santai.
"Aku membuat janji untuk bertemu dengan Amira, Mas. Kami sudah selesai bekerja dan urusan galeri, jadi kami memutuskan untuk bertemu dan sekalian nongkrong di sini karena sudah lama banget nggak ketemu," jawab Nadia santai, seolah tak ada beban sedikit pun di dadanya. "Kenapa, Mas? Kok kedengarannya kaget banget?"
Rian di seberang sana menelan ludahnya dengan susah payah. Suara bising samar di latar belakang teleponnya menandakan ia sedang setengah berlari menuju tempat yang lebih sepi.
"Ng... nggak kaget kok, Nad," pungkas Rian cepat, mencoba menguasai kembali nada suaranya agar terdengar wajar dan tidak di curigai. "Ya sudah, kamu tunggu di situ ya. Aku selesaikan rapat sebentar, tiga puluh menit lagi, Aku akan sampai di depan kafe buat jemput kamu."
"Iya, Mas. Aku tunggu," balas Nadia singkat, lalu mematikan sambungan telepon sebelum Rian sempat menambahkan kata-kata manis lainnya.
Nadia meletakkan ponselnya di atas meja. Sebuah senyuman sinis yang dingin terukir di bibirnya—senyuman yang belum pernah Amira lihat sebelumnya dari sosok sahabatnya yang selama ini dikenal paling sabar dan lembut.
Amira menatap Nadia dengan raut wajah khawatir sekaligus penasaran. Ia lalu memajukan tubuhnya ke depan meja. "Nad... setelah ini, kamu mau gimana? Kamu nggak berniat labrak dia langsung kan pas dia sampai nanti?"
Nadia menggeleng pelan. Matanya menatap lurus ke luar jendela kaca kafe, menembus deretan kendaraan yang lalu lalang di jalanan.
"Nggak, Ra. Aku nggak sepicik itu. Kalau aku labrak dia sekarang, dia pasti bakal cari seribu alasan. Dia bakal bilang Maya cuma klien, atau bilang aku cuma salah paham seperti biasa," ujar Nadia dengan ketenangan yang mengerikan. "Aku mau pura-pura nggak tahu dulu. Aku bakal mainkan peranku sebagai istri penurut seperti yang dia mau, sementara aku mengumpulkan seluruh bukti kebohongannya."
"Buat apa, Nad?" tanya Amira memastikan, walau ia sudah bisa menebak arah pikiran sahabatnya.
"Buat mempermudah perpisahanku sama Rian nanti." tegas Nadia, sorot matanya kini begitu tajam dan penuh kepastian. "Aku nggak mau keluar dari rumah itu sebagai pihak yang disalahkan. Aku mau keluar dengan membawa bukti bahwa dia dan ibunya yang sudah menghancurkan pernikahan kami, menghancurkan kepercayaanku selama ini yang sudah aku bangun. Aku mau perpisahan kami nanti berjalan bersih tanpa celah buat dia mengelak dan memintaku tetap bersamanya."
Amira meremas jemari Nadia di atas meja, mengangguk mantap dengan binar mata bangga. "Bagus, Nad. Itu langkah paling cerdas, jangan terburu-buru untuk saat ini. Aku bakal dukung kamu seratus persen. Semua foto dan rekaman video tadi sudah aku amankan di drive rahasia. Kalau kamu butuh apa-apa lagi, langsung kasih tahu aku, ya."
"Pasti, Ra. Terima kasih banyak ya," sahut Nadia tulus.
Sementara itu, di dalam area mal yang sejuk, suasana hati Rian justru berbanding terbalik. Pria itu yang awalnya sedang bersantai dan bersenang-senang dengan Maya berubah menjadi kepanikan luar biasa. keringat dingin tiba-tiba keluar di sekitar pelipisnya saat ia berbalik menghampiri Maya yang sedang berdiri menunggunya di depan toko perhiasan.
"Kenapa, mas? siapa yang telepon?" tanya Maya sambil mengusap lengan Rian dengan lembut.
"Maya, kamu pulang naik taksi online sekarang ya," kata Rian cepat, napasnya sedikit memburu seraya merogoh dompet dan menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
May merajuk tidak terima. "Loh, Mas? Kok gitu sih? Kan katanya tadi habis dari sini kita mau makan malam romantis di rooftop? kamu juga belum membelikan aku perhiasan yang kamu janjikan tadi."
"Nggak sempet Maya, Kapan-kapan aja deh kita belanja lagi dan kamu bisa belanja apapun yang kamu suka. Sekarang Nadia ada di kafe depan mal ini, Maya!" bisik Rian dengan nada tertekan, melirik ke sekelilingnya dengan cemas. "Dia minta aku jemput sekarang. Kalau kita keluar dari mal ini barengan dan dia melihat kita, semuanya bisa hancur! Tolong ngertiin posisi aku dulu."
Maya menghentakkan kakinya ke lantai, bersedekap dada dengan bibir cemberut. "Selalu saja Nadia! Kapan sih kamu tegas sama dia, Mas? Aku capek ya sembunyi-sembunyi begini! Aku ingin keluar bebas denganmu tanpa sembunyi-sembunyi seperti ini dan selalu terbatas jika dia tiba-tiba menghubungi mu. Itu benar-benar menyebalkan tau nggak."
"Iya,aku ngerti...Ini cuma sementara, sabar ya, Maya. Tolong ya, ngertiin aku?" bujuk Rian setengah memaksa, memegang kedua bahu Maya sebentar sebelum melepaskannya kembali. "Aku pesankan taksinya sekarang, ya. Kamu tunggu di lobi utara, jangan keluar lewat lobi depan, nanti dia tau kamu disini."
Meski menggerutu dan memasang wajah masam, Maya akhirnya mengalah demi masa depan yang di janjikan Rian untuknya. Ia menyambar uang di tangan Rian lalu melangkah pergi menuju lobi utara dengan hentakan kaki kesal.
Rian menarik napas lega karena bisa mengatasi Maya, lalu merapikan setelan kemejanya di depan cermin toko. Ia menyisir rambutnya dengan jari, memastikan penampilannya seperti orang yang selalu di kantor dan tidak terlihat seperti orang yang baru saja keluar dengan wanita. Tak lupa dia dia juga menyemprotkan parfum di bajunya agar aroma parfum Maya yang menempel benar-benar hilang tanpa meninggalkan jejak.
Tepat tiga puluh menit kemudian, mobil sedan hitam milik Rian perlahan menepi di depan Kafe Mentari, sesuai alamat yang diberikan Nadia kepadanya. Rian segera mematikan mesin, lalu turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam kafe dengan senyuman hangat yang ia persiapkan dengan rapi—sebuah topeng sempurna untuk menutupi rasa bersalah dan kebohongannya.
Dari sudut meja dekat jendela, Nadia menatap kedatangan suaminya. Tidak ada lagi rasa debar kebahagiaan di dadanya saat melihat wajah Rian, yang tersisa hanyalah tekad bulat untuk menyapu bersih sisa-sisa kebohongan dalam hidupnya. Dan terbebas dari pernikahan yang sudah retak ini.