NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TUJUH: Gemuruh Sunyi (Bagian 1)

“Ada apaan sih di aula?” aku bersungut-sungut di samping Ian. Mengingat pekerjaanku jadi tertunda karena ada pengumuman mendadak untuk berkumpul di aula.

“Big boss is coming, dude,” Ian menjawab sambil mengikat dasinya. Aku mengernyit.

“Maksudmu yang punya kantor ini?”

“Ya iyalah, masa ayahku?” canda Ian. Aku ikut meringis mendengarnya.

Kami pun memasuki ruangan besar di lantai atas kantor kami. Ini kedua kalinya aku ke aula setelah dulu dikumpulkan untuk menerima penjelasan tentang jenis pekerjaan dan detail yang harus kami lakukan untuk klien langganan. Ya, tiga tahun berlalu begitu cepatnya. Tak kusangka aku masih saja di sini, berjauhan dengan Ara demi modal menikah yang kian mahal di tiap tahunnya. Kulirik Ian yang masih sibuk membetulkan dasinya. Dia juga masih bertahan. Dan tanpa perlu mengatakan padaku, aku tahu dia masih menyukai Ara.

Aku dan Ian memilih duduk di tengah ruangan, bersebelahan. Meskipun sebenarnya kami diminta untuk duduk di divisi masing-masing, tapi tak ada yang berani menegur kami berdua. Bahkan Vanno pun hanya memutar bola matanya melihat kami berdua membangkang. Beberapa menit berlalu dan tiap orang masih saling berbicara sendiri. Aku celingukan mencari sosok direktur yang dimaksud Ian. Ingin tahu sekaligus penasaran.

Beberapa menit kemudian, Ian menyenggol lenganku dan mengedikkan dagunya. Ada sosok berjas rapi memasuki ruangan. Tak kusangka direktur utama perusahaan kami masih terlihat muda untuk ukuran pria berumur setengah abad. Ini adalah pertama kalinya aku melihat beliau secara langsung. Dari obrolanku dengan Ian, aku baru mengetahui jika Pak Hendra—nama direkturku—baru saja pulang dari luar negeri. Dia menyelesaikan S3nya di Amerika sekaligus mengenalkan perusahaan ini pada para koleganya. Hm, sekali dayung dua, tiga pulau terlampaui. Kunjungan ini merupakan kunjungan pertamanya setelah tiga tahun menetap di Amerika. Semoga saja beliau tidak kecewa karena sudah meninggalkan perusahaannya untuk sementara.

“He looks great,” bisikku pada Ian. Kudapati lirikan dari beberapa junior wanita ke arah kami. Semoga saja mereka tidak mengira aku pacaran dengan Ian.

“More than that. Ayahku bilang pak Hendra berhasil menggaet beberapa kolega besar untuk investasi ke perusahaan kita beberapa hari sebelum dia pulang ke Indonesia. Dan hasil investasi itu berbuah pembukaan cabang perusahaan di Singapura akhir tahun ini. Sebagian orang di perusahaan kita akan dikirim ke sana. He made a big step before even stepping into this hall. So he’s more than great, man.”

“Well, he makes me scared now,” aku mengembalikan fokusku pada pidato pak Hendra. Beliau membahas tentang ekonomi global dan kemampuan perusahaan dalam kesiapannya menghadapi tantangan di masa mendatang. Tiga puluh menit pun berlalu dengan antusias. Tepuk tangan memenuhi aula begitu beliau mengakhiri sambutan singkatnya. Means good thing, beliau tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan kepercayaan para pekerjanya yang sebagian besar baru bertemu dengannya hari ini. Aku misalnya.

Aku dan Ian baru beranjak dari kursi ketika kudengar ada suara yang memanggil nama kami berdua. Aku dan Ian berpandangan. Kulihat Andra melambaiku dengan diiringi tatapan ingin tahu dari direktur utama kami yang berdiri di sebelahnya. Semoga saja dia tidak berulah.

“Yes, Sir?” Ian mendahuluiku bicara.

“Guys, saya ingin memperkenalkan kalian ke bapak Direktur. Seperti yang kalian dengar tadi, beliau adalah pak Hendra Widiatmoko, direktur utama kita. Pak Hendra, mereka adalah salah dua dari karyawan kita yang memiliki track record bagus selama bekerja. Ini Adrian, analyst programmer dari tim Vanno dan ini Izang, junior engineer dari tim saya,” berhubung aku yang berdiri paling dekat dengan beliau, otomatis aku menyodorkan tanganku terlebih dulu. Menyebut namaku dan menyunggingkan senyum cari muka. Ian baru menyodorkan tangannya ketika pak Hendra menatap kami berdua lamat-lamat. Beliau sampai menurunkan kacamatanya beberapa senti dari letak semula. Aku sudah bisa menebak pertanyaan apa yang akan meluncur dari beliau.

“Kalian berdua kembar?” aku nyaris terpingkal begitu tahu tebakanku benar. Untung saja beliau direktur utama, mau tak mau aku jadi lebih menjaga sikap agar tidak kehilangan muka.

“Kami sering mendapat pertanyaan tersebut, Pak. Tapi sayangnya kami harus menjawab tidak,” ujarku kalem.

“Seriously? Have you tried to take a blood test?” aku sekuat tenaga menahan diri agar tidak tertawa. Tapi pertanyaan ini benar-benar tidak terduga. Kusadari Ian menutup mulutnya sebagai usaha untuk tidak cekikikan. Yah, rupanya bukan aku saja yang bersusah payah.

“Yes, we have. That’s why we are sure that we’re not twins, Sir. It's just the same face,” aku menjawab dengan tutur sebijak mungkin. Pak Hendra mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.

“Saya tidak menyangka perusahaan kita mempunyai karyawan-karyawan tampan seperti ini. Saya kira orang-orang tampan hanya akan bekerja di depan kamera. Kalau perusahaan sedang membuka lowongan pekerjaan atau sedang mengadakan promosi ke media massa dan elektronik, bawa saja mereka berdua sebagai model. Pasti perusahaan kita laris,” goda pak Hendra pada kami berdua. Sontak saja aku, Andra, dan Ian jadi tertawa mendengar ide itu.

“Oh ya, ngomong-ngomong kalian ini umur berapa? Kok sepertinya masih muda sekali.”

“Saya dan Izang sama-sama berusia 21 tahun, Pak. Kami terlahir di bulan dan tahun yang sama,” kali ini Ian yang menjawab.

“Really? Berarti kalian seumuran dengan anak perempuan saya. Wah, kebetulan sekali,” pak Hendra buru-buru mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan foto seorang perempuan belia yang tengah tersenyum. Kind of pretty and nice daddy’s girl.

“Ini anak saya. Dia sekarang masih berusaha menyelesaikan kuliahnya di Singapura. Kebetulan bulan ini dia akan mengadakan penelitian di sini. Awalnya saya takut dia akan sulit bersosialisasi dan saya sempat berpikir untuk menitipkan dia pada Andra atau Vanno. Tapi karena ternyata ada kalian yang lebih seumuran, saya rasa akan lebih mudah menitipkan Vanya pada kalian berdua. Tidak keberatan kan?” tanya pak Hendra antusias. Aku merasakan sedikit senggolan dari Ian. Kami berdua sama-sama paham bahwa sebenarnya pertanyaan itu adalah pertanyaan retoris. Tanpa dijawab pun, direktur utama tahu bahwa kami tidak akan menolak permintaan beliau. Ah, bukan tidak akan. Lebih tepatnya tidak bisa menolak.

“Mm..ya, Pak. Tentu saja kami akan dengan senang hati membantu,” dengan berat hati kuiyakan pertanyaan pak direktur. Kepalaku berdenyut. Sudah terbayang di kepalaku bagaimana banyaknya tugas tambahan yang harus aku kerjakan.

“Ah, syukurlah. Kalau begitu biar nanti saya minta kontak kalian ke nak Andra. Terima kasih ya?”

“Sama-sama, Pak. Kalau begitu kami permisi dulu, ada pekerjaan yang harus kami selesaikan,” Ian pamit dengan sedikit menyeretku. Aku memaksakan senyumku sekali lagi. Kali ini bukan senyum cari muka karena sepertinya usahaku itu terlalu berhasil sampai-sampai aku mendapat tugas tambahan seperti barusan. Pak Hendra menjabat tangan kami sekali lagi sebelum mengangkat handphonenya yang berdering nyaring, meminta untuk diangkat segera. Sembari berjalan kutoleh Andra yang masih berdiri di samping direktur. Tanpa sengaja dia menoleh ke arahku dan aku dengan segera mengangkat jari tengah tangan kananku ke arahnya. Dia terkejut, tapi beberapa saat kemudian dia mundur beberapa langkah agar terhindar dari tatapan direktur. Dia pun menangkupkan kedua telapaknya di depan dada, memelas. Tsk, bocah itu.

...***...

“Kak Izang, disuruh kak Andra ke ruangannya,” Satrio menelengkan kepalanya ke bilikku. Aku mendongak.

“Sekarang?” laki-laki berambut cepak itu menaikkan alisnya beberapa kali untuk mengiyakan. Aku mengusap wajahku sebelum menyahut beberapa tumpukan laporan di meja. Kutelisik lagi laporan-laporan itu sambil berjalan ke ruangan Andra yang berjarak beberapa meter dari tempatku.

“Ndra, ini...” kata-kataku terhenti. Kulihat Andra tak sendiri. Sudah ada Ian dan gadis belia yang seketika menoleh ketika aku merangsek masuk. Oh, the princess is here.

“Hai, Zang! Kenalin ini Vanya. Vanya, ini Izang,” gadis itu pun berdiri dan menyodorkan tangannya padaku. Aku menjabatnya sekilas sebelum mengalihkan perhatianku pada Andra.

“Yours!” aku meletakkan laporan-laporan yang kubawa di atas meja. Andra mengacungkan jempolnya sebagai tanda terima. Aku bisa merasakan tatapan Vanya di tengkukku.

“Oke. So, Vanya akan melakukan penelitian selama dua bulan ke depan, start from today. Dia akan butuh beberapa data yang menyangkut dengan laporan-laporan yang biasanya kalian kerjakan. Aku bakal siap bantu kapan aja selama aku di kantor. Tapi kalau aku dinas luar, Vanya bisa langsung kontak ke Ian atau Izang. Mereka orang kepercayaanku sekaligus yang diserahi mandat oleh pak direktur untuk bantu kamu. Jadi, jangan khawatir untuk tanya apa pun ke mereka berdua, oke?” pertanyaan Andra disambut anggukan mantap Vanya. Aku dan Ian yang berdiri bersebelahan sama-sama menghela napas dalam-dalam.

“Nah, karena udah nggak ada yang mau aku omongin lagi, Ian dan Izang tolong temenin Vanya untuk lihat-lihat kantor. At least, dia harus tahu di mana bilik kerja kalian berdua.”

“Got it!” aku menjawab sembari keluar lebih dulu dari ruangan Andra. Vanya buru-buru menyusulku.

“We’re not twins if that’s the question you wanted to ask,” ujarku tiba-tiba sembari membalikkan badanku. Vanya menatapku keheranan.

“How do you know...”

“Your eyes say it all. You didn’t even blink,” aku kembali melangkahkan kakiku. Ian tiba-tiba saja merengkuhkan lengannya di bahuku.

“Don’t be too hard on her! You know who she is,” bisik Ian di telingaku.

“I’m not being hard. I just don’t like to be look at by that kind of stare,” aku balik berbisik dengan nada yang jauh dari bercanda. Ian seketika tahu moodku sedang tidak baik.

“Oh, alright. Let me handle her for today,” Ian menepuk punggungku sebelum mengajak Vanya berbelok ke divisinya. Aku pun sedikit menyesal karena melimpahkan kekesalanku pada Ian.

Entah kenapa aku tidak begitu tertarik dengan ‘tugas khusus’ yang diberikan direktur pada kami. Alih-alih tertarik, aku bahkan sudah merasakan akan ada sesuatu yang tidak baik yang akan terjadi. Yeah, Ara pasti akan marah-marah jika tahu aku terlalu mendengarkan feelingku. Tapi, aku tidak pandai berbohong. Dan aku memang tidak bisa mengabaikan Vanya begitu saja. Dia cantik, terlihat cerdas, dan putri seorang direktur perusahaan ternama kota Bandung. Bagian terakhir inilah yang membuatku harus lebih hati-hati. Aku tak menampik bahwa apa pun memang bisa terjadi dan bisa saja Vanya adalah gadis yang berbeda dengan gadis kaya pada umumnya. Tapi, masih ingatkah kamu dengan peristiwa yang terjadi pada Ian? Ya, apalagi yang menyangkut dengan pemindahan Sarah ke divisi lain dalam waktu beberapa menit dan hanya karena one damn phone call. Itulah yang kutakutkan. Aku bukan kegeeran atau sok kegantengan. Tapi, aku yakin aku mendapati Vanya masih menatapku dari kejauhan meskipun dia sedang berjalan bersama Ian. Dan aku sangat paham tatapan jenis apa yang dia tujukan padaku.

Aku pun memasuki area divisiku dan duduk membelakangi mejaku. Aku tidak ingin ada hal buruk yang terjadi, baik padaku atau Ian. Aku sadar bahwa yang kuhadapi bukan saja Vanya, tapi bisa juga pak Hendra. Aku tidak bisa asal bicara seperti yang biasanya kulakukan pada wanita kebanyakan. Aku memang harus lebih tenang untuk beberapa bulan ke depan. Aku harus tahu kemungkinan terbaik dan terburuk yang bisa terjadi. Otakku mulai bekerja dengan terperinci. Kuamati Vanya dan Ian dari kejauhan. Bahkan bunuh diri pun butuh perhitungan matang untuk berhasil, you know?

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!