NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Saja

Cintai Aku Sekali Saja

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Askararia

Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Indra membuka matanya lebar, ternyata Steven dan Angga sudah berada disana terlebih dahulu. Angga menatap kesal pada Indra, baru saja kemarin ia melihat foto kebersamaan suaminya dengan lelaki itu dan kini lelaki tersebut datang untuk melihat istrinya yang sedang berada dirumah sakit tersebut.

"Bagus, aku merasa kalian bermain api di belakangku" ucap Angga dingin.

"Owhh ya?" Balas Raisa tersenyum menatap wajah suaminya yang mulai tak tahan berada disana padahal ia baru saja tiba.

"Dengar, Raisa. Aku tidak semudah itu untuk kamu bodohi"

"Heiiii, untuk apa aku membodohi mu? Kau kan memang sudah bodoh, bodoh karena sudah menyia-nyiakanku. Sekarang kita tinggal menunggu pernikahan adikmu, begitu mereka menikah kita bertemu kembali di pengadilan" ucap Raisa memotong perkataan suaminya.

"Apa maksud mu?" Tanya Angga kesal sementara Raisa kembali berbaring.

"Indra, bisakah aku pulang bersamamu?"

Pertanyaan wanita itu membuat ketiga lelaki di ruangan itu saling menatap satu sama lain.

"Tidak!" Ujar Angga tegas.

"Ingat Raisa, kamu masih memiliki status sebagai istri dari anak pertama keluarga kami, Angga Winata. Kau harus pulang bersamaku" lanjutnya menaikkan nada suaranya.

Raisa masih memejamkan matanya dengan kedua tangannya berada di atas perut yang diselimuti selimut tipis itu.

"Astaga, apa yang akan terjadi selanjutnya jika aku pulang bersama suami yang baru saja menikam ku di kabarnya? Dan apa yang akan dikatakan oleh adik dan ibu tiriku jika aku terus berada di dekat mantan kekasihku yang sebentar lagi akan menjadi adik iparku?" Ucapnya, dan kebetulan saat itu Arni datang diiringi oleh seorang dokter dan beberapa dokter koas yang bertugas pagi itu.

Semua mata kini tertuju pada kedua lelaki yang duduk berdekatan itu, dokter yang baru saja tiba segera menyuruh dokter baru itu untuk menghubungi polisi setelah mendengar perkataan Raisa.

"Tidak, itu bohong. Saya tidak pernah menikamnya, jangan percaya omongannya, wanita ini adalah wanita licik, dia seorang pembohong!" Seru Angga dengan panik sementara Steven segera berdiri dari kursinya untuk membangunkan Raisa.

"Raisa, apa maksud ucapanmu tadi?" Tanyanya yang tak kalah panik dari kakaknya tersebut.

"Awww, dokter tolong, dia membuatku kesakitan" ucap Raisa berpura-pura.

"Tolong semuanya keluar dari ruangan ini, kami akan memeriksa pasien!" Titah dokter tersebut menyuruh semua orang meninggalkan ruangan.

Steven, Angga, Arni dan Indra lalu keluar dari ruangan tersebut, wajah Indra begitu pucat sebab Angga menatapnya tajam sejak tadi.

"Kau selingkuhan Kakakku ya?" Tanya Arni meletakkan jari telunjuknya di bahu lelaki tersebut.

Indra melambaikan tangan beberapa kali.

"Aku baru bertemu dengan Raisa beberapa kali, itu juga karena aku menolongnya saat hanyut di pantai saat aku dan ayahku mencari udang" jelasnya.

"What?" Arni lalu mengalihkan pandangannya pada Angga.

"Bagaimana bisa Kak Raisa hanyut di pantai?" Tanyanya menatap wajah Angga, lelaki itu bahkan berkeringat dingin membayangkan bagaimana cara semua orang memperhatikannya.

Tak lama tiga orang polisi datang menghampiri mereka bersamaan dengan dokter yang baru saja keluar dari ruangan. Angga menggelengkan kepalanya begitu orang-orang itu mengeluarkan sebuah surat penangkapan terhadapnya dengan dugaan kasus kekerasan dalam rumah tangga.

"Pak Angga Winata, kami dari pihak kepolisian akan membawa anda ke kantor polisi dengan tuduhan kekerasan dalam rumah tangga"

"Tidak, saya tidak mau. Saya tidak melakukan kesalahan apapun"

"Mohon kerjasamanya, Pak"

"TIDAK, RAISA CEPAT JELASKAN PADA MEREKA KALAU KAU MELUKAI DIRIMU SENDIRI"

Angga berteriak begitu histeris sementara Raisa tersenyum tipis menatap langit-langit kamarnya, begitu Angga dibawa oleh ketiga polisi tersebut Steven segera memberitahukan kabar buruk itu pada Laluna.

"Ma, Kak Angga dibawa ke kantor polisi"

"Apa?"

"Iya, Ma. Dokter di rumah sakit melaporkannya ke polisi karena dugaan kekerasan dalam rumah tangga" bisiknya sambil berjalan mengikuti Angga.

"Mama kesana sekarang" ujar wanita paruh baya tersebut sebelum ia mematikan panggilan telepon itu.

Trangggg

Suara pecahan vas bunga yang baru saja ia lempar ke atas lantai mengejutkan ketiga pelayan rumah tangganya, pasalnya Laluna meneriakkan nama Raisa beberapa kali sambil mengumpat kasar.

"Aahkkk, dasar perempuan pembawa sial. Lihat saja Raisa, saya akan membuatmu menyesal, dasar wanita tidak tahu diri!"

Ketiga wanita yang tengah berada di halaman belakang itu saling berbisik menebak apa yang terjadi pada menantu dirumah itu.

"Aku mendengar kalau Pak Steven melukai Bu Raisa tadi malam" ucap salah satu dari ketiganya.

"Benar, tadi pagi aku melihat banyak bekas tisu terkena darah di plastik tempat sampah diluar. Aku rasa Bu Raisa baru melaporkan Pak Angga ke kantor polisi"

"Benar, lagian siapa juga yang akan tahan dengan sifat pemarah Pak Angga dan Bu Luna? Kalau aku jadi Bu Raisa sudah aku laporkan dari dulu"

"Benar"

"Iya, benar. Aku juga" ucap mereka saling bersahutan sementara Laluna dengan terburu-buru keluar dari rumah membawa tas dan ponselnya. Ia bergegas menuju kantor polisi tempat anak pertamanya itu dibawa.

Arni juga mengejar orang-orang itu bersama dengan Steven mereka mencari seorang pengacara yang dapat menolong Angga, sementara Indra melangkah masuk kedalam ruangan untuk berbicara dengan Raisa.

"Kau masih disini?" Tanya wanita itu memiringkan kepalanya.

"Apa yang kau katakan tadi benar?"

"Benar, katanya aku sudah boleh makan. Tolong belikan aku makanan"

"Raisa aku serius"

"Aku juga serius"

Beruntung lelaki ini tak banyak berkomentar, sebaliknya ia diam dan menuruti kemauan Raisa namun bukan membeli melainkan meminta makanan pada perawat. Tak lama lelaki itu kembali menemui Raisa membawa makanan rumah sakit untuknya, wajah Raisa yang semula tersenyum berubah murung setelah melihat kotak makanan bertuliskan namanya itu.

"Ini makanan rumah sakit"

"Iya memang. Kamu kan sedang sakit" jawab Indra tertawa.

"Aku tidak ingin makan"

"Kalau begitu biar aku yang makan, kebetulan aku juga lapar" ucapnya mendapat tatapan tajam dari Raisa.

Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu Indra memakan makanan milik Raisa sementara Raisa sendiri membuka matanya lebih lebar saat lelaki itu tampak sangat menikmati makanan tersebut kala ia sendiri kelaparan.

"Jangan buang-buang makanan, ini dimasak oleh ahli gizi supaya yang makan tidak mengalami gizi buruk" ucap lelaki itu membuat wanita yang berbaring disampingnya tersebut semakin kesal.

"Aku tidak mau tahu, kamu harus"

"Aku tau kamu mau tempe, iyakan? Nanti aku beli"

"Indra, kamu lagi bercanda ya?"

"Kalau begitu makan ini, ayo duduk" ujar lelaki ini memutar panel bed milik Raisa untuk memudahkan wanita itu duduk.

Tanpa menunggu lama Indra menyuapi Raisa dengan tangannya, beruntung wanita itu menurutinya sampai makanan di dalam kotak makan itu habis tak tersisa, Indra tak lupa memberikan obat yang berada diatas meja agar Raisa segera pulih.

"Kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi, Raisa. Sebenarnya apa yang terjadi padamu dan Pak Angga?"

Mendengar pertanyaan lelaki itu membuat wanita ini harus menghela nafas kembali lantaran ia malas untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di antaranya dan suaminya.

"Sebelumnya kan aku sudah ngasih tau kamu kalau ini bagaimana dari balas dendam. Usia pernikahan kami sudah berjalan selama lima tahun, dan selama lima tahun ini ia tak pernah memperlakukan ku selayaknya manusia, aku merawatnya dengan tulus sejak ia masih koma hingga sembuh namun yang kudapat hanyalah kekerasan, jika saja salah satu dari mereka mau melindungiku maka aku tidak akan melakukan hal ini. Tapi lihat, mulai dari suamiku, mertuaku, saudaraku sampai ibu sambungku, semua memperlakukan ku dengan buruk. Dan apa kamu tahu penyebab aku bisa terombang-ambing waktu itu? Itu bukan kecelakaan saat liburan, itu karena dia menyuruhku untuk mencari cincin berlian yang baru saja dia beli untukku karena Steven memberikan cincin yang sama pada adikku, Arni. Saat dia melempar cincin itu dia berkata kalau aku tidak boleh pulang tanpa membawa cincin itu, dan jika aku tak berhasil membawa pulang cincin itu dia akan menceraikanku" ucap Raisa menahan tangisnya sementara Indra hanya mendengarkan dengan serius tanpa menyela perkataannya.

"Bahkan malam dimana dia datang untuk menjemput ku dia mengatakan kalau dia berharap aku mati, bahkan setelah aku menunjukkan cincin yang susah payah aku temukan itu sampai aku hampir kehilangan nyawaku" lanjutnya lagi.

Mata Indra membelalak saat mendengar penuturan Raisa, tak mampu membayangkan bagaimana perihnya perasaan Raisa saat mendengar perkataan tersebut dari orang yang seharusnya menjadi teman hidup juga sandarannya disituasi terberat sekalipun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!