NovelToon NovelToon
Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.

Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.

"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 — Lengan yang Tertutup Rapat

Pagi itu, udara terasa hangat dan lembap, tanda cuaca yang mulai menyengat. Meloudy sudah berdiri di dekat pintu, tas tersampir rapi di bahu, pakaiannya tertata rapi — sebuah kemeja lengan panjang yang berwarna lembut, dikancingkan rapat dari bawah hingga ke kerah, tak menyisakan celah sedikit pun.

Nadine keluar dari kamar di sebelahnya, sudah siap berangkat, mengenakan pakaian yang ringan dan sejuk. Ia menatap keponakannya sejenak, lalu mengerutkan kening pelan, keheranan.

"Meloudy…" panggilnya lembut, menatap pakaian yang dikenakan keponakannya dari atas ke bawah.

"Kau memakai kemeja lengan panjang, dikancingkan sampai ke leher? Di cuaca yang begini gerah ini?"

Meloudy tertekan sejenak, jemarinya tanpa sadar merapikan kancing di kerah, lalu tersenyum tipis — berusaha terlihat tenang.

"Saya… lebih suka tertutup, Kak. Kulit saya agak sensitif terhadap sinar matahari," jawabnya pelan, menyusun alasan yang terdengar masuk akal.

"Lebih aman begini."

Nadine masih menatapnya, keraguan belum hilang sepenuhnya. Ia melihat bagaimana keponakannya menarik ujung lengan bajunya sedikit ke bawah, memastikan pergelangan tangan pun tak terlihat. Gerakan itu terlihat begitu terbiasa, begitu waspada, seakan ada sesuatu yang sengaja dilindungi.

"Begitu…" gumam Nadine pelan, meski belum sepenuhnya yakin.

"Tapi kalau kepanasan, bilang saja ya? Jangan dipaksakan."

"Siap, Kak," jawab Meloudy, sedikit tersenyum lebih lebar, berusaha mengalihkan perhatian.

"Ayo, nanti terlambat menjenguk Ibu."

Nadine mengangguk, meski sesekali pandangannya kembali jatuh pada lengan kemeja yang tertutup rapat itu. Ada sesuatu yang terasa aneh, namun ia tak ingin mendesak saat ini.

Mereka berjalan menuju kendaraan yang sudah menunggu. Di sepanjang perjalanan, Meloudy sesekali menyentuh lengan kanannya — tempat di bawah kain itu tersimpan tato yang tak boleh diketahui siapa pun. Ia tahu pakaian ini membuatnya terlihat berbeda, mencolok di cuaca yang hangat. Namun ia tak punya pilihan lain. Selama perjalanan, ia duduk tenang, memastikan tidak ada gerakan yang membuat kain itu tersingkap.

Sesampainya di halaman rumah sakit, aroma khas tempat itu segera menyambut mereka. Meloudy menuntun langkah sepupunya menuju ruang perawatan Ibu, langkahnya sedikit lebih hati-hati dari biasanya.

Saat pintu ruangan terbuka perlahan, sosok yang terbaring di atas tempat tidur terlihat jelas. Wajahnya pucat, namun matanya terbuka pelan saat mendengar kedatangan mereka.

Meloudy mendekat lebih dulu, menyentuh tangan Ibu dengan lembut.

"Bu… aku datang."

Wanita itu tersenyum tipis, lalu pandangannya beralih ke arah Nadine. Mata keduanya berkaca-kaca seketika.

"Nadine…" panggil Tante Mila lirih.

"Iya, Kakak pulang," jawab Nadine, mendekat dan menggenggam tangan saudarinya erat.

"Maafkan Kakak yang baru datang sekarang."

Meloudy berdiri di sisi lain tempat tidur, memperhatikan kehangatan di antara mereka. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak. Ia bahagia melihat Ibu tersenyum kembali, namun kesadaran akan rahasia yang dipikulnya tetap ada — di balik kemeja panjang ini, di balik tato yang tersembunyi, ada bagian dari dirinya yang belum bisa ia tunjukkan, bahkan kepada mereka yang paling dicintainya.

Nadine menoleh sejenak, menatap keponakannya yang berdiri tegak, lengan kemejanya tertutup rapat.

"Meloudy sudah merawatmu dengan sangat baik, ya Mila," ucapnya lembut.

"Dia anak yang luar biasa."

Meloudy tersenyum tipis, menunduk sedikit.

"Tidak ada yang perlu dipuji, Kak. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang anak."

Namun di dalam hatinya, ia tahu — ada hal yang tak pernah ia ceritakan. Ada beban yang dipikulnya sendirian, dan ada rahasia yang harus dijaga, apa pun yang terjadi.

Suasana di ruangan perawatan yang tadinya hangat seketika berubah hening. Nadine menatap tak percaya, matanya membelalak, napasnya tertahan sejenak sebelum akhirnya meledak:

"Apa!!!"

Suara itu menggema keras di ruangan yang sunyi, hingga Tante Mila yang terbaring di tempat tidur tersentak kaget.

"Vano? Atasanmu? Orang yang berpapasan dengan kita di lorong hotel semalam… dia kemarin ikut kau ke sini? Menjenguk Tante Mila?"

Meloudy tersentak hebat. Wajahnya seketika pucat pasi. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat ke arah Nadine, menutup mulut nya dengan kedua tangannya erat — gerakan refleks yang begitu cepat dan mendesak, seakan kata-kata itu bisa melukai siapa pun yang mendengarnya.

"Kak! Diamlah!" bisiknya mendesak, matanya memancarkan kepanikan yang nyata.

"Tolong jangan berteriak! Ibu kaget!"

Nadine terdiam di bawah telapak tangan keponakannya, namun matanya masih tak lepas dari rasa terkejut yang mendalam. Ia menatap Meloudy, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Meloudy perlahan melepaskan tangannya, menoleh ke arah Ibu yang masih menatap mereka bingung, napasnya sedikit memburu. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, lalu menatap tajam ke arah Nadine — tatapan yang memohon sekaligus memperingatkan.

"Maafkan kami, Bu…" ucapnya gemetar, menoleh ke arah tempat tidur.

"Tidak ada apa-apa. Kak Nadine hanya… kaget mendengar sesuatu."

Tante Mila mengerjap lemah, menatap mereka bergantian, lalu mengangguk pelan seakan mengonfirmasi hal yang sudah diketahuinya.

"Ya… Vano… anak pemilik hotel itu… kemarin datang bersama Meloudy," ucapnya lemah namun tenang.

"Beliau baik sekali. Sempat duduk menemaniku sebentar sebelum kembali bekerja."

Hati Meloudy mencelos. Ia tak menyangka Ibu akan mengatakannya begitu saja.

"Ya, Kak…" jawabnya lirih, tak bisa mengelak lagi.

"Beliau… kemarin memang ikut. Hanya sebentar, memastikan keadaan Ibu, lalu pergi."

Nadine kembali hendak berseru, namun kali ini Meloudy lebih dulu menatapnya tajam, menahan dengan pandangan — jangan, tolong jangan sekarang.

"Kak," panggilnya rendah, tegas namun memohon.

"Nanti kita bicara. Di luar. Jangan di depan Ibu."

Nadine menatapnya, napasnya masih memburu, keraguan dan kekhawatiran bercampur aduk di wajahnya. Ia menoleh ke arah Tante Mila, lalu kembali ke arah keponakannya, dan akhirnya mengangguk pelan — meski kerutan di keningnya belum hilang.

"Baiklah…" jawabnya tertahan.

"Nanti kita bicara."

Namun keheningan yang menyusul terasa berat sekali. Ada sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kunjungan kemarin, dan Nadine bertekad untuk mengetahuinya. Sementara Meloudy menunduk, jantungnya berdebar tak menentu — rahasia yang dijaganya perlahan mulai terkuak, dan ia tak tahu apakah ia siap menghadapinya.

^^^Bersambung...^^^

1
ginevra
iya, terima aja.... biar jadi jariah si vano
ginevra
aku takut kalau sang ibu malah diambil duluan sama authornya 🥹🥹
ginevra
awww ... terharu aku tuh 🥹🥹... melodi emang anak yang manis
ginevra
itu pas melodi melipat bajunya .. ingat ingat donk
ginevra
ternyata udah fans lama ini mah....
ginevra
cuma nampilin tangan aja loh... udah buat Vano terpana .. hebat kamu melodi mehehe
Nona Cloe
wuohhh mulai serius nih, ada apa?😄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
itu kan rencanamu. tapi rencana author seharusnya ga begitu. betul ga?😄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
wah wah, berharga di hatimu ya😄
My_Lucia
aduh... 🫣 melody di jadiin fantasi
My_Lucia
kasian banget sih... kerja capek-capek tapi gak bisa menikmatinya
Myz Pena
benar2 membuatmu terkesan ya vanno sampai hati mu susah melupakan suasana dengan meloudy walau hanya sebentar 🤭
Myz Pena
kehadiran vano bisa saling melengkapi dengan meloudy 👍
Myz Pena
ya harusnya pulang nggak usah lama2 kecuali vano udah demen pada meloudy 🤭
Myz Pena
yuhuuu vano udah muali terdekteksi ada rasa pada meloudy 🤣
Myz Pena
ya ibu mu benar ,, di cocok jadi calon suami mu di masa depan lagi pula dia adalah fans sejatimu meloudy 🤣
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
gila sih si vano. kok aku ngeri ya.
ah cowok kan emang begitu
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
duh ternyata si vano begitu ya🤧
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
dia di dekat kamu
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
pengemar melody lain nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!