Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!
Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!
IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertaruhan di Bawah Lingkaran Api
Rasa asin dan aroma kulit yang kasar membungkam mulutku seketika. Pasokan udara di tenggorokanku menyempit saat lengan berotot pria itu melingkar ketat di leherku, mengunci seluruh pergerakanku secara brutal. Aku meronta sekuat tenaga, menghentakkan kakiku ke belakang, namun tenaga pria itu jauh melampaui kekuatanku.
"Diam lo, Cewek!" bisiknya penuh ancaman.
Dengan gerakan kasar, pria itu menyeretku keluar dari balik bayangan kontainer berkarat, memamerkan keadaanku yang tak berdaya tepat di bawah teriknya lampu sorot panggung pabrik tua.
"Lihat siapa yang datang menyusul, Al!" teriak pria itu dengan tawa melengking yang memecah keheningan malam.
Seluruh perhatian di lapangan berdebu itu seketika teralih. Raka yang sedang mengayunkan pemukul baseball menghentikan gerakannya, lalu meledakkan tawa puas yang amat nyaring.
Namun, respon paling drastis datang dari Varro.
Pria berpostur 183 sentimeter yang tadinya berdiri tegap dengan keangkuhan mutlak itu seketika membeku kaku. Tatapan mata cokelat gelapnya yang dingin bagai es mendadak runtuh sepenuhnya. Kilat kepanikan dan ketakutan liar yang belum pernah kulihat seumur hidup melintas di wajah tampannya.
"Gisel?!" jerit Varro dengan suara bariton yang pecah oleh rasa cemas yang teramat dahsyat.
Ia melangkah maju dua tindak tanpa berpikir panjang, hendak merangsek menembus kerumunan. Namun Raka bergerak cepat. Pria berjaket kulit cokelat itu melangkah mendekatiku, lalu menempelkan ujung tajam pemukul baseball tepat di bawah daguku, mengisyaratkan ancaman kematian yang teramat nyata.
"Satu langkah lagi lo maju, Al... dan gue pastikan cewek manis lo ini bakal pulang dalam keadaan gak bernapas!" bentak Raka dengan binar mata iblis yang dipenuhi kebiadaban.
Langkah Varro terhenti kaku di udara. Tubuhnya gemetar hebat, dadanya naik turun memburu rapat. Urat-urat di lehernya menegang menonjol saat ia menahan gejolak amarah membara yang nyaris meledakkan pikirannya.
"Raka... lepasin dia!" tumpas Varro dengan nada suara yang begitu dalam, gemetar, dan penuh penekanan mutlak. "Urusan lo cuma sama gue! Jangan sentuh Gisel sedikit pun!"
"Urusan gue memang sama lo, Al," sahut Raka tertawa sinis seraya memutari tubuhku. "Tapi karena cewek ini udah berbaik hati datang ke sini... permainan kita jadi jauh lebih menarik, kan?"
Raka memiringkan kepalanya, menatap Varro dengan senyum kejam. "Sekarang pilihan ada di tangan lo, Ketua Starlit yang terhormat. Berlutut di hadapan gue dan anak-anak Viper... atau gue suruh anak buah gue buat merusak wajah cantik calon cewek lo ini?"
DEG!
Darah di kepalaku seketika mendidih mendengarnya. "Jangan, Varro!" teriakku histeris dari balik buaian tangan pria yang memegangiku. "Jangan dengerin manusia sampah ini! Jangan pernah berlutut buat dia!"
Varro menatap lurus tepat ke dalam mataku. Binar ketakutan di matanya bukan karena ancaman untuk dirinya sendiri, melainkan ketakutan luar biasa akan keselamatan nyawaku. Pria yang selama ini disembah di jalanan, pria yang gengsinya setinggi langit dan tak pernah menunduk pada siapa pun... kini menatapku dengan sorot mata yang sarat akan kepasrahan dan cinta mutlak.
"Maaf... maafin gue, Gisel..." bisik Varro pelan, suaranya terdengar amat lirih di tengah deru angin malam. "Gue gak bakal pernah bisa membiarkan lo terluka gara-gara gue."
Perlahan, di hadapan puluhan anggota geng Viper yang bersorak mengejek, Varro menekuk kedua kakinya. Pria paling ditakuti se-kampus itu perlahan merendahkan tubuhnya... hingga kedua lututnya menyentuh lantai tanah berdebu di halaman pabrik tua tersebut.
"Varro! Jangan!" jeritku histeris, air mata mendadak merembes deras membasahi pipiku. Dadaku serasa dihantam oleh ribuan sembilu melihat harga diri pria ini diruntuhkan demi melindungiku.
"Hahaha! Lihat ini!" teriak Raka puas, mengangkat tangannya ke udara. "Varro Aldrian Wijaya berlutut di kaki gue!"
Tanpa rasa kasihan sedikit pun, Raka memberi instruksi pada tiga anak buah utamanya. Pria-pria kekar berjaket kulit itu melangkah mendekati Varro yang masih berlutut, lalu melayangkan pukulan mentah dan tendangan keras tepat ke arah dada dan rahang Varro!
BUK! BUK! BRUK!
Varro tidak membalas. Ia menahan seluruh gempuran fisik itu tanpa menguapkan erangan sedikit pun. Kepalan tangannya mencengkeram tanah berdebu, dan darah segar mulai mengucur deras dari sudut bibir serta pelipisnya. Namun, bola mata cokelat gelapnya yang memudar tetap terkunci rapat padaku, memastikan bahwa aku tidak disentuh oleh siapapun.
Melihat tubuh Varro dihantam secara brutal demi diriku, rasa bersalah dan amarah yang dahsyat meledak di dalam sanubariku. Aku tidak bisa tinggal diam menjadi alasan kehancuran pria ini!
Dengan menyatukan seluruh sisa tenaga yang kumiliki, aku menghentakkan tumit sepatu ketsku sekuat tenaga tepat ke atas ibu jari kaki pria yang memegangiku dari belakang!
KLEK!
"ARGHHH!" jerit pria itu kesakitan, refleks melonggarkan cengkeramannya.
Tanpa membuang waktu sekejap pun, aku memutar kepala dan menggigit lengan bawah pria itu sekuat gigitan serigala! Pria itu memekik histeris dan melepaskan tubuhku sepenuhnya.
"Gue bukan sandera lo, Bajingan!" bentakku seraya mendorong tubuh pria itu hingga terjerembab ke dalam bak kontainer tua!
Tepat di detik yang sama saat aku berhasil membebaskan diri...
ROAAAARRRR!
Raungan puluhun mesin sepeda motor berkapasitas silinder besar mendadak bergema dahsyat dari arah rel kereta api tua, membungkam riuh tawa anak-anak Viper seketika!
Puluhan sinar lampu sorot yang amat terang menerobos kegelapan malam, menyilaukan seluruh pandangan di lapangan pabrik. Dinding besi pabrik diterobos secara paksa oleh deretan sepeda motor besar berlogo bintang keemasan!
Starlit telah tiba!
"HAJAR SEMUA ANAK VIPER!" teriak suara bariton Marcel yang menggelegar dari atas motornya seraya melompati barikade.
Brandon memimpin barisan utama Starlit, menerjang masuk ke dalam arena pertarungan dengan kecepatan yang tak tertandingi. Dalam sekejap mata, pertempuran kolosal antara dua geng motor terbesar di kota ini pecah dengan begitu brutal dan riuh di pelataran pabrik tua.
Melihat ancaman terhadap diriku telah sirna dan pasukannya telah mengepung area, Varro yang berada di atas tanah perlahan membentangkan kedua tangannya. Aura kepasrahan di wajahnya seketika menguap, berganti menjadi pendar kebuasan seekor predator utama yang baru saja lepas dari rantai pengikatnya.
Varro bangkit berdiri dengan tubuh tinggi tegapnya. Ia menyapu darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap tiga pria Viper yang baru saja memukulinya dengan tatapan membunuh yang teramat pekat.
"Sekarang... giliran gue," ucap Varro dengan suara bariton yang menusuk sumsum tulang.
BUK! BUK! BUK!
Dalam hitungan detik, Varro meledakkan serangan balasan yang amat presisi dan mematikan. Pukulan kombinasi dan tendangan memutar darinya menghempaskan tiga anak buah Raka hingga terlempar membentur dinding bata dengan tulang patah.
Varro memutar badannya, mencari keberadaan Raka. Namun Raka yang menyadari situasinya telah berbalik secara drastis, memilih bertindak licik. Pria itu melemparkan pemukul baseball-nya ke arah Varro, lalu membalikkan badan dan berlari cepat bersama sisa anak buahnya menembus kegelapan lorong stasiun lama.
"Ini belum selesai, Al! Gue bakal balik buat habiskan lo!" teriak Raka dari kejauhan sebelum menghilang ditelan malam.
Varro tidak mengejar Raka. Pria berpostur 183 sentimeter itu membiarkan musuhnya kabur, membalikkan badannya terburu-buru, lalu berlari cepat menghampiriku yang sedang menyandar lemas di dinding kontainer.
"Gisel!"
Varro berlutut di depanku. Tangan kekarnya yang gemetar meraup kedua bahuku, memindai sekujur tubuhku dengan raut wajah panik yang tak terbendung. Wajah tampannya kini dipenuhi luka memar kebiruan dan noda darah, namun tatapan matanya tetap begitu hangat dan cemas demi diriku.
"Lo gak apa-apa, kan?! Ada yang terluka?! Jawab gue, Gisel!" tanyanya bertubi-tubi tanpa peduli pada rasa sakit di tubuhnya sendiri.
Melihat wajahnya yang babak belur demi menyelamatkanku, seluruh pertahanan dan gengsi yang kubangun selama bertahun-tahun runtuh tak berbekas. Air mata haru dan kerinduan pecah dari pelupuk mataku. Tanpa ragu sedikit pun, aku memajukan tubuhku dan merangkul lehernya erat-erat, membenamkan wajahku di ceruk lehernya yang hangat.
"Lo bodoh, Varro! Lo bener-bener cowok paling bodoh yang pernah gue temui!" tangisku pecah di dadanya. "Kenapa lo harus berlutut buat manusia jahat kayak dia?! Kenapa lo biarin mereka mukulin lo tanpa membalas?!"
Varro tertegun sejenak menerima pelukan hangatku. Perlahan, lengan kekarnya melingkar erat di pinggangku, mendekap tubuhku rapat-rapat ke dadanya. Pria itu menyandarkan dagunya di bahuku, menghembuskan napas lega yang amat panjang.
"Gue gak peduli badan gue hancur, Gisel..." bisik Varro pelan di dekat telingaku. "Selama lo selamat... selama lo ada di dalam pelukan gue... semua rasa sakit ini gak ada artinya."
Aku memejamkan mata rapat-rapt, meresapi aroma parfum bercampur bau darah dari kemeja hitamnya. Aku mendongakkan kepala, menatap lurus tepat ke dalam mata cokelat gelapnya yang penuh ketulusan.
"Varro... dengerin gue," ucapku dengan suara gemetar namun mantap.
"Apa, Gisel cantik?" sahutnya tersenyum tipis.
"Gue suka sama lo..." akuku tulus, air mata mengalir membasahi pipiku. "Gue beneran udah jatuh cinta sama lo, Varro Aldrian Wijaya. Jadi tolong... jangan pernah mempertaruhkan nyawa lo demi gue kayak gini lagi!"
Varro terpaku membisu mendengarkan pengakuanku. Matanya membelalak kaget, sebelum akhirnya seulas senyum paling bahagia dan menawan terukir lebar di bibirnya.
"Gisel... lo... lo beneran-"
Kalimat Varro mendadak terhenti kaku.
Raut bahagia di wajah tampannya seketika memudar, berganti menjadi warna pucat pasi yang mengerikan. Tubuh tegapnya yang tadinya mendekapku hangat mendadak melemas berat dan bertumpu penuh pada bahuku!
"Varro?! Varro, lo kenapa?!" seruku panik setengah mati.
Saat aku meraba bagian belakang pinggangnya untuk menahan tubuhnya, telapak tanganku menyentuh sesuatu yang amat basah dan hangat. Ketika kutarik tanganku kembali... seluruh telapak tanganku telah terbalut oleh darah segar yang mengucur deras dari sebuah luka tusukan pisau di abdomen bawahnya!
Salah satu anak buah Raka rupanya sempat menyerang dan menusuk lambungnya secara licik saat Varro sedang berlutut tadi!
"VARRO!" jeritku histeris memecah malam saat tubuh sang ketua Starlit perlahan rubuh dan memejamkan matanya di dalam pangkuanku.
Bersambung……