Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Klik.
La Bonna De Luca menahan napas dalam kegelapan yang pekat. Ia memasrahkan seluruh jalannya takdir pada detik-detik saat baja dingin itu bersiap melepaskan timah panas. Lucifer sudah mengencangkan genggamannya, siap menarik pelatuk pistol tepat di tengah keningnya.
Namun, sebelum jari Lucifer benar-benar menekan pelatuk senjata api itu, pintu kayu tebal di ujung ruangan mendadak terhempas terbuka dengan keras!
BRAK!
Bonna refleks membuka matanya kembali. Rasa dingin yang membekukan darahnya sesaat terhenti oleh derap langkah cepat yang panik.
Dalam pandangannya yang samar berhias buramnya air mata, seorang wanita berambut panjang menerobos masuk. Wanita itu tidak memedulikan genangan darah atau dua mayat yang membusuk di lantai. Tanpa ragu, wanita itu berlari kencang menghampiri kursi kayu tempat Bonna terikat, lalu seketika merengkuh tubuh Bonna dalam sebuah pelukan yang amat erat.
Siapa?
Siapa wanita ini?
Kenapa wanita ini menangis dan memeluknya seolah-olah ia adalah separuh nyawanya yang hilang?
Tubuh Bonna menegang kaku di dalam dekapan yang amat hangat namun asing itu. Isak tangis wanita itu terdengar begitu pecah dan memilukan, menyapu keheningan ruangan yang baru saja diselimuti aroma kematian.
Hingga tiba-tiba, suara wanita itu terucap di balik bising tangisnya yang sesak, berbisik tepat di celah leher Bonna:
"Kak... Electra..."
Jantung Bonna serasa berhenti berdenyut seketika. Nama itu—nama yang baru saja diucapkan oleh wanita ini—terdengar bagai hantu yang membayangi tempat terkutuk ini.
Lucifer, yang semula menodongkan pistolnya dengan stabil untuk mengeksekusi Bonna, perlahan menurunkan senjatanya.
Wajah kerasnya mengeras oleh rasa terkejut dan jengkel yang membayang. Tanpa membuang waktu, Lucifer maju beberapa langkah dan mencengkeram bahu wanita itu, menariknya lepas secara paksa dari pelukan Bonna.
"Apa yang kau lakukan di sini, Alena?!" teriak Lucifer dengan nada bentakan rendah yang ditahan, matanya menatap tajam wanita di depannya.
Gadis bernama Alena itu menyapu air matanya yang terus meleleh membasahi pipi. Tangannya bergetar hebat saat mencoba menepis cengkeraman Lucifer.
"Aku dengar dari Kak Nolan..." bisik Alena dengan nada memohon yang teramat sangat. Ia menatap Lucifer dengan mata sembabnya. "Tolong, Lucifer... aku mohon padamu, tolong jangan bunuh dia! Aku tidak mau kehilangan Kak Electra untuk yang kedua kalinya!"
Dengan cepat Lucifer menggelengkan kepalanya tegas, suaranya naik satu oktav mengimbangi histeria Alena. "Tapi dia bukan Electra! Electra sudah tiada, Alena! Dia ini orang yang dikirim oleh Dorris kemari!"
Lucifer menunjuk wajah Bonna dengan moncong pistolnya. "Tujuan Dorris sejak awal bukan lagi soal mencari barang bukti, tapi dia ingin membuat Tuan Nolan goyah! Maka dari itu dia sengaja mengirimkan wanita ini! Kalau kita tidak membunuhnya sekarang, wanita ini bisa jadi ancaman dan bahaya besar untuk kita ke depannya!"
Tanpa rasa ragu, Lucifer kembali mengangkat senjatanya, mengarahkan moncong pistolnya tepat ke kepala Bonna, bersiap melubangi tengkorak gadis itu detik itu juga.
Namun, sebelum pelatuk itu bergerak, Alena dengan nekat melemparkan tubuhnya ke depan, berdiri pasang badan tepat menghalangi pandangan Lucifer dan senjata apinya.
"Kalau kau mau membunuhnya, kau harus bunuh aku lebih dulu!" teriak Alena lantang. Suaranya bergema penuh keputusasaan di dinding-dinding ruangan yang redup.
"Alena!" Lucifer menggeram kasar, napasnya memburu. "Perintah dari Tuan Nolan adalah mutlak! Tuan Nolan menyuruhku membunuhnya, maka wanita ini harus mati!"
Alena kembali berteriak hebat, matanya menatap Lucifer tanpa gentar sedikit pun. "Tidak! Dia tidak boleh mati! Aku tidak akan membiarkanmu mencabut nyawanya!"
Lucifer merutuk dalam hati, menggerakkan giginya hingga rahangnya menegang. "Alena, jangan membuat hal ini menjadi rumit! Kau tahu betul aku tidak bisa melanggar perintah Tuan Nolan!"
Sadar bahwa gertakan dan kata-kata tidak akan menghentikan Alena, Lucifer akhirnya mengulurkan tangannya yang bebas dan mendorong bahu wanita itu secara kasar.
Brak!
Alena tersungkur ke samping, terlempar ke dekat mayat Nyonya Elizabeth yang berdarah. Sekali lagi, Lucifer membetulkan posisi berdirinya, melangkah maju dan mengarahkan peluru kematian itu ke kening La Bonna De Luca. Jarinya kini benar-benar sudah menempel rapat pada pelatuk pistol.
Dan sekali lagi pula... eksekusi itu diganggu oleh kedatangan orang lain.
CEKLEK.
Seorang pengawal berpakaian serba hitam melangkah masuk dari pintu luar dengan terburu-buru, menginterupsi detik-detik paling krusial dalam hidup Bonna.
"Lucifer," panggil pengawal itu cepat. "Tuan Nolan memanggilmu. Kau diminta menemuinya sekarang juga." Pengawal itu kemudian mengalihkan pandangannya pada gadis yang masih duduk di lantai. "Dan Nona Alena... kau juga diminta untuk segera menemui Tuan Nolan."
Lucifer melirik tajam ke arah Alena. Gadis itu menghela napas lega yang amat dalam, mengusap pipinya yang basah karena air mata yang tak henti mengalir. Alena bangkit berdiri dengan tubuh agak gemetar, menatap Bonna sejenak dengan pandangan sarat makna, sebelum akhirnya melangkah keluar ruangan lebih dulu.
Lucifer menyarungkan kembali pistolnya di balik pinggang jasnya. Ia melangkah mengikuti jejak Alena, namun langkah kakinya mendadak berhenti tepat di ambang pintu.
Pria itu memutar badannya sedikit, melirik ke arah Bonna yang masih terikat tak berdaya di atas kursi.
Lucifer menatap Bonna dengan raut wajah dingin, lalu bersuara pelan, "Berdoalah... semoga Tuan Nolan mencabut perintahnya untuk membunuhmu."
Klak.
Lucifer kemudian menarik pintu kayu tebal itu dan menutupnya hingga rapat, meninggalkan La Bonna De Luca sendirian di dalam kegelapan ruangan yang sunyi mematikan—hanya berteman dengan dua mayat yang membeku di sisi kiri dan kanannya, serta bau amis darah kental yang menguasai udara.
Sepeninggalan mereka semua, ketahanan mental Bonna runtuh sepenuhnya.
Senyap yang melingkupi ruangan itu terasa memekakkan telinga. Tubuhnya yang dari tadi kaku mendadak lemas di atas ikatan tali yang menyiksa. Dan di dalam kesendirian yang mencekam itu... air mata Bonna tiba-tiba menetes secara alami.
Satu tetes, dua tetes, mengalir menelusuri pipinya, membasahi sisa-sisa cipratan darah kering milik bodyguard yang menempel di kulit wajahnya.
Bonna menangis tanpa suara. Dadanya naik-turun menahan isakan parau yang enggan keluar.
Ia menangisi nasibnya yang seperti lelucon. Ia menangisi fakta bahwa dirinya hanyalah bidak catur murahan yang dilempar Dorris ke dalam kandang singa hanya untuk dibantai.
Dan yang paling menyakitkan dari segalanya... ia kini terikat di tempat ini, bernapas di antara mayat-mayat, hanya karena wajahnya menyerupai hantu dari masa lalu seorang Pria paling mematikan di kota ini.
Di tengah kesunyian malam Texas yang makin larut, Bonna memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air matanya terus mengalir membasahi sisa-sisa riasannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di ruangan pribadi milik Nolan yang bernuansa serba gelap dan dingin, ketegangan lain tengah membuncah.
Lantai marmer yang mengilap memantulkan cahaya redup dari lampu gantung kristal di atas meja kerja mahoni. Di sana, Alena sedang memohon dengan raut wajah yang hancur oleh kesedihan.
"Kak Nolan... kumohon jangan bunuh wanita itu," bisik Alena, suaranya terputus-putus oleh isakan.
Nolan duduk di kursi kulitnya yang megah. Wajahnya yang tegas tak menunjukkan emosi sedikit pun saat menatap gadis di depannya.
"Kenapa kau ingin wanita itu tetap hidup? Apa karena wajahnya mirip dengan Electra?" tanya Nolan seraya memandang dingin ke arah adiknya yang tengah berlutut pasrah di hadapannya.
Wanita bernama Alena itu kembali berkata, mendongakkan kepalanya dengan mata yang basah oleh air mata, "Aku rindu Kak Electra... aku rindu sahabatku."
Nolan mengembuskan napas pendek, sebuah ketegangan tipis melintas di rahangnya. "Tapi dia bukan Electra. Electra sudah mati, Alena. Kau melihat sendiri kejadian itu saat Electra mati di tanganku."
Nolan mengalihkan pandangannya dari Alena menuju jemari tangannya sendiri yang sedang menggenggam gelas minuman berisikan wiski beraroma pekat dengan sedikit es batu di dalamnya.
Nolan menggerakkan tangannya pelan, menggoyangkan gelas kristal tersebut sembari memperhatikan pecahan es batu di dalam cairan keemasan itu bergerak berputar menyentuh dinding kaca, sesuai dengan irama gerakan tangannya.
Suara denting es batu yang beradu dengan gelas terdengar begitu nyaring di tengah sunyinya ruangan.
"Electra telah mati... dan kau tidak bisa menggunakan wanita itu sebagai pengganti Electra. Karena hal itulah yang justru Dorris inginkan saat menaruh orangnya di antara kita," ucap Nolan dengan nada suara yang begitu dalam, dingin, dan penuh perhitungan.
Nolan menaikkan gelasnya ke bibir, meneguk habis isi wiski tersebut hingga rasa hangat minuman keras itu membakar tenggorokannya. Ia meletakkan gelas kosong itu kembali ke atas meja kayu dengan ketukan yang tajam.
"Kembalilah ke kamarmu, Alena," perintah Nolan tegas, mengibaskan tangannya tanpa mau berdebat lebih lanjut.
Namun, Alena tidak bergerak sedikit pun dari posisinya yang berlutut di lantai. Ia justru menggelengkan kepalanya keras-keras. Air mata Alena kembali menetes membasahi pipinya yang pucat, mengalir jatuh menetes ke atas marmer.
"Kalau Kakak membunuh wanita itu... maka aku akan bunuh diri."
semoga la bonna gk jadi kabur🤔