Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.
Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.
Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 WARISAN YANG LEBIH BESAR
Lin Mo melangkah keluar dari aula utama Sekte Cahaya meninggalkan segala keributan dan kepahitan yang baru saja terjadi di dalam sana. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut menyapu wajahnya, membawa segarnya udara di atas puncak gunung tempat sekte itu berdiri. Cahaya matahari siang yang terang benderang menyinari jalan setapak di hadapannya, namun Lin Mo tak berjalan menuju kediamannya yang dulu. Ia berjalan lurus menuju gerbang keluar sekte. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa urusan di dalam sekte ini belum sepenuhnya selesai, namun ia juga menyadari bahwa kekuatan yang kini mengalir di dalam tubuhnya jauh melampaui batas pemahaman siapa pun di sini. Ia harus pergi. Ia harus memahami warisan Naga Abadi yang baru saja diterimanya sebelum ia mampu menempuh jalan yang jauh lebih panjang dan berbahaya.
Saat melangkah melewati halaman sekte, banyak murid yang melihat kepergiannya. Mereka semua menatapnya dengan pandangan yang penuh rasa hormat dan kekaguman yang mendalam. Tidak ada lagi tatapan merendahkan atau penghinaan yang dulu sering mereka berikan. Semua orang kini telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kebenaran yang tak terbantahkan. Pemuda yang mereka anggap lemah dan telah binasa itu ternyata memiliki kekuatan yang jauh melampaui imajinasi siapa pun. Namun Lin Mo tak menoleh sedikit pun. Ia terus berjalan lurus ke depan dengan langkah yang tenang dan mantap, seakan tatapan ratusan mata itu tak mampu menyentuh hatinya sedikit pun.
Sesampainya di luar gerbang sekte, Lin Mo melanjutkan perjalanannya menuju hutan belantara yang membentang luas di kaki gunung. Di sanalah binatang buas yang ia temui di Lembah Kematian menunggunya sesuai perintah yang sempat ia ucapkan. Benar saja, tak lama setelah ia memasuki batas hutan, bayangan besar berwarna kelabu tua itu muncul dari balik rimbunan pepohonan dan melangkah mendekat dengan penuh rasa hormat. Binatang itu merendahkan punggungnya seakan mengundang Lin Mo untuk menaiki punggungnya kembali. Lin Mo mengangguk perlahan lalu melangkah naik dan duduk tenang di atas punggung binatang itu.
"Bawalah aku ke tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian," ucap Lin Mo pelan. "Aku butuh waktu untuk memahami kekuatan yang kini mengalir di dalam tubuhku."
Binatang itu seakan mengerti maksud ucapannya. Ia mengangguk perlahan lalu melesat membawa Lin Mo menembus hutan lebat dengan kecepatan luar biasa. Angin berhembus kencang menerpa tubuh mereka, namun Lin Mo tetap duduk tenang di atas punggung binatang itu sambil memejamkan matanya sebagian, membiarkan kesadarannya menyatu dengan aliran energi yang terus berputar di dalam dadanya.
Selama perjalanan itu, Lin Mo mulai menyadari banyak hal yang sebelumnya tak ia pahami. Kekuatan yang diwarisinya itu bukanlah sekadar energi tambahan yang membuatnya menjadi lebih kuat. Kekuatan itu mengubah hakikat keberadaannya secara menyeluruh. Daging dan tulangnya kini terus diperbaiki dan diperkuat tanpa henti oleh energi murni yang terus mengalir dari udara ke dalam tubuhnya. Panca inderanya terus meningkat tajam, membawanya ke tingkat pemahaman yang jauh lebih tinggi dari makhluk biasa. Dan yang paling penting, di dalam kesadarannya kini sering muncul potongan-potongan kenangan dan pengetahuan kuno yang bukan miliknya. Pengetahuan tentang cara mengolah energi, tentang rahasia langit dan bumi, serta tentang jalan kultivasi yang jauh lebih tinggi dan sempurna dibandingkan apa pun yang diajarkan di Sekte Cahaya.
Suara berat dan bergema yang sempat terdengar di Lembah Kematian itu kini kembali terdengar pelan di dalam benaknya, seakan membimbingnya langkah demi langkah.
"Anak manusia... Darah Naga yang mengalir di nadimu baru saja terbangun... Yang kau miliki saat ini hanyalah secercah kekuatan yang sesungguhnya... Jangan terbuai oleh kemenangan kecil yang baru saja kau raih... Karena di luar sana masih ada kekuatan yang jauh lebih dahsyat dan makhluk yang jauh lebih kuat menantimu... Bangkitlah perlahan... Tempa hatimu sekuat baja... Hanya dengan begitu kau akan mampu menanggung beban warisan ini..."
Kata-kata itu terus bergaung di dalam benak Lin Mo sepanjang perjalanan. Ia mulai menyadari bahwa pengkhianatan yang dialaminya di Sekte Cahaya hanyalah ujian kecil di awal perjalanan panjangnya. Warisan Naga Abadi yang diterimanya pasti memiliki alasan yang jauh lebih besar dan tujuan yang jauh lebih tinggi. Namun apa tujuan itu, Lin Mo belum mengetahuinya. Ia hanya tahu bahwa jalannya tidak akan mudah dan bahaya yang menantinya kelak pasti jauh lebih mengerikan dari apa pun yang pernah ia lihat atau alami.
Tak lama kemudian, binatang buas itu berhenti di sebuah lembah tersembunyi yang dikelilingi oleh tebing-tebing tinggi dan air terjun yang mengalir jernih ke dalam danau biru yang tenang. Tempat itu sunyi dan damai, jauh dari jejak manusia dan gangguan apa pun. Lin Mo melompat turun dari punggung binatang itu dan melangkah mendekati tepi danau yang airnya jernih bagaikan kaca bening. Ia menatap bayangannya sendiri di permukaan air yang tenang. Wajahnya masih sama, namun ada sesuatu yang telah berubah secara mendasar. Cahaya keemasan samar sesekali melintas di bawah pelupuk matanya, dan aura yang memancar dari tubuhnya kini begitu tenang namun begitu dalam, seakan tak ada yang mampu mengukur kedalamannya.
"Aku harus memahami kekuatan ini secepat mungkin..." gumam Lin Mo pelan kepada dirinya sendiri. "Aku tahu bahwa kekuatan yang kuterima ini baru permulaan. Namun aku harus menguasainya terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh. Aku tidak boleh membiarkan kekuatan ini mengendalikanku. Aku yang harus mengendalikannya."
Lin Mo pun duduk bersila di atas batu datar di tepi danau. Ia menutup kedua matanya perlahan, menarik napas panjang dan membiarkan kesadarannya menyatu dengan alam di sekelilingnya. Mengikuti petunjuk samar yang muncul di dalam benaknya, Lin Mo mulai menggerakkan energi murni yang mengalir di dalam tubuhnya mengikuti jalur-jalur tertentu yang bukan berasal dari ajaran Sekte Cahaya. Jalur itu jauh lebih luas, jauh lebih panjang, dan jauh lebih dahsyat dibandingkan apa pun yang pernah dipelajarinya. Energi keemasan itu berputar perlahan mengikuti jalur baru tersebut, menyapu bersih segala kotoran dan kelemahan yang masih tersisa di dalam tubuhnya, sekaligus membangun fondasi kekuatan yang jauh lebih kokoh dan kuat dari sebelumnya.
Hari berganti malam. Malam berganti pagi. Lin Mo tetap duduk diam di sana tanpa bergerak sedikit pun. Tubuhnya perlahan diselimuti oleh selubung cahaya keemasan yang semakin lama semakin terang benderang. Energi dari sekelilingnya terus mengalir masuk ke dalam tubuhnya tanpa henti, membuat fondasi kekuatannya semakin dalam dan semakin kuat. Di dalam kesadarannya, pengetahuan kuno terus mengalir masuk bagaikan air sungai yang tak pernah kering. Ia mulai memahami asal-usul Naga Abadi yang mewarisi kekuatannya. Ia mulai memahami bahwa darah yang mengalir di nadinya bukanlah darah biasa. Itu adalah darah keturunan dari Naga Agung yang pernah menguasai langit dan bumi ribuan tahun yang lalu. Dan keturunan itu telah bersembunyi di dunia manusia selama berabad-abad, menunggu saat yang tepat untuk terbangun kembali.
Namun seiring dengan pemahaman itu, muncul pula satu hal yang membuat hati Lin Mo sedikit berdebar. Dari pengetahuan kuno yang diterimanya, Lin Mo mengetahui bahwa kekuatan Naga Abadi yang terbangun kembali pasti akan menarik perhatian kekuatan-kekuatan besar lainnya di dunia. Ada pihak-pihak yang sejak dulu mencari keturunan Darah Naga untuk keperluan mereka sendiri. Dan saat mereka menyadari bahwa seseorang telah mewarisi kekuatan itu, mereka pasti akan datang. Entah untuk menjadikannya pengikut, atau untuk merampas kekuatan itu secara paksa.
"Jadi... bahaya yang sesungguhnya baru saja akan datang..." ucap Lin Mo pelan membuka matanya perlahan. Cahaya keemasan di tubuhnya perlahan meredup kembali menyembunyi di dalam aliran darahnya. Ia merasakan tubuhnya kini jauh lebih ringan, jauh lebih kuat, dan jauh lebih bertenaga dibandingkan sebelumnya. Namun hatinya justru semakin tenang dan tak tergoyahkan. Karena ia tahu, semakin besar bahaya yang datang, semakin kuat pula tekad yang harus dimilikinya untuk melindungi apa yang menjadi miliknya dan menegakkan keadilan di dunia yang penuh kejahatan ini.
Lin Mo berdiri perlahan dari tempat duduknya. Ia menatap ke arah puncak tebing yang menjulang tinggi menembus awan putih yang berarak lembut. Di dalam hatinya, ia kini memiliki tekad yang jauh lebih besar daripada sekadar membalas dendam kepada dua orang pengkhianat di Sekte Cahaya. Ia harus tumbuh menjadi seseorang yang jauh lebih kuat. Ia harus melindungi rahasia Darah Naga yang mengalir di nadinya. Dan kelak, saat kekuatan itu tumbuh sempurna, ia harus menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang masih tersembunyi dalam bayang-bayang masa lalu yang jauh.
Binatang buas yang menunggunya di samping pun melangkah mendekat dan menatapnya dengan tatapan setia. Lin Mo menoleh dan menatap binatang itu dengan senyum tipis yang penuh rasa hormat.
"Terima kasih telah menungguku," ucap Lin Mo pelan. "Namun perjalanan yang kutempuh ke depannya mungkin akan semakin berbahaya. Kau boleh memilih untuk tetap tinggal di lembah yang damai ini, atau ikut bersamaku menempuh jalan yang penuh bahaya."
Binatang itu seakan mengerti maksud ucapannya. Ia menggelengkan kepala besarnya perlahan lalu menundukkan kepalanya ke arah kaki Lin Mo seakan menyatakan kesetiaan sepenuhnya dan tak akan pergi ke mana pun. Lin Mo tersenyum tipis melihat kesetiaan binatang itu. Ia menepuk kepala binatang itu pelan dengan penuh rasa hormat.
"Baiklah... Jika begitu... Maka mari kita berangkat..." ucap Lin Mo perlahan menatap ke arah jalan jauh yang terbentang luas di hadapannya. "Dunia ini ternyata jauh lebih luas dan jauh lebih berbahaya daripada yang kuketahui selama ini. Maka mari kita lihat... seberapa jauh langkah kaki ini mampu melangkah membawa nama Darah Naga yang telah bangkit kembali."
Lin Mo melangkah meninggalkan tepi danau yang tenang itu bersama binatang buas setianya. Cahaya matahari pagi yang terang benderang menyinari punggung mereka yang menjauh perlahan menembus hutan lebat. Namun di tempat yang jauh tak terlihat oleh mata, di sebuah puncak gunung yang tertutup kabut abadi, sesosok bayangan tua berdiri diam menatap ke arah lembah tempat Lin Mo berada tadi. Mata tua itu memancarkan cahaya tajam yang penuh keheranan sekaligus keinginan yang kuat.
"Cahaya Darah Naga... Akhirnya muncul kembali..." gumam suara tua itu terdengar berat dan penuh makna yang tak terduga. "Kali ini... tak akan kubiarkan kau hilang dari pandanganku lagi..."
Bayangan itu perlahan menghilang kembali ke dalam kabut tebal seakan tak pernah ada di sana. Namun di lembah yang damai itu, jejak langkah Lin Mo baru saja meninggalkan tanda bahwa perjalanan besar yang akan mengguncang seluruh dunia telah dimulai. Dan tak ada satu pun yang mampu memprediksi ke mana jalan itu akan membawanya dan seberapa jauh ia akan melanggar.