Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?
Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.
Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Pukul empat lima puluh pagi. Garis fajar belum sepenuhnya mengikis kepekatan langit pusat kota. Hujan gerimis yang turun sejak tengah malam meninggalkan hawa dingin yang menusuk tulang di seluruh penjuru penthouse.
Suara kunci diputar dari luar terdengar nyaring di koridor servis. Pintu kayu kamar penyimpanan linen terdorong kaku, membiarkan pendar cahaya kuning lorong menyilaukan mata Sienna yang sembap.
Arleen berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bersedekap di dada. Seragam biru gelapnya rapi tanpa kerutan, dan raut wajahnya sedingin es.
"Bangun," perintah Arleen ketus. "Tuan Nicolas tidak suka menunggu. Peralatan pembersih sudah disiapkan di teras balkon bawah."
Sienna berusaha menggerakkan tubuhnya. Persendiannya terasa kaku dan berat, seolah dipaku ke lantai beton. Lututnya yang terluka akibat pecahan porselen kemarin telah mengering, melengket kaku pada kain seragam abu-abunya yang robek. Setiap kali ia mencoba meregangkan kaki, rasa perih menyengat merayap hingga ke pinggang.
Dengan sisa tenaga yang ada, Sienna bertumpu pada dinding, perlahan menepis rasa pusing yang berputar di kepalanya, lalu berdiri tegak.
"Saya... saya mengerti, Bi," bisik Sienna serak. Tanggorokannya terasa seperti tergores amplas karena tak tersentuh air sejak kemarin.
"Cepat," gertak Arleen tanpa sedikit pun belas kasihan. "Jangan berpura-pura sakit di depanku. Aku tahu trik orang-orang sepertimu."
Sienna menyeret langkah kakinya keluar dari ruangan sempit itu. Di koridor, James berdiri tegak dengan wajah kaku bagaikan patung. Pengawal bertubuh tinggi besar itu hanya melirik Sienna sepintas, memastikan gadis itu berjalan menuju tangga servis bawah tanpa mencoba melarikan diri.
Teras balkon bawah penthouse adalah area semi-terbuka yang berhadapan langsung dengan pemandangan kota dari lantai empat puluh. Angin kencang bertiup kencang pagi itu, membawa titik-titik air hujan yang menusuk kulit.
Di atas lantai marmer teras balkon, telah tersedia dua ember besar berisi air es bercampur pembersih kaca beraroma menyengat, beberapa helai kain lap tebal, dan tongkat pembersih bertangkai panjang.
"Seluruh dinding kaca teras ini harus bersih mengkilap sebelum pukul tujuh," ujar Arleen seraya menunjuk deretan dinding kaca setinggi empat meter yang membatasi teras dari jurang tinggi di luar. "Tuan Nicolas akan memeriksa sendiri kebersihannya sebelum berangkat ke kantor pusat."
Sienna menatap ember air es itu dengan jari-jemarinya yang terbalut perban kusam. "Baik, Bi..."
Tanpa menunggu balasan Arleen, Sienna berlutut di atas marmer dingin. Ia mencelupkan kain lap ke dalam ember. Air dingin bagai membekukan jemarinya seketika, membakar luka-luka goresan di telapak tangannya hingga Sienna harus menggigit bibir bawahnya rapat-rapat agar tidak menjerit.
Arleen berdiri beberapa meter di belakangnya, mengawasi setiap gerakan Sienna dengan tatapan dingin yang tak tergerak.
Pukul enam lewat tiga puluh menit.
Nico melangkah ke luar dari lift pribadi di lantai utama. Pria itu sudah mengenakan kemeja hitam yang dibalut jas kasmir kelabu gelap. Rambutnya tersisir rapi ke belakang, memancarkan aura dominasi kaku yang amat dominan.
Matteo melangkah di sampingnya, menyerahkan sebuah tablet digital berisi jadwal pertemuan hari ini.
"Tuan Nicolas, rapat dengan dewan komisaris dimajukan menjadi pukul delapan pagi atas permintaan Tuan Besar Sebastian," lapor Matteo kaku. "Nyonya Claudia juga mengonfirmasi akan hadir mendampingi Tuan Besar."
Nico menghentikan langkahnya sejenak. Rahangnya mengeras hearing nama ibu tirinya.
"Apakah Ayah cukup sehat untuk menghadiri rapat?" tanya Nico dingin.
"Dokter pribadi Tuan Besar menyatakan kondisinya cukup stabil pagi ini, Tuan. Namun Nyonya Claudia menegaskan bahwa kehadiran Tuan Besar sangat penting untuk meredakan ketegangan pemegang saham terkait akuisisi anak perusahaan," jawab Matteo teliti.
Nico mendengus sinis. Ia paham betul permainan Claudia. Wanita itu sengaja menyeret ayahnya yang sedang sakit-sakitan ke ruang rapat demi memanfaatkan pengaruh nama besar Sebastian Vance untuk menekan posisi Nico di hadapan para komisaris.
"Siapkan dokumen tandingan," perintah Nico tegas. "Jangan biarkan Liam atau Claudia menyentuh berkas laporan keuangan internal."
"Baik, Tuan."
Nico memutar arah langkahnya menuju teras luar, berniat memastikan hukuman yang dijatuhkannya pada Sienna dilaksanakan tanpa celah.
Di teras balkon bawah, angin kencang berembus keras.
Sienna berdiri di atas tangga lipat besi setinggi satu setengah meter, berusaha menjangkau bagian atas kaca teras. Tubuhnya bergetar hebat. Gaun seragamnya basah kuyup oleh cipratan air es dan angin malam yang tersisa. Wajahnya yang pucat pasi kini dihiasi rona merah akibat demam tinggi yang kembali membakar tubuhnya.
Pandangannya mulai kabur. Garis-garis gedung tinggi di balik kaca tampak berbayang dan berputar. Rusuk kirinya berdenyut amat nyeri setiap kali tangannya diangkat tinggi-tinggi.
"Sedikit lagi..." bisik Sienna pada dirinya sendiri, mencoba menahan kesadarannya yang kian menipis. "Sedikit lagi..."
Dari ambang pintu teras balkon, Nico melangkah masuk. Langkah kakinya yang berat bergaung di atas marmer basah. Arleen yang berdiri menjaga di sudut teras segera menundukkan kepala rapat-rapat.
"Tuan Nicolas," sapa Arleen santun.
Nico tidak menjawab. Matanya yang berwarna kelabu memaku lurus pada sosok Sienna yang berdiri gemetaran di atas tangga besi.
Nico melihat bagaimana jemari Sienna yang terbalut perban kotor mencengkeram erat pinggiran tangga, dan bagaimana tubuh kurus itu bersusah payah menggerakkan kain lap basah di atas kaca. Tidak ada sedikit pun rasa kasihan di dada Nico. Sebaliknya, melihat Sienna yang masih sanggup bertahan justru makin menyulut amarah kaku di dalam jiwanya.
Bagi Nico, penderitaan gadis ini belum sebanding dengan kehancuran hidup yang harus ditanggungnya selama belasan tahun.
"Kau terlalu lambat, Sienna," suara Nico bergema dingin, memotong deru angin teras.
Sienna tersentak kaget mendengarkan suara Nico yang mendadak. Guncangan itu membuat pijakan kakinya yang licin di atas anak tangga besi tergelincir!
"Aah...!"
Sienna kehilangan keseimbangan. Tangga besi itu bergoyang keras dan roboh ke samping. Tubuh Sienna terlempar jatuh ke belakang, menghantam lantai marmer keras dengan benturan yang menyayat hati.
BRAK!
Ember berisi air es dan cairan kimia di dekat tangga terguling, menyiramkan seluruh air dingin berkandungan detergen pekat itu ke tubuh Sienna yang tergeletak di lantai.
Kesunyian mencekat mendadak melingkupi teras balkon.
Sienna terbaring telentang di atas marmer basah, memegangi dadanya yang terengah-engah. Darah segar kembali merembes dari luka di lutut dan kakinya, bercampur dengan air detergen yang membasahi seluruh pakaiannya. Isakan kesakitan yang tertahan keluar dari celah bibirnya yang membiru.
Arleen berpura-pura terkejut, memegang dadanya seraya melangkah mundur. "Astaga... Nona Sienna!"
Nico berdiri membisu beberapa langkah dari tempat Sienna jatuh. Wajahnya membeku bagaikan ukiran batu. Sepasang mata kelabunya menatap Sienna dari atas tanpa ada getaran emosi sedikit pun, dingin, lepas, dan penuh penegakan kekuasaan.
Nico melangkah mendekat, berhenti tepat di samping tubuh Sienna yang gemetar di atas lantai basah.
Sienna mencoba mendongakkan kepalanya yang terasa seberat timah. Pandangannya yang buram menatap sepatu kulit hitam Nico yang mengkilap di dekat wajahnya.
"T-Tuan Vance..." desis Sienna dengan sisa suaranya yang serak dan pecah. "S-saya... sudah memoles kacanya."
Nico menunduk sedikit, menatap mata cokelat Sienna yang digenangi air mata penderitaan.
"Kau pikir dengan menjatuhkan dirimu sendiri kau bisa mendapatkan kebebasan dari kewajibanmu?" desis Nico kaku, suaranya pelan namun menusuk hingga ke tulang. "Bangun."
"Saya tidak sanggup berdiri Tuan," tangis Sienna pelan, air matanya menyatu dengan air hujan di pipinya. "Tubuh saya sangat sakit."
Nico memicingkan matanya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menolak memberikan uluran tangan atau sedikit pun kompromi.
"Jika kau tidak sanggup berdiri, merangkaklah," perintah Nico tanpa belas kasihan. "Selesaikan bagian bawah kaca itu dengan tanganmu sendiri sebelum aku melangkah keluar dari penthouse ini."
Arleen yang mengawasi dari belakang menyunggingkan senyum tipis yang tersembunyi rapat di balik raut wajah prihatinnya.
Sienna menatap Nico dengan pandangan hancur secara total. Di dalam sepasang mata kelabu pria itu, tidak ada manusia, yang ada hanyalah seorang algojo yang menikmati setiap detik kehancuran jiwanya.
Dengan sisa harga diri dan kekuatannya yang terkuras habis, Sienna membalikkan tubuhnya yang basah kuyup. Ia menekan kedua telapak tangannya yang terluka ke atas lantai marmer dingin yang tergenang air detergen, lalu mulai menyeret tubuhnya perlahan menuju dinding kaca.
Darah merah tipis tertinggal di atas marmer basah setiap kali lutut Sienna bergeser. Rasa terbakar akibat detergen menyengat luka-lukanya tanpa ampun, namun Sienna terus menyeret dirinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
Nico berdiri menyaksikan adegan itu dengan rahang yang mengeras kaku.
Ada kilatan asing yang melintas amat cepat di dalam dada Nico saat melihat kegetiran pasrah yang terpancar dari tubuh Sienna, sebuah keheningan yang amat menakutkan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Namun dengan cepat, Nico menekan perasaan itu dalam-dalam, menggantinya dengan benteng kebencian yang makin kokoh.
Nico memalingkan wajahnya secara kaku.
"Arleen," panggil Nico dingin.
"Ya, Tuan Nicolas?" jawab Arleen terburu-buru.
"Pastikan dia tidak menyentuh makanan atau air hangat sampai seluruh teras ini kering dan bersih," perintah Nico kaku. "Matteo, siapkan mobil sekarang. Kita ke kantor pusat."
"Baik, Tuan Nicolas!"
Nico memutar tubuhnya dan melangkah lebar meninggalkan teras balkon tanpa sekali pun menoleh kembali ke arah Sienna yang masih merangkak di atas lantai basah.
Di dalam mobil sedan mewah Roll-Royce yang melaju membelah jalanan kota yang basah, atmosfer di dalam kabin terasa sangat mencekat.
Nico duduk di kursi belakang, menatap ke luar jendela pada deretan gedung tinggi yang tersapu hujan. Tangannya mengepal keras di atas pangkuannya, memperlihatkan buku-buku jarinya yang memutih.
Matteo yang mengemudikan kendaraan melirik dari kaca spion tengah dengan raut wajah ragu-ragu.
"Tuan Nicolas..." panggil Matteo pelan.
"Bicara," sahut Nico tanpa mengalihkan pandangannya.
Matteo menelan ludah. "Dokter Leo baru saja mengirimkan laporan medis harian melalui pesan singkat. Beliau memperingatkan bahwa jika Nona Sienna terus dipaksa melakukan pekerjaan fisik berat dalam kondisi demam dan luka infeksi yang belum sembuh... ada risiko besar dia mengalami sepsis atau gagal organ."
Nico tidak langsung menjawab. Keheningan panjang menyelimuti kabin mobil selama beberapa menit.
"Leo dibayar untuk mengobati, bukan untuk mengatur bagaimana cara aku memperlakukan tawanan di rumahku sendiri," desis Nico dingin, suaranya datar dan tak tersentuh. "Katakan padanya untuk menyuntikkan vitamin atau antibiotik tambahan jika perempuan itu pingsan lagi. Dia tidak boleh mati sebelum aku mengizinkannya."
Matteo mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Baik, Tuan Nicolas. Saya mengerti."
Nico memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kulit yang empuk. Namun di balik kegelapan kelopak matanya, bayangan Sienna yang merangkak berdarah-darah di atas marmer basah terbayang begitu jelas, sesebuah bayangan yang mulai menancapkan akarnya secara perlahan di dalam kegelapan jiwa sang penguasa Vance.
Sementara itu, di sebuah kediaman mewah bergaya klasik di kawasan elit, Claudia Ophelia duduk di sofa beludru merah seraya menyesap teh herbal hangat.
Liam Vance berdiri di dekat jendela besar, mengamati taman belakang yang asri seraya memutar-mutar gelas anggur di tangannya.
Pintu ruangan terbuka pelan, dan seorang pria berjas hitam melangkah masuk, menyerahkan sebuah ponsel genggam khusus kepada Claudia.
Claudia menerima ponsel itu, menempelkannya ke telinga seraya menyunggingkan senyum anggun yang mematikan.
"Bagaimana perkembangannya, Arleen?" tanya Claudia dengan suara halus namun penuh racun.
Suara Arleen terdengar dari seberang telepon, berbisik pelan dari sudut koridor servis penthouse. "Semuanya berjalan sesuai rencana, Nyonya Claudia. Nicolas makin membenci gadis Sinclair itu setelah insiden porselen kemarin. Pagi ini Nicolas bahkan membiarkannya tersiksa di teras bawah tanpa sedikit pun rasa kasihan."
Claudia tertawa pelan, sebuah tawa elegan yang dingin. "Bagus sekali. Pastikan situasi ini terus memanas. Usahakan agar perhatian Nicolas sepenuhnya tertuju pada penyiksaan gadis itu, sehingga dia tidak punya waktu untuk memeriksa celah pengalihan aset di anak perusahaan logistik."
"Saya mengerti, Nyonya. Saya akan terus mencari kesempatan untuk memfitnah gadis itu lebih jauh," jawab Arleen patuh.
"Kerja bagus, Arleen. Bonusmu sudah ditransfer ke rekening rahasiamu," ujar Claudia dingin sebelum memutus sambungan telepon secara sepihak.
Claudia meletakkan ponselnya di atas meja kaca, lalu menoleh ke arah Liam dengan tatapan mata yang penuh ambisi kejam.
"Nicolas terlalu sibuk bermain-main dengan dendam pribadinya," gumam Claudia penuh kemenangan. "Dia tidak sadar bahwa sementara dia sibuk menginjak-injak anak pembunuh itu, tanah di bawah kakinya sedang kita gali sampai runtuh."
Liam menyunggingkan senyum sinis seraya mengangkat gelas anggurnya ke arah sang ibu. "Untuk kemenangan Vance Group yang sebenarnya, Ibu."
Claudia tersenyum anggun, menyesap tehnya kembali, sementara di balik dinding-dinding penthouse yang megah, racun konspirasi dan rantai penyiksaan terus menjerat Sienna dalam kegelapan kian pekat tanpa batas.
...Bersambung......