Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Pengorbanan Siska
Langkah kaki Siska terasa seberat cadas saat ia mendekati meja VIP utama. Setiap jengkal jarak yang terpotong membuat dadanya terhimpit sesak, seolah-olah oksigen di dalam ballroom mewah itu telah habis menguap. Di atas nampan perak yang ia genggam dengan jemari gemetar, gelas porselen berisi whisky bercampur cairan racun tidur itu berkilau dingin di bawah sorotan lampu kristal raksasa.
Di meja itu, Rendy tampak begitu mengagumkan. Ia sedang terlibat diskusi hangat dengan dua investor senior asal Singapura, didampingi Clara Vaneisha yang sesekali melemparkan senyum anggun dan argumen bisnis yang cerdas. Aura kekuasaan dan keberhasilan memancar begitu murni dari diri Rendy—sosok pimpinan tertinggi Adhitama Group yang kini berada di puncak kejayaannya.
Siska menelan ludah yang terasa pahit dan membakar tenggorokannya. Dari sudut matanya, jauh di balik pilar marmer yang remang-remang, ia bisa merasakan sepasang mata liar sedang mengawasinya tanpa berkedip. Danang berdiri di sana dengan raut wajah gila, menanti momen kehancuran Rendy yang sudah ia rancang dengan begitu kejam.
"Permisi, Tuan Adhitama... minuman Anda," bisik Siska dengan suara yang hampir tak terdengar, berusaha keras menutupi getaran hebat di bibirnya.
Rendy menghentikan pembicaraannya sejenak. Ia berpaling, menatap Siska dengan pandangan datar dan dingin. Tanpa curiga sedikit pun, Rendy mengangguk pelan lalu mengulurkan tangan kokohnya untuk meraih gelas whisky tersebut dari atas nampan.
Jemari Rendy mulai menyentuh kaca dingin gelas itu. Ia mengangkatnya perlahan menuju bibirnya, siap menyesap cairan bernoda kejahatan itu saat mendengarkan ucapan salah satu investornya.
Tidakkah kamu ingat betapa tulusnya dia mencintaimu dulu, Siska? Apakah kamu benar-benar tega menghancurkan hidupnya untuk kedua kalinya demi seorang iblis seperti Danang?
Jeritan batin itu menghantam kesadaran Siska bagaikan petir di siang bolong.
Bayangan kebaikan Rendy di masa lalu, penderitaan pria itu saat ibunya wafat, dan kenyataan bahwa Danang hanya memanfaatkanku, mendadak berputar cepat di kepala Siska. Tidak. Aku memang wanita yang penuh dosa dan kesombongan, tetapi aku tidak akan berubah menjadi seorang kriminal pembunuh masa depan pria yang pernah begitu berarti dalam hidupnya.
Tepat saat bibir gelas hampir menyentuh garis bibir Rendy—
PRANG!
Siska secara sengaja menyenggolkan tubuhnya dan menabrak sudut meja kayu jati itu dengan amat keras. Nampan perak di tangannya sengaja ia balikkan, menghantam tangan Rendy hingga gelas whisky itu terlepas dan jatuh membentur tepi meja sebelum akhirnya pecah berkeping-keping di lantai marmer.
Cairan amber bercampur obat dosis tinggi itu membuncah dahsyat, menyiram seluruh bagian depan gaun pelayan yang dikenakan Siska. Noda pekat membasahi kainnya, sementara pecahan kaca tajam mencakar lutut dan jemarinya hingga darah segar mulai merembes keluar, bercampur dengan cairan minuman yang beracun tersebut.
Sontak, seluruh meja VIP heboh. Para investor terkejut dan langsung berdiri, sementara Clara menjerit pelan seraya menarik gaun mewahnya agar tidak terkena cipratan.
"Apa-apaan kamu ini, Siska?!" bentak Clara dengan suara melengking penuh rasa jijik dan amarah yang meluap.
"Dasar asisten tidak berguna! Membawa minuman saja kamu tidak becus! Lihat kekacauan yang kamu buat di depan para klien penting!"
Siska berlutut di atas lantai yang basah dan penuh pecahan kaca. Tubuhnya menggigil hebat, bukan hanya karena rasa perih dari luka robek di lututnya, melainkan karena kelelahan emosional yang amat sangat. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahi hampir menyentuh marmer yang dingin, biarkan air mata penyesalan dan keputusasaan menetes deras membasahi pecahan kaca di bawahnya.
"M-Maafkan saya... Maafkan saya, Tuan Adhitama..." bisik Siska terisak-isak, suaranya pecah dan rapuh.
"Saya sungguh bodoh... Saya sungguh tidak sengaja..."
Rendy berdiri kaku dari kursinya. Ia menatap cairan whisky yang tergenang di lantai, lalu beralih menatap Siska yang bersimbah air mata dan darah di bawah kakinya. Ada sesuatu yang janggal dari reaksi panik Siska yang berlebihan, namun mata tajam Rendy menangkap kebenaran terselubung:
Siska sengaja menggagalkan usahanya sendiri untuk meminum cairan itu.
"Cukup, Clara," ujar Rendy pelan namun bernada dingin yang memotong omelan Clara seketika.
Rendy memanggil petugas keamanan dengan isyarat tangan.
"Bawa dia ke ruang medis belakang dan bersihkan tempat ini."
Siska dibantu berdiri oleh dua petugas wanita dengan tubuh yang terus gemetar. Namun, tepat sebelum ia diseret keluar dari ballroom yang megah itu, pandangan mata Siska yang kabur oleh air mata secara tak sengaja bertatapan dengan sosok di balik pilar marmer.
Danang berdiri di sana, dikelilingi oleh bayang-bayang kegelapan malam. Wajah pria itu kini merah padam oleh amarah yang tak tertahankan. Rahangnya mengeras kaku, dan matanya melotot tajam memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.
Danang mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih—sebuah janji maut bahwa kegagalan rencana ini akan dibayar mahal oleh Siska dengan nyawanya sendiri.