Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
"Kamu menyindirku?" Tanya Marchel dengan nada mengancam. Tirta hanya tersenyum tipis. Saat merasa dirinya sudah lebih tenang, ia menoleh ke arah pria itu. Sebuah ide jahil tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Kamu merasa begitu?" Balasnya sambil berusaha menyembunyikan senyum usilnya. Marchel hanya diam dengan wajah masam. Sejujurnya, ia sudah merasa cukup dirugikan hari ini. Demi menemui gadis itu, dirinya rela keluar rumah. Bahkan tanpa sadar ia mulai meninggalkan kebiasaannya yang selalu mengurung diri di dalam kamar.
Belum lagi... Kewibawaan yang selama ini ia bangun perlahan mulai runtuh setiap kali berada di dekat Tirta.
"Kamu marah?" Tirta melambaikan tangannya pelan.
"Kemarilah, aku mau bicara sebentar."
"Kamu saja yang ke sini. Aku mau masuk." Sahut Marchel sambil berpura-pura memundurkan kursi rodanya.
"Ayolah, Tuan Muda yang terhormat..."
"Kemarilah sebentar..." Suara Tirta terdengar begitu membujuk. Melihat tingkah gadis itu, Marchel hampir saja tersenyum.
Entah kenapa... Semua tingkah Tirta selalu berhasil membuatnya gemas.
"Ck! Merepotkan." Gerutunya akhirnya. Meski begitu, kursi roda itu tetap bergerak mendekati Tirta. Begitu pula Tirta yang berjalan pelan sambil membawa selang di tangannya. Kini keduanya berdiri beberapa langkah saja.
"Ada apa?" Tanya Marchel datar. Tirta tersenyum penuh arti.
Lalu...
Byur!
"Ahahaha!" Tawanya langsung pecah ketika semburan air mengenai seluruh tubuh Marchel. Pria itu refleks mengangkat tangan menutupi wajahnya, tetapi tubuhnya yang berada di kursi roda membuatnya tidak sempat menghindar.
Dari pintu belakang rumah depan, ternyata Arga dan ibunya diam-diam memperhatikan. Mereka datang karena mendengar tawa Tirta yang begitu lepas. Marchel perlahan menurunkan tangannya. Tatapan tajam langsung mengarah kepada Tirta. Benar-benar kekanak-kanakan.
"Tirta..." Panggilan itu terdengar jauh lebih menyeramkan daripada suara hantu di film horor. Seketika tawa Tirta terhenti. Gadis itu langsung menunduk. Wajahnya mulai pucat. Sepertinya... Ia benar-benar membuat Marchel marah.
"Kekanak-kanakan sekali."
"Kemari." Perintah Marchel terdengar datar. Namun justru itulah yang membuat Tirta semakin takut. Dengan langkah pelan, ia menghampiri pria itu sambil membawa selang. Tangannya bahkan mulai bergetar. Marchel mengulurkan tangannya.
"Berikan."
"Maaf..." Suara Tirta terdengar lirih. Ia benar-benar mengira dirinya sudah kelewatan. Marchel menerima selang itu. Tatapannya bergantian berpindah antara wajah Tirta dan selang yang kini berada di tangannya. Di kejauhan, Arga hanya bisa meringis. Ingin rasanya ia maju membantu. Namun kalau sampai dirinya ikut campur, bisa jadi justru ia yang akan menjadi sasaran kemarahan Marchel.
Lagipula...
Aneh memang. Kalau Tirta yang berbuat ulah, Marchel hampir selalu memakluminya. Sebaliknya, kalau Arga yang melakukan kesalahan sekecil apa pun... Sudah pasti hukuman menantinya.
Byur!
Kini giliran Marchel yang menyemprotkan air ke arah Tirta.
"Astaga!" Pekik gadis itu sambil memejamkan mata. Air langsung membasahi seluruh pakaiannya. Matanya membulat menatap Marchel.
"Kenapa?" Marchel menaikkan sebelah alisnya.
"Aku hanya membalas perbuatan kekanak-kanakanmu." Untuk pertama kalinya... Pria itu tersenyum begitu jelas. Senyuman yang berhasil membuat hati Tirta menghangat. Entah kenapa, senyum itu terasa begitu menenangkan.
Seolah tanpa mengucapkan apa pun, mata Marchel berkata... Percayalah. Aku akan selalu ada di sini. Tirta kembali tertawa. Ia berusaha merebut selang dari tangan Marchel. Mereka saling menyiram, saling berebut selang, dan tertawa layaknya dua anak kecil yang sedang bermain hujan.
Arga ikut terkekeh melihat tingkah mereka. Sementara ibunya... Wanita itu diam-diam mengusap air mata. Sudah delapan tahun.
Delapan tahun lamanya ia tidak pernah lagi melihat senyum setulus itu di wajah keponakannya.
...****************...
Satu jam kemudian... Permainan mereka akhirnya selesai. Pakaian keduanya sudah benar-benar basah. Tirta mendorong perlahan kursi roda Marchel menuju kamar.
"Kamu bisa mandi sendiri?" Tanyanya memastikan. Karena selama ini setahunya Arga selalu membantu pria itu.
"Kamu ingin memandikanku?" Balik Marchel santai. Tirta langsung memutar bola matanya malas. Tanpa menjawab, ia terus mendorong kursi roda itu.
"Aku panggil Kak Arga."
"Hmm." Marchel hanya bergumam pelan. Tak lama kemudian Arga datang dan menutup pintu kamar.
"Suruh seseorang membersihkan semua kekacauan di luar sebelum Tirta keluar dari kamarnya." Perintah Marchel tegas. Arga langsung mengangguk. Ia segera menghubungi para pelayan rumah depan agar membersihkan halaman rumah belakang.
Selama tinggal di sana, Tirta memang tidak pernah melihat rumah itu dalam keadaan berantakan. Setiap pagi sebelum mereka bangun, seluruh pelayan sudah lebih dulu membersihkan rumah. Tentu saja, kamar yang sedang ditempati tetap tidak pernah mereka masuki.
Bahkan Marchel sendiri sudah memberi peringatan. Tidak seorang pun boleh memasuki kamar Tirta tanpa izin. Sore harinya, Tirta memilih berdiam diri di kamarnya. Tadi ia sempat berniat membersihkan halaman yang mereka kotori.
Namun saat keluar, semuanya sudah kembali rapi seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kini gadis itu berbaring sambil menatap layar ponselnya. Senyumnya tak kunjung hilang. Foto kartu mahasiswanya masih terpampang di layar.
Ia bangga.
Semua pencapaian itu ia raih tanpa bergantung pada siapa pun. Beberapa saat kemudian, Tirta menghubungi Lala. Ia ingin memastikan keadaan sahabatnya. Kalau memang masih sedih, malam ini ia siap menemani lagi.
...****************...
Menjelang pukul tujuh malam... Tirta masih belum keluar dari kamarnya. Sementara itu, Marchel sedang duduk di ruangannya ketika Arga datang membawa berkas yang tadi ia minta. Seusai membantu Marchel mandi, pria itu memang langsung mendapat perintah untuk mencari semua informasi mengenai Tirta.
Rasa penasaran yang awalnya sederhana... Kini berubah menjadi keinginan untuk mengenal gadis itu lebih jauh. Terlebih setelah ia melihat Tirta menangis siang tadi.
"Berapa lama renovasi kontrakannya selesai?" Tanya Marchel tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas.
"Kalau sesuai jadwal, sekitar pertengahan bulan depan."
"Kami juga sudah mempercepat prosesnya." Jawab Arga. Ia mengira Marchel ingin Tirta segera meninggalkan rumah itu.
"Perintah siapa?" Marchel melirik tajam. Arga langsung tersenyum kecil.
"Saya mengerti." Tak lama kemudian ia mengambil ponselnya.
"Mulai sekarang proyeknya selesai dua sampai tiga bulan lagi." Perintah itu langsung ia sampaikan kepada kepala proyek. Kontrakan Tirta akan dikerjakan paling akhir. Marchel kembali membuka lembaran berikutnya. Tatapannya berhenti pada sebuah surat penerimaan mahasiswa.
"Dia menangis karena ini?" Gumamnya pelan. Arga mengangguk.
"Tirta Adira."
"Usia dua puluh satu tahun."
"Merantau sejak umur delapan belas tahun."
"Dia baru mendaftar kuliah setelah ulang tahunnya yang ke dua puluh satu."
"Menurutku, wajar kalau dia menangis."
"Itu impian yang akhirnya berhasil dia capai." Marchel terdiam cukup lama. Pandangannya masih terpaku pada berkas itu.
"Haruskah aku ikut campur?" Gumamnya pelan, lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri daripada kepada Arga.
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜