NovelToon NovelToon
Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:676
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi Buruk

Aku duduk di Aula istana, menghadap meja, ditengah ada Raja Yuko VIII dan Permaisuri Raja Yuko VII duduk di singgasana masing-masing.

Dihadapanku ada Swanzi yang berbeda,

Wanita yang kukenal sebelumnya dengan riasan serba hitam kini berubah menjadi gadis secantik Putri Raja dengan kulit putih pucatnya, wajahnya berseri dengan riasan.

Tapi riasan hanyalah tipu muslihat semata, aku masih tidak yakin dan mempercayai kalau Swanzi sudah benar-benar sembuh dari pengaruh kekuatan jahat.

Swanzi menatapku dengan senyum, aku membalas senyum namun dengan perasaan tidak percaya karena sering kali dia berulah di terhadapku yang tidak-tidak.

**

“Kenapa harus aku?” tanyaku dengan Raja Yuko di hadapanku.

“Karena kamu yang terpilih” kata Raja Yuko.

“Aku terpilih, karena aku mencuri tertatai, siapa tau ada wanita lain yang terpilih kemudian hari. Bukan aku orangnya” kataku.

“Perkataanmu cukup membuatku tertantang, bagaimana kalau tinggal sebentar lagi membuktikannya” kata Raja Yuko.

“Membuktikan apa?” tanyaku.

“Membuktikan kalau kau bukan yang terpilih” katanya.

“Sangat menarik” kataku.

“Menunggu lah sebentar, ada jamuan teh di Aula mungkin kau akan bertemu dengan Swanzi” katanya lagi.

Raja Yuko membuka Pintu kamarnya pengawal dan dayang berbaris, aku mengikutinya dari belakang.

**

“Kenapa kau menatap Swanzi begitu?” kata Putri Rena di sampingku.

“Tidak apa-apa” kataku.

“Setelah jamuan nanti ikut denganku ya..” Pinta Putri Rena.

Setelah selesai jamuan minum teh aku keluar Aula Istana, hari ini cerah, kami berjalan bersama.

Menuju Istana Selatan.

Aku lupa kalau Swanzi juga tinggal di Istana Selatan.

Swanzi mengikuti langkahku dan Putri Rena,

“Apakah kau yang terpilih” katanya tiba-tiba menengok ke sampingku seolah aku tidak pernah bertemu dengannya.

Aku menarik napas mungkinkah dia mendadak Amnesia.

“Aku Mayanza” kataku.

“Namamu artinya permulaan, bagus sekali” katanya tersenyum.

Kupandangi kedua tangannya sudah berubah, tangannya mulus, tidak ada bekas lepuhan, kukunya pun pendek kemerahan.

“Aku Swanzi, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyanya.

“Mungkin saja” jawabku.

Dia berhenti di kediaman Tabib Zhi, memberi hormat pada Putri Rena, lalu aku mengangguk melangkah mengikuti Putri Rena ke kediamannya.

Putri Rena masuk ke kediamannya, mengunci pintu.

Setengah berbisik, “Mayanza, apa menurutmu dia benar-benar sembuh” yang dia katakan adalah Swanzi, aku langsung mengerti.

“Entahlah, bukankah kalian bergaul lebih lama” kataku lalu duduk di depan meja.

“Kau tau aku dan Ibunda mencarimu, mereka pulang bersama Swanzi.

Aku mencarimu menanyakanmu dengan pengawal, mereka bilang kamu diculik oleh mahluk jahat” kata Putri Rena.

“Pengawal yang mana yang menceritakan padamu?” kataku

Melihat kanan kiri, “Akan kupanggil” katanya.

Putri Rena mengutus Dayang untuk memanggil pengawal yang bersama kami ke Makam Leluhur dan masuk ke Hutan.

“Untunglah kau selamat”, kata Putri Rena.

“Apakah selama ini pernah ada sesuatu yang buruk menimpa kerajaan” kataku.

“Tidak pernah terakhir kau memburu mahluk hitam di kediaman Swanzi” katanya.

“Hei… bagus sekali giok ini?” Putri Rena menyentuh liontin di pinggangku.

Menyentuh liontin bunga pemberian Karen.

Dari pasien pertama yang sembuh karena Teratai Emas.

“Dari seseorang” kataku.

“Apakah dari seseorang kekasih?” tanyanya.

Aku tertawa kecil karena lucu.

“Bukan…dari pasienku” kataku berkata jujur.

Putri Rena mengangguk-angguk.

Prajurit datang ke kediaman Putri Rena, tampak terkejut ada aku disitu.

Dia menceritakan kejadian yang terjadi setelah aku dibawa oleh kekuatan jahat.

Mereka di serang menebas ke segala arah, jumlah yang tersisa hanya 10 orang.

Raja Yuko kelelahan, mengeluarkan mantra.

Tiba-tiba datang dari balik hutan Swanzi yang membantu melumpuhkan bayangan hitam itu, mereka nampak, hanyalah mayat hidup biasa.

Akhirnya mahluk-mahluk hidup itu dapat dilumpuhkan.

Tiba-tiba Swanzi menjerit kesakitan, terjatuh di genangan air Aura Hitam yang merasukinya juga lenyap, hilang bersama kemusnahan mayat hidup yang berubah menjadi abu.

“Apakah kalian sempat mencariku” kataku.

“Awalnya panglima hendak mencari anda nona, tapi nyawa nona swanzi lebih dipertaruhkan” kami kembali ke istana.

“Sebenarnya tujuan kita kehutan untuk apa?” tanyaku.

“Dari yang hamba tau, kita pergi berperang mencari mahluk jahat untuk memusnahkannya”

Kata Prajurit.

“Dari mana kalian tau kalau mahluk itu disana?” aku mencecar dengan pertanyaan.

“Umm….” Prajurit bingung.

“Kakak Ipar, apa kau tidak tau, Raja Yuko mengetahui itu semua dari mimpi” kata Putri Rena menyentuh kakiku dengan tangannya.

“Oh….” Aku baru tau hal ini.

**

Aku merapalkan mantra dan meninggalkan Istana dari tempat yang tersembunyi di balik gerbang Selatan.

Kembali ke duniaku.

Gelang Giok kutitipkan Putri Rena, awalnya dia tidak ingin menyimpannya untukku, tapi karena aku meminta tolong akhirnya dia bersedia.

“Bi..aku pulang" kataku

Kutitipkan kuda dan pakaian pada Bibi Sarah.

Kembali ke rumah, sekeliling rumah banyak yang terbakar.

Kabut Asap pekat, bau asap, aku menggunakan masker keluar dari mobil.

Pohon pinus sekeliling rumah terbakar.

“Nona…” aku terkejut karena penjaga taman berpakaian serba putih muncul di balik kabut.

“Hah!” aku meraba dadaku, hampir saja aku mengeluarkan pisau dari tasku.

“Maafkan aku Nona, Nona terkejut” kata penjaga taman.

Aku terkekeh menunduk merasa lucu, dia sampai melepaskan maskernya agar aku mengenali.

“Iya aku terkejut, ada apa?” tanyaku.

“Nona Mayanza ikut aku, Rumah kaca hampir saja terbakar tadi pagi” katanya berbicara sambil berjalan.

Menunjukan samping Rumah kaca hampir terbakar,

“Untungnya Pemadam cepat datang” katanya lagi.

“Kami masuk ke Rumah Kaca, suhu ruangan sudah diatur, bunga-bunga ibu tetap cantik”

“Nona, apakah anda bisa kemari melihat ini?” panggil penjaga.

Aku memandang bunga mawar hitam di makam Imo tumbuh dengan lebat dan hanya berbunga satu, bunga itu semakin besar sebesar telapak tangan.

“Cantik sekali” aku mendekat.

“Aku sudah mengambil fotonya, kukirimkan ke Nyonya Besar” kata Penjaga.

Aku mengangguk.

“Istirahat saja dulu, kalian perlu istirahat dan jaga kesehatan” kataku lagi.

“Baik Nona…Apakah nona hari ini akan pergi berkerja lagi?” tanyanya memastikan keberadaanku.

“Sepertinya aku akan di rumah malam ini, laporkan saja semua kejadian kepadaku, jangan membuat Ayah dan Ibu khawatir. Kita bisa mengatasinya disini” kataku.

“Nanti aku akan minta pelayan mengantarkan vitamin untuk kalian yang berkerja disini”

Penjaga Kebun mengangguk.

**

Aku masuk ke kamarku, melemaskan badan menghidupkan air bath up.

Berendam, aku memutar-mutar jariku membentuk pusaran air kecil di dalam bath up.

Aku tertidur, kudengar ketukan pintu.

Aku keluar dengan piyama handuk.

Pelayan mengantarkan makan malam.

Kunikmati Makan Malamku di kamar.

Memandang langit merah kobaran api kebakaran hutan.

**

Aku kembali berkerja seperti biasanya, membaca hasil rekam medik pasienku lalu meminta Perawat menyimpan arsipnya.

“Tolong, ini” kataku menyerahkan map yang sudah kubaca pada perawat yang menunggu duduk di hadapanku.

“Dokter…” kata Perawat.

“Iya" jawabku.

"dokter Yuki yang bertugas di IGD itu tampan ya…” perkataannya mengundang tanya.

“Hmm…”kataku tersenyum ke arahnya.

“Dokter tau, kemarin waktu di seminar dia menyebut nama dokter Mayanza sebagai orang pertama yang dikenalnya di Rumah Sakit ini” katanya lagi.

“Hah??” kataku

“Aku tau pasti dokter tidak tau dan terkejut kan mendengar berita ini…” kata Perawat mulai mengajakku bergosip.

“Lalu dia bilang apa?” tanyaku tersipu-sipu sendiri.

“dokter..wajah dokter memerah” kata Perawat menggodaku.

Aku menepuk-nepuk pipiku sendiri.

“Dia bilang dokter Mayanza orang yang lucu, kami semua berpandangan karena kami tau dokter orangnya sadis” kata Perawat tertawa.

“Astaga….” Kataku menutup mulut, aku tidak marah mereka menyebutku sadis, karena mereka selalu bercanda padaku setelah operasi, istilah mereka sadis karena diantara wanita sepertiku yang berani memegang pisau bedah.

Minim seorang wanita menjadi dokter bedah, di rumah sakit ini ada 3 dokter bedah wanita sisanya laki-laki dari 10 dokter bedah yang dimiliki.

Aku juga orang yang jarang bergaul keluar, hanya dikalangan Perawat, ruang operasi dan pasien darurat.

Rekan satu tim di Rumah Sakit tau aku orang yang serius, padahal aku hanyalah manusia biasa yang lemah.

Perawat meninggalkanku sendiri di ruangan, aku teringat pertama kali bertemu dengan dokter Yuki di bandara mengambil minuman botolnya lalu membuntutinya sampai rumah sakit. Karena itulah mungkin dia pikir aku lucu.

**

𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜..

1
Tory Ambay Satu
Mantap👍👍
Tory Ambay Satu
👍👍
Tory Ambay Satu
Semakin seru ceritanya👍
Novita Tory: terima kasih, dukung dan baca juga ceritaku yang lainnya ya🤭
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Seru banget ya, Raja Yuko😍
Novita Tory: /Chuckle/🙏
total 1 replies
Novita Tory
🤭Aku memikirkan nasib ayam berwarna putih😅🥲
Tory Ambay Satu
Bagus banget alur ceritanya 👍
Novita Tory: Makasih...
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Mantapp banget ceritanya👍
Novita Tory: makasih😊selamat membaca..
baca juga karyaku yang lain ya...
total 1 replies
Novita Tory
Lanjut untuk episode selanjutnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!