NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Dari Timur

Pendekar Pedang Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ginza

Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.

Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.

Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.

Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 LU XIAN

Matahari belum sepenuhnya terbit di atas perbatasan timur, namun udara lembab Hutan Taring Hitam sudah dipenuhi desis besi yang memotong angin.

WUSH! WUSH!

Mu Jin berdiri tegak di tengah celah tebing batu, memegang pedang besi hitam dengan kedua tangannya. Kain kasa yang membungkus tangan kanannya kini telah ternoda bercak darah kental yang mengering. Rasa sakit dari pergelangan tangannya masih menusuk sampai ke tulang, namun ritme tebasannya tidak melambat.

Satu. Dua. Tiga ratus.

Dia tidak lagi melompat atau memutar tubuh secara asal. Di bawah bimbingan Lu Xian selama empat hari terakhir, Mu Jin belajar merendahkan pusat gravitasinya. Setiap kali pedang tebal itu diayunkan turun, dorongan utama berasal dari hentakan tumit dan putaran pinggulnya, bukan lagi paksaan dari otot bahu. Gerakannya masih terasa kaku dan tanpa tenaga dalam, namun tebasan kaku itu kini memiliki bobot yang teratur dan presisi.

“Tahan di titik terendah!” seru Lu Xian dari atas batu datar. Tangannya memegang pedang ganda, menatap Mu Jin dengan cermat. “Jika kau membiarkan senjatamu memantul setelah menghantam target, musuhmu akan menusuk matamu sebelum kau sempat menarik kembali pedangmu.”

Mu Jin menghentikan ayunannya tepat dua senti di atas tanah lumpur. Otot-otot lengannya gemetar hebat menahan beban besi kaku yang ingin jatuh. Keringat bercampur kotoran mengalir deras dari dahinya, menetes di atas bilah hitam yang membisu.

“Kenapa kau tidak berhenti?” tanya Lu Xian pelan. “Tanganmu bisa cacat permanen jika dipaksa terus.”

“Tangan ini hanya membelah kayu selama puluhan tahun,” jawab Mu Jin serak tanpa mengubah posisinya. “Jika dia tidak bisa menahan beban besi ini, untuk apa aku membawanya ke utara?”

Sebelum Lu Xian sempat membalas, gema benturan senjata yang nyaring memecah kesunyian hutan dari arah selatan. Suara jeritan manusia dan teriakan penuh dendam saling bertautan, memantul di antara tebing-tebing batu.

Lu Xian merendahkan tubuhnya secara refleks, mengisyaratkan Mu Jin untuk merayap menuju celah semak-semak liar di pinggir tebing.

Di lembah sempit di bawah mereka, dua kelompok pendekar sedang terlibat dalam pembantaian yang kacau. Di satu sisi, puluhan pria berpakaian seragam kain merah dengan lambang Bulan Sabit mengepung belasan pengembara dan anggota klan lokal yang terluka parah.

“Sekte Bulan Merah sedang membersihkan sisa-sisa klan kecil di timur,” bisik Lu Xian, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. “Mereka memanfaatkan runtuhnya Sekte Burung Hong untuk menguasai seluruh jalur perdagangan perbatasan.”

Di bawah sana, seorang tetua klan lokal bersimbah darah berlutut di hadapan pemimpin pasukan Sekte Bulan Merah. “Kalian... kalian bilang akan melindungi kami jika kami menyerahkan koin emas!”

Pemimpin Sekte Bulan Merah itu tertawa mengejek. Dia mengangkat pedang lengkungnya tanpa ragu, lalu memenggal kepala tetua itu dalam satu tebasan cepat. “Aturan di timur sudah berubah, Tua Bintrik. Puncak Awan Putih memberi kami wewenang penuh untuk meratakan siapa saja yang dicurigai membantu pemberontak!”

Jeritan tangis para wanita dan anak-anak dari klan lokal memenuhi udara lembah saat anggota Sekte Bulan Merah mulai membakar kereta-kereta barang.

Mu Jin menyaksikan pemandangan itu dari atas tebing. Wajahnya tetap kaku, namun genggamannya pada gagang pedang besi hitam mendadak mengencang. Pemandangan di bawah sana adalah cerminan sempurna dari malam ketika desanya diratakan dengan tanah tiga tahun lalu: orang-orang kuat yang membantai yang lemah hanya karena mereka memiliki wewenang dan kekuatan.

“Jangan bertindak bodoh, Mu Jin,” tegur Lu Xian pelan, menyadari perubahan aura di sampingnya. “Ada lebih dari tiga puluh pendekar di bawah sana. Tanpa qi, kau akan mati dalam lima hitungan.”

“Aku tahu,” balas Mu Jin datar.

Dia tidak melompat turun untuk menjadi pahlawan. Mu Jin sadar betul akan batas kemampuannya yang sangat dangkal. Namun, melihat kecekatan dan kekejaman para murid Sekte Bulan Merah membuat dadanya makin terbakar oleh realitas dingin Murim.

Mu Jin perlahan menarik pedangnya kembali, menyarungkannya ke dalam pelindung kayu di punggungnya.

“Lanjutkan latihannya,” kata Mu Jin sambil berbalik menuju bagian dalam gua, membelakangi suara pembantaian di lembah. “Aku belum cukup cepat untuk memotong leher mereka.”

Lu Xian menatap punggung Mu Jin dengan tatapan rumit. Di dunia di mana para pendekar bertarung demi kehormatan dan kekuasaan, tukang kayu ini melatih dirinya bukan untuk menjadi kuat, melainkan untuk menjadi benteng dingin yang sanggup bertahan hingga akhir pembantaian.

1
Ginza
bantu retting teman-teman
SilentNovels
saling support tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!