NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Suara transmisi suara dari Komandan Korporasi Aether yang sempat menggelegar memenuhi ruangan mendadak terpotong oleh letupan kecil dari panel sekring di sudut konsol Gavin. Dengan gerakan secepat kilat, Gavin menyambar kunci inggris kecil lalu menghantamkannya sekali ke sisi bodi monitor hingga layar tersebut mati total dan berdengung pelan.

"Beres!" seru Gavin dengan napas memburu, mengibaskan tangannya yang sedikit tersengat listrik statis. "Frekuensi sinyal pelacak mereka berhasil kita retas menggunakan modul enkripsi lapis kedua yang baru saja kupasang. Untuk sementara waktu, The Juggernaut kehilangan arah. Mereka sedang meraba-raba di lorong yang salah!"

Di kursi navigator, Soju menghembuskan napas lega yang panjang. Rambut kuning cerahnya bergoyang pelan seiring gerakan kepalanya yang menoleh ke belakang, mengamati layar monitor topografi Jalur Konduktor Lama yang kini menampilkan garis hijau bersih tanpa gangguan sinyal musuh.

"Kerja bagus, Hacker," puji Soju dengan senyuman lebar. Ia mengetuk beberapa tombol holografik, menstabilkan kecepatan laju kereta Vanguard yang kini meluncur mulus menyusuri rel tua tersembunyi di balik dinding basaltik yang membeku. "Jalur ini aman. Dinding batunya cukup tebal untuk meredam gelombang elektromagnetik apa pun dari permukaan atas. Kita punya waktu setidaknya beberapa jam sebelum mereka menyadari titik koordinat pantulan palsu kita."

Suasana di dalam kabin gerbong utama yang tadinya berada di ambang kepanikan militer kini perlahan-lahan mencair kembali. Suara deru mesin reaktor Vanguard bergemuruh dengan ritme yang teratur, menciptakan getaran halus yang menenangkan di bawah telapak kaki.

Seiring berjalannya waktu, dinamika unik di antara keempat orang awak kereta ini mulai terbentuk secara alami. Masing-masing dari mereka menempati peran dan karakteristik yang saling melengkapi, menciptakan sebuah ekosistem kelompok yang hidup di tengah dunia es yang mematikan.

Di sudut kiri kabin, Leo sibuk berkutat dengan tumpukan kabel fiber optik dan pelumas mesin. Pemuda berambut biru itu terus-menerus menggerutu sambil mengencangkan baut-baut penahan pada sistem suspensi roda lokomotif. Sesekali ia mendengus kesal ketika mendapati ada bagian pipa uap yang mengalami keausan akibat suhu ekstrem. Sifatnya yang cerewet, perfeksionis, dan hobi menceramahi siapa saja tentang pentingnya perawatan mesin menjadi bumbu harian yang menghidupkan suasana gerbong.

Di dekat meja server, Gavin duduk bersila di atas kursi putarnya, menatap layar monitor dengan tatapan analitis yang tajam. Jemarinya menari di atas keyboard virtual, menyaring data-data sampah dan memetakan pola cuaca bawah tanah agar kereta tidak terjebak dalam badai salju mendadak.

Sementara itu, Soju berdiri siaga di dekat jendela palka depan. Matanya yang jernih terus mengawasi setiap tikungan rel, memindai potensi jebakan mekanik peninggalan masa lalu dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi.

Dan di tengah-tengah mereka semua, duduklah sang kapten kapal—Ren.

Pemuda itu bersandar tenang di kursi operator utamanya. Wajahnya tetap datar, dingin, dan tanpa ekspresi, seolah-olah ancaman pembasmian dari Korporasi Aether yang baru saja terjadi beberapa menit lalu hanyalah angin lalu yang tidak penting. Namun, di balik ketenangannya yang luar biasa itu, sebuah gejolak maha dahsyat sedang melanda bagian paling esensial dari tubuh seorang manusia: perutnya.

Kruk... khrrrt...

Suara gemuruh pelan namun jelas terdengar keluar dari dalam perut Ren. Suara itu begitu kontras dengan keheningan teknis kabin, membuat Leo yang sedang memegang obeng seketika menghentikan gerakannya. Gavin bahkan menolehkan kepalanya perlahan dari layar monitor, sementara Soju mengerutkan kening keheranan.

Ren tidak bergeming. Ia hanya mengalihkan pandangannya dari jendela depan, merogoh saku mantel panjangnya, lalu meraba-raba ke dalam kantong kain khusus. Wajah datarnya mendadak sedikit menampakkan garis-garis kekecewaan yang tipis. Kantong itu kosong. Tidak ada lagi bungkus plastik vakum berisi kue sus beku yang tersisa. Cadangan makanan manis kesukaannya telah habis total dalam pertempuran melawan Ratu Laba-Laba sebelumnya.

Ren menarik tangannya keluar dari saku, lalu menatap lurus ke arah ketiga rekan setimnya dengan mata sayu yang memancarkan penderitaan batin tingkat tinggi.

"Aku lapar," ucap Ren dengan suara parau yang datar, namun sarat akan penderitaan eksistensial.

Leo mengedipkan matanya beberapa kali, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Pemuda berambut biru itu meletakkan obengnya di atas meja dengan bunyi klotak yang cukup keras.

"Kau bercanda, Kapten?" protes Leo dengan nada suara melengking tinggi, urat-urat di pelipisnya mulai menegang. "Kita baru saja lolos dari kejaran monster sub-tier, hampir mati tertimbun es, diteror oleh pasukan khusus Korporasi Aether, dan sekarang, di tengah pelarian genting ini... hal pertama yang keluar dari mulutmu adalah 'aku lapar'?!"

"Aku butuh kalori," jawab Ren singkat tanpa merasa bersalah sedikit pun, menatap Leo dengan tatapan polos nan mematikan. "Inti mesin di dadaku membakar energi lebih cepat dari perkiraan. Kalau aku tidak makan, sistem motorku akan ngadat."

Gavin mendengus keras, merosotkan punggungnya di sandaran kursi hingga hampir terjungkal ke belakang. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, menggeleng-gelengkan kepala karena frustrasi tingkat dewa. "Dunia sedang mengincar kepala kita, pangkalan militer sedang meluncurkan kereta lapis baja raksasa untuk menghancurkan kita, dan kapten kita... kapten kita mendadak rewel karena kelaparan seperti anak kecil yang kehilangan permennya."

Soju, yang baru saja menyaksikan interaksi absurd tersebut untuk pertama kalinya secara langsung, menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Ia berusaha menahan tawa yang hampir meledak dari tenggorokannya, namun bahunya bergetar hebat. Matanya menatap Ren dengan campuran rasa kagum dan tidak percaya.

"Tunggu dulu," interupsi Soju di sela-sela tawanya yang tertahan, melangkah mendekati meja tengah. "Apakah percakapan seperti ini adalah rutinitas normal di kereta kalian setiap hari?"

Leo menghela napas panjang, napas seorang pekerja kontrak yang merasa tertipu oleh brosur lowongan kerja. Ia menatap Soju dengan tatapan kosong penuh keputusasaan, lalu menunjuk ke arah Ren dengan ibu jarinya.

"Soju, dengar baik-baik," keluh Leo dengan nada dramatis, sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh sang kapten. "Aku bergabung dengan kereta ini karena aku pikir aku akan menjadi kepala teknisi dari sebuah misi revolusioner penjelajahan dunia baru. Tapi kenyataannya? Belum ada satu bulan aku bergabung, aku sudah ingin resign, memasukkan surat pengunduran diri, lalu kabur melompat ke jurang es!"

Gavin mengangkat tangan kanannya dari balik meja komputer, ikut menyumbang keluhan dengan suara lemas. "Kalau kau mau resign, Leo, ajak-ajak aku. Kalau tahu kapten kita modelnya begini—yang kerjanya cuma jalan-jalan, menatap kosong, hampir mati, lalu minta makan kue—dari dulu aku lebih baik memilih bergabung dengan divisi logistik Korporasi Aether saja. Setidaknya di sana jam makan siangnya teratur!"

"Aku bahkan ingin mengajukan mosi tak percaya dan mengganti kapten saja sekarang," celutuk Gavin lagi, mendengus kesal sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. "Mana ada kapten kapal perang legendaris yang galau karena kehabisan kue sus? Ini krisis kepemimpinan namanya!"

Soju tidak lagi mampu menahan tawanya. Tawa renyah yang cerah pecah memenuhi seluruh ruangan kabin Vanguard, mencairkan ketegangan sisa-sisa perang militer hingga lenyap tak bersisa. Ia menatap Ren yang tetap duduk dengan wajah lurus tanpa beban, membuat pemandangan itu terasa semakin konyol.

"Jadi, apa rencana muliamu sekarang, Kapten yang kelaparan?" tanya Soju di sela tawanya, mencondongkan tubuhnya ke depan meja kemudi, menatap Ren lekat-lekat. "Apakah kita harus menerobos markas musuh demi sepotong roti lapis?"

Ren terdiam sejenak. Ia merenung dalam-dalam, menatap langit-langit gerbong seolah sedang memikirkan strategi militer paling rumit di muka bumi. Alisnya yang lurus sedikit bertaut, menciptakan ekspresi serius yang membuat ketiga awak lainnya langsung terdiam, bersiap mendengarkan perintah taktis sang pemimpin.

Setelah beberapa detik penuh keheningan yang dramatis, Ren membuka mulutnya dengan suara rendah dan berwibawa:

"Baiklah, sudah kuputuskan," ujar Ren mantap. "Kita hentikan dulu misi pelarian ini. Kita harus mencari seorang chef atau juru masak terlebih dahulu, baru kita melanjutkan perjalanan ke Stasiun Nol."

Hening seketika.

Leo ternganga, rahangnya nyaris menyentuh lantai. Gavin mematung di kursi putarnya dengan mata melotot lebar di balik lensa kacamata tebalnya. Soju mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, tidak yakin apakah ia salah pendengaran atau memang kapten baru mereka ini sudah benar-benar kehilangan kewarasannya secara permanen.

"M-mencari... chef?" ucap Leo dengan suara bergetar pelan, menatap Ren seolah kaptennya itu baru saja berbicara menggunakan bahasa alien. "Di tengah buronan militer Korporasi Aether yang membawa meriam raksasa... kau mau mampir untuk merekrut tukang masak?!"

"Ya," jawab Ren tanpa ragu sedikit pun, mengangguk kecil dengan wajah sangat serius. "Aku butuh makanan yang layak dan segar. Perutku tidak bisa diajak kompromi."

Leo menepuk jidatnya dengan kedua tangan hingga menimbulkan suara plak yang cukup nyaring, lalu merosot jatuh terduduk di lantai gerbong dengan lemas. Gavin memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut pusing, merasa bahwa tekanan darahnya naik sepuluh kali lipat hari ini. Soju hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum lebar, merasa bahwa bergabung dengan kereta Vanguard adalah keputusan paling gila sekaligus paling menghibur yang pernah ia ambil dalam hidupnya.

Sebelum Leo sempat melayangkan protes lanjutan atau omelan panjang lebar mengenai prioritas hidup sang kapten, tiba-tiba seluruh sistem lampu darurat di dalam gerbong Vanguard kembali berkedip liar dengan intensitas cahaya kuning yang menyilaukan.

Bukan lagi sinyal militer jarak jauh. Kali ini, layar sensor getaran tanah di meja Gavin mendadak menjerit nyaring, menampilkan grafik gelombang kejut seismik yang melonjak naik secara eksponensial dari arah depan jalur rel terowongan yang sedang mereka lalui.

Bum! Bum! Bum!

Suara hantaman logam berat yang berirama konstan menggema dari balik dinding batu terowongan es di hadapan mereka, disertai getaran hebat yang membuat cangkir-cangkir kopi di meja bergeser sendiri dan jatuh pecah berkeping-keping ke lantai. Suara deru mesin pembakar bertekanan tinggi yang sangat bertenaga besar menderu memecah kesunyian lorong rahasia.

Soju membelalakkan matanya, melompat ke depan layar monitor navigasi utama, lalu membaca data sensor yang baru saja masuk dengan tangan gemetar.

"Tunggu... ini tidak mungkin!" pekik Soju, wajahnya mendadak pucat pasi. "Jalur konduktor ini tertutup! Tapi sensor mendeteksi sebuah massa besi raksasa sedang melaju kencang dari arah depan, memotong jalur kita secara langsung!"

Di atas layar monitor utama, bayangan hitam kolosal dengan roda gerigi raksasa berputar mengerikan muncul memenuhi layar—sebuah kereta lapis baja pemecah es milik Korporasi Aether yang ternyata telah membaca jalur pelarian mereka sejak awal: The Juggernaut telah menghadang jalan mereka tepat di ujung terowongan buntu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!