Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.
Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.
Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 Sebuah Jebakan
Pandangan Lian Yue bergerak ke arah penduduk yang masih berdiri mengelilingi mereka. "Kita tidak seharusnya membicarakannya di tempat terbuka."
Kepala desa langsung memahami maksudnya. Ia mengusir penduduk dengan alasan pekerjaan pagi.
Satu demi satu orang mulai meninggalkan tempat itu. Namun sebelum pergi, beberapa masih sempat menoleh kepada Lian Yue.
Rasa ingin tahu terlihat jelas di mata mereka.
Lian Yue tidak memperdulikannya.
Pikirannya hanya tertuju pada lambang yang masih berada di tangan pria tersebut.
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Ikut dengan saya."
"Ke mana?"
"Ke tempat seseorang sedang menunggu Anda."
"Siapa?"
"Saya tidak boleh mengatakannya."
Lian Yue menatapnya lama. "Kau selalu tidak boleh mengatakan apa pun."
Pria itu tidak tersinggung. "Saya hanya menjalankan perintah."
"Dan jika saya menolak?"
"Anda bebas menolak."
Jawaban itu membuat Lian Yue sedikit terkejut. "Anda tidak akan memaksa?"
"Tidak."
"Kenapa?"
Pria itu menatapnya. "Karena orang yang mengirim saya mengatakan satu hal."
Lian Yue menunggu. "Katanya, jika Xian Yue menolak, jangan paksa dia."
"Kenapa?"
Pria itu memasukkan kembali lambang tersebut ke dalam kotak kayu. "Lalu katakan kepadanya..." Ia berhenti sejenak. "...bahwa keluarga Xian belum berakhir."
Dunia Lian Yue seakan berhenti. Angin pagi yang tadi berembus lembut terasa menghilang. Suara burung. Suara penduduk. Suara kayu terbakar dari rumah-rumah. Semuanya seperti menjauh. Yang tersisa hanya satu kalimat.
Keluarga Xian belum berakhir.
Lian Yue menundukkan kepala. Tangannya gemetar. Bukan karena takut, setidaknya bukan sepenuhnya. Ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada rasa takut.
Harapan.
Dan Lian Yue membenci harapan.
Karena dalam kehidupan sebelumnya, harapan adalah sesuatu yang membuatnya terus bertahan sampai akhir.
Harapan bahwa ayahnya masih hidup.
Harapan bahwa kakaknya akan kembali.
Harapan bahwa keluarganya masih bisa diselamatkan.
Namun satu demi satu, semuanya mati.
Ia sudah menerima kenyataan itu.
Sudah belajar hidup tanpa keluarga.
Sudah membangun kehidupan baru di desa ini.
Lian Yue mengangkat wajah. "Siapa yang mengirimmu?"
Pria itu menatapnya beberapa saat. Kemudian berkata pelan. "Saya hanya boleh memberitahukan namanya jika Anda bersedia datang."
Lian Yue terdiam. Ia tahu jebakan ketika melihatnya. Tetapi ini bukan sekadar jebakan biasa. Jika seseorang benar-benar mengetahui bahwa ia masih hidup, maka kemungkinan besar keberadaannya juga telah diketahui oleh pihak lain.
Dan jika itu benar, maka desa ini tidak lagi aman. Lian Yue memandang rumah sederhana di belakangnya. Tempat yang selama beberapa waktu terakhir memberinya kehidupan yang tenang. Tempat yang membuatnya hampir lupa bahwa dunia di luar sana masih penuh dengan permainan kekuasaan.
Ia mengepalkan tangan. Dalam kehidupan sebelumnya, setiap keputusan yang dibuatnya selalu terlambat.
Kali ini berbeda.
Ia sudah tahu bagaimana rasanya kehilangan.
Ia tidak akan membiarkan orang lain mengambil sesuatu darinya tanpa perlawanan.
"Baik."
Pria itu sedikit mengangkat alis.
"Saya akan ikut."
"Apakah Anda tidak ingin bertanya lebih banyak?
Lian Yue menggeleng. "Tidak ada gunanya."
Ia mengambil mantel tipis dari kursi di dekat pintu. "Saya akan mendapatkan jawabannya sendiri."
Pria itu mengangguk. Namun sebelum Lian Yue melangkah pergi, ia berhenti. "Dan satu hal."
"Ya?"
Lian Yue menatap tajam. "Jangan pernah membawa lambang itu keluar sebelum kita sampai di tujuan."
Pria itu terdiam. "Kenapa?"
Lian Yue memandang lambang keluarga Xian yang sudah disimpan kembali ke dalam kotak.
"Karena jika seseorang benar-benar sedang mencari keluarga Xian..."
Ia menarik napas perlahan. "...maka bukan hanya keluarga Xian yang akan melihat lambang itu."
Matanya menjadi dingin. "Mungkin musuh mereka juga sedang menunggu untuk melihatnya."
Pria itu tidak menjawab. Untuk pertama kalinya sejak kedatangannya, ekspresi tenang di wajahnya berubah.
Ada sedikit keterkejutan. Seolah-olah ia baru menyadari bahwa wanita yang datang untuk ditemuinya bukanlah seseorang yang bisa dibawa pergi begitu saja.
Lian Yue melangkah melewatinya.
Namun baru beberapa langkah, ia berhenti.
Tatapannya jatuh ke jalan desa yang membentang jauh ke depan. Ada sesuatu yang mengganggunya.
"Siapa yang berusaha melenyapkan keluarga Xian." batin Lian Yue. "Karena sekarang aku yang menempati tubuh ini, akan ku balaskan dendam jika itu memang sebuah dendam. Dan akan ku balas budi, jika itu memang sebuah hutang budi..."
semangaat thor
atau mungkin masih terpendam😌😌🤔🤔
di otak saya🤣🤣
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
dgn diatas
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
mungkin terlalu tua 💪💪
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
bisa mendengar BHS binatang