NovelToon NovelToon
Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.

Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.

"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."

"Saya siap."

"Aku ingin kau menghamili istriku."

“….”

Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.

Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Hanya Alat Untuk Dimanfaatkan

Disisi lain, Reval juga berkata dalam hatinya, “Lihatlah, keyakinan diwajahnya itu? Dia pasti benar-benar mengira bahwa anak yang dikandung Jenara saat ini adalah benih milikku yang akan mewarisi kekuasaanku di masa depan. Aku jadi penasaran bagaimana ekspresinya jika dia mengetahui kebenaran tentang anak itu.”

Lain halnya dengan Dhana, “Mereka benar-benar memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk mengambil keuntungan masing-masing. Jenara dan anak yang bahkan belum terbentuk sempurna itu benar-benar dimanfaatkan tanpa sisa sedikitpun.”

...****************...

Sementara pada siang yang sama, wanita yang menjadi bidak catur utama dalam permainan mereka harus menahan penderitaannya seorang diri. Di Mansion tempat tinggal Jenara terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Di lantai dua, Jenara terbaring lemah di atas ranjang. Tirai kamar sengaja dibuka sedikit agar cahaya matahari masuk, tetapi bahkan sinar hangat itu tak mampu mengusir pucat dari wajahnya.

Semangkuk sup yang diletakkan di meja samping ranjang masih utuh. Jenara menatapnya dengan tatapan kosong. Sejak pagi, ia sudah mencoba makan beberapa suap. Namun baru aroma makanan menyentuh hidungnya, rasa mual langsung naik ke tenggorokan. Tubuhnya semakin lemah karena hampir tidak ada makanan yang bisa ia pertahankan.

Tangannya perlahan berpindah ke perutnya. "Maaf..." bisiknya lirih. "Sepertinya kita cuma punya satu sama lain."

Bayi di dalam kandungannya seolah bergerak kecil yang berhasil membuat Jenara tersenyum tipis. Meskipun matanya mulai berkaca-kaca. Ia selalu bertahan menjadi wanita yang sangat kuat semenjak menikah dengan Reval. Namun, sejak kehamilannya ia seolah menumpahkan segala rasa sakit yang ia kubur dalam-dalam selama ini.

Reval, suaminya, bahkan tidak datang melihat keadaannya pagi itu. Pria itu sedang sibuk mengurus urusan klan. Dan Dhana... Pria yang menjadi ayah biologis dari bayi dalam kandungannya justru menghabiskan sebagian besar waktunya menjalankan peran yang jauh lebih besar dari yang Jenara ketahui.

Setelah berjam-jam berbaring, Jenara akhirnya memutuskan turun ke taman. Ia hanya ingin menghirup udara segar. Langkahnya pelan. Satu tangan berpegangan pada pagar batu, sementara tangan lainnya melindungi perutnya.

Baru beberapa menit duduk di bangku taman, suara sepatu hak terdengar mendekat. Jenara mengangkat kepala. Dimana Vara, kekasih Reval berhenti tepat di hadapannya, memandang Jenara dari ujung kepala sampai kaki dengan senyum sinis.

"Jadi kau masih hidup di sini?"

Jenara menghela napas. "Ada perlu apa?"

Vara terkekeh. "Aku cuma penasaran. Bukankah aneh melihat istri seorang ketua klan cuma bisa berbaring dan mengeluh sakit?"

Jenara memilih diam, ia sedang tidak memiliki tenaga untuk menanggapi omong kosong wanita itu. Berdebat dengan Vara, sama saja merusak moodnya yang tersisa dan ia tidak ingin menambah rasa pusing di kepalanya.

"Kalau aku jadi Reval," lanjut Vara, "aku pasti sudah membuangmu jauh-jauh dari hidupku."

Jari Jenara mencengkeram ujung gaunnya. "Vara, aku sedang tidak ingin bertengkar."

"Memangnya aku sedang bertengkar?" Vara mendekat. "Aku hanya mengatakan kenyataan."

Tatapannya kemudian turun ke perut Jenara. "Atau mungkin kau sengaja menggunakan kehamilan ini supaya Reval terus merasa kasihan kepadamu?"

Wajah Jenara seketika memucat. "Itu bukan—"

"Semua orang di rumah ini tahu Reval tidak mencintaimu." Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang Jenara duga. Vara tersenyum puas. "Dan lucunya, bahkan ketika kau mengandung anak yang katanya sangat berharga itu, Reval tetap lebih memilih bersamaku."

Jenara menundukkan kepala. Napasnya mulai tidak teratur. Jantungnya berdebar. Rasa mual yang sejak tadi ia tahan kembali menyerang, kali ini jauh lebih hebat.

Vara masih terus berbicara. "Kau tahu apa yang paling menyedihkan?" Jenara memilih tidak menjawab, tapi Vara malah terus melanjutkan, "Anak itu bahkan belum lahir, tapi sudah harus hidup dengan ibu yang lemah seperti dirimu."

Jenara spontan menutupi perutnya dengan kedua tangan. "Jangan bicara tentang anakku."

Untuk pertama kalinya suaranya terdengar tegas. Namun tubuhnya justru semakin goyah. Jika biasanya Jenara bahkan tidak segan untuk menampar wajah tak tahu malu selingkuhan suaminya itu, tapi saat ini tubuhnya benar-benar sedang tidak baik-baik saja.

Vara mengangkat alis. "Apa? Aku salah?"

Jenara sudah tidak tahan, ia mencoba berdiri. Tetapi pandangannya mendadak berkunang-kunang. Tangannya mencari pegangan, tapi tidak menemukannya. Dan seketika itu juga tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Bruk!

Jenara jatuh terduduk di rerumputan. Wajahnya benar-benar kehilangan warna. Vara terdiam sesaat. Bukan karena khawatir, melainkan karena baru menyadari bahwa keadaan Jenara jauh lebih buruk daripada yang ia kira.

Jenara memegangi perutnya sambil menarik napas pendek-pendek. "Bayiku..."

“Sial, jika terjadi sesuatu pada bayinya Reval pasti akan marah padaku. Aku harus segera pergi dari sini,” ujar Vara yang segera meninggalkan Jenara begitu saja tanpa berniat membantu ataupun meminta pertolongan kepada pelayan maupun yang lainnya.

Air mata akhirnya jatuh. Jenara sendirian, hanya bisa memeluk perutnya dan berharap bayi itu tetap baik-baik saja. "Jangan pergi..." bisiknya kepada bayi dalam kandungannya. "Tolong... jangan tinggalkan Ibu juga."

Beralih kembali pada pertemuan itu. Dimana setelah beberapa saat sibuk dengan pemikiran masing-masing, akhirnya Adrian telah mengambil keputusan. Adrian menutup kotak hitam itu dan berkata, "Baik."

Satu kata. Namun Reval tahu, dari semua kata yang bisa keluar dari mulut seorang pejabat seperti Adrian, kata itulah yang paling mahal nilainya. Benar, dugaan Reval tidak akan pernah meleset. Ia akan mendapatkan apapun yang diinginkan dengan sangat mudah. Harta dan kekuasaan memang selalu dapat diandalkan di situasi apapun.

"Aku akan mengurusnya.” Adrian menyetujui permintaan tersebut.

Reval berdiri. "Bagus."

Ia merapikan jasnya sebelum berbalik menuju pintu. Ia berniat langsung pergi begitu tujuannya telah tercapai. Namun suara Adrian menghentikannya.

"Reval." Panggilnya, hingga Reval menoleh.

"Jangan terlalu percaya diri. Ada orang-orang di pemerintahan yang mulai bertanya-tanya seberapa jauh hubungan kita."

Senyum Reval menghilang. "Kalau begitu, pastikan mereka berhenti bertanya."

Ia membuka pintu. "Karena kalau mereka menemukan jawabannya lebih dulu darimu, Adrian..." Reval berhenti sejenak. "...hadiah berikutnya mungkin tidak akan sama dengan isi di dalam kotak hari ini."

“Aku harus segera mencari cara untuk memperingati mereka.” Dalam hatinya Dhana juga harus segera mengambil tindakan yang tepat.

Dhana lantas segera mengikuti Reval. Namun sebelum meninggalkan ruangan itu, pandangannya sempat tertuju ke arah jendela. Entah mengapa bayangan wajah Jenara tiba-tiba terlintas dibenaknya, hingga membuat Dhana terdiam. Hatinya tiba-tiba terasa sesak seolah sesuatu yang buruk tengah terjadi.

Kini ia bukan hanya sedang mengumpulkan informasi untuk menjatuhkan Reval dan menyelesaikan misinya. Ada alasan lain yang membuatnya harus berhasil, yaitu Jenara dan anak yang dikandung perempuan itu. Dhana tahu, cepat atau lambat, Reval akan menggunakan pewaris itu sebagai bagian dari rencananya. Karena itu, ia harus bergerak sebelum semuanya terlambat.

Bersambung….

1
Sri Yatun
semoga bisa ngomong setelah ada pergerakan penyerangan atau sudah d mulai dan berakhir dia baru sadar bahwa teman teman nya sudah kalah dan Reval terluka parah kalah
Fahmi Ardiansyah
semoga yg lain gak mengetahuinya klu jenara masuk ke ruang kerja.
Fahmi Ardiansyah
jgn sampai reon di bawa ke markas bisa bahaya tu.semiga bian n Reno bisa atasi ni wanit
Sri Yatun
semoga kakek Arga tidak menaruh curiga y,, biar jenara lolos
Sri Yatun
aduh kalo sampai d bawa bakal celaka semuanya, semoga loren jg lengah biar bisa d pukul dri belakang biar pingsan barengan
Fahmi Ardiansyah
bagus jenara semoga kau bisa merahasiakan tentang dhana
Fahmi Ardiansyah
iya katakan iya tpi bilng sama jenara jgn sampai memberitahu reval
Fahmi Ardiansyah
iya karna bawaan bayinya jadi jenara sellu bertanya tentang dhana.coba klu kmu yg jdi ayahnya pasti jenara n bayinya tambah sayang sama kmu.
Fahmi Ardiansyah
Thor buat Dhana seakan 2 masih membela Reval supaya Dhana TDK di curigai n secara langsung bisa selamatin jenara n bayinya.
Fahmi Ardiansyah
Waaah mereka cepat sekali menyerang Reval apakah jenara bisa di selamatkan atau tidak ya semoga dhana bisa berakting untuk membawa jenara pergi.
Fahmi Ardiansyah
semua pasti berjln sesuai rencana.dhana pasti berhasil melindungi jenara n anaknya.
Sri Yatun
jangan sampai gagal kalo gagal kasian Dhana sudah berusaha 4 th g ada hasil syukur syukur Revan meninggal atau cacat lah klan nya berpecah belah
Fahmi Ardiansyah
ya Krn Dhana sangat mengkhawatirkan jenara n bayinya.krn jenara hanya di manfaatin aja
Fahmi Ardiansyah
oooh Dhana benar benar mau mengambil jenara dari tangan Reval Krn jenara pantas bersanding dgn dhana.
Fahmi Ardiansyah
mereka pasti bersiap akan menyerang org itu n aku kira org itu Erlangga yg ingin menangani langsung.
Fahmi Ardiansyah
asal kamu tau klu reon bisa juga tertangkap oleh zion teman Dhana Krn coba2 melaporkan Dhana tentang identitasnya.
Fahmi Ardiansyah
👍👍👍👍 benar benar thenest kak author yg bikin cerita bikin pembacanya dah Dig dug.aku kira mereka di suruh Reval untuk membunuhnya eee trnyata teman pembasmi n pemberantas jual barang elegal 💪💪💪 terus kalian pasti berhasil.
Sri Yatun
wah pasti si siapa y yg menyamar JD tukang kafe,yg sllu dana datangin lupa namanya pasti dia
Fahmi Ardiansyah
empat orang itu berarti org itu empat sekawan pengawal Reval tu pasti
Fahmi Ardiansyah
kira kira kejutan apa ya yg di maksud argan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!