Gara-gara keserakahan manusia merobek batas dimensi, bumi kiamat dan peradaban malah mundur ke abad pertengahan yang kejam. Dua ratus tahun kemudian, ras manusia dianggap sebagai makhluk paling lemah di dunia baru ini.
Tapi aturan itu tidak berlaku bagi Leo, Cheeta, dan Rheno tiga pemuda yatim piatu super nekat dari Lembah Karat. Ambisi mereka awalnya sederhana: bertahan hidup, menjarah, dan jadi kaya raya! Sialnya, gara-gara tergiur harga jual buah magis yang selangit, aksi nekat Leo malah menyeret mereka ke dalam takdir misterius.
Tanpa disadari, kekuatan purba Equilibrium yang terkunci di dalam darah mereka mulai terbangun. Bersiaplah mengikuti perjalanan epik yang seru, kocak, dan penuh kejutan dari trio penjarah amatir ini dalam mengocok isi dunia atas dan bawah!
Gaya Cerita: Santai & Humoris. Pas buat kamu yang suka petualangan fantasi seru tapi bikin ngakak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang
Seketika itu juga, tekanan energi magis yang teramat berat dan pekat memancar dari tubuh Maxxis. Panglima Tertinggi faksi luar itu benar-benar murka karena pasukan besarnya dijadikan bahan lelucon dan fitnah konyol oleh musuh-musuhnya.
"CUKUP!" Maxxis mengendus gusar, melepaskan hantaman aura magis kegelapan yang menggetarkan tanah perbatasan. Tatapannya berubah menjadi sangat kejam saat ia mengacungkan tangannya ke depan. "Habisi mereka semua tanpa sisa!"
Mendengar perintah sang komandan, ratusan pasukan Iblis berzirah hitam langsung merangsek maju dengan raungan haus darah yang mengerikan.
Di seberang medan laga, menyaksikan pergerakan masif musuh, Lucifer seketika membuang semua pikiran tentang virus kebodohan di kepalanya dan kembali fokus sepenuhnya pada pertarungan hidup mati ini. Dengan sabit energi hitam yang kembali menyala hebat di genggamannya, ia meneriakkan sebuah perintah penuh wibawa yang mengguncang seisi perbatasan.
"Lakukan sesuka kalian! Dan jangan sampai ada yang mati!" teriak sang Panglima Tertinggi Lucifer lantang.
Mendengar pengakuan tidak langsung serta izin bertarung dari sang pelindung kota, semangat para warga Castra Metropolis langsung tersulut hebat. Menggenggam senjata masing-masing, ras Elf dan Iblis pelarian itu berteriak riuh, langsung berlari melesat maju ke depan menerjang perbatasan.
Ratusan pasukan Iblis faksi luar berlari kencang membelah hutan, melewati posisi Maxxis serta kelompok Grim yang masih menahan diri di garis belakang.
Di sisi lain, hal yang sama juga terjadi. Pasukan warga kota bergerak layaknya gelombang pasang, berlari kencang melewati posisi Lucifer dan kelompok Leo. Namun secara mengejutkan, tepat saat massa bergerak maju, beberapa warga ras Iblis dan Elf bertubuh kekar sengaja melayangkan tendangan telak ke arah Leo hingga pemuda ugal-ugalan itu tersungkur jatuh dan berakhir terinjak-injak oleh barisan warga yang lewat.
"Aduh! Sialan, siapa yang menendangku?!" umpat Leo, timbul tenggelam di antara injakan kaki massa.
Ternyata, dari sekian banyak warga yang curi-curi dengar, ada beberapa Iblis dan Elf yang juga sempat menguping percakapan serius antara Lucifer dan Leo di alun-alun kota tadi. Mereka tahu betul bahwa pemuda narsis inilah dalang utama dibalik runtuhnya kuil dan hancurnya Red Diamond. Maka dari itu, mereka memanfaatkan momentum merangsek maju ini untuk melampiaskan kekesalan terpendam mereka kepada Leo.
BOOM! BRAKK! DENTANG!
Dalam sekejap mata, benturan dua pasukan besar tidak lagi bisa dihindarkan. Dentungan logam dari pedang dan kapak yang beradu mulai menggema di mana-mana. Bola-bola api magis dan bilah-bilah angin tajam datang saling bersilangan dari berbagai arah, memicu ledakan demi ledakan dahsyat yang meluluhlantakkan vegetasi perbatasan hutan. Perang besar Castra Metropolis resmi pecah.
Di tengah-tengah kekacauan perang yang membara, area tengah mendadak menjadi steril dari pasukan kedua belah pihak. Di sanalah Lucifer dan Maxxis berdiri saling berhadapan, memancarkan aura membunuh yang mencekam.
Tanpa sepatah kata pun, kedua Panglima Tertinggi itu mendadak menghentakkan kaki mereka ke bumi. Sepasang sayap magis hitam pekat membentang lebar dari punggung keduanya, menghasilkan embusan angin dahsyat yang menyapu debu di sekitarnya. Dalam sekejap mata, Lucifer dan Maxxis melesat vertikal membelah awan, membawa duel maut mereka jauh ke langit tertinggi agar energi penghancur mereka tidak memusnahkan pasukan sendiri.
Kepergian dua monster itu menyisakan ruang kosong di daratan. Beberapa meter dari sana, Leo yang baru saja bersusah payah bangkit berdiri sambil mengusap wajahnya yang penuh bekas telapak kaki, langsung mengunci pandangan matanya dengan tajam ke arah Grim. Sang musuh hanya berdiri tenang sambil tersenyum licik mempermainkan belatinya.
Tanpa basa-basi lagi, Leo, Cheeta, Rheno, dan Ely maju menghampiri mereka. Entah sejak kapan Arsia telah pergi bergabung dengan pasukan warga kota, seolah-olah enggan dan malu jika berada di tengah kelompok Leo.
Tibalah saatnya mereka berdiri berhadapan dengan Grim, Snap, Rocky, dan Mona.
“Huahaha! Pertama-tama, aku sangat berterima kasih kepadamu. Rencanaku yang telah kususun sejak lama, yang tadinya kukira akan gagal... berkat penyelamatan heroik mu, aku berhasil!” ucap Grim sambil berjalan maju ke depan.
“Pakai sedikit otakmu, bodoh!” teriak Grim menghina kebodohan Leo.
Leo mencabut pedangnya lalu masuk mode serius. Bilah pedangnya membesar diselimuti aura magis padat biru dari safirnya. Tidak ada niat untuk mengobrol sama sekali.
“Maaf ya! Aku lebih suka ngobrol sama gadis Elf cantik di belakangku!” ucap Leo, sempat-sempatnya menggombal saat situasi begini.
“Kamu memang tidak asyik,” ucap Grim. Seketika itu juga, tombak magis hitam padat Snap melesat ke arahnya.
TANG!!!
Seketika Rheno memblokir serangan Snap dengan pelindungnya. Dari atas Rheno, Rocky menggenggam kedua tangannya berniat menghantam Rheno dari atas.
BRUGG!!!
Namun Rheno segera menghindar dan mulai mengaktifkan mode seriusnya. Pelindungnya menyusut menjadi baju zirah magis hijau menyerupai sisik naga.
Di sisi lain, Mona merentangkan kedua tangannya bersiap menembakkan bola api ke arah Leo. Namun belum sempat menyelesaikan bola apinya, Ely yang merona akibat gombalan yang tidak ada akhlak dan tidak tahu tempat itu langsung melancarkan anak panah anginnya, mengganggu konsentrasi Mona.
Snap mencoba kedua kalinya, namun baru saja hendak melempar tombaknya, Cheeta menghantam tombak magis hitam itu hingga Snap terlempar mundur. Tanpa jeda, Cheeta masuk mode serius dan melepaskan proyektil belati merah miliknya.
ZING! ZING!
Snap menghindarinya dengan bergerak zig-zag. Seketika, setiap anggota sudah mendapatkan musuhnya masing-masing.
“Apa yang kamu gunakan itu?” Tanya Grim melihat pedang magis besar Leo namun aura magis nya tetap terlihat lemah. “Kukira hanya kamu yang lemah ternyata selain Elf semua sama!” Ucap Grim yang mengandalkan sensor untuk mendeteksi kekuatan magis.
Leo melesat dan mengayunkan tebasan kearah depan guna menyerang Grim. Dengan kelincahan nya Grim menghindari nya.
“Lemah! Lemah! Lemah! Apakah cuma itu yang ada di pikiranmu!” Seru Leo seketika berbalik.
Menyadari Grim berada dalam pose siap menyerang balik, Leo mengayunkan pedangnya lebih cepat dan melancarkan tebasan melayang.
Bilah energi magis dari pedang Leo melesat memotong udara menuju Grim. Dengan santai, Grim menahannya menggunakan tebasan magis hitam miliknya.
“Tentu saja!” jawab Grim jemawa. Namun, matanya mendadak terbelalak saat menyadari tebasan Leo tidak mau berhenti.
“Aaaaa…! DUARR!”
Dengan sekuat tenaga, Grim membelokkan arah tebasan Leo. Ada rasa panik dan kebingungan yang menjalar di hatinya pada saat yang sama: Kenapa tebasan ini bisa sekuat ini?
“Ohhh… apa kamu sedang bermain trik denganku, Leo?!” Gusar, Grim menolak kenyataan bahwa serangan itu sangat kuat. Ia pun mulai menyerang Leo memanfaatkan keunggulan kecepatannya.
Di sisi lain, Leo hanya bisa bertahan. Grim memang bergerak jauh lebih cepat, namun entah mengapa, Leo merasa setiap serangan energi dunia bawah milik Grim terasa begitu ringan saat ditangkis.
Di darat, pertempuran satu lawan satu kini resmi pecah di segala sudut; Rheno, Cheeta, dan Ely mulai bertarung habis-habisan melawan musuh mereka masing-masing.
Sementara jauh di langit tertinggi, atmosfer kian membara saat Lucifer dan Maxxis membawa duel mereka menembus awan.
Menunjukkan keagungan ras Iblis tingkat tinggi, sepasang sayap magis hitam pekat membentang lebar dari punggung keduanya, siap menumpahkan darah di atas angkasa Castra Metropolis.
Bersambung