Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.
Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Logika Saka
Aroma antiseptik yang pekat dan keheningan koridor ruang perawatan intensif rumah sakit pusat siang itu terasa begitu menekan batin Saka. Langkah kakinya terasa teramat berat saat mendorong pintu bangsal VIP tempat ibunya, Lina, dirawat. Setelah dua minggu penuh didera kehancuran mental pasca pencariannya yang gagal di Yogyakarta, penampilan Saka tampak begitu lelah dan kuyu di balik setelan jas kerjanya.Hari-hari pertamanya kembali ke ibu kota dihabiskan dengan tersandera di meja kerjanya di Daniswara Group, dipaksa menyelesaikan tumpukan dokumen operasional yang tertunda di bawah pengawasan komite audit dewan direksi.
Namun siang ini, motif utama Saka melangkah ke rumah sakit adalah karena mendengar kabar bahwa kondisi kesehatan Lina sudah berangsur membaik. Saraf-saraf wajah ibunya yang sempat lumpuh total akibat serangan stroke mendadak, kini secara medis mulai bisa digerakkan kembali secara perlahan.
Saka berdiri mematung di samping ranjang medis, menatap wajah ibunya yang pucat tanpa warna. Rasa sakit, sesak, dan amarah yang luar biasa besar sebenarnya bergemuruh hebat di dalam dadanya saat mengingat isi surat Raditya Daniswara. Dia kecewa, terluka, dan marah atas perbuatan ibunya yang tega mengkhianati serta menyakiti pria sebaik almarhum papanya demi sebuah hubungan gelap yang kotor selama dua puluh delapan tahun. Namun, Saka menahan diri. Dia menyadari sepenuhnya bahwa Lina sedang sakit parah dan wanita itu adalah ibu kandungnya. Saka memilih meredam amarah egonya demi bakti seorang anak. Dia tidak ingin melontarkan makian atau teriakan kasar yang bisa memperburuk kondisi medis ibunya.
Saka hanya menggenggam jemari ibunya yang kaku, menatap lurus ke dalam sepasang mata Lina dengan pandangan menuntut keadilan batin. "Kenapa Mama tega melakukan hal sehina itu pada Papa Raditya?" bisik Saka, suaranya serak menahan getaran emosi yang mencekik tenggorokannya. Saka seolah lupa, dia sendiri melakukan hal hina yang sama seperti ibunya, selingkuh dengan Valerie.
"Aku tidak akan membentak Mama di sini. Tapi tolong... jangan biarkan aku hidup dalam kepalsuan seumur hidupku. Katakan padaku siapa pria di masa lalu Mama itu."
Lina tersentak kecil, air matanya perlahan luruh membasahi bantal bangsal rumah sakit. Wanita paruh baya yang biasanya selalu congkak dan gila harta itu kini didera ketakutan yang luar biasa besar. Dia menolak dan tidak mampu menatap sepasang mata putranya. Lina memilih memalingkan wajahnya ke arah dinding, menangis dalam keheningan yang kaku demi mengunci rapat identitas Dokter Hendrawan yang berdiri tegang mematung di sudut pintu luar.
Tepat di tengah keheningan yang menyiksa batin Saka tersebut, pintu bangsal didorong terbuka secara perlahan. Valerie melangkah masuk dengan membawa wadah mangkuk bubur makanan sehat. Sudah dua hari ini Valerie nekat mendatangi rumah sakit untuk berpura-pura menjadi istri serta menantu salehah yang tulus merawat Lina. Tujuan awalnya murni untuk mencari muka dan meminta dukungan moral dari ibu mertuanya mengenai kehamilannya yang baru ia ketahui beberapa hari yang lalu.
Namun, begitu melangkah melewati pintu, langkah kaki Valerie seketika tertahan kaku. Sepasang matanya membelalak terkejut melihat kehadiran suaminya di dalam ruangan. Mereka sudah teramat lama tidak bertemu muka secara langsung. Sejak Saka pulang dari Yogyakarta, suaminya itu memilih tinggal di rumah kedua orang tuanya demi menghindari Valerie, sementara Valerie dibiarkan terlunta-lunta sendirian di apartemen rahasia mereka.
"Saka... kamu di sini?" tanya Valerie lembut, suaranya bergetar menahan keterkejutan yang nyata.
Saka hanya diam membisu dengan tatapan mata yang sedingin es. Namun sebagai wanita yang berotak manipulatif, Valerie dengan cepat menguasai keadaan. Dia menekan rasa canggungnya, mengulas senyum tulus buatan yang sangat rapi, lalu berjalan mendekati ranjang untuk melanjutkan aktingnya. Dengan gestur yang teramat telaten, Valerie duduk di kursi samping ranjang, perlahan-lahan menyuapi Lina sesendok demi sesendok dengan kesabaran yang sengaja dipaksakan di depan mata suaminya.
Sembari menyuapi, Valerie melirik Saka dengan binar mata sendu yang sarat akan kepasrahan. "Aku tahu selama ini kamu terus mengabaikan dan mengacuhkanku, Saka," bisik Valerie, air mata buatan mulai menggenang di sudut matanya. "Tapi sekeras apa pun kamu menjauh, aku ingin kamu tahu bahwa aku akan selalu ada di sini, berdiri di sampingmu dan menjaga Mama. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu di saat posisimu sedang terpuruk seperti ini."
Mendengar kalimat manis dan menyaksikan sendiri bagaimana Valerie telaten merawat ibunya yang lumpuh, ego Saka yang compang-camping mendadak tersentuh kecil. Rasa bersalah mulai merayap tipis di dadanya saat menyadari bahwa dia memang telah menelantarkan Valerie sejak awal pernikahan mereka digelar tiga bulan lalu karena pikirannya yang selalu tersandera oleh Arunika.
Setelah wadah bubur diletakkan kembali, Valerie perlahan berdiri, meraih jemari tangan Saka, lalu menuntunnya keluar sedikit ke area lorong yang sunyi. Di sanalah, dengan gerakan yang teramat dramatis, Valerie mengeluarkan selembar kertas cetak hasil USG kandungan dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya ke tangan Saka.
Saka tersentak mundur satu langkah, matanya membelalak kaku menatap lembaran kertas USG hitam di tangannya. Keterangan medis di surat itu menyatakan usia kehamilan dua belas minggu.
"Hamil! Bagaimana bisa, Valerie? Aku bahkan belum pernah menyentuhmu satu kali pun semenjak malam pernikahan kita tiga bulan lalu!" desis Saka, rahangnya mengetat hebat dengan urat leher yang menegang kaku dihantam kepanikan.
Valerie menatap sepasang mata Saka dengan tatapan mengunci, meyakinkan Saka dengan hasil pemeriksaannya. "Lihat hasil USG ini, Saka! Usia kandungan ini sudah jalan tiga bulan! Ini janin hasil hubungan intim kita di apartemen satu minggu sebelum pesta pernikahan kita digelar! Kamu lupa seberapa aktif kita melakukannya sebelum meresmikan hubungan kita dari Arunika dulu? Dokter menyatakan garis waktu pembuahannya sangat cocok dengan masa-masa intim kita sebelum malam pesta itu!"
Mendengar penjelasan Valerie yang didukung oleh lembaran fisik USG hitam di atas putih berusia tiga bulan tersebut, seluruh pasokan kata-kata di tenggorokan Saka seketika tersendat habis. Dia terpaksa mengangguk pasrah menerima klaim tersebut demi tanggung jawab seorang laki-laki.
Namun, tepat saat Valerie bergerak maju hendak memeluk erat pundaknya kembali, sepasang mata tajam Saka mendadak menangkap sebuah memori yang mengerikan di dalam kepalanya. Ingatan Saka seketika berputar mundur pada beberapa minggu lalu setelah menikah, pada sebuah momen di mana ia tidak sengaja melihat adanya sebuah tanda merah yang samar dan mencurigakan di leher Valerie.
Belajar dari kisah tragis almarhum papanya, Raditya Daniswara, yang selama dua puluh delapan tahun ditipu mentah-mentah oleh ibunya, insting Saka seketika mengeras laksana batu. Ditambah lagi, Saka ingat bahwa dia selalu memberikan obat pencegah kehamilan dosis tinggi kepada Valerie setiap kali mereka selesai berhubungan intim saat masih berselingkuh dulu. Bagaimana mungkin pertahanan obat itu bisa bobol hingga membuahkan janin berusia tiga bulan sebelum nikah?
Pertanyaan mengenai jebolnya pertahanan obat itu mendadak mengirimkan hantaman gelombang paranoid yang teramat dahsyat ke dalam otak Saka. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan saat pikirannya seketika dilemparkan kembali mengingat sosok wanita hamil di koridor kandungan rumah sakit Jogja yang wajahnya tertutup masker medis hijau namun memiliki postur dan keanggunan yang teramat mirip dengan Arunika.
Logika Saka mulai berputar liar. “Jika obat pencegah kehamilan dosis tinggi yang kuberikan pada Valerie bisa bobol... apakah ramuan obat pencegah kehamilan dosis tinggi yang kuminumkan secara paksa kepada Arunika... juga bisa bobol? Apakah wanita hamil yang digandeng pria bermasker hitam di Jogja kemarin... sebenarnya adalah Arunika yang sedang mengandung anakku?"
Ketakutan dan kecurigaan seketika mengepung urat nadi Saka. Dia menolak menjadi pria bodoh kedua di dinasti Daniswara yang ditipu oleh kebohongan tentang anak. Di balik wajahnya yang dipasang sedatar mungkin, Saka memantapkan hatinya untuk berpura-pura menerima kehamilan Valerie sebagai tanggung jawab formal. Tapi Saka akan bergerak secara senyap untuk menguji tes DNA kandungan Valerie secara rahasia demi kebenaran yang sesungguhnya.
"Kita bicarakan ini di apartemen nanti, Valerie. Jaga Mama dulu," ucap Saka dingin, melepaskan cengkeraman tangan istrinya secara halus namun berjarak.
laah...ni ga kebalik apa y....mstinya kang mas yg ngajakin dinda,tp ni sbliknya...🤣🤣🤣
gtu jg yg arunika rsakan dlu...jd trima nsib aja,hkum krma udh dtang.......
udh msuk rak kk,tp aku glau bcanya....sedih.....😭😭😭
skrng pawangnya bnyak,pd galak pula...sklinya ngusik,abis d bntai....😁😁😁
sorryyyy yeee.....😛😛😛