Dikhianati oleh murid kepercayaannya saat mencoba menerobos batas keabadian, Kaisar Dewa Ye Xuan mati dan jiwanya terlempar melewati sungai waktu. Tiga ribu tahun kemudian, ia terbangun di tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama—seorang "sampah" tanpa meridian kultivasi di kota terpencil. Dengan ingatan masa lalunya dan teknik terlarang Seni Sembilan Reinkarnasi Naga, Ye Xuan memulai kembali perjalanannya dari bawah untuk membelah langit, menginjak-injak para jenius sombong, dan menuntut darah dari mereka yang mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Di dalam gua yang temaram, suhu udara masih terasa sangat menyengat sisa dari penyerapan Teratai Darah Api. Ye Xuan tidak beranjak dari posisi bersilanya. Ia mengeluarkan tas kainnya dan menumpahkan puluhan Inti Monster tingkat satu dan dua ke atas lantai berbatu.
Bagi alkemis biasa di Benua Bawah, meracik pil membutuhkan kuali perunggu berkualitas tinggi, susunan formasi pengumpul api, dan ketelitian yang memakan waktu berhari-hari. Kesalahan sekecil apa pun akan membuat tungku meledak dan bahan-obatan hancur menjadi abu.
Namun, Ye Xuan adalah mantan Kaisar Dewa yang pernah menggunakan bintang-bintang sebagai tungkunya untuk meracik Pil Keabadian.
"Tungku alkimia terlalu merepotkan untuk pil tingkat rendah seperti ini," gumam Ye Xuan santai.
Ia menjentikkan jarinya. Api Roh Teratai Merah melesat dari ujung telunjuknya, melayang di udara dan mengembang menjadi sebuah jaring api selebar satu meter. Dengan ayunan lengan bajunya, puluhan Inti Monster itu terangkat ke udara, melayang tepat di tengah jaring api tersebut.
Ini adalah Seni Alkimia Jaring Langit, sebuah teknik purba yang hanya mengandalkan kendali spiritual mutlak tanpa memerlukan wadah fisik.
Bzzzt!
Api Roh Teratai Merah membakar Inti Monster itu dengan presisi mengerikan. Alih-alih menghancurkannya, api itu menyusup ke dalam struktur kristal, membakar habis miasma kotor, elemen liar, dan darah busuk di dalamnya. Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, puluhan kristal itu mencair menjadi cairan kental berwarna zamrud yang memancarkan aroma spiritual yang sangat wangi.
Ye Xuan mengubah segel tangannya. "Pisah dan Bentuk!"
Cairan zamrud itu terpecah menjadi tiga puluh tetesan yang sama besar. Api merah berputar mengelilingi setiap tetesan, memadatkannya hingga mengeras menjadi pil-pil bundar seukuran mutiara. Saat api ditarik kembali ke dalam Dantiannya, tiga puluh butir Pil Peningkat Qi jatuh bergemerincing ke dalam kotak giok yang telah disiapkan Ye Xuan.
Setiap butir pil itu berwarna hijau mengkilap, dan jika diperhatikan lebih dekat, terdapat tiga garis emas melingkar di permukaannya.
Itu adalah Urat Pil tingkat sempurna. Di Kota Awan Merah, bahkan Asosiasi Alkemis pun hanya bisa meracik pil dengan tingkat kemurnian enam puluh persen yang dipenuhi kotoran sisa. Pil dengan tingkat kemurnian seratus persen seperti ini akan memicu pertumpahan darah jika dilelang di ibukota.
Ye Xuan mengambil segenggam pil—sekitar sepuluh butir—dan memasukkannya ke dalam mulut layaknya memakan kacang goreng.
Jika ada kultivator lain yang melihat ini, mereka pasti akan menjerit histeris. Mengonsumsi sepuluh Pil Peningkat Qi sekaligus akan membuat meridian siapa pun meledak karena kelebihan energi. Namun, bagi tubuh yang berlatih Seni Sembilan Reinkarnasi Naga, energi dari sepuluh pil itu diserap dalam sekejap layaknya setetes air jatuh ke padang pasir.
Hanya butuh waktu satu malam bagi Ye Xuan untuk menstabilkan fondasinya di Alam Kondensasi Qi Bintang Lima puncak.
"Sudah waktunya kembali. Pertunjukan utama akan segera dimulai." Ye Xuan bangkit, menyarungkan Pedang Besi Bintang ke punggungnya, dan melangkah keluar dari Hutan Binatang Buas saat fajar menyingsing.
Sementara itu, di Aula Utama Kediaman Keluarga Lin.
Suasana di aula itu sedingin kuburan. Lin Zhentian, Kepala Keluarga Lin, berdiri dengan wajah sehitam dasar panci. Di hadapannya, tiga mayat yang hancur berantakan dibaringkan di atas lantai marmer—satu mayat tanpa leher yang merupakan Lin Wu, dan dua mayat tanpa kepala dengan seragam biru Sekte Teratai Es.
"Siapa... SIAPA YANG MELAKUKAN INI?!" raung Lin Zhentian. Tinju kanannya menghantam meja kayu mahoni di sampingnya hingga hancur berkeping-keping.
Seorang kapten penjaga berlutut gemetar di dekat pintu. "Lapor, Tuan Kepala Keluarga! K-kami menemukan mayat Tuan Lin Wu di sebuah lembah berbatu di pinggiran Hutan Binatang Buas. Di sekitarnya terdapat jejak pertarungan yang sangat mengerikan, dan... dan bangkai seekor Beruang Punggung Besi Bertanduk Api yang kepalanya hancur hanya dengan satu pukulan tumpul."
"Beruang Punggung Besi? Itu adalah monster tingkat dua puncak! Lin Wu tidak mungkin bisa membunuhnya sendirian, apalagi dengan satu pukulan tumpul," mata Lin Zhentian menyipit, memancarkan niat membunuh yang pekat. "Seseorang dengan kultivasi minimal Alam Pembentukan Fondasi pasti turun tangan. Mereka membunuh monster itu, lalu membunuh adikku dan murid-murid sekte untuk merebut harta karun di sana!"
"Tuan, mungkinkah ini perbuatan Keluarga Ye?" seorang tetua Keluarga Lin maju dan berbisik. "Kudengar beberapa hari lalu, Ye Cang kehilangan muka karena cucunya dilumpuhkan oleh si sampah Ye Xuan. Mungkinkah Ye Cang melampiaskan amarahnya pada patroli kita? Atau mungkin Ye Kuang yang melakukannya?"
Mendengar nama Keluarga Ye, urat-urat di dahi Lin Zhentian menonjol keluar.
"Ye Cang... Ye Kuang... Beraninya anjing-anjing tua itu menyentuh darah dagingku! Terlebih lagi, mereka berani membunuh dua murid luar Sekte Teratai Es! Ini adalah penghinaan langsung terhadap sekte keponakanku!"
Lin Zhentian menarik napas panjang, berusaha menenangkan emosinya yang meledak-ledak. Senyum sinis perlahan menggantikan kemarahannya. "Kirim surat duka ini ke Sekte Teratai Es, tujukan langsung pada Lin Xue'er. Beritahu dia bahwa Keluarga Ye telah membunuh paman dan dua adik seperguruannya. Tiga hari lagi, utusan dari Sekte Pedang Azure akan tiba di Kota Awan Merah untuk seleksi murid baru. Aku akan menggunakan momentum itu untuk meratakan Keluarga Ye dengan tanah!"
Matahari bersinar terik ketika Ye Xuan melangkah masuk melewati gerbang Kediaman Keluarga Ye. Tidak ada lagi yang berani mencemoohnya. Para pelayan dan murid pinggiran yang berpapasan dengannya segera menundukkan kepala, mundur beberapa langkah dengan wajah pucat. Kabar tentang hancurnya meridian Ye Tian telah membuat Ye Xuan menjadi sosok iblis menakutkan di mata mereka.
Sesampainya di Halaman Barat, Ye Xuan mendapati suasana yang anehnya terlalu sepi.
Ia membuka pintu rumah reotnya dan melihat Qing'er sedang duduk di lantai dapur, memeluk lututnya dengan wajah sangat pucat. Tidak ada kepulan asap dari tungku, dan tong beras di sudut ruangan terlihat kosong melompong.
Mendengar suara langkah kaki, gadis kecil itu mendongak. Matanya yang cekung langsung berbinar. "T-tuan Muda! Anda kembali!"
Qing'er berusaha berdiri, namun kakinya lemas dan ia nyaris terjatuh jika Ye Xuan tidak segera menangkap lengannya. Ye Xuan mengerutkan kening. Ia bisa merasakan fluktuasi kehidupan gadis ini sangat lemah akibat kelaparan yang ekstrem.
"Apa yang terjadi? Ke mana perginya jatah makanan kita?" suara Ye Xuan berubah menjadi sangat dingin, membuat udara di ruangan itu seolah membeku.
Qing'er menunduk, tak berani menatap mata tuan mudanya. "S-setelah Tuan Muda pergi ke hutan... orang-orang dari Paviliun Logistik yang dipimpin oleh Diaken Ye Ba datang. Mereka mengatakan bahwa atas perintah Tetua Pertama, seluruh jatah sumber daya, termasuk beras dan air bersih untuk Halaman Barat, dicabut sepenuhnya. Mereka... mereka bahkan menyita sisa uang koin kita..."
Urat tipis menonjol di pelipis Ye Xuan.
Ye Cang... anjing tua itu benar-benar mengira aku tidak berani membunuhnya? Membalas dendam pada seorang gadis kecil yang tak berdaya, betapa rendahnya moral seekor semut.
Ye Xuan menekan amarahnya. Ia mendudukkan Qing'er di kursi kayu, lalu mengeluarkan sebutir Pil Peningkat Qi dari jubahnya. Pil itu memancarkan aroma wangi yang seketika membuat perut Qing'er bergemuruh, namun gadis itu menelan ludah dan menahannya.
"Ini... pil tingkat tinggi?" mata Qing'er membelalak.
Ye Xuan mengambil secangkir air dari sisa teko di meja, meremukkan sepersepuluh bagian dari pil tersebut, dan melarutkannya ke dalam air. Pil utuh akan membunuh Qing'er karena tubuh fananya tak sanggup menahan energinya, namun larutan tipis ini adalah obat mujarab terbaik untuknya.
"Minum ini perlahan," perintah Ye Xuan lembut, menyodorkan cangkir itu.
Qing'er meminumnya dengan patuh. Dalam hitungan detik, rona merah kembali ke pipinya. Rasa lapar dan kelelahan menghilang tanpa jejak, digantikan oleh aliran hangat yang menyapu seluruh tubuhnya, membuka paksa titik-titik akupunktur utamanya yang tersumbat sejak lahir.
"T-tuan Muda, tubuh saya terasa sangat hangat... dan ringan..." Qing'er menatap tangannya sendiri dengan takjub.
"Itu adalah kotoran meridianmu yang mulai terkikis. Mulai hari ini, pelayanku tidak akan lagi menjadi manusia fana yang bisa diinjak-injak oleh anjing klan," ucap Ye Xuan tenang, tatapannya menyapu ke arah jendela, menatap langsung ke arah pusat kediaman Keluarga Ye.
"Qing'er, mandilah dan ganti bajumu. Setelah itu, ikut aku ke Paviliun Utama. Ada beberapa ekor anjing yang harus kupatahkan kakinya hari ini, sebelum tamu dari sekte luar kota tiba."
preeeeeetttttttt