Demi menyelamatkan kembarannya dari pernikahan dengan pemimpin Yakuza yang paling ditakuti, Stella Rossi nekat menyamar menjadi Luna dan berjalan ke altar.
Takeo Akira, Kumicho berdarah dingin, memilih Luna karena mengira perempuan lembut itu paling mudah dikendalikan. Pernikahan ini hanyalah langkah pertama dari balas dendamnya pada keluarga Lombardi, dan begitu pewarisnya lahir, istrinya tak lagi berguna.
Tapi malam pertama membongkar penyamaran itu. Dan perempuan yang terbaring di ranjangnya sama sekali bukan bidak penurut yang dia bayangkan.
Satu dikurung dalam gelap. Satu bersumpah tak akan pernah menunduk.
Antara dendam yang membara dan debar yang tak mau padam, siapa yang sebenarnya sedang memerangkap siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Bonus Luna
Luna
Aku nyaris tak percaya kami akhirnya turun dari jet pribadi. Hatiku baru akan tenang setelah bisa memeluk Stella. Dia terus bilang dia baik-baik saja, tapi aku mengenal kakakku. Aku tahu kapan dia menyembunyikan sakit di balik senyum.
Dia membutuhkanku.
Kami hampir masuk ke mobil ketika mobil-mobil suami Stella tiba. Kendaraan-kendaraan itu berhenti satu per satu, dan beberapa pria turun lebih dulu, waspada pada segala hal di sekitar.
Lalu dia muncul.
Aku tidak tahu siapa dia!
Sesaat, dunia seolah melambat.
Tatapan kami bertemu, dan rasa asing yang belum pernah kukenal menyerbu dadaku. Jantungku berdegup begitu kencang sampai aku bisa mendengar detaknya sendiri. Dingin menjalari tubuhku, sementara hangat yang tak terjelaskan membakar pipiku.
Siapa pria ini?
Kenapa satu tatapan saja bisa mengguncang seluruh duniaku?
Takut pada intensitas rasa itu, kupalingkan mata, tak sanggup menahan kontak itu sedetik lagi. Meski begitu, aku merasa seakan dia terus mengamatiku.
Diam-diam, aku kembali melihat lewat jendela.
Dia berbicara dengan para pria pengawal rombongan kami, tapi, entah kenapa, mataku terus mencarinya lagi. Seolah ada kekuatan tak kasatmata yang menarikku pada orang asing itu.
Hatiku seperti mengenali seseorang yang belum pernah dilihat nalarku.
"Bangun, Luna."
Suara geli Bella menarikku kembali ke kenyataan. Dia menepuk pelan tanganku, membuatku mengerjap berkali-kali.
"Apa?" tanyaku, benar-benar salah tingkah.
Bella tersenyum miring, seakan tahu persis ke mana mataku tadi tertuju.
Cepat-cepat kupalingkan wajah ke jendela, berusaha menyembunyikan senyum malu yang terus muncul.
Fiorela diam-diam mengikuti arah pandanganku dan tersenyum miring.
"Aku kenal pria itu..." katanya pelan. "Dia adik Kumicho."
Dia mengernyit sesaat, mencoba mengingat.
"Aku tidak ingat namanya sekarang... Tapi aku yakin dia tangan kanan Takeo."
Pintu-pintu mobil menutup, dan rombongan mulai bergerak menyusuri jalan-jalan kota.
Stella tidak melebih-lebihkan.
Jepang memang memukau.
Gedung-gedung modern berbagi ruang dengan bangunan tradisional, jalan-jalan bersih tanpa cela, dan lampu-lampu memberi pesona unik pada kota. Lewat jendela, kuamati setiap detail, tapi sekeras apa pun aku mencoba berkonsentrasi pada pemandangan, pikiranku terus kembali ke tempat yang sama.
Ke pria yang sama.
Percakapan di dalam mobil terus riuh. Bella mengomentari sesuatu, Fiorela menjawab.
Pikiranku tetap tertahan pada tatapan intens itu.
Konyol.
Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.
Meski begitu... satu tatapan cukup membangkitkan sesuatu dalam diriku yang belum pernah kurasakan.
Beberapa menit kemudian, mobil-mobil melewati gerbang raksasa properti.
Aku menahan napas.
Stella tidak melebih-lebihkan.
Itu bukan sekadar rumah... itu seperti istana. Rumah itu raksasa, dikelilingi taman memukau dengan pepohonan terpangkas rapi, bunga di mana-mana, dan keindahan yang menarik perhatian siapa pun.
Begitu kami turun dari mobil, pria yang sama, yang tak lepas dari pikiranku, berjalan ke arah kami dengan langkah lebar.
Jantungku kembali berpacu.
Dia membungkuk singkat dan tersenyum sopan.
"Selamat datang, Nyonya-nyonya Lombardi. Saya Isamu Akira."
Suaranya mantap dan tenang.
"Nyonya Akira ada di rumah."
Dia menunjuk seorang pegawai yang menunggu beberapa langkah di belakang.
"Dia akan mengantar Anda ke Nyonya Akira."
Aku mengangguk diam-diam, tapi sebelum mengikuti pegawai itu, mataku bertemu matanya sesaat. Sekali lagi dingin itu menjalar di tubuhku.
Ada apa denganku?
Kusingkirkan pikiran itu dan terus berjalan.
Kami mengikuti pegawai itu menyusuri lorong-lorong rumah. Rumahnya indah, elegan, dan mewah, tapi hening yang menguasai suasana mengganggu. Semuanya tampak terlalu tenang.
Kami menaiki tangga utama. Di lorong sebelah kanan, perempuan itu berhenti di depan satu pintu dan membukanya hati-hati.
Begitu melihat kamar itu, jantungku berdebar.
Stella sedang tidur.
Aku tak berpikir.
Rinduku begitu besar
Aku langsung berlari ke ranjang, berbaring di sisinya, dan memeluknya dengan seluruh perasaan yang kupunya.
"Stella..."
Dia terbangun pelan-pelan. Membuka mata, mengerjap beberapa kali, dan memandangiku seperti tak percaya pada yang dilihatnya.
"Luna...?"
Detik berikutnya, dia memelukku erat.
Yang mengejutkanku, Stella mulai menangis.
"Aku kangen sekali padamu..."
Suaranya tercekat, dan kurasakan air matanya membasahi bahuku.
Mataku pun berkaca-kaca.
Kupeluk dia lebih erat, membelai rambutnya, dan memejamkan mata. Betapa aku merindukan kakakku.
"Aku juga merindukanmu. Sekarang aku di sini... Dan aku tak akan pergi dari sisimu, Stella."