NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana selanjutnya

Jam dinding akhirnya menunjukkan pukul sepuluh malam. Jarum panjang tepat berada di angka dua belas, sementara jarum pendek menunjuk angka sepuluh. Tak terasa, hampir seluruh malam telah mereka habiskan untuk berbicara. Tentang tiga puluh tahun yang hilang. Tentang keluarga yang menunggu. Tentang enam nama yang tidak pernah benar-benar dilupakan. Dan tentang sebuah gunung yang mungkin masih menyimpan jawaban.

Bima duduk bersandar di sofa. Wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya masih belum menunjukkan keinginan untuk tidur. Sesekali ia memandang ke arah jendela. Gelap. Hanya lampu teras yang memantulkan cahaya kekuningan ke halaman rumah. Ayah Arga yang sejak tadi duduk di samping putranya akhirnya melihat jam tangannya.

"Sudah malam." Semua orang menoleh.

"Besok kita masih harus memikirkan banyak hal," lanjutnya.

Arga mengangguk. Ia sebenarnya masih ingin tinggal lebih lama. Begitu pula yang lainnya. Namun mereka semua tahu bahwa malam ini sudah cukup panjang.

Ayah Arga kemudian berdiri.

"Kami pamit dulu."

Bima langsung menoleh.

"Pamit?"

"Iya." Ayah Arga tersenyum.

"Keluarga kami akan menginap di hotel malam ini. Besok pagi kami datang lagi."

Bima tampak sedikit terkejut.

"Kenapa tidak menginap di sini saja?"

Ayah Arga tertawa kecil.

"Rumah ini sudah terlalu penuh."

Ia melirik ke arah Dedi, Maya, Pak Hendra, kemudian kembali kepada Bima.

"Kalian juga butuh waktu untuk berbicara sebagai keluarga."

Bima terdiam. Ada benarnya. Selama tiga puluh tahun, keluarganya telah kehilangan begitu banyak waktu. Malam ini saja sudah terasa seperti mereka sedang mencoba mengejar seluruh waktu yang tertinggal.

Ayah Arga kemudian menepuk bahu Bima.

"Besok kita bicara lagi."

"Bicara tentang apa?"

Ayah Arga tidak langsung menjawab. Ia melirik kepada Arga. Kemudian kepada Dedi.

"Semua."

Satu kata itu membuat suasana kembali serius.

"Bagaimana menjelaskan keadaanmu kepada orang lain. Bagaimana mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di gunung itu. Dan..." Ayah Arga berhenti sejenak.

"...apa yang harus kita lakukan setelah ini."

Bima menundukkan kepala. Ia mengerti. Kepulangannya ternyata bukan akhir dari sebuah cerita. Justru mungkin merupakan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Ayah Arga kemudian tersenyum tipis.

"Jangan dipikirkan malam ini."

Bima mengangkat wajah.

"Besok kita bicarakan dengan kepala yang lebih tenang."

Pak Hendra mengangguk.

"Betul."

Dedi ikut berdiri.

"Ayo, saya antar sampai depan."

Ayah Arga menggeleng.

"Nggak perlu. Istirahat saja."

Namun Dedi tetap berjalan mengikuti dibelakang Arga dan ibunya.

Sementara anggota keluarga yang lain mulai membereskan meja. Bima masih duduk di sofa. Maya menghampirinya.

"Kamu capek?"

Bima mengangguk pelan.

"Sedikit."

"Ya sudah. Istirahat."

Bima menatap Maya.

"Masih terasa aneh."

"Apa?"

"Bisa duduk di rumah ini lagi."

Maya tersenyum.

"Memang akan terasa aneh."

Ia menepuk pelan bahu kakaknya yang sekarang terlihat seperti sebagai adiknya.

"Tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar."

Bima mengangguk. Maya kemudian berjalan menuju dapur. Sementara itu, di depan rumah, Dedi berdiri bersama Ayah Arga dan Arga. Udara malam terasa dingin. Ayah Arga memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket.

"Besok jangan terlalu banyak orang dulu."

Dedi mengangguk.

"Saya juga berpikir begitu."

"Kita harus menentukan siapa yang perlu diberi tahu."

Arga menatap ayahnya.

"Kalau soal gunung?"

Ayah Arga menarik napas.

"Itu yang paling sulit."

Dedi terdiam.

"Tiga puluh tahun lalu, pencarian sudah dilakukan."

"Iya."

"Kalau sekarang kita membuka kembali semuanya, pasti banyak pihak yang ikut bertanya."

Ayah Arga mengangguk.

"Dan kita belum tahu apa yang sebenarnya akan kita temukan."

Arga menatap rumah di belakang mereka.

"Mas Bima pasti masih ingat sesuatu. Dan mungkin jika digabungkan dengan pengalaman hilangku, akan ada benang merah."

Dedi mengangguk.

"Tapi belum lengkap. Besok kita dengarkan semuanya. Pelan-pelan. Termasuk cerita kamu juga Ga."

Ayah Arga menatap Dedi.

"Jangan paksa dia mengingat banyak malam ini."

"Saya tahu."

"Kalau ingatannya muncul sendiri, kita catat."

Dedi mengangguk lagi.

"Baik."

Beberapa detik mereka terdiam. Kemudian Ayah Arga berkata pelan.

"Dan satu lagi."

"Apa?"

"Jangan beri tahu terlalu banyak orang sebelum kita benar-benar memahami keadaannya."

Dedi memahami maksudnya. Bima baru saja kembali setelah tiga puluh tahun. Kabar seperti itu tidak mungkin disimpan selamanya. Namun sebelum semuanya menjadi konsumsi publik, mereka perlu memastikan satu hal terlebih dahulu. Bima memang benar-benar Bima.

Dan apa pun yang terjadi di gunung itu, mereka harus siap menerima jawabannya.

Arga membuka pintu mobil.

"Ayah."

"Hm?"

"Besok kita kembali jam berapa?"

Ayah Arga melihat jam tangannya.

"Setelah sarapan."

Ia tersenyum.

"Jangan terlalu pagi. Biarkan mereka tidur."

Arga mengangguk. Dedi tersenyum kecil.

"Terima kasih sudah datang."

Ayah Arga menepuk bahunya.

"Kita semua punya urusan yang belum selesai."

Ia kemudian masuk ke mobil. Arga ikut masuk. Sebelum pintu tertutup, ia kembali melihat ke arah rumah. Di balik jendela ruang keluarga, terlihat bayangan Bima. Lelaki yang secara fisik masih berusia dua puluh satu tahun itu berdiri sambil memandang ke arah mereka. Arga mengangkat tangan. Bima membalas. Mobil perlahan meninggalkan halaman. Lampu belakangnya semakin jauh. Hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Dedi berdiri beberapa saat di depan rumah. Kemudian ia masuk dan mengunci pintu. Malam benar-benar telah larut. Di ruang keluarga, Bima masih duduk sendirian. Pak Hendra sudah masuk ke kamar. Maya juga mulai mematikan lampu dapur.

Dedi menghampiri adiknya.

"Belum tidur?"

Bima menggeleng.

"Belum ngantuk."

Dedi duduk di sebelahnya.

"Besok kita lanjutkan."

Bima menatap kakaknya.

"Kang."

"Iya?"

"Kalau ternyata mereka masih hidup..."

Dedi terdiam. Bima melanjutkan dengan suara sangat pelan.

"Arif, Bayu, Rasyid, Amin, dan Asep..."

Dedi tidak menjawab. Ia hanya menatap mata adiknya. Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan Bima. Bukan sekadar harapan. Melainkan keyakinan.

"Entah kenapa," ujar Bima, "aku merasa mereka belum selesai."

Dedi mengerutkan kening.

"Maksudmu?"

Bima memandang jendela.

"Aku tidak tahu." Ia menggeleng.

"Perasaanku saja."

Dedi tidak memaksanya. Ia hanya menepuk bahu Bima.

"Besok kita bicara."

Bima mengangguk.

"Iya."

Dedi berdiri.

"Dan malam ini tidur" Ia menunjuk kamar.

Bima tersenyum kecil.

"Siap, Kang."

Dedi berjalan menuju kamarnya. Namun sebelum masuk, ia berhenti. Ia menoleh sekali lagi kepada Bima. Adiknya masih duduk di sofa. Masih dengan wajah yang sama. Wajah dua puluh satu tahun yang selama tiga puluh tahun menjadi bagian dari kenangan keluarganya. Dedi menggeleng pelan. Kemudian masuk ke kamar. Lampu ruang keluarga akhirnya dimatikan. Rumah menjadi sunyi. Bima berjalan menuju kamar yang dulu pernah menjadi miliknya. Tangannya menyentuh gagang pintu. Ia menarik napas panjang. Lalu membukanya. Kamar itu sudah berubah. Namun beberapa benda lama masih tersimpan.

Sebuah rak kecil.

Meja belajar.

Dan sebuah foto lama yang masih terpasang di dinding. Bima mendekatinya. Dalam foto itu, ia masih mengenakan seragam sekolah. Di sebelahnya berdiri Dedi. Maya. Dan kedua orang tuanya. Bima menyentuh permukaan foto tersebut.

"Sudah tiga puluh tahun..." Bisiknya. Ia tersenyum tipis.

"Tapi rasanya seperti kemarin."

Kemudian ia memejamkan mata. Namun ketika matanya tertutup, kabut kembali muncul dalam ingatannya.

Putih.

Tebal.

Dingin.

Suara langkah kaki.

Suara teman-temannya memanggil.

Lalu suara lain.

Samar.

Sangat jauh.

Seolah berasal dari balik pepohonan.

"Bima..." Mata Bima langsung terbuka. Napasnya tertahan. Ia menatap sekeliling kamar. Sunyi. Tidak ada siapa-siapa. Bima berdiri diam beberapa detik. Kemudian perlahan duduk di tepi tempat tidur. Tangannya menggenggam selimut.

"Aku pernah dengar suara itu..." Bisiknya.

Tetapi ia tidak tahu milik siapa. Dan untuk pertama kalinya sejak kembali pulang, Bima mulai menyadari bahwa mungkin ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar tersesat di gunung. Sesuatu yang selama tiga puluh tahun menunggunya untuk kembali.

Dan besok...

mereka akan mulai mencari jawabannya.

1
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!