Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Senjata Rahasia Silamoy
Cahaya layar komputerku memantulkan kilatan berkas asing yang mendadak menghilang secara misterius dari folder kerja utama.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali, menekan tombol penyegaran pada sistem operasi berulang-ulang. Hasilnya tetap sama. Ruang penyimpanan di dalam sistem jaringan Vanguard Corp menunjukkan kekosongan absolut pada direktori yang baru saja kuakses satu menit yang lalu.
Laporan Proyek Infrastruktur Sektor Selatan.
Sebuah dokumen setebal dua ratus halaman yang memuat seluruh rancangan anggaran dan kalkulasi kerugian investasi untuk rapat pleno direksi hari ini. Dokumen itu adalah kunci utama yang akan digunakan Sakti untuk membungkam para komisaris oposisi.
Dan kini, dokumen itu lenyap tanpa jejak.
Aku memeriksa riwayat penghapusan sampah di komputer kerjaku. Kosong. Ini bukan kesalahan teknis biasa. Seseorang telah masuk ke dalam server menggunakan akses berlapis dan menghapus data tersebut langsung dari akar direktori perusahaan.
Suara ketukan hak sepatu tinggi yang sangat kukenal bergema dari arah koridor.
Silamoy melangkah mendekati mejaku. Wanita itu mengenakan blazer merah menyala yang tampak mencolok. Di belakangnya, Dorko berjalan mengekor dengan senyum arogan yang sangat memuakkan.
Kedua orang itu berhenti tepat di depan meja kerjaku.
"Selamat pagi, Anak Baru," sapa Silamoy dengan nada suara melengking yang sengaja dikeraskan. "Rapat direksi akan dimulai tepat sepuluh menit lagi. Pak Sakti sudah berada di dalam ruang rapat bersama seluruh dewan komisaris. Kami ke sini untuk mengambil salinan cetak laporan infrastruktur."
Silamoy mengulurkan tangannya yang dihiasi cat kuku berwarna merah gelap, menuntut berkas fisik dari mejaku.
Dorko bersedekap di samping wanita itu. Mata kecil Kepala HRD tersebut memicing penuh kemenangan.
"Jangan bilang kau belum mencetaknya, Tera," desak Dorko dengan nada merendahkan. "Pak Sakti sangat tidak mentolerir keterlambatan. Jika kau gagal menyediakan data itu di atas meja rapat hari ini, karier singkatmu di lantai lima puluh lima ini akan resmi berakhir."
Aku menyandarkan punggungku ke kursi. Tatapanku mengunci wajah Silamoy dan Dorko secara bergantian.
Kini aku memahami situasinya dengan sangat jelas. Silamoy dan Dorko bekerja sama untuk menjebakku. Mereka menggunakan wewenang internal untuk meretas jaringan dan menghapus laporan penting itu tepat sebelum rapat dimulai. Tujuan mereka hanya satu: membuatku terlihat tidak kompeten dan menghancurkan posisi Sakti di depan para investor.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Sistem A.U.R.A di dalam kepalaku langsung merespons situasi krisis ini secara otomatis.
[Memindai Anomali Sistem Jaringan Vanguard Corp.]
[Peringatan: Berkas 'Infrastruktur_Sektor_Selatan.pdf' Telah Dihapus Paksa Melalui Protokol Jarak Jauh.]
Aku tidak menunjukkan reaksi panik sedikit pun. Aku menatap lurus ke arah Silamoy dengan wajah sedingin es.
"Laporannya baru saja terhapus dari server utama," ucapku lugas.
Mata Silamoy membelalak dengan dibuat-buat. Wanita itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berakting terkejut di depan beberapa staf lain yang mulai memperhatikan kami.
"Terhapus?! Astaga, Tera!" seru Silamoy histeris. "Itu data bernilai triliunan rupiah! Bagaimana kau bisa seceroboh itu menghapus data utama perusahaan?! Kau tahu betapa murkanya dewan direksi nanti?"
Dorko mendengus keras. "Sudah saya duga. Mempekerjakan staf rendahan tanpa kualifikasi pendidikan yang jelas adalah kesalahan fatal. Kau harus mempertanggungjawabkan kelalaianmu ini di depan Pak Sakti sekarang juga."
"Bawa dia ke ruang rapat," perintah Dorko kepada Silamoy. "Biar seluruh direksi melihat sendiri hasil kerja dari asisten kebanggaan CEO kita."
Mereka berdua berbalik arah, melangkah memimpin jalan menuju ruang rapat pleno. Silamoy berjalan dengan dagu terangkat tinggi, yakin bahwa hari ini adalah hari kehancuranku.
Aku tetap duduk di kursiku.
Mereka mengira penghapusan file di server akan membuatku kehilangan seluruh data mentahnya. Mereka lupa, atau lebih tepatnya tidak tahu, bahwa aku tidak membutuhkan ruang penyimpanan eksternal untuk menyimpan data.
[Mengaktifkan Mode Pemulihan Memori Visual Inang.]
Hamparan teks hijau menyala memenuhi retinaku.
[Mencari Cadangan Data Berkas Laporan Proyek Infrastruktur Sektor Selatan...]
[Data Ditemukan di Dalam Korteks Visual Inang. Tingkat Akurasi Ingatan: 100%.]
Otakku telah merekam seluruh isi dua ratus halaman dokumen itu ketika aku membacanya semalam. Setiap angka, setiap tabel, setiap paragraf analisis risiko, semuanya tersimpan rapi di dalam pangkalan data A.U.R.A yang menyatu dengan saraf kognitifku.
Aku menarik keyboard mendekat. Jemariku langsung menari di atas tuts dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Suara ketukan tombol terdengar seperti rentetan senapan mesin. Aku mengetik ulang seluruh laporan rumit tersebut dari dalam kepalaku sendiri.
Waktu bergulir dengan cepat.
[Proses Rekonstruksi Dokumen Selesai. Waktu Eksekusi: Tiga Menit Empat Belas Detik.]
Aku menekan tombol cetak. Mesin printer ukuran besar di sudut ruanganku segera berdengung nyaring, memuntahkan ratusan lembar kertas yang berisi angka dan grafik finansial yang sangat presisi.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Pintu ganda ruang rapat pleno terbuka lebar.
Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat menekan. Sakti duduk di kursi utama, memancarkan aura dingin yang membuat seluruh ruangan seolah membeku. Khan berdiri kaku di belakangnya. Sepuluh orang pria berjas mahal duduk mengelilingi meja oval raksasa, menatap tidak sabar ke arah ujung meja.
Silamoy berdiri di depan layar proyektor yang masih kosong. Wanita itu memasang wajah penuh penyesalan palsu.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada jajaran dewan komisaris dan Bapak Sakti," ucap Silamoy dengan nada dramatis. "Laporan proyek hari ini tidak bisa kami presentasikan. Asisten khusus Bapak Sakti, Saudari Tera, baru saja melakukan kelalaian fatal. Ia tidak sengaja menghapus seluruh fail utama dari server perusahaan."
Bisik-bisik kemarahan mulai terdengar dari para investor. Dorko tersenyum puas dari tempat duduknya di sudut ruangan.
Sakti tidak bergerak sedikit pun. Mata di balik kacamata peraknya menatap tajam ke arah pintu masuk, menunggu kehadiranku.
Aku melangkah masuk ke dalam ruang rapat tepat saat bisik-bisik itu semakin memanas.
Aku membawa tumpukan dokumen tebal yang sudah dijilid rapi di pelukanku. Bunyi hak sepatuku beradu dengan lantai marmer, menarik seluruh perhatian di dalam ruangan itu.
Tanpa mempedulikan tatapan membunuh dari dewan komisaris, aku berjalan mengelilingi meja oval. Aku membagikan salinan laporan proyek tersebut ke hadapan masing-masing investor satu per satu.
Silamoy membeku di tempatnya berdiri. Mulutnya terbuka lebar menatap tumpukan kertas yang kini berada di atas meja.
"Ini adalah laporan evaluasi dan rancangan anggaran Sektor Selatan, para hadirin sekalian," suaraku memecah keheningan dengan intonasi mutlak yang sangat tenang.
Aku berjalan menuju kursi Sakti dan meletakkan salinan terakhir tepat di hadapannya.
Sakti menatap dokumen itu, lalu menatap mataku. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan postur rileks, aura membunuhnya perlahan menghilang digantikan oleh rasa dominasi yang pekat.
"Mustahil!" bentak Dorko mendadak. Kepala HRD itu berdiri dari kursinya dengan wajah panik. "Laporannya sudah terhapus dari server! Tidak ada jejak pemulihan data! Bagaimana kau bisa..."
Aku memutar tubuhku, menatap tajam ke arah Dorko.
"Bagaimana saya bisa tahu bahwa laporan itu terhapus secara permanen?" balasku dengan nada dingin yang mengancam. "Itu pertanyaan yang sangat bagus, Pak Dorko."
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Aku berjalan menuju layar proyektor utama. Sistem A.U.R.A langsung menyinkronkan data pelacakan dari pikiranku ke layar besar di belakangku melalui jaringan nirkabel internal.
Tampilan layar berubah, menyajikan rentetan baris kode merah yang menunjukkan log aktivitas jaringan malam sebelumnya.
"Benar, laporan itu memang sengaja dihapus dari server utama," ucapku lantang, memastikan seluruh ruangan mendengarnya.
Aku menunjuk ke arah baris kode IP address yang berkedip di layar.
"Namun, sang peretas menggunakan kredensial tingkat dua dari departemen analitik eksekutif. Akses tersebut dilakukan pada pukul tiga dini hari melalui terminal komputer bernomor registrasi 04-A."
Seluruh mata di ruangan itu seketika tertuju pada Silamoy. Semua orang tahu bahwa kode registrasi itu adalah milik meja kerja Silamoy.
Wajah Silamoy berubah sepucat mayat. Kakinya bergetar hebat hingga ia harus berpegangan pada pinggiran meja.
"Dan yang lebih menarik lagi," lanjutku tanpa memberikan ampun. Aku menekan satu tombol pemindah slide.
Layar menampilkan log otorisasi persetujuan akses.
"Penghapusan data skala besar membutuhkan otorisasi keamanan ganda. Otorisasi tersebut diberikan oleh akun manajerial milik Kepala HRD, Bapak Dorko, tepat sepuluh detik sebelum file dihancurkan."
Keheningan mutlak mencekik ruang rapat itu.
Dorko ambruk kembali ke kursinya. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Seluruh skenario liciknya dihancurkan berkeping-keping oleh jejak digital yang berhasil kubongkar dalam hitungan menit.
Aku menatap Silamoy dan Dorko dengan tatapan kemenangan absolut. Mereka mengira menghapus file akan memusnahkan hasil kerjaku. Namun, sistem di otakku telah menyimpan seluruh rekaman data tersebut di memoriku, memungkinkanku menyusun kembali dokumen itu secara utuh. Aku membalikkan skenario kejahatan mereka di depan forum rapat.
Sakti perlahan berdiri dari kursi utamanya.
Pria itu mengancingkan jas gelapnya dengan gerakan elegan. Mata elangnya menyapu wajah Dorko dan Silamoy dengan tatapan kekejaman murni.
"Mencoba menyabotase proyek triliunan rupiah hanya demi memuaskan ego pribadi kalian," desis Sakti dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru ruangan.
Sakti menoleh ke arah Khan yang berdiri bersiaga di belakangnya.
"Cabut seluruh akses keamanan Dorko dan Silamoy saat ini juga." Perintah mutlak Sakti tidak memberikan ruang untuk belas kasihan. "Turunkan jabatan Dorko menjadi staf lapangan, dan buang Silamoy ke divisi arsip tingkat dasar. Jika mereka menolak, serahkan bukti kejahatan siber ini kepada pihak berwajib."
Sakti melontarkan sanksi penurunan jabatan seketika bagi Dorko dan Silamoy di hadapan seluruh jajaran manajemen, membuktikan bahwa siapa pun yang berani mengusik asistennya akan berhadapan langsung dengan kehancuran total.
TERA itu ......
T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?