NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:24.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Awal Baru, Takdir Baru

Pria yang baru turun dari mobil itu menghampiri Asti, lalu mengulurkan tangannya ke arah Asti. "Nyonya, ini kuncinya."

"Terima kasih." Asti menerima kunci itu. "Kamu bisa kembali."

"Baik, Nyonya. Saya permisi."

Setelah pria itu pergi, Asti berbalik menghampiri Aynara. "Nah." Ia menyodorkan kunci tersebut. "Ini sekarang mobil kamu."

Aynara yang sejak tadi hanya memerhatikan langsung mengerutkan dahi. "Mobilku?"

"Iya." Asti meletakkan kunci itu di telapak tangan Aynara. "Mulai sekarang kamu pakai ini untuk keperluan sehari-hari. Kalau mau pergi atau bekerja, kamu gak perlu repot naik kendaraan umum."

Aynara menatap kunci di tangannya, lalu melihat mobil yang terparkir di samping mereka. "Ma..."

Asti menatap Aynara. "Hm?"

"Ini terlalu mahal."

Asti terkekeh. "Memangnya kamu mau Mama kasih mobil yang rodanya tiga?"

Aynara menggeleng cepat. "Bukan begitu." Ia mengembalikan kunci tersebut. "Ma, aku gak bisa menerima ini. Apartemen saja sudah terlalu banyak."

Asti kembali menyodorkan kunci itu. "Terima."

"Tapi—"

"Ra." Nada suara Asti tetap lembut, tetapi cukup tegas untuk membuat Aynara berhenti bicara. "Kamu sekarang tinggal sendiri. Kamu sedang mencari pekerjaan. Mama gak mau kamu kesulitan hanya karena gak punya kendaraan."

Aynara tak tahu harus berkata apa, karena yang dikatakan Asti memang benar.

Asti menggenggam tangannya. "Anggap saja ini bukan hadiah. Ini fasilitas dari Mama supaya kamu lebih mudah menjalani hidupmu."

Aynara menatap wajah Asti cukup lama. Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya. "Terima kasih, Ma."

Kali ini ia tidak menolak. Aynara menerima kembali kunci tersebut, lalu memandang mobil di hadapannya.

Dalam hati ia hanya bisa menghela napas. "Kayaknya aku benar-benar punya ibu mertua seperti ibu peri."

Namun sesaat kemudian pikirannya melayang kepada Aksa. Senyumnya langsung berubah tipis.

"Sayangnya... aku dapat suami macam merak rimba." Ia menggeleng pelan. "Sudahlah."

Ponsel Aynara yang berada di dalam tas tiba-tiba berdering. Ia segera mengambilnya dan mengernyit ketika melihat nomor yang tidak terdaftar dalam kontaknya. Namun, karena penasaran, ia tetap menerima panggilan tersebut.

"Hallo?"

Ekspresi Aynara perlahan berubah ketika mendengar suara dari seberang.

"Benar, ini Aynara Ayu Puspita."

Beberapa saat ia hanya mendengarkan.

"Besok datang untuk interview?" Matanya langsung berbinar. "Iya. Tentu saja saya datang. Terima kasih."

Panggilan berakhir. Aynara menatap layar ponselnya dengan senyum lebar, lalu beralih menatap Asti.

"Ma!"

Asti yang sejak tadi memerhatikan ekspresinya semakin penasaran. "Ada apa?"

"Aku dapat panggilan interview, Ma." Wajah Aynara terlihat begitu bahagia.

Asti ikut tersenyum lebar. "Selamat, Sayang."

Tanpa sadar, Asti langsung memeluk Aynara. Aynara membalas pelukan itu dengan tawa kecil.

"Setelah beberapa hari terakhir hidupku kacau, akhirnya ada kabar baik juga."

Aynara memejamkan mata sejenak. Aneh rasanya. Sejak Asti menghubunginya, seolah-olah satu per satu keberuntungan datang menghampiri.

Mulai dari uang saku sepuluh juta yang diberikan Asti, uang bulanan dari Wicaksono yang diserahkan Gunadi, hingga pertemuannya dengan Riva yang memberinya informasi tentang lowongan pekerjaan. Belum lagi apartemen dan mobil yang diberikan Asti.

Dan sekarang... Ia bahkan mendapat panggilan interview.

"Ibu mertuaku memang ibu peri pembawa keajaiban."

Aynara tersenyum dalam hati dan tanpa sadar memeluk Asti sedikit lebih erat.

Asti hanya tersenyum sambil menepuk pelan punggung menantunya. "Sebahagia ini cuma karena mendapat panggilan interview?"

Entah mengapa, melihat kebahagiaan Aynara membuat hatinya ikut terasa hangat.

Beberapa saat kemudian, mereka melepaskan pelukan.

Asti merapikan rambut Aynara yang sedikit berantakan. "Sudah. Sekarang Mama tunjukkan unit apartemennya."

Ia kemudian menggandeng tangan Aynara. "Ayo."

Aynara tersenyum dan mengikuti langkah Asti menuju lobby.

Begitu tiba di lobby, Asti membawa Aynara menuju meja resepsionis.

"Selamat sore, Bu Asti," sapa resepsionis dengan ramah.

"Sore. Saya mau memperkenalkan penghuni baru di unit saya." Asti menoleh kepada Aynara. "Ini Aynara. Mulai hari ini dia akan tinggal di apartemen saya."

Resepsionis langsung mengangguk. "Baik, Bu. Kami akan mencatat data Nona Aynara sebagai penghuni yang diizinkan menempati unit tersebut."

Asti kemudian menatap petugas keamanan yang berdiri tidak jauh dari meja resepsionis.

"Tolong informasikan juga kepada petugas keamanan di pintu masuk dan bagian parkir. Kalau Nara datang sendiri, jangan dipersulit."

"Baik, Bu. Akan kami sampaikan."

Asti mengangguk puas. "Terima kasih."

Setelah semuanya selesai, Asti kembali menggandeng tangan Aynara. "Sudah. Sekarang Mama tunjukkan rumah barumu."

Aynara tersenyum. "Rumah baru?"

"Anggap saja begitu."

Mereka berjalan menuju lift. Asti menekan tombol menuju lantai unitnya. Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka.

"Nah, ini dia."

Asti membawa Aynara ke depan sebuah pintu. Ia memasukkan kartu akses, lalu membuka pintu.

Aynara melangkah masuk. Matanya langsung membulat melihat interior apartemen yang luas dan elegan.

"Ma..."

Asti tersenyum melihat ekspresinya. "Suka?"

Aynara masih terpaku memandangi ruangan di hadapannya. "Ini... beneran buat aku, Ma?"

"Tentu saja," sahut Asti. "Nanti kalau kamu mau membawa temanmu ke sini, langsung informasikan kepada resepsionis supaya mereka tahu."

"Iya, Ma. Makasih."

Asti melirik jam di pergelangan tangannya. "Ya sudah. Kamu lihat-lihat dulu apartemennya. Mama masih ada urusan lain."

"Iya, Ma. Sekali lagi, makasih."

Asti hanya mengangguk, lalu berbalik menuju pintu.

Aynara mengikutinya sampai ke depan pintu lift. "Hati-hati, Ma." Aynara melambaikan tangan.

"Kamu juga, Sayang." Asti membalas lambaian itu sebelum pintu lift perlahan tertutup dan sosoknya menghilang dari pandangan.

Aynara mengembuskan napas pelan. Entah kenapa, pertemuannya dengan Asti selalu berhasil membuat hatinya hangat.

Ia kemudian kembali ke dalam apartemen dan mulai memeriksa setiap ruangan.

Ruang tamu luas, dapur yang sudah dilengkapi berbagai peralatan, dua kamar tidur, serta sebuah kamar utama dengan lemari pakaian yang cukup besar.

"Nyaman banget."

***

Sementara itu, di sebuah ruangan yang sunyi, Gunadi berdiri di hadapan seorang pria paruh baya yang duduk di balik meja.

"Bagaimana kondisi Tuan Besar?" tanya pria itu.

"Masih belum sadar," jawab Gunadi. "Dokter juga belum bisa memastikan kapan beliau akan siuman."

Pria itu menghela napas berat. "Kalau begitu, perusahaan gak bisa terus menunggu."

Gunadi mengangguk. "Benar. Dalam kondisi seperti ini, kita harus mengambil keputusan sesuai amanat Tuan Besar."

Pria itu menatap Gunadi serius. "Termasuk soal posisi pucuk pimpinan?"

"Termasuk itu." Gunadi membuka map yang sejak tadi dibawanya, kemudian mengeluarkan beberapa dokumen. "Besok kita adakan rapat direksi."

Ia menatap dokumen di tangannya sejenak sebelum melanjutkan. "Sudah waktunya Tuan Muda Aksa mengambil alih."

Pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya. "Tapi pengangkatan Aksa sebagai CEO pasti akan menimbulkan pertanyaan."

Gunadi mengangguk pelan. "Selama ini hanya jajaran direksi dan beberapa petinggi perusahaan yang tahu bahwa Aksa adalah cucu sekaligus pewaris Tuan Besar."

"Sedangkan karyawan biasa hanya mengenalnya sebagai manajer," tutur pria di baik meja.

"Benar." Gunadi menutup map tersebut. "Kalau tiba-tiba dia diangkat menjadi CEO, cepat atau lambat hubungan mereka pasti akan terungkap."

Pria itu hanya menatap map yang baru ditutup Gunadi.

"Publik juga akan mulai bertanya-tanya," lanjut Gunadi. "Kenapa seorang manajer tiba-tiba menduduki posisi tertinggi di perusahaan sebesar ini." Ia menghela napas pelan. "Lambat laun, semua ini pasti terbongkar. Ini hanya masalah waktu."

Pria paruh baya itu mengangguk. "Baik. Saya akan menginformasikan kepada yang lain agar mengikuti rapat besok."

Gunadi mengangguk.

"Pastikan semuanya siap. Mulai besok, posisi Tuan Muda Aksa akan berubah."

 

...🔸🔸🔸...

...“Kebaikan yang tulus tidak selalu datang dari orang yang memiliki hubungan darah kita. Terkadang, seseorang yang baru hadir dalam hidup justru menjadi alasan kita kembali percaya bahwa masih ada orang baik yang mau menerima kita tanpa syarat.”...

...“Tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, sesuatu yang pergi dari hidup kita justru memberi ruang bagi hal-hal baru yang lebih baik untuk datang. Jangan takut memulai kembali, sebab bisa jadi kehidupan yang selama ini kita impikan justru menunggu di balik pintu yang baru.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Rahma
yaaah msh blm tau jg s Azka sp itu aynara 🤦🤦
Hanima
👍👍👍
Sugiharti Rusli
bagus pak Gun, si tuan muda ini memnag harus dikasih paham sih dia sekarang tentang apa yang dia pikirkan sekarang dengan perasaannya kepada istrinya itu,,,
Sugiharti Rusli
benar kata pak Gunadi sih, karena selama ini si Aksa ga pernah mau tahu hal apapun tentang sang istri, apalagi saat menikah wajahnya sedang alergi dan dia ga pernah sampai ke hati saat ijab menyebut nama istrinya itu,,,
Sugiharti Rusli
bahkan saat dia memanggil ibu mertuanya mama yah wajar, dan dia memakai salah satu mobil milik keluarga Wicaksono juga sah saja kan,,,
Sugiharti Rusli
jadi sebelum ada perceraian sebagai prasyarat dulu dari kakek Wicaksono, dia memang istri Aksa yang sah di mata hukum dan agama,,,
Sugiharti Rusli
apalagi memang pada kenyataannya status dia adalah menantu keluarga Wicaksono sekarang kan,,,
Sugiharti Rusli
wah Aynara malah langsung mengungkap fakta siapa dia langsung ke Aksa yah,,,
Sugiharti Rusli
atau bisa jadi nanti tetiba seseorang akan menyelamatkan posisinya dari intimidasi suaminya itu🤔🤔🤔
Sugiharti Rusli
apa Nara akan menjawab dengan kata" yang akan membalikan lagi yah nanti,,,
Sugiharti Rusli
eeh, dia mana tanya hal" pribadi yang ga ada hubungannya dengan kerja profesional kamu dengan nada ancaman pulak,,,
Sugiharti Rusli
mana yang dia tanyakan meski awalnya tentang pekerjaan kamu di hari pertama dan rekan" kamu,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya hari pertama bekerja kamu harus menghadapi suami kamu yang mencoba mengintimidasi yah Nara,,,
Sugiharti Rusli
jadi detai tentang nama maupun penampilan sang istri ga dia perhatikan dengan jelas saat itu, meski kalo wajah karena kondisinya bengap yah saat itu,,,
Sugiharti Rusli
soalnya uda keburu ilfil sih saat hari pernikahan mereka dulu, dan dia terpaksa karena diancam sang kakek,,,
Sugiharti Rusli
dan dia ga pernah berpikir kalo yang ibunya temui itu istrinya sendiri yekan,,,
Sugiharti Rusli
beruntung si Aksa malah bertemu salah satu direktutnya, jadi dia ga bisa langsung konfrontasi ke ibunya saat di san yah,,
Sugiharti Rusli
dari sekian banyak restaurant di sana, kenapa juga kalian menuju tempat yang sama sih😆😆😆
Ninik
sukurin nyesel kan Luh Aksa bini Lo cantik tapi sekarang cuek didepanmu makanya g usah merasa sok kegantengan jadi manusia
Kadek Sri
yah ketahuan deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!