Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Awal Baru, Takdir Baru
Pria yang baru turun dari mobil itu menghampiri Asti, lalu mengulurkan tangannya ke arah Asti. "Nyonya, ini kuncinya."
"Terima kasih." Asti menerima kunci itu. "Kamu bisa kembali."
"Baik, Nyonya. Saya permisi."
Setelah pria itu pergi, Asti berbalik menghampiri Aynara. "Nah." Ia menyodorkan kunci tersebut. "Ini sekarang mobil kamu."
Aynara yang sejak tadi hanya memerhatikan langsung mengerutkan dahi. "Mobilku?"
"Iya." Asti meletakkan kunci itu di telapak tangan Aynara. "Mulai sekarang kamu pakai ini untuk keperluan sehari-hari. Kalau mau pergi atau bekerja, kamu gak perlu repot naik kendaraan umum."
Aynara menatap kunci di tangannya, lalu melihat mobil yang terparkir di samping mereka. "Ma..."
Asti menatap Aynara. "Hm?"
"Ini terlalu mahal."
Asti terkekeh. "Memangnya kamu mau Mama kasih mobil yang rodanya tiga?"
Aynara menggeleng cepat. "Bukan begitu." Ia mengembalikan kunci tersebut. "Ma, aku gak bisa menerima ini. Apartemen saja sudah terlalu banyak."
Asti kembali menyodorkan kunci itu. "Terima."
"Tapi—"
"Ra." Nada suara Asti tetap lembut, tetapi cukup tegas untuk membuat Aynara berhenti bicara. "Kamu sekarang tinggal sendiri. Kamu sedang mencari pekerjaan. Mama gak mau kamu kesulitan hanya karena gak punya kendaraan."
Aynara tak tahu harus berkata apa, karena yang dikatakan Asti memang benar.
Asti menggenggam tangannya. "Anggap saja ini bukan hadiah. Ini fasilitas dari Mama supaya kamu lebih mudah menjalani hidupmu."
Aynara menatap wajah Asti cukup lama. Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya. "Terima kasih, Ma."
Kali ini ia tidak menolak. Aynara menerima kembali kunci tersebut, lalu memandang mobil di hadapannya.
Dalam hati ia hanya bisa menghela napas. "Kayaknya aku benar-benar punya ibu mertua seperti ibu peri."
Namun sesaat kemudian pikirannya melayang kepada Aksa. Senyumnya langsung berubah tipis.
"Sayangnya... aku dapat suami macam merak rimba." Ia menggeleng pelan. "Sudahlah."
Ponsel Aynara yang berada di dalam tas tiba-tiba berdering. Ia segera mengambilnya dan mengernyit ketika melihat nomor yang tidak terdaftar dalam kontaknya. Namun, karena penasaran, ia tetap menerima panggilan tersebut.
"Hallo?"
Ekspresi Aynara perlahan berubah ketika mendengar suara dari seberang.
"Benar, ini Aynara Ayu Puspita."
Beberapa saat ia hanya mendengarkan.
"Besok datang untuk interview?" Matanya langsung berbinar. "Iya. Tentu saja saya datang. Terima kasih."
Panggilan berakhir. Aynara menatap layar ponselnya dengan senyum lebar, lalu beralih menatap Asti.
"Ma!"
Asti yang sejak tadi memerhatikan ekspresinya semakin penasaran. "Ada apa?"
"Aku dapat panggilan interview, Ma." Wajah Aynara terlihat begitu bahagia.
Asti ikut tersenyum lebar. "Selamat, Sayang."
Tanpa sadar, Asti langsung memeluk Aynara. Aynara membalas pelukan itu dengan tawa kecil.
"Setelah beberapa hari terakhir hidupku kacau, akhirnya ada kabar baik juga."
Aynara memejamkan mata sejenak. Aneh rasanya. Sejak Asti menghubunginya, seolah-olah satu per satu keberuntungan datang menghampiri.
Mulai dari uang saku sepuluh juta yang diberikan Asti, uang bulanan dari Wicaksono yang diserahkan Gunadi, hingga pertemuannya dengan Riva yang memberinya informasi tentang lowongan pekerjaan. Belum lagi apartemen dan mobil yang diberikan Asti.
Dan sekarang... Ia bahkan mendapat panggilan interview.
"Ibu mertuaku memang ibu peri pembawa keajaiban."
Aynara tersenyum dalam hati dan tanpa sadar memeluk Asti sedikit lebih erat.
Asti hanya tersenyum sambil menepuk pelan punggung menantunya. "Sebahagia ini cuma karena mendapat panggilan interview?"
Entah mengapa, melihat kebahagiaan Aynara membuat hatinya ikut terasa hangat.
Beberapa saat kemudian, mereka melepaskan pelukan.
Asti merapikan rambut Aynara yang sedikit berantakan. "Sudah. Sekarang Mama tunjukkan unit apartemennya."
Ia kemudian menggandeng tangan Aynara. "Ayo."
Aynara tersenyum dan mengikuti langkah Asti menuju lobby.
Begitu tiba di lobby, Asti membawa Aynara menuju meja resepsionis.
"Selamat sore, Bu Asti," sapa resepsionis dengan ramah.
"Sore. Saya mau memperkenalkan penghuni baru di unit saya." Asti menoleh kepada Aynara. "Ini Aynara. Mulai hari ini dia akan tinggal di apartemen saya."
Resepsionis langsung mengangguk. "Baik, Bu. Kami akan mencatat data Nona Aynara sebagai penghuni yang diizinkan menempati unit tersebut."
Asti kemudian menatap petugas keamanan yang berdiri tidak jauh dari meja resepsionis.
"Tolong informasikan juga kepada petugas keamanan di pintu masuk dan bagian parkir. Kalau Nara datang sendiri, jangan dipersulit."
"Baik, Bu. Akan kami sampaikan."
Asti mengangguk puas. "Terima kasih."
Setelah semuanya selesai, Asti kembali menggandeng tangan Aynara. "Sudah. Sekarang Mama tunjukkan rumah barumu."
Aynara tersenyum. "Rumah baru?"
"Anggap saja begitu."
Mereka berjalan menuju lift. Asti menekan tombol menuju lantai unitnya. Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka.
"Nah, ini dia."
Asti membawa Aynara ke depan sebuah pintu. Ia memasukkan kartu akses, lalu membuka pintu.
Aynara melangkah masuk. Matanya langsung membulat melihat interior apartemen yang luas dan elegan.
"Ma..."
Asti tersenyum melihat ekspresinya. "Suka?"
Aynara masih terpaku memandangi ruangan di hadapannya. "Ini... beneran buat aku, Ma?"
"Tentu saja," sahut Asti. "Nanti kalau kamu mau membawa temanmu ke sini, langsung informasikan kepada resepsionis supaya mereka tahu."
"Iya, Ma. Makasih."
Asti melirik jam di pergelangan tangannya. "Ya sudah. Kamu lihat-lihat dulu apartemennya. Mama masih ada urusan lain."
"Iya, Ma. Sekali lagi, makasih."
Asti hanya mengangguk, lalu berbalik menuju pintu.
Aynara mengikutinya sampai ke depan pintu lift. "Hati-hati, Ma." Aynara melambaikan tangan.
"Kamu juga, Sayang." Asti membalas lambaian itu sebelum pintu lift perlahan tertutup dan sosoknya menghilang dari pandangan.
Aynara mengembuskan napas pelan. Entah kenapa, pertemuannya dengan Asti selalu berhasil membuat hatinya hangat.
Ia kemudian kembali ke dalam apartemen dan mulai memeriksa setiap ruangan.
Ruang tamu luas, dapur yang sudah dilengkapi berbagai peralatan, dua kamar tidur, serta sebuah kamar utama dengan lemari pakaian yang cukup besar.
"Nyaman banget."
***
Sementara itu, di sebuah ruangan yang sunyi, Gunadi berdiri di hadapan seorang pria paruh baya yang duduk di balik meja.
"Bagaimana kondisi Tuan Besar?" tanya pria itu.
"Masih belum sadar," jawab Gunadi. "Dokter juga belum bisa memastikan kapan beliau akan siuman."
Pria itu menghela napas berat. "Kalau begitu, perusahaan gak bisa terus menunggu."
Gunadi mengangguk. "Benar. Dalam kondisi seperti ini, kita harus mengambil keputusan sesuai amanat Tuan Besar."
Pria itu menatap Gunadi serius. "Termasuk soal posisi pucuk pimpinan?"
"Termasuk itu." Gunadi membuka map yang sejak tadi dibawanya, kemudian mengeluarkan beberapa dokumen. "Besok kita adakan rapat direksi."
Ia menatap dokumen di tangannya sejenak sebelum melanjutkan. "Sudah waktunya Tuan Muda Aksa mengambil alih."
Pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya. "Tapi pengangkatan Aksa sebagai CEO pasti akan menimbulkan pertanyaan."
Gunadi mengangguk pelan. "Selama ini hanya jajaran direksi dan beberapa petinggi perusahaan yang tahu bahwa Aksa adalah cucu sekaligus pewaris Tuan Besar."
"Sedangkan karyawan biasa hanya mengenalnya sebagai manajer," tutur pria di baik meja.
"Benar." Gunadi menutup map tersebut. "Kalau tiba-tiba dia diangkat menjadi CEO, cepat atau lambat hubungan mereka pasti akan terungkap."
Pria itu hanya menatap map yang baru ditutup Gunadi.
"Publik juga akan mulai bertanya-tanya," lanjut Gunadi. "Kenapa seorang manajer tiba-tiba menduduki posisi tertinggi di perusahaan sebesar ini." Ia menghela napas pelan. "Lambat laun, semua ini pasti terbongkar. Ini hanya masalah waktu."
Pria paruh baya itu mengangguk. "Baik. Saya akan menginformasikan kepada yang lain agar mengikuti rapat besok."
Gunadi mengangguk.
"Pastikan semuanya siap. Mulai besok, posisi Tuan Muda Aksa akan berubah."
...🔸🔸🔸...
...“Kebaikan yang tulus tidak selalu datang dari orang yang memiliki hubungan darah kita. Terkadang, seseorang yang baru hadir dalam hidup justru menjadi alasan kita kembali percaya bahwa masih ada orang baik yang mau menerima kita tanpa syarat.”...
...“Tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, sesuatu yang pergi dari hidup kita justru memberi ruang bagi hal-hal baru yang lebih baik untuk datang. Jangan takut memulai kembali, sebab bisa jadi kehidupan yang selama ini kita impikan justru menunggu di balik pintu yang baru.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued