NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Kikuk tapi Tulus

Pesan Arkana tiba ketika Anindya baru meletakkan tas penerbangannya di kursi.

Saya berada di dekat rumahmu. Boleh minta lima menit di halaman depan? Kalau tidak, saya titipkan sesuatu kepada petugas dan langsung pergi.

Anindya membaca dua kali. Tidak ada telepon berulang, tidak ada alasan darurat, dan tidak ada kalimat yang menyatakan ia harus turun.

Ia hampir menjawab tidak.

Lalu aroma hujan sore masuk dari jendela kontrakan Ciputat, membawa ingatan tentang hotel, perban, dan janji Arka untuk berhenti memakai nama Anindya dalam urusan yang harus ia selesaikan sendiri. Selama sepekan terakhir, laki-laki itu benar-benar tidak datang tanpa janji.

Lima menit, balasnya. Di halaman. Jangan masuk gedung.

Arka sudah menunggu di dekat pos keamanan ketika Anindya turun. Ia mengenakan kemeja kerja dengan lengan digulung dan memegang kotak makanan cokelat. Tidak ada pengawal, bunga, atau mobil mewah yang diparkir tepat di depan rumah. Kendaraannya berhenti di seberang jalan agar tidak menutup akses tetangga.

“Tanganmu bagaimana?” tanyanya.

Anindya mengangkat tangan kanan. Perbannya sudah diganti plester tipis. “Dokter penerbangan menyatakan tidak mengganggu fungsi. Saya kembali bertugas sesuai jadwal.”

“Bagus.”

Arka menyerahkan kotak itu, tetapi tidak memaksanya masuk ke tangan Anindya. “Martabak telur dari warung dekat sekolah terbangmu dulu.”

“Warung itu masih ada?”

Pertanyaan lolos sebelum sempat ditahan.

Sudut bibir Arka bergerak. “Pindah dua ruko. Pemiliknya masih sama.”

Tiga tahun lalu, pada malam ketika Anindya pulang setelah ujian simulator, ia pernah bercerita bahwa martabak dari warung tersebut adalah hadiah termurah yang terasa paling mewah selama masa sekolah. Arka hanya menjawab sambil membaca surel. Anindya mengira ia tidak mendengar.

Rupanya ia mendengar. Hanya terlalu jarang menunjukkan bahwa ia menyimpan sesuatu.

“Saya tidak bisa menerima hadiah,” kata Anindya.

“Itu makanan, bukan hadiah.”

“Perbedaannya?”

“Kalau kamu tidak mau, berikan kepada petugas keamanan. Saya tidak akan menunggu kamu memakannya.”

Anindya menatap kotak yang mulai meninggalkan noda minyak tipis. Benda itu terlalu biasa untuk menjadi sogokan, terlalu spesifik untuk dianggap kebetulan.

Ia mengambilnya.

“Terima kasih. Lima menit Anda hampir habis.”

“Masih dua menit.” Arka melihat jam tangannya. “Saya ingin memberi tahu bahwa tim komunikasi sudah menerbitkan dokumen pengadaan dan laporan kepatuhan proyek. Isu tentang kamu mendapat akses karena hubungan pribadi tidak punya dasar.”

“Sisi sudah mengirim tautannya.”

“Kami tidak menyebut akun yang menyebarkan pertanyaan dan tidak meminta media menghapusnya. Hanya menyediakan dokumen lengkap.”

“Itu cara yang benar.”

“Saya belajar dari caramu menangani sertifikat Amara.”

Anindya menajamkan tatapan. “Anda mengikuti acara itu?”

“Videonya beredar di lingkaran keluarga. Saya menonton versi lengkap, bukan potongannya.”

“Lalu?”

“Lalu saya sadar kamu tidak membutuhkan saya untuk menyelamatkanmu.”

Jawaban itu membuat Anindya diam.

Arka melanjutkan, “Tapi kalau kebohongan memakai nama perusahaan saya, saya tetap wajib membersihkannya. Bukan supaya kamu berutang apa pun.”

“Pernyataan tentang Amara juga sudah terbit.”

“Ya.”

“Ratna setuju?”

“Ibu tidak setuju. Tapi beliau mendengar keputusan saya langsung, bukan dari media.”

“Dan Amara?”

“Diminta mengosongkan apartemen dalam tiga puluh hari. Saya tidak akan tinggal di sana atau memberikannya kepadamu seolah tempat itu bisa kembali menjadi rumah.”

Anindya menunduk pada kotak martabak. Ia tidak menyangka Arka memahami bagian itu. Dinding, sofa, dan dapur di SCBD telah menyimpan terlalu banyak penghinaan untuk dipulihkan dengan kunci baru.

“Bagus,” katanya. “Setidaknya kali ini Anda membersihkan keputusan sendiri.”

“Saya akan terus melakukannya.”

Suara langkah mendekat dari pintu pagar. Ratih masuk membawa tas kain berisi sayur dan berhenti begitu melihat mereka.

Matanya berpindah dari Arka ke kotak martabak di tangan Anindya.

“Saya salah waktu?” tanyanya.

“Tidak,” jawab Anindya cepat.

“Saya hanya lima menit,” kata Arka.

Ratih melihat jam pada ponselnya dengan wajah serius berlebihan. “Kalau begitu tinggal tiga puluh detik. Saya bisa menghitung dari sini.”

“Ratih.”

“Apa? Saya membantu menegakkan batas.”

Arka hampir tersenyum. “Terima kasih.”

Ratih menoleh kepada Anindya dan berbisik cukup keras untuk tetap terdengar, “Setidaknya dia sekarang bisa bilang terima kasih.”

Anindya menutup mata sesaat.

Arka mundur satu langkah. “Waktu saya habis. Saya pergi.”

Ia benar-benar berbalik menuju kendaraan tanpa memperpanjang percakapan. Tidak menunggu ajakan masuk. Tidak berdiri menatap jendela.

“Arka,” panggil Anindya.

Ia berhenti, tetapi tidak mendekat lagi.

“Martabak ini tidak mengubah apa pun.”

“Saya tahu.”

“Kita tidak bisa kembali ke dulu.”

“Saya juga tidak ingin kembali menjadi laki-laki yang dulu.”

Anindya tidak punya jawaban untuk itu.

Arka masuk ke mobil dan pergi. Ratih berdiri di sebelah Anindya sambil memandangi kotak makanan.

“Kamu mau bilang tidak tersentuh?”

“Saya mau bilang martabaknya keburu dingin kalau kamu terus bicara.”

Ratih tertawa, lalu merangkul tas sayurnya sendiri, bukan Anindya. “Baik. Kita makan di atas. Saya tidak akan bertanya sampai suapan ketiga.”

Mereka duduk sebentar di bangku halaman. Ratih membuka kotak, membagi martabak dengan tusuk kayu, lalu benar-benar menunggu sampai tiga suapan lewat.

“Sekarang saya boleh bicara,” katanya. “Dia meminta izin sebelum datang?”

“Ya.”

“Pergi saat waktunya habis?”

“Ya.”

“Tidak mencoba masuk?”

“Tidak.”

Ratih mengunyah perlahan. “Standarnya memang rendah sekali, tapi setidaknya dia mulai melewatinya.”

Anindya menatap potongan telur dan daun bawang di dalam kotak. “Mengingat satu makanan tidak membatalkan apa yang dia lakukan.”

“Saya tidak bilang begitu.”

“Tatapanmu bilang begitu.”

“Tatapan saya bilang kamu hampir tersenyum ketika tahu warungnya masih buka.”

Anindya menutup kotak sedikit lebih keras daripada perlu. “Itu karena saya suka makanannya.”

Ratih tidak membantah. “Kepercayaan bukan dibangun oleh martabak. Tapi mungkin bisa terlihat dari apakah dia menghormati kata tidak pada hari-hari berikutnya.”

“Dan kalau suatu hari dia lelah menghormatinya?”

“Maka kamu sudah punya jawabannya tanpa harus kembali kepadanya.”

Anindya tahu Ratih benar. Yang membuat langkah kecil Arka berbahaya bukan karena langkah itu cukup untuk dimaafkan. Justru karena ia mulai melakukan hal-hal yang seharusnya ia lakukan sejak dulu, tanpa meminta pujian.

“Saya tetap tidak akan memberinya harapan,” kata Anindya.

“Bagus. Biarkan dia bekerja tanpa hadiah.” Ratih mengambil potongan terakhir. “Tapi martabaknya jangan dihukum. Dia tidak ikut menalakkanmu.”

Tawa pendek lolos dari Anindya sebelum sempat ia tahan.

Saat mereka berjalan menuju gedung, Anindya melihat pantulan sebuah ponsel dari balik warung tertutup di seberang jalan. Orang itu berdiri terlalu lama dan lensanya baru saja mengikuti mobil Arka.

Ia mengenali pola pengawasan yang dilaporkan Sisi.

Anindya tidak menoleh langsung. Ia hanya menggeser kotak martabak agar terlihat jelas di tangannya, lalu masuk bersama Ratih.

Di seberang jalan, bunyi rana terdengar pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!