Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Dufan, dan Dua Wajah Baru
Karina menahan pertanyaan yang hampir keluar.
"Kita bicara lagi nanti, ya," katanya kepada Lucas. "Sekarang kita mau main dulu."
Lucas mengangguk, seolah ucapannya barusan tidak lebih penting daripada gedung-gedung yang lewat. Nathan justru menatap adiknya, lalu Karina, tetapi tidak mengatakan apa pun.
Karina tidak ingin memaksa mereka membuka ingatan di dalam mobil. Anak-anak sering berbicara ketika merasa aman, lalu menutup diri jika orang dewasa terlalu cepat mengejar jawaban.
Gerbang Dufan segera mengalihkan perhatian Lucas.
Musik terdengar dari dalam. Warna-warna cerah memenuhi papan petunjuk, bendera kecil bergerak ditiup angin, dan suara orang tertawa bercampur dengan deru wahana. Setelah berhari-hari mendengar langkah pelayan yang hati-hati dan pintu rumah besar yang selalu tertutup pelan, keramaian tersebut terasa seperti udara yang benar-benar hidup.
Lucas berhenti setiap beberapa langkah.
"Mama, itu muter!"
"Mama, ada kereta!"
"Mama, balonnya bentuk ikan!"
Nathan mula-mula sibuk memastikan adiknya tidak tersesat. Ia memegang bagian belakang baju Lucas dan berkali-kali memeriksa tiket yang sudah dipindai, seakan petugas bisa tiba-tiba meminta mereka keluar.
Karina membelikannya gelang pengunjung dan memasangkannya di pergelangan.
"Ini tanda kita boleh main sampai waktunya pulang," katanya.
"Nggak diminta bayar lagi?"
"Untuk wahana yang kita pilih, nggak."
Nathan akhirnya berhenti memegang tiket.
Mereka menaiki komidi putar terlebih dahulu. Lucas memilih kuda putih dan tertawa setiap kali bergerak naik. Nathan berdiri kaku pada putaran pertama, tetapi ketika Lucas melambaikan tangan seolah mereka terpisah sangat jauh, ia ikut tertawa dan membalas lambaian itu.
Karina mengabadikan momen tersebut dengan HP retaknya.
Foto itu sedikit buram. Senyum Nathan tidak.
Karina menyimpannya di samping foto pertama mereka bertiga yang diambil di Cibungur. Layar HP memang retak, tetapi dua gambar itu menunjukkan perubahan yang tidak bisa dibeli oleh rumah sebesar apa pun.
Setelah kereta anak dan permainan melempar bola, Lucas mendapat sebuah balon biru berbentuk ikan. Ia memegang talinya dengan dua tangan sampai mereka masuk antrean wahana keluarga yang cukup panjang.
Kerumunan di depan tiba-tiba bergerak. Beberapa petugas membuka jalur samping untuk rombongan kecil. Di tengahnya berjalan seorang perempuan muda bertubuh tinggi dengan kacamata gelap, masker, dan topi lebar. Meski sebagian wajahnya tertutup, cara orang-orang di sekeliling menjaga jarak membuat kehadirannya sulit diabaikan.
"Itu Natasha Santoso, bukan?" bisik dua remaja di belakang Karina.
"Kayaknya iya. Aku lihat tasnya waktu konser kemarin."
"Katanya dia syuting dekat sini."
Perempuan itu menoleh ketika mendengar namanya, lalu memberi isyarat kecil agar rombongannya tidak membuat jalur terlalu lebar. Seorang petugas tampak meminta maaf kepada pengunjung yang antreannya terpotong.
Karina hanya melihat sekilas. Selebritas bukan urusannya, dan Lucas lebih tertarik pada balon.
Angin mendadak bertiup kencang.
Tali tipis terlepas dari jari kecil Lucas.
"Ikannya!"
Balon biru terangkat, terseret ke sisi antrean, dan hampir melewati pagar rendah. Seorang pekerja muda yang sedang membawa gulungan tali menjatuhkan salah satu gulungan, melompat dua langkah, lalu menangkap ujung balon sebelum terbang lebih tinggi.
Ia kurus, mengenakan seragam Dufan sederhana, dan kartu nama di dadanya bertuliskan JULIAN.
"Ini ikannya," katanya sambil berjongkok agar sejajar dengan Lucas.
Lucas menerima tali dengan mata lebar. "Kakak cepat sekali."
"Ikannya yang belum mau pulang. Pegang di sini." Julian membuat simpul longgar pada gelang pengunjung Lucas. "Sekarang dia nggak gampang kabur."
"Terima kasih, Kak Julian," kata Nathan setelah membaca kartu namanya.
Julian tersenyum. "Sama-sama. Hati-hati, ya."
Seorang pengunjung di dekatnya mengeluh karena antrean bergerak lambat. Julian segera berdiri, meminta maaf tanpa membalas nada kasar, lalu membantu petugas lain membuka jalur. Ketika gulungan talinya jatuh lagi, ia mengambilnya sendiri dan kembali bekerja tanpa menggerutu.
Karina sempat memperhatikan caranya bicara. Tenang, jelas, dan tidak dibuat-buat. Sikap itu terasa berbeda dari pekerja sementara yang hanya ingin jam kerjanya cepat selesai.
Antrean akhirnya bergerak. Pada saat yang sama, rombongan Natasha melewati sisi mereka untuk keluar. Salah seorang asistennya mundur tanpa melihat dan menyenggol gelas minuman di tangan Nathan.
Tutupnya lepas. Minuman tumpah ke tanah dan sedikit mengenai sepatu Nathan.
Anak itu membeku, refleks melihat Karina seolah menunggu dimarahi.
"Maaf," kata Natasha lebih dulu.
Ia berhenti meski asistennya mengingatkan jadwal. Natasha melepas kacamata sebentar, memperlihatkan wajah yang memang dikenali banyak orang, lalu memandang Nathan.
"Kamu kena?"
Nathan menggeleng. "Cuma sepatu."
"Tetap salah kami." Natasha menoleh kepada asistennya. "Tolong beli minuman yang sama dan tisu."
"Nggak perlu diganti," kata Karina. "Dia tidak terluka."
"Minumannya tetap hilang." Nada Natasha ringan, tidak terdengar seperti orang yang ingin menunjukkan kemurahan hati. "Biar kami ganti."
Beberapa menit kemudian Nathan menerima gelas baru. Ia mengucapkan terima kasih. Natasha mengangguk, memasang kembali kacamata, dan pergi bersama rombongannya sebelum orang-orang sempat berkumpul lebih banyak.
Dua pertemuan itu selesai secepat datangnya.
Karina membawa anak-anak menjauh dari antrean padat. Mereka menaiki satu wahana lagi, lalu duduk di bangku teduh untuk makan camilan. Lucas memegang balon yang kini terikat di gelang. Nathan menyeruput minuman pengganti dengan sangat hati-hati.
"Tadi di mobil," kata Karina pelan. "Lucas bilang Opa sama Oma nggak suka kalian. Kenapa Lucas merasa begitu?"
Lucas menendang-nendangkan kaki yang tidak mencapai tanah. "Soalnya mereka ngomong."
"Ngomong apa?"
Ia mengernyit, berusaha mengingat kata-kata orang dewasa.
"Opa sama Oma dulu suka bilang kita anak nggak bawa keberuntungan." Lucas menatap balonnya. "Kalau kami datang, orang rumah jadi berantem."
Nathan langsung berhenti minum.
Karina menahan kemarahan agar tidak masuk ke suaranya. "Dengar Mama. Anak tidak membawa sial atau bikin orang dewasa berkelahi. Kalau orang dewasa bertengkar, itu karena pilihan mereka sendiri. Bukan salah Nathan. Bukan salah Lucas."
"Tapi Opa bilang begitu."
"Orang dewasa juga bisa mengatakan hal yang salah."
Lucas memikirkan jawaban itu, lalu bersandar ke lengannya. Nathan tidak bicara, tetapi perlahan memindahkan gelas dan duduk lebih dekat.
Karina mengusap punggung kedua anak. Ia tidak tahu siapa tepatnya yang mereka sebut Opa dan Oma dalam susunan keluarga Wijaya yang rumit, atau alasan dua anak sekecil ini dijadikan pembawa nasib buruk.
Namun ia akan mencari tahu.
Sore menjelang ketika mereka berjalan menuju pintu keluar. Lucas lelah tetapi masih membawa balonnya. Nathan menggenggam tangan Karina tanpa diminta.
Di tepi jalan, sebuah mobil hitam yang dikenal sudah menunggu. Sopir turun dan membukakan pintu.
"Pak Sebastian meminta saya menjemput lebih awal, Nyonya Wijaya."
Karina berhenti. "Ada apa?"
"Pak Sebastian bilang malam ini semua harus berkumpul di ruang makan."
Nada sopir itu terlalu sungguh-sungguh untuk sebuah makan malam biasa.