Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia
Malam itu, kedua belah pihak keluarga sedang menikmati makan malam bersama. Selain ingin membahas rencana pernikahan anak-anak mereka, pertemuan itu juga menjadi acara kecil untuk merayakan pertunangan yang baru saja selesai.
“Syukurlah, akhirnya acara pertunangannya sudah selesai,” ucap Felly dengan wajah senang.
“Oh iya, ngomong-ngomong, Nara, Alden,” panggil Mami Felly, membuat keduanya menoleh.
“Kenapa, Mi?” tanya Nara. Gadis itu masih sibuk memainkan ponselnya, sedangkan Alden hanya diam sambil mendengarkan pembicaraan orang-orang tua mereka.
“Nikahnya mau kapan?” tanya Felly secara tiba-tiba.
Alden yang sedang minum langsung tersedak saat mendengarnya.
“Uhuk! Uhuk!”
Pertanyaan itu benar-benar membuatnya terkejut. Sementara itu, Nara langsung memasang wajah tidak suka.
“Mi, apaan sih? Kan sudah aku bilang, aku enggak mau cepat-cepat nikah,” protesnya.
“Ya, kan Mami cuma nanya. Siapa tahu kalian memang punya niat buat nikah dalam waktu dekat. Iya, kan, Pi?” ujar Felly sambil menoleh kepada suaminya yang duduk di sebelah.
Ronald yang mendengar ucapan istrinya langsung mengangguk setuju.
“Enggak ada! Stop! Aku enggak mau bahas itu. Aku mau makan,” ucap Nara dengan kesal. Sepertinya suasana hatinya memang sedang sensitif setelah acara pertunangan tadi.
“Ya sudah, kita makan dulu,” ajak Felly, berusaha menenangkan suasana.
Mereka pun melanjutkan makan malam bersama. Meski terlihat tenang, Nara masih memasang wajah kesal dan memilih fokus pada makanan di hadapannya.
Setelah selesai makan, mereka semua berpindah ke ruang tamu. Ronald dan Arka terlihat asyik mengobrol, begitu juga dengan Felly dan Ana. Sesekali Asha ikut nimbrung dalam obrolan bersama mommynya. Hanya dua orang yang duduk bersebelahan itu yang saling diam tanpa ada niat untuk memulai percakapan.
“Gue harap lo enggak bongkar status kita berdua. Paham, lo?” bisik Nara yang duduk di sebelah Alden.
Alden yang sedang membaca buku melalui ponselnya hanya menoleh sesaat.
“Gue enggak minat,” jawabnya enteng.
“Dih, belagu. Terus, enggak usah sok akrab sama gue dan enggak usah macam-macam. Paham, lo?” lanjut Nara dengan nada mengancam.
Alden langsung mengembuskan napas panjang. Ia mematikan layar ponselnya sejenak, kemudian menatap datar gadis yang duduk di sebelahnya.
“Kalau lo enggak melanggar aturan, hidup lo bakal aman di sekolah,” ucap Alden.
“Enggak usah sok ngatur gue. Gue tahu apa yang gue lakuin,” balas Nara ketus.
“Sok atuh, lanjutin apa yang lo suka. Tapi kalau sampai lo melanggar satu saja peraturan sekolah, siap-siap lo bakal terus berurusan sama gue,” jawab Alden santai, tetapi terdengar seperti sebuah peringatan.
“Gue enggak sudi,” desis Nara kesal.
“Ya, makanya patuh,” jawab Alden singkat sebelum kembali membaca buku di ponselnya.
Nara masih menatap sinis cowok itu. Rasanya kesal sekali melihat Alden tetap tenang setelah mengatur-ngatur dirinya seperti itu. Namun, sebelum ia sempat kembali membalas, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah pintu depan.
“Selamat malam, paket!” teriak seorang cowok dari luar rumah.
Semua orang langsung menoleh ke arah pintu.
“Kayak suara Arvard, enggak sih, Pi?” ucap Felly sambil berdiri dari sofa.
Felly berjalan menuju pintu depan. Benar saja, Arvard sedang berdiri di depan rumah mereka dengan wajah santainya.
“Oh, Arvard. Silakan masuk, Nak,” ucap Felly dengan ramah.
“Oh, enggak usah, Tante. Aku mau jemput Nara. Nara ada, enggak?” tanyanya.
“Oh, kalian mau pergi? Maaf, ya, Tante enggak bisa izinin Nara keluar malam ini. Di rumah lagi ada tamu,” jawab Felly, menolak dengan halus.
Sebenarnya Arvard juga sudah tahu kalau di rumah Nara sedang ada acara keluarga. Namun, Jaegar terus memohon kepadanya agar membawa Nara ke sirkuit malam itu. Blaze kembali menantang gadis tersebut untuk balapan.
Niel masih tidak terima karena sebelumnya ia berhasil dikalahkan oleh seorang cewek. Tentu saja Jaegar langsung menerima tantangan itu. Kapan lagi mereka bisa melihat Blaze kalah dalam balapan? Selama ini, kelompok itu hampir selalu menang.
“Aduh, sebentar doang boleh, enggak, Tan?” bujuk Arvard.
Sebenarnya tadi Arvard sudah menawarkan diri untuk turun dalam balapan. Namun, ketua Blaze menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Mereka tetap menginginkan Nara yang turun langsung ke sirkuit.
Arvard sendiri sebenarnya tidak ingin terlalu ikut campur. Masalahnya, Jaegar benar-benar berisik dan terus memaksanya untuk datang menjemput Nara.
Sementara itu, Nara yang berada di ruang tamu mulai terlihat gelisah. Ia tahu malam ini akan ada balapan, tetapi rasanya sulit sekali mencari alasan untuk keluar dalam situasi seperti sekarang.
“Arvard siapa? Saya belum pernah dengar namanya,” tanya Arka penasaran.
“Anaknya Reyna, adik gue,” jawab Ronald.
Arka pun langsung mengerti hubungan mereka.
“Oh, sepupunya Nara, ya?” ucap Arka.
Ronald mengangguk membenarkan.
Nara sesekali mengintip ke arah pintu depan sambil mencoba mengatur strategi. Sebenarnya ia tidak terlalu ingin ikut balapan malam ini. Namun, daripada harus terus duduk berdekatan dengan tunangannya, lebih baik ia pergi ke sirkuit bersama Arvard.
Setelah menolak permintaan Arvard, Felly kembali masuk ke dalam rumah. Tanpa diketahui siapa pun, Nara langsung mengirimkan pesan kepada sepupunya itu.
Nara: Tunggu gue agak jauhan. Nanti gue cabut.
Setelah pesannya terkirim, Nara langsung berdiri dari sofa.
“Mi, kayaknya aku ke kamar dulu, ya. Aku mau istirahat,” ucapnya mencari alasan.
Felly yang tidak merasa curiga langsung mengangguk.
“Ya, boleh. Kamu istirahat saja sana,” jawabnya.
Alden yang mendengar alasan Nara tentu saja tidak langsung percaya. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa janggal di dadanya. Apalagi ekspresi Nara sejak Arvard datang terlihat terlalu gelisah untuk seseorang yang benar-benar ingin beristirahat.
Nara langsung berjalan menuju lantai atas dan memasuki lift. Begitu sampai di kamarnya, ia segera mengganti pakaian. Ia bergerak dengan terburu-buru agar tidak ketahuan oleh orang-orang yang masih berkumpul di ruang tamu.
Setelah selesai berganti pakaian, Nara berjalan menuju balkon kamarnya. Ia menatap ke bawah. Posisi balkonnya lumayan tinggi dan rasanya hampir mustahil untuk turun dari sana dengan aman.
Namun, Nara tidak semudah itu menyerah.
Seolah-olah memiliki keahlian khusus dalam memanjat, ia perlahan turun dengan berpijak pada salah satu bagian dinding belakang rumah yang bisa digunakan sebagai penyangga kaki. Tangannya berpegangan kuat pada pagar balkon sebelum tubuhnya bergerak turun sedikit demi sedikit.
Setelah memastikan jaraknya sudah cukup dekat, Nara melompat dan berhasil mendarat di taman belakang rumah. Ia sempat kehilangan keseimbangan, tetapi segera berdiri lagi.
Tanpa membuang waktu, Nara berlari menuju tembok belakang. Dengan kemampuan memanjatnya, ia berhasil melewati tembok rumah yang cukup tinggi itu, lalu pergi meninggalkan rumah sebelum ada yang menyadari kepergiannya.
Namun, tanpa Nara sadari, ternyata ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya dari kejauhan.
“Benar, kan, dugaan gue,” desis Alden yang berdiri tidak jauh dari sana.
Tadi Alden sengaja meminta izin keluar dengan alasan ingin mencari udara segar. Sejak awal, ia sudah merasa Nara sedang merencanakan sesuatu. Ternyata dugaannya memang benar.
Alden mengambil ponselnya dari dalam saku, lalu mencari salah satu nama di daftar kontaknya. Setelah menemukannya, ia langsung melakukan panggilan.
“Halo,” ucap Alden saat panggilannya tersambung.
“Iya, halo. Ada apa?” jawab Kevin dari seberang sana.
“Gue mau minta tolong,” ucap Alden serius.
***
Jangan lupa koment yaa, terimakasih.