NovelToon NovelToon
Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang

Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Bluetherine

Shen Ran adalah definisi dari kesialan. Sebagai Permaisuri dari Kekaisaran Yan, ia memiliki segalanya di atas kertas, namun tidak di dunia nyata. Dikhianati oleh keluarga sendiri, diabaikan oleh Kaisar yang kejam, dan menjadi bahan tertawaan para selir di Istana Belakang. Puncaknya, ia dijebak dan dibiarkan membeku hingga tewas di Istana Dingin yang terpencil.

Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Saat mata itu terbuka kembali, tubuh rapuh Shen Ran telah diambil alih oleh Clara, seorang pengacara korporat jenius sekaligus ahli strategi perang bisnis dari abad ke-21. Clara tidak tahu apa itu tunduk, dalam kamus hidupnya tidak mengenal kata tunduk dan mengalah.

"Kalian menginginkan boneka yang bisa diinjak? Maaf, kalian salah membangunkan jiwa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Bluetherine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sembilan

Keesokan paginya, matahari baru saja naik sepenggalah ketika suara lonceng kedatangan Kaisar bergema di luar gerbang.

"Kaisar tiba!"

Shen Ran yang sudah duduk anggun di kursi utama dengan jubah sutra birunya sama sekali tidak terkejut. Seperti yang ia prediksi, Long Tianqi tidak akan bisa bertahan lama setelah Mahkamah Agung mulai menyita aset klan Chu yang ternyata banyak yang fiktif atau sudah dilarikan. Kaisar membutuhkan suntikan dana cepat untuk menstabilkan militer dan pemerintahan.

Long Tianqi melangkah masuk. Wajahnya tampak lelah, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Namun, saat tatapannya jatuh pada Shen Ran yang tampak begitu segar, tenang, dan berwibawa, ekspresinya melunak dengan canggung.

"Shen Ran," panggil Long Tianqi, mencoba menggunakan nada suara yang lebih hangat dari biasanya. Ia duduk di kursi seberang meja kecil yang memisahkan mereka. "Bagaimana keadaanmu? Apakah para pelayan baru melayanimu dengan baik?"

"Terima kasih atas perhatian Yang Mulia. Istana Phoenix sangat nyaman," sahut Shen Ran dengan senyuman formal yang sempurna, senyuman korporat yang ramah namun tidak menyertakan sedikit pun emosi pribadi.

"Aku kemari karena... Ada beberapa masalah di pemerintahan pasca kejatuhan klan Chu," Long Tianqi menjeda kalimatnya, egonya sebagai pria dan kaisar membuatnya agak sulit mengakui bahwa ia sedang terdesak.

Shen Ran meletakkan cangkir tehnya dengan ketukan halus. Saatnya melempar umpan, batinnya.

"Saya memahami beban berat yang sedang Anda pikul, Yang Mulia. Sebagai Permaisuri, saya merasa bertanggung jawab untuk membantu meringankan beban Anda. Karena itulah, saya ingin menyerahkan ini," ucap Shen Ran dengan nada penuh empati yang telah ia latih dengan baik.

Shen Ran memberi isyarat dengan tangannya. Lian'er yang berdiri di sudut ruangan segera melangkah maju, membawa sebuah nampan perak berisi gulungan sutra kuning tua yang tampak kuno namun terawat dengan sangat baik.

Long Tianqi mengerutkan kening. Ia mengambil gulungan itu dan membukanya. Begitu membaca baris pertama, sepasang matanya langsung melebar. Tubuhnya menegak seketika.

"Ini... Akta Hak Pengelolaan Tambang Garam Selatan?! Bukankah dokumen ini dinyatakan hilang saat kediaman mendiang ibumu terbakar belasan tahun lalu?!" Long Tianqi menatap dokumen itu dengan tidak percaya, lalu beralih menatap Shen Ran.

"Klan Chu yang membakarnya, dan klan Chu pula yang menyembunyikannya untuk memeras hasil tambang itu secara rahasia, Yang Mulia," sahut Shen Ran datar, dengan nada bicara yang meyakinkan. "Saya berhasil menemukannya di sela-sela tumpukan dokumen rahasia yang saya sita dari mata-mata mereka di Istana Dingin kemarin. Tambang garam selatan adalah urat nadi perdagangan yang sangat besar. Saya serahkan hak ini sepenuhnya kepada Anda untuk mengisi kembali kas negara."

Long Tianqi menatap dokumen di tangannya, lalu menatap Shen Ran dengan pandangan yang dipenuhi rasa bersalah sekaligus kekaguman yang luar biasa. Tambang garam ini bernilai jutaan keping emas per tahun! Di saat ia membuang wanita ini ke Istana Dingin, wanita ini justru menyimpan aset sebesar ini dan menyerahkannya dengan sukarela demi negaranya.

Kaisar bangkit dari kursinya, melangkah mendekati Shen Ran, lalu meraih kedua tangan wanita itu. "Ran'er... aku... aku benar-benar telah salah menilai kesetiaanmu selama ini. Maafkan aku."

Shen Ran membiarkan tangannya digenggam oleh Long Tianqi. Matanya menatap wajah tampan sang Kaisar yang tampak tulus. Namun, di dalam kepalanya, Clara justru sedang tertawa geli.

"Ran'er? Menjijikkan sekali," batin Shen Ran dingin. "Silakan bersenang-senang dengan mainan barumu, Kaisar. Kau baru saja menerima bom waktu yang siap meledakkan seluruh pasukan terbaikmu di wilayah selatan."

Dengan senyum yang tampak begitu manis dan patuh di wajahnya, Shen Ran membalas genggaman tangan Long Tianqi. "Semua yang menjadi milik saya adalah milik Yang Mulia. Saya hanya berharap, Anda mengirimkan pejabat paling terpercaya dan pasukan terkuat untuk menjaga tambang itu, agar sisa-sisa klan Chu di luar sana tidak bisa merebutnya kembali."

"Tentu saja! Aku akan mengirimkan Jenderal Lin dan pasukan elit kekaisaran ke sana besok pagi!" jawab Long Tianqi penuh semangat, persis seperti skenario yang telah ditulis oleh Shen Ran dalam kepalanya.

Umpan telah ditelan bulat-bulat. Jaring laba-laba rahasia kini mulai mempererat cengkeramannya di leher sang Kaisar, dan tirai kehancuran Kekaisaran Yan perlahan-lahan mulai terbuka.

"Tapi Ran'er... Chu Xinyue tidak ada hubungannya dengan korupsi keluarganya. Chu Xinyue tidak mungkin bertindak seburuk itu," bela Long Tiangi.

Mendengar pembelaan itu, senyum manis di wajah Shen Ran tidak pudar sedikit pun, tetapi tatapan matanya seketika berubah sedingin dasar jurang. Genggaman tangan Long Tianqi yang tadinya terasa canggung kini terasa menggelikan di kulitnya.

“Kaisar bodoh ini benar-benar tidak tertolong. Pria ini dikhianati dan dirampok di depan hidungnya sendiri, tapi masih sempat-sempatnya memikirkan cinta,” batin Clara, jiwanya yang terbiasa menghadapi penjahat kerah putih di pengadilan London merasa sangat terhina dengan kebodohan pria di hadapannya.

Perlahan namun pasti, Shen Ran menarik kedua tangannya dari genggaman Long Tianqi. Gerakannya begitu halus, seolah-olah ia hanya ingin membenarkan posisi duduknya, namun jarak emosional yang ia ciptakan langsung terasa sangat kentara.

"Tentu saja, Yang Mulia," ucap Shen Ran, suaranya terdengar lembut, namun ada nada sarkasme yang tersamar dengan sangat rapi. "Selir Agung Chu adalah wanita yang lemah lembut, suci, dan penuh kasih. Mana mungkin dia tahu tentang emas-emas gelap yang mengalir ke istananya untuk membeli sutra terbaik yang sedang ia kenakan saat ini?"

Long Tianqi tertegun, merasa sindiran itu menusuk tepat ke harga dirinya. "Ran'er, maksudmu..."

"Yang Mulia," Shen Ran memotong dengan tenang, tatapannya menatap lurus ke dalam manik mata Kaisar. "Di dunia ini, ada dua jenis orang yang tidak tahu apa-apa tentang kejahatan, orang yang benar-benar buta, atau orang yang dengan sengaja menutup matanya karena menikmati hasil kejahatan tersebut. Menurut Anda, Selir Agung Chu termasuk yang mana?"

Shen Ran bangkit dari kursinya, berjalan perlahan menuju jendela, membelakangi Long Tianqi. Jubah burung phoenix-nya berdesir megah.

"Apakah Anda lupa siapa yang memerintahkan pelayannya untuk memotong pasokan arang dan makanan saya di Istana Dingin? Apakah itu juga bukan atas perintahnya? Jika dia begitu suci, mengapa tangan kanannya, Qiao'er, berani menginjak harga diri Permaisuri yang sah?" Shen Ran berbalik, menatap Kaisar dengan senyuman dingin yang mematikan.

"Sebagai seorang kepala negara, Anda bisa memilih untuk memaafkan wanita yang Anda cintai. Tetapi sebagai penegak hukum kekaisaran, membiarkan satu tikus lolos hanya karena parasnya yang cantik adalah awal dari kehancuran dinasti Anda sendiri."

Long Tianqi terdiam seribu bahasa. Kata-kata Shen Ran telak menghantam logika politiknya. Jika ia membebaskan Chu Xinyue begitu saja di saat seluruh klan Chu diseret ke Mahkamah Agung, para menteri kolot dan rakyat akan menuduhnya sebagai penguasa yang lemah dan dikendalikan oleh nafsu.

"Aku... aku tidak bermaksud membebaskannya begitu saja," bantah Long Tianqi dengan suara yang merendah, kehilangan wibawanya di hadapan aura menindas sang Permaisuri. "Dia tetap dikurung di Istana Barat sampai penyelidikan selesai. Tapi, aku yakin itu adalah jebakan. Aku tahu kau kesal pada selir Chu, tapi kau jangan berpikiran gegabah seperti itu. Kau adalah permaisuri Yan, kau harus bijak dalam menanggapi setiap situasi."

Shen Ran hampir saja tertawa terbahak-bahak mendengar khotbah moral dari pria yang baru kemarin membiarkan tubuh asli pemilik ini mati membeku. Bijak? Istilah itu terdengar sangat menggelikan keluar dari mulut seorang kaisar yang logika politiknya telah dibutakan oleh sepasang mata indah selir kesayangannya.

Clara, dengan seluruh ketenangan seorang pengacara senior yang siap mematahkan argumen lawan di meja hijau, memutar tubuhnya perlahan. Ia tidak menunjukkan kemarahan. Sebaliknya, ia melangkah mendekati Long Tianqi dengan keanggunan yang begitu menuntut, membuat aura sang Kaisar mendadak tenggelam.

"Bijak, Yang Mulia?" Shen Ran mengulang kata itu dengan nada seringan bulu, namun sarat akan penekanan yang menusuk. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Long Tianqi, menatap suaminya itu dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sangat dingin.

Brak!

Long Tianqi menggebrak meja kecil di antara mereka hingga cangkir porselen di atasnya bergetar hebat. Wajah sang Kaisar memerah padam, urat-urat di pelipisnya menegang menahan amarah yang meledak. Ego seorang penguasa mutlak dan pria yang sedang mabuk asmara tidak sanggup lagi menerima kenyataan pahit yang disodorkan di depan wajahnya.

"Sudah cukup! Aku tidak ingin mendengar kau menjelek-jelekan selir Chu. Dia tidak bersalah! Gelar Permaisurimu baru saja kukembalikan, Shen Ran. Jangan menguji batas kesabaranku hanya karena kau merasa di atas angin!" bentak Long Tianqi, suaranya menggelegar memenuhi aula Istana Phoenix. Napasnya memburu saat ia menunjuk Shen Ran dengan kilat mata mengancam.

Aula besar itu seketika hening mencekam. Para pelayan baru langsung berlutut dan menundukkan kepala sedalam-dalamnya, gemetar ketakutan menghadapi amarah sang putra langit.

Namun, wanita berbaju sutra biru di hadapannya sama sekali tidak berkedip. Alih-alih gemetar atau menangis seperti Shen Ran yang dulu, Clara, dalam tubuh sang Permaisuri, justru menarik napas pendek lalu mengembuskannya dengan sebuah senyuman tipis yang sangat tenang. Senyuman yang biasa ia gunakan di ruang sidang saat seorang terdakwa mulai mengamuk karena kehabisan argumen hukum.

Shen Ran meremas roknya menahan kesal. "Maaf, Yang Mulia."

1
Emily
keren ceritamu thour
Fajar Fathur rizky
cepat bantai long tianqi
Fajar Fathur rizky
bikin shen ran sendiri yang membunuh long tianqi
Fajar Fathur rizky
tidak sabar long tianqi mati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!